NovelToon NovelToon
Trigger Between Us

Trigger Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Luo Aige

Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.

Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.

Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.

Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.

Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Judi

Wanita bergaun merah itu tidak langsung duduk setelah Aveline meletakkan kunci mobil di atas meja. Tatapannya masih tertahan cukup lama pada wanita asing di depannya, seolah sedang mencoba memastikan bahwa semua ini benar-benar serius. Dan semakin lama ia memperhatikan, semakin jelas perbedaan Aveline dibanding orang-orang di rumah judi itu.

Mantel hitam panjang yang dikenakannya masih bersih tanpa debu jalanan, rambut hitamnya tertata rapi, dan bahkan cara duduknya terlihat terlalu tenang untuk tempat seperti Velmire. Di tengah ruangan penuh asap rokok, bau alkohol murah, dan suara tawa kasar yang sejak tadi memenuhi udara, Aveline justru tampak seperti seseorang yang salah masuk ke tempat itu.

Itulah sebabnya perhatian ruangan perlahan mulai berpindah ke arah mereka.

Awalnya hanya beberapa pria dari meja terdekat yang melirik sambil tetap memegang kartu di tangan mereka. Namun semakin lama, makin banyak orang mulai memperhatikan wanita asing yang tiba-tiba masuk ke rumah judi pagi-pagi lalu mempertaruhkan mobil demi seorang gadis yang bahkan belum tentu berharga.

“Dia pasti baru pertama kali datang ke Velmire.”

“Lihat saja pakaiannya.”

“Perempuan seperti itu biasanya bahkan tidak mau turun dari kereta di distrik ini.”

“Dan sekarang dia mau bermain kartu?”

Tawa mulai terdengar dari beberapa sudut ruangan. Bahkan para wanita yang duduk menemani pelanggan ikut memperhatikan Aveline dengan rasa penasaran yang terang-terangan.

Namun Aveline sama sekali tidak memperdulikan mereka. Tatapannya tetap tenang ke arah wanita bergaun merah di depannya seolah suara-suara di sekitar sana tidak memiliki arti apa pun.

“Aku hanya ingin bermain.”

Nada suaranya datar, tidak tinggi, tidak juga terdengar menantang. Justru ketenangan itu yang membuat beberapa orang makin merasa wanita asing tersebut tidak mengerti sedang berada di mana.

Wanita bergaun merah itu akhirnya tertawa kecil sebelum duduk perlahan di depan meja judi sambil mulai mengocok kartu di tangannya. “Baiklah kalau begitu. Saya harap Anda tidak menyesali taruhan kesepakatan yang Anda buat sendiri nantinya.”

Aveline ikut duduk tanpa banyak bicara. Tangannya bergerak pelan melepas sarung tangan hitam lalu meletakkannya di atas meja. Gerakannya rapi dan santai, seolah ia benar-benar datang hanya untuk menghabiskan waktu, bukan berada di tengah rumah judi paling kotor di Velmire.

Permainan pertama dimulai sederhana. Taruhannya belum terlalu besar. Hanya permainan kartu biasa yang umum dimainkan di tempat-tempat seperti itu. Orang-orang di sekitar mulai mendekat sedikit demi sedikit, beberapa membawa gelas alkohol, beberapa lagi tetap berdiri sambil merokok dan memperhatikan meja mereka.

Aveline melihat kartunya sekilas sebelum mulai bermain tanpa banyak bicara.

Dan tidak lama kemudian, ia kalah.

Tawa langsung terdengar di sekitar meja.

“Sudah kuduga.”

“Dia bahkan tidak tahu kapan harus menahan kartu.”

“Lady, meja judi tidak seindah pesta distrik atas.”

Wanita bergaun merah itu menarik kemenangan kecil dengan santai sebelum bertanya apakah Aveline masih ingin lanjut. Dan saat wanita asing itu menjawab tenang tanpa perubahan wajah sedikit pun, tawa di sekitar meja justru terdengar makin santai sekarang. Mereka mulai benar-benar menganggap ini hiburan.

Permainan kedua dimulai.

Kali ini lebih banyak orang mendekat ke arah meja mereka. Beberapa pria bahkan memutar kursi sendiri hanya untuk menonton bagaimana wanita asing itu perlahan kehilangan taruhannya. Sementara itu Aveline tetap terlihat biasa saja. Kadang ia membuang kartu terlalu cepat, kadang terlihat ragu beberapa detik sebelum mengambil keputusan, dan hasil akhirnya tetap sama.

Ia kalah lagi.

“Kurasa dia bahkan belum memahami permainannya.”

“Mobil itu sebentar lagi akan pindah tangan.”

“Orang luar memang terlalu percaya diri.”

Tawa kembali terdengar, tetapi Aveline sama sekali tidak terlihat kesal. Ia justru tampak cukup santai setiap kali permainan dimulai ulang. Tangannya tetap tenang saat mengambil kartu baru, sementara orang-orang di sekitar mulai terlalu nyaman menertawakannya.

Dan memang itulah yang ia inginkan sejak awal.

Karena sejak duduk di meja itu, Aveline memang sengaja mengalah. Membiarkan dirinya terlihat buruk untuk mengikuti ritme permainan mereka supaya semua orang berhenti berhati-hati dan mulai menganggap dirinya tidak berbahaya.

Semakin mereka meremehkannya, semakin mereka lengah.

Permainan kembali berjalan.

Dan lagi.

Aveline kembali kalah.

Kini suasana rumah judi itu benar-benar berubah menjadi tontonan. Beberapa orang mulai membicarakan mobil Aveline seolah kendaraan itu sudah resmi menjadi milik rumah judi. Bahkan wanita bergaun merah di depannya terlihat jauh lebih santai dibanding awal tadi. Cara ia membagikan kartu kini jauh lebih ringan, senyumnya lebih mudah muncul, dan tatapannya sudah tidak lagi setajam sebelumnya.

Ia sudah terlalu yakin akan menang.

Dan itu membuat sudut bibir Aveline akhirnya bergerak tipis untuk pertama kalinya sejak duduk di meja itu.

Kecil sekali. Hampir tidak terlihat.

Namun cukup untuk membuat wanita di depannya sedikit berhenti sebelum mulai membagikan kartu terakhir.

Taruhan kali ini lebih besar dibanding sebelumnya. Orang-orang di sekitar meja ikut bersorak kecil sambil menunggu kekalahan Aveline berikutnya. Bahkan beberapa pria sudah mulai membicarakan siapa yang akan membawa mobil hitam itu keluar dari Velmire nanti.

Sementara itu Aveline hanya diam sambil melihat kartu di tangannya beberapa detik. Lalu perlahan, tangannya mulai bergerak.

Kartu pertama diletakkan di atas meja. Beberapa orang masih tertawa kecil.

Kartu kedua menyusul. Suara di sekitar meja mulai mengecil, dan saat kartu terakhir dibuka, suasana rumah judi itu langsung berubah sunyi.

Tawa tadi hilang begitu saja. Beberapa pria yang sejak awal mengejek langsung berhenti bicara sambil melihat kartu di atas meja lebih lama seolah tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

Karena kali ini Aveline tidak sekadar menang.

Ia benar-benar membalik seluruh permainan hanya dalam satu putaran terakhir setelah membiarkan semua orang menganggap dirinya bodoh sejak awal.

Aturannya sebenarnya sederhana. Permainan itu hanya menghitung siapa yang paling dekat dengan angka dua puluh satu tanpa melewatinya. Sejak awal, wanita bergaun merah itu sudah membuka angka tujuh belas. Cukup tinggi untuk membuatnya merasa aman, apalagi setelah Aveline beberapa kali terlihat mengambil keputusan buruk di putaran sebelumnya.

Namun pada putaran terakhir itu, kartu Aveline terbuka satu per satu.

Empat, tiga, lima, yang dimana jumlahnya baru dua belas.

Orang-orang masih sempat tertawa kecil. Bagi mereka, Aveline hanya sedang memperpanjang kekalahannya sendiri. Jika ia berhenti di angka itu, ia pasti kalah. Jika ia mengambil kartu lagi, ia bisa saja melewati batas dan kehilangan semuanya.

Wanita bergaun merah itu menatapnya dengan senyum tipis. “Masih ingin mengambil kartu?”

Aveline mengangkat pandangan. “Lagi.”

Kartu berikutnya dibuka.

Enam.

Jumlahnya menjadi delapan belas.

Tawa di sekitar meja langsung mengecil. Para pria yang tadi berdiri santai mulai mencondongkan tubuh, menatap kartu Aveline lebih saksama. Wanita bergaun merah itu tidak lagi tersenyum. Dengan tujuh belas di tangannya, ia kalah satu angka.

Aveline tidak berkata apa-apa. Ia hanya mendorong kartu-kartunya sedikit ke tengah meja, membiarkan semua orang melihat hitungan itu dengan jelas.

Wanita bergaun merah itu menatap kartunya sendiri. Jika ia berhenti, ia kalah. Jika mengambil kartu lagi, risikonya melewati dua puluh satu. Namun di depan begitu banyak orang, ia tidak mungkin mundur begitu saja setelah sejak tadi menertawakan Aveline.

Akhirnya ia menarik satu kartu lagi.

Lima. Tujuh belas ditambah lima sama dengan dua puluh dua.

Ia kalah.

Suara di sekitar meja hilang seketika. Tidak ada lagi tawa ataupun ejekan. Semua orang baru menyadari bahwa sejak awal Aveline bukan tidak mengerti permainan. Ia hanya membiarkan mereka merasa menang terlalu cepat.

Aveline mengambil kembali sarung tangan hitamnya, lalu mengenakannya perlahan. Setelah itu, ia menyentuh kunci mobil yang masih berada di atas meja.

“Permainan selesai.”

Wanita bergaun merah itu menatapnya kaku.

Aveline mengangkat pandangan. Suaranya tetap tenang, tetapi kali ini terdengar lebih tegas.

“Serahkan gadis itu.”

~oo0oo~

Liora awalnya masih berusaha tenang di dalam mobil meskipun waktu terus berjalan lebih lama dari yang seharusnya. Tangannya beberapa kali meremas ujung mantel tipis di pangkuannya sambil terus melirik ke arah bangunan rumah judi di seberang jalan. Pintu tempat itu masih terbuka seperti sebelumnya. Orang-orang masih keluar masuk. Tawa kasar dan suara musik pelan kadang terdengar sampai ke jalanan luar.

Namun Aveline belum juga muncul. Satu jam berlalu, kemudian hampir dua jam.

Perasaan tidak nyaman dalam dada Liora mulai berubah menjadi kepanikan yang benar-benar sulit ditahan. Ia masih mengingat jelas perintah Aveline sebelum masuk ke tempat itu.

Tetap di mobil. Jangan turun apa pun yang terjadi.

Tetapi semakin lama ia duduk sendiri di tengah Velmire, semakin buruk pikirannya berjalan. Distrik itu bahkan terlihat mengerikan di siang hari. Ia tidak berani membayangkan apa yang bisa terjadi di dalam rumah judi seperti itu.

Tatapannya bergerak gelisah ke luar jendela sampai akhirnya ia melihat sesuatu di seberang jalan. Sebuah bilik telepon umum. Bilik kecil, tua, dan terlihat kotor di bawah lampu jalan redup.

Liora langsung menatap ke arah rumah judi lagi sebelum menggigit bibir pelan. Jemarinya meremas tas kecil di pangkuannya beberapa detik, lalu akhirnya ia membuka pintu mobil dengan cepat.

Ia memutuskan untuk turun.

Udara Velmire seketika terasa lebih tidak nyaman saat benar-benar berdiri di jalanan distrik itu. Beberapa pria di pinggir jalan sempat melirik ke arahnya ketika ia berjalan cepat menyeberang. Liora berusaha mengabaikan semua tatapan itu sambil terus mempercepat langkah menuju bilik telepon.

Begitu masuk, ia langsung menutup pintu kaca di belakangnya dengan napas sedikit tidak teratur. Tangannya buru-buru mengambil nomor markas militer William yang masih ia ingat.

Satu angka, lalu angka berikutnya. Jarinyabergerak cepat menekan tombol telepon sambil sesekali menoleh cemas ke luar kaca bilik. Nada sambung mulai terdengar.

Liora langsung mengangkat gagang telepon lebih erat. “Ayo … ayo cepat!”

Namun sebelum suara dari seberang benar-benar terdengar jelas—

Brak.

Pintu bilik telepon tiba-tiba terbuka kasar. Liora langsung tersentak kaget.

Tiga pria berdiri di depan pintu dengan bau alkohol dan rokok yang langsung memenuhi ruang sempit itu. Salah satu dari mereka menyeringai sambil menahan pintu dengan sebelah tangan.

“Wah .…” pria berbadan besar dengan perut buncit mengangkat alis sambil melihat Liora dari atas sampai bawah. “Kurasa aku baru pertama kali melihat wajah seperti ini di Velmire.”

Dua pria lainnya ikut tertawa kecil.

Liora buru-buru menurunkan gagang telepon sedikit ke samping tubuhnya. “Maaf … saya hanya ingin menelepon.”

“Telepon?” Salah satu pria mendekat sedikit. “Nona secantik ini sendirian di distrik seperti ini malah lebih menarik daripada isi teleponnya.”

Tawa kembali terdengar. Pria lain menyenderkan tubuh ke sisi pintu sambil terus memperhatikan wajah Liora tanpa malu-malu. “Bukankah dia terlihat cukup cantik?”

“Kalau dijual, mungkin harganya lumayan.”

“Sayang sekali kalau dijual.” Yang paling depan menyeringai lebih lebar. “Lebih baik kita gunakan sendiri dulu.”

Wajah Liora langsung pucat.

Ia buru-buru mundur selangkah, tetapi ruang bilik itu terlalu sempit. Belum sempat ia bergerak lebih jauh, salah satu pria tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya secara kasar.

Liora langsung tersentak. “Apa yang kalian lakukan?! Lepaskan aku!”

Namun mereka justru tertawa. Pria itu menarik tangannya paksa keluar dari bilik telepon. “Tenang saja. Kami hanya ingin mengobrol sedikit.”

Liora berusaha menahan tubuhnya di ambang pintu. Jemarinya mencengkeram sisi bilik sekuat tenaga sambil mencoba melepaskan cekalan di pergelangan tangannya.

“Jika kalian tidak melepaskanku, maka aku akan berteriak!”

“Berteriaklah,” jawab pria berkepala botak sambil tertawa keras.

Liora langsung berteriak minta tolong. Suaranya pecah karena panik, menggema sampai ke jalan depan rumah judi.

Tetapi sayangnya tidak ada yang bergerak. Beberapa orang memang melirik ke arah mereka, tetapi tidak satu pun mendekat.

Dan saat itulah Liora tiba-tiba teringat gadis muda yang tadi diseret paksa ke dalam rumah judi sambil menangis meminta tolong.

Pria di depannya masih tertawa, dan justru semakin keras saat melihat wajah pucatnya.

“Berteriaklah sesuka hatimu,” katanya sambil menarik tangan Liora lebih kasar. “Orang-orang di sini lebih menyayangi nyawa mereka daripada mengantarkannya pada kami.”

Napas Liora mulai tidak teratur. Ia benar-benar ketakutan sekarang. Tepat saat pria itu kembali menarik tubuhnya paksa menjauh dari bilik telepon, Liora langsung bergerak spontan. Ia membungkuk cepat lalu menggigit tangan pria buncit itu sekuat tenaga.

“AARGH!”

Pria tersebut langsung mengumpat kasar sambil refleks melepas cekalannya.

Liora tidak menunggu sedetik pun. Tangannya langsung melayang keras menampar wajah pria di hadapannya sampai suara tamparannya terdengar jelas di jalanan.

Beberapa pria lain langsung terdiam kaget. Sementara lelaki yang ditampar itu mematung beberapa detik sebelum perlahan menoleh kembali ke arah Liora. Wajahnya berubah penuh amarah, sementara bekas gigitan di tangannya mulai memerah.

“Kau berani menamparku?!”

Liora mundur setengah langkah dengan napas gemetar.

Akan tetapi orang tersebut tampak terlanjur emosi. Tangannya langsung meraih sesuatu dari balik jaket sebelum mengeluarkan sebilah pisau pendek.

Sorot mata Liora langsung berubah panik. Tubuh besar itu melangkah cepat sambil mengangkat pisaunya ke arah tubuh Liora.

Ketika pria itu mulai mengayunkan senjatanya, Liora refleks memejamkan kedua dan berteriak. Tetapi anehnya, ia tidak merasakan penderitaan apapun yang membuat beritanya seketika terhenti.

Perlahan, Liora mencoba untuk membuka mata dengan napas yang masih gemetar.

Dan di depan gadis itu ... Aveline berdiri di sana.

Tangannya menahan bilah pisau tersebut tepat beberapa senti sebelum mencapai dada Liora. Aveline menggenggamnya cukup keras, sehungga melukai telapak tangannya membuat darah menetes begitu derasnya dan mengotori jalanan Velmire.

Mata Liora langsung membesar.

“N–No … Nona …?”

.

.

.

Bersambung

Bonus foto William wkwkw🫨

1
Norris Yuniarty
seru2 cerita y😍😍😍
Norris Yuniarty
seru cerita y😍😍😍
Saelyn: Mksh😺
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjut.......
Dede Dedeh
aku suka karakter cewek yg kuat....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!