"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--
"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--
Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.
Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.
Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.
Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24 Andai...
Angin sore mengusap lembut wajah Sukma. Memainkan ujung jilbab yang dikenakan dan menggoyangkan barisan bunga mawar putih yang tumbuh di halaman depan.
Sukma tenggelam dalam lamunan panjang. Ia menyirami bunga-bunga itu dengan tatapan kosong. Raganya memang berada di Desa W, namun pikirannya melayang jauh entah ke mana.
Refleks, tangannya bergerak mengusap lembut perutnya yang masih terlihat datar, lalu mengalihkan seluruh atensinya di sana.
"Hai..." sapanya lirih, nada suaranya bergetar dan serak.
Rasa sesak kembali hadir memenuhi rongga dada, namun kali ini disertai desiran halus.
Semesta sejenak diam, lantas mempersilakan burung-burung kecil berkicau. Melantunkan kidung yang membuat Sukma kian tenggelam dalam lamunan, membawa ingatannya melintasi lorong waktu kembali ke jam sepuluh pagi--saat Dokter Humaira memeriksa kandungannya
"Sukma, dengarkan suara detak jantung malaikat kecilmu," tutur Dokter Humaira lembut setelah mengoleskan gel dan menggeser doppler di atas perut Sukma.
Sukma mengangguk samar, mengindahkan ucapan Dokter Humaira.
Merdu. Suara detak jantung itu terdengar seperti nada-nada cinta yang mengalun indah. Menghangatkan hati, meredakan sedih, sekaligus mengusir ketakutan yang sempat bercokol di dada.
Sukma menarik napas dalam-dalam, lalu kembali mengusap perutnya dan mengulas sebaris senyum tipis.
"Aku nggak tahu, kehadiranmu ini... anugerah atau musibah bagiku," ucapnya pelan dengan nada suara yang terdengar getir. "Apa pun itu, aku akan belajar menerima, mencintai, dan menjagamu. Kita berjuang sama-sama, ya. Kelak... jangan pernah tanyakan siapa ayahmu. Karena dia..."
Ia urung melanjutkan ucapannya dan perlahan mendaratkan tubuh di atas bangku taman. Senyum yang semula terlukis tipis di bibir, kini seketika sirna berganti muram.
Kenangan indah saat bersama Xavier dengan lancangnya hadir di ingatan, seakan merayu sisi hatinya agar tidak lagi membenci. Namun, sepersekian detik kemudian... bayangan malam terkutuk saat Xavier merenggut paksa kesuciannya langsung mengambil alih isi kepala.
Marah.
Benci.
Jijik.
Dan... dendam.
Semua perasaan buruk itu seketika melebur jadi satu.
"Allah, ampuni aku..." bisiknya sembari menekan dada dan sekejap memejamkan mata erat-erat, berusaha keras mengusir masa lalu kelam yang masih membayang di dalam benak. Berharap Ilahi berkenan melembutkan hatinya.
Tepat ketika Sukma membuka mata, terdengar ucapan salam yang teramat familier dari arah pagar kayu. Suara itu menuntunnya untuk segera membalas, lalu bangkit berdiri menyambut kedatangan para tamu.
Mereka ... Ustaz Reinan dan kedua orang tuanya.
"Masya Allah, Sukma," seru Ummi Kulsum begitu Sukma telah berdiri di hadapannya. Sepasang manik mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca, menyiratkan luapan rindu yang teramat mendalam.
"Ummi..." Suara Sukma tercekat. Dadanya kian terasa sesak, air matanya luruh tanpa permisi.
Ulu hati Ummi Kulsum serasa diremas kuat menyaksikan pemandangan yang tersuguh: Sukma, putri almarhumah Seroja--sahabatnya, yang sudah dianggap sebagai anak kandung sendiri itu kini terlihat sangat rapuh.
Ia pun terdorong untuk segera merengkuh tubuh Sukma. Mendekapnya hangat dan mengusap punggungnya dengan gerakan lembut.
"Reinan sudah memberi tahu Abi dan Ummi. Kami turut prihatin atas ujian berat yang tengah kamu jalani. Tapi perlu kamu tahu, Sayang... kami tidak mempermasalahkannya. Bahkan, jika kamu berkenan, hari ini juga kami memintamu kembali untuk menjadi istri Reinan, putra Ummi dan Abi."
Suara lembut Ummi Kulsum bagaikan ribuan anak panah yang menghunjam jantung Sukma. Bukan karena menyiratkan kata-kata sarkas, tetapi justru karena ucapan itu teramat sarat akan ketulusan.
Rasa sesal kembali hadir.
Menghantam dada. Meruntuhkan seluruh sisa-sisa ketegaran.
Andai benih yang ditanam paksa oleh Xavier di malam terkutuk itu tidak tumbuh di dalam rahim, mungkin... kalimat yang mengalir tulus dari bibir Ummi Kulsum akan membuat hati Sukma menghangat, tersanjung, dan ditumbuhi bunga-bunga bahagia.
Andai....
Begitu tangis Sukma mulai mereda, Ummi Kulsum perlahan mengurai pelukan. Ia menuntun putri almarhumah sahabatnya itu untuk duduk di kursi teras.
"Sabar dan ikhlas, Sukma sayang. Yakinlah bahwa di balik ujian berat yang diberikan Allah, ada hikmah manis dan hadiah terindah yang tengah disiapkan," tutur Ummi Kulsum diiringi rekahan senyum serta usapan lembut yang berlabuh di bahu.
Ustaz Reinan dan Abinya menyusul duduk di kursi kayu. Sementara itu, Bi Jayanti bergegas membuatkan teh hangat di dapur. Ia sengaja menahan diri untuk tidak langsung keluar menyapa, demi memberikan ruang bagi Sukma dan para tamunya melepas rindu sekaligus berbincang leluasa.
Hening merayap turun.
Sesaat tidak ada kalimat yang terucap, tergantikan oleh suara cangkir-cangkir yang bersentuhan dengan meja kayu.
Setelah menyapa para tamu, Bi Jayanti mempersilakan mereka untuk menikmati teh nasgitel hangat buatannya.
Demi menghormati sang tuan rumah, Ustaz Reinan dan kedua orang tuanya pun segera meneguk teh yang tersuguh.
Obrolan serius kini kembali dilanjutkan.
Sukma menunduk dalam, jemarinya saling meremas kuat di pangkuan. Ia benar-benar tak berani menatap wajah Ustaz Reinan, Ummi Kulsum, dan Kyai Farhan.
Ia teramat takut mengecewakan ketulusan mereka, jika mereka mengetahui: bahwa di dalam rahimnya tengah tumbuh makhluk kecil, hasil kebiadaban Xavier.
"Bagaimana, Sukma? Kamu bersedia menerima niat tulus kami?" Kyai Farhan memperdengarkan suara khasnya, mengambil alih keheningan yang semula bertakhta.
Sukma kian menunduk dalam dan mengeratkan remasan jemarinya. "Maaf, Kyai..." ucapnya pelan dengan nada suara yang bergetar hebat. "Saya tidak bisa menerima niat tulus itu. Bukan karena saya keberatan, tapi karena... di dalam rahim saya... ada janin, hasil perbuatan hina," lanjutnya terbata.
"Allah..." Kyai Farhan, Ummi Kulsum, dan Ustaz Reinan serempak menyebut asma Ilahi.
Pengakuan Sukma bagaikan kilat petir yang menyambar, meremukkan segumpal daging yang bersemayam di dalam dada.
Sebagai seorang manusia biasa, jelas Ustaz Reinan kian terpukul dengan kenyataan pahit itu. Namun, sebagai seorang laki-laki yang sejak kecil dididik dengan ajaran syariat untuk "memuliakan wanita", ia berusaha keras berlapang dada menerima goresan takdir yang telah dikehendaki Tuhannya.
"Sukma... saya memintamu menjadi teman hidup bukan hanya karena rasa cinta yang dianugerahkan-Nya. Tapi, karena saya ingin menyempurnakan iman, menunaikan ibadah dalam naungan rida-Nya, bersamamu," tutur Ustaz Reinan dengan penuh kesungguhan.
"Jika kamu berkenan, saya akan tetap melanjutkan niat saya," imbuh lelaki bermata teduh itu, tanpa terselip setitik pun keraguan. "Setelah amanah yang dititipkan di rahimmu lahir dan setelah masa nifasmu selesai, saya akan datang lagi bersama Abi dan Ummi untuk menjadikanmu bagian dari keluarga kami."
"Masya Allah..." Bi Jayanti tak kuasa membendung air mata haru. Ia segera mengulurkan kedua tangannya untuk merengkuh erat tubuh Sukma yang kini kembali berguncang hebat seusai mendengar ucapan tulus dari Ustaz Reinan.
.
.
Sunyi seketika menyelimuti ruang privasi Kafe Renjana yang dipesan oleh Haidar, seusai Nara mengutarakan seluruh keresahan batinnya.
Rasa bersalah masih mendekap erat berpadu dengan ketakutan luar biasa akan kemurkaan Xavier, jika lelaki bermata elang itu sampai mengetahui penyebab utama di balik kematian Gea.
Haidar mengembuskan napas kasar, lalu menatap lekat wajah Nara yang kini terbingkai air mata. "Lo nggak usah takut, Ra. Karena yang lo lakuin itu bener," ujarnya menenangkan.
"Apa yang udah diperbuat Xavier bukan hal sepele. Tapi, itu perbuatan terkutuk, pemer-kosaan. Dan dia bisa diseret ke penjara, asal Sukma nggak keberatan buat ngaduin dia ke penegak hukum," lanjutnya kemudian.
"Kalau Xavier berani macam-macam sama lo, gue yang bakal maju. Gue bakal jagain dan ngelindungi lo, seperti yang diamanahin Bu Ayu."
Nara menyeka wajahnya yang basah, lantas perlahan mengangkat kepala dan menatap lekat manik mata Haidar yang menyiratkan kesungguhan.
"Makasih, ya," ucapnya lirih. "Sampaikan permintaan maafku ke Ayu, karena aku pernah merusak namanya di aplikasi X hanya karena rasa sakit hatiku pada Ryuga."
Haidar mengangguk tipis. "Bu Ayu udah maafin lo. Jauh sebelum lo minta maaf. Buktinya, dia minta gue buat jagain dan ngelindungi lo."
Ucapan Haidar menyentil ulu hati Nara. Membuatnya kembali dihujani rasa sesal karena pernah menyebarkan berita dusta demi merusak reputasi Ayu dan Ryuga--memfitnah mereka berselingkuh, hanya karena merasa sakit hati pada Sang Presma yang telah menolak cintanya.
🍁🍁🍁
Bersambung
Assalamu'alaikum, Kakak-kakak terkasih...
Alhamdulillah, berkat dukungan kalian semua, kisah Rama dan Hawa dalam novel Ramadan's Promise terpilih sebagai kandidat YAWW 2026 Periode 1.
Minta doanya ya, semoga tulisan author berhasil menjadi juara.
Jika Kakak-kakak berkenan serta merasa banyak hikmah dan ilmu yang bisa diambil dari novel Ramadan's Promise, tolong dukung author dengan membagikannya di media sosial kalian.
Terima kasih banyak dan salam penuh cinta,
Author Ayuwidia ✨
btw dr awal kamu kan yg salah?
memperkosa loh ga main" itu
The Power of bibi bibi🌹🌹
ancaman dlam kalimat konyol..itu kayak menggertak mau pukul orang tapi pakai ranting pohon tauge..🤣
semoga di kasih 7 tanjakan 7 turunan dan 7 Pengkol penderita mu mengejar maaf vier