NovelToon NovelToon
Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliska Rosemary

Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.


Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.


Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Filleting dan Flirting

Seekor ikan Bar atau Sea Bass berukuran jumbo tergeletak tak berdaya di atas talenan marmer yang dingin. Sisiknya yang keperakan berkilau tertimpa lampu dapur, seolah sedang mengejek Kiandra Zanitha yang kini berdiri mematung dengan pisau filleting di tangan kanan.

Kiandra mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir rasa gentar yang mendadak menyerang. Di matanya, ikan ini bukan sekadar bahan makanan, melainkan representasi dari segala kerumitan hidupnya di Paris dalam seminggu terakhir.

"Oke, Ki. Anggap saja ikan ini adalah ego Enzo yang besar. Harus dikuliti sampai bersih tanpa sisa," gumamnya pelan, mencoba menyemangati diri sendiri.

Ia memosisikan ujung pisau yang lentur itu tepat di belakang insang, mencoba mencari celah untuk memulai irisan pertama. Namun, baru saja mata pisau itu menyentuh permukaan, tangannya sedikit gemetar. Licin. Ikan itu seolah menolak untuk ditaklukkan oleh tangan amatir seperti miliknya.

Sret!

Pisau itu tergelincir, meleset jauh dari sasaran dan hanya meninggalkan goresan dangkal yang berantakan di atas sisik.

"Aduh! Kenapa licin banget sih, kayak pakai oli!" Kiandra menggerutu, meletakkan pisaunya dengan sedikit hentakan frustrasi.

Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. Tadi siang di kampus, ia memang kurang fokus saat demonstrasi teknik ini. Pikirannya terus saja melayang pada kejadian di sofa dua malam lalu, tentang pengakuan memalukan yang keluar begitu saja dari mulutnya.

"Kamu sedang membedah ikan atau sedang mengajak ikan itu berantem, Piccola?"

Suara bariton yang berat dan dalam itu muncul tiba-tiba dari arah lorong, memecah keheningan dapur yang tadinya hanya diisi oleh suara napas kesal Kiandra.

Kiandra tersentak hebat, nyaris melompat dari tempatnya berdiri. Ia menoleh cepat dan mendapati Enzo Romano sedang bersandar santai di meja pantry.

Pria itu mengenakan kemeja linen putih yang kancing atasnya terbuka cukup rendah. Lengan kemejanya digulung kasar hingga ke siku, memamerkan lengan bawah yang berurat dan maskulin. Di tangan kanannya, ia memegang gelas berisi wine merah yang warnanya sepekat darah.

Wajah Kiandra seketika memanas. "Aku lagi mencoba! Tadi di kampus aku kurang fokus, jadi sekarang mau latihan lagi."

Enzo menyesap wine-nya perlahan, matanya yang hazel menyempit, menatap Kiandra dengan senyum miring yang sangat provokatif. Ia melangkah mendekat, suara langkah kakinya di lantai kayu terdengar pelan namun sangat mengintimidasi.

"Kurang fokus karena memikirkan pangeranmu atau dosen gantengmu ini?" tanya Enzo saat ia berhenti tepat di samping meja marmer.

Kiandra mendengus, segera membuang muka dan kembali menatap ikan di depannya. "Ish, siapa juga yang mikirin kamu. Sudah… fokus saja sama wine-mu itu. Jangan ganggu aku."

Enzo tidak menjawab. Ia meletakkan gelas wine-nya di meja, lalu berjalan memutar hingga ia berdiri tepat di belakang Kiandra.

Aroma citrus yang segar bercampur dengan wangi maskulin yang hangat—aroma khas Enzo—langsung mengunci ruang napas Kiandra. Jarak di antara mereka mendadak hilang.

"Minggir sedikit. Biar aku tunjukkan bagaimana pria Italia memperlakukan 'Bar' dengan benar," bisik Enzo.

Kiandra hendak memprotes, namun kata-katanya tertelan kembali di kerongkongan saat Enzo melingkarkan kedua lengannya di sisi tubuh Kiandra. Pria itu mengurung Kiandra di antara meja marmer dan dadanya yang kokoh.

Tangan kanan Enzo yang besar dan hangat meraih tangan kanan Kiandra yang masih memegang pisau. Ia membungkus jemari Kiandra dengan telapak tangannya, memberikan tekanan yang mantap namun lembut.

Deg!

Sengatan listrik yang familiar itu kembali menjalar, mulai dari ujung jari Kiandra, naik ke lengan, dan meledak di dadanya. Kiandra menahan napas, punggungnya menempel sempurna pada dada bidang Enzo. Ia bisa merasakan setiap detak jantung pria itu yang stabil, sangat kontras dengan jantungnya sendiri yang sudah seperti genderang perang.

Enzo mencondongkan wajahnya. Bibirnya berada tepat di samping daun telinga Kiandra, membuat hembusan napas hangatnya menggelitik kulit leher gadis itu.

"Pegang pangkalnya, jangan ditekan. Biarkan pisaunya yang bekerja untukmu," suara Enzo merendah, berubah menjadi bisikan yang sangat intim.

"I-iya, aku tahu..." jawab Kiandra parau. Suaranya bergetar hebat. Fokusnya pada ikan di depan mata sudah hancur lebur, digantikan oleh kesadaran penuh akan keberadaan Enzo yang begitu dominan di belakangnya.

Enzo mulai memandu tangan Kiandra. Dengan satu gerakan yang sangat mulus, presisi, dan tanpa hambatan, mata pisau itu mengiris kulit ikan tepat di belakang kepala. Suara sret pelan yang dihasilkan terdengar sangat memuaskan.

"Rasakan tulang punggungnya. Jangan dilawan, ikuti saja alurnya. Seperti kamu mengikutiku saat berdansa malam itu," bisik Enzo lagi.

"Heh! Kenapa bawa-bawa dansa? Jantungku sudah mau lompat ke dalam panci, tahu!" jerit Kiandra dalam hati. Ia mencoba tetap stabil, namun panas tubuh Enzo di punggungnya membuat kakinya terasa lemas.

Tiba-tiba, tangan kiri Enzo yang tadinya bebas merayap perlahan ke pinggang Kiandra. Jemarinya yang panjang mencengkeram pinggang ramping itu, menarik tubuh Kiandra agar lebih rapat, lebih menyatu dengan tubuhnya.

"Kenapa gemetar? Takut pisaunya melukai jarimu, atau takut sentuhanku menghancurkan pertahananmu?" tanya Enzo dengan nada yang sangat menjanjikan.

Kiandra menoleh sedikit, sebuah kesalahan fatal karena kini wajahnya hanya berjarak dua sentimeter dari hidung mancung Enzo. Ia bisa melihat kilatan keemasan di mata hazel pria itu, sebuah tatapan lapar yang tidak lagi disembunyikan.

"Kamu kepedean! Aku cuma... gugup saja!" Kiandra membela diri dengan sisa-sisa keberaniannya.

Enzo tertawa rendah. Suara baritonnya bergetar di bahu Kiandra, menciptakan resonansi yang membuat perut Kiandra berkedut aneh. "Gugup? Tapi wajahmu semerah saus tomat, Piccola. Kamu sedang berbohong."

"Enzo, lepas... aku bisa sendiri sekarang," desis Kiandra, meski ia sendiri tidak yakin apakah ia benar-benar ingin Enzo melepaskannya.

Enzo tidak melepaskan. Ia justru semakin menekan pisaunya, memandu tangan Kiandra menyusuri tulang punggung ikan hingga ke ekor dengan satu tarikan yang sempurna. Fillet ikan itu terlepas dengan bersih, tanpa ada daging yang tertinggal di tulang.

"Nah, lihat. Bersih tanpa sisa," ucap Enzo puas.

Ia akhirnya melepaskan tangan Kiandra, namun ia tetap tidak bergeser. Enzo tetap mengurung Kiandra di antara meja marmer dan tubuhnya, menatap mahasiswinya itu dengan intensitas yang menghimpit.

"Jadi… sudah paham sekarang?" tanya Enzo, suaranya kini terdengar lebih dalam.

Kiandra terbelalak, menatap mata Enzo dengan napas yang memburu. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat ia menyadari betapa intimnya posisi mereka sekarang. "I-ya, aku sudah paham."

Enzo menyeringai provokatif. Ibu jarinya yang kasar namun hangat merayap naik, mengusap dagu Kiandra dengan gerakan yang sangat lambat, menikmati setiap ekspresi yang muncul di wajah Kiandra.

"Jadi kedepannya, aku tidak mau lihat kesalahan amatir seperti di kampus tadi, oke?"

"Iya!" jawab Kiandra cepat, ingin segera mengakhiri ketegangan yang menyiksa ini.

Enzo tertawa puas. Ia melepaskan kurungannya, memberikan ruang bagi oksigen untuk kembali masuk ke paru-paru Kiandra yang sudah sesak. Ia mengambil kembali gelas wine-nya, menyesapnya dengan gaya yang sangat santai seolah tidak baru saja membuat dunia seseorang jungkir balik.

Kiandra mengedumel pelan sambil merapikan apronnya yang sedikit kusut. "Kamu itu dosen paling menyebalkan, narsis, dan... dan tukang bully!"

Enzo berhenti melangkah menuju lorong. Ia menoleh sekali lagi, menatap Kiandra dengan tatapan yang sangat tajam.

"Tapi aku adalah pria yang sesuai dengan 'tipemu', kan? Kamu sendiri yang bilang malam itu di sofa."

Kiandra segera menyambar serbet bersih di dekatnya, menutupi wajahnya yang sudah panas membara hingga ke telinga. "Lupakan itu! Aku cuma asal jawab saja waktu itu karena ngantuk!"

Enzo tertawa lagi, kali ini suaranya terdengar sangat renyah. Ia berjalan menjauh menuju balkon, namun sebelum menghilang di balik tirai, ia memberikan satu kedipan mata maut yang membuat jantung Kiandra nyaris copot.

"Cuci ikannya, Piccola. Dan cuci juga pikiran nakalmu itu. Sampai jumpa di meja makan."

Kiandra berdiri mematung di depan wastafel. Ia menatap fillet ikan yang sudah terpotong rapi di atas talenan dengan napas memburu. Tangannya masih gemetar, dan rasa panas di pipinya seolah menolak untuk pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!