NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN SANG MAFIA

PERNIKAHAN SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:195.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ani.hendra

Dante Valtieri, pemimpin organisasi mafia terkuat di Eropa, dikenal dengan julukan "Tangan Besi". Ia tidak pernah ragu menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya, dan namanya saja sudah cukup membuat orang bergidik ngeri. Namun, di balik sifatnya yang kejam, Dante memiliki tujuan tersembunyi, menyatukan seluruh kelompok kekuasaan di bawah satu payung demi membalas dendam atas kematian keluarganya.

Rencana itu terancam ketika ia terpaksa menyetujui pernikahan perjanjian dengan Elara Sterling, putri tunggal pemimpin kelompok lawan yang dihormati namun terjepit kesulitan keuangan. Elara, seorang wanita cerdas, berpendidikan tinggi, dan memiliki prinsip yang teguh, sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Ia menganggap Dante hanyalah seorang penjahat yang tidak memiliki hati.

Ketika bahaya mengancam nyawa Elara akibat persaingan kekuasaan, Dante harus memilih antara ambisi balas dendamnya atau melindungi wanita yang mulai ia cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIDAK MENYERAH

💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌

🍀 HAPPY READING 🍀

.

.

Tidak beberapa lama, mobil yang mengantarkan Dante akhirnya tiba di lokasi terjadinya peristiwa ledakan itu. Pandangan mata Dante disambut oleh pemandangan yang sangat mengenaskan. Api yang tersisa masih terlihat berkobar di beberapa titik di sela puing-puing bangunan yang hancur. Asap hitam pekat mengepul tinggi ke angkasa. Bangunan hangus sangat menusuk hidung. Di sekitar lokasi terlihat beberapa mobil pemadam kebakaran, ambulans, dan mobil polisi. Suara teriakan tangis dan ratapan pilu terdengar di mana-mana, menciptakan suasana yang kacau dan mencekam.

Dante dan Pak Herman segera turun dari mobil dan langsung menuju ke lokasi terjadinya ledakan. Beberapa petugas dan staf yang bertugas segera menyambut kedatangan mereka. Wajah mereka terlihat lelah, ketakutan, namun juga penuh rasa hormat dan dukungan.

“Tuan! Syukurlah Tuan datang. Situasi sangat kacau di sini,” ucap salah satu korban lapangan dengan wajah penuh kekhawatiran.

“Bagaimana kondisi terkini? Apa api sudah bisa dikendalikan?” tanya Dante cepat.

“Sudah mulai terkontrol, Tuan. Tapi api sempat menyala sangat besar dan cepat. Banyak dokumen, barang, dan fasilitas hangus terbakar. Korban terus di evakuasi dan diidentifikasi,” jawab petugas itu.

Dante hanya mengangguk perlahan, matnya menatap sekeliling dengan pandangan kosong dan hancur. Ia berjalan perlahan menelusuri puing-puing bangunan yang hangus itu, diikuti oleh Pak Herman dan beberapa pengawal.

Di salah satu sisi lokasi, Dante melihat sekumpulan orang yang terluka sedang dirawat oleh tim medis, dan sekumpulan keluarga korban yang sedang menangis histeris. Hati Dante terasa tersobek pilu melihat pemandangan itu. Rasa bersalah dan kemarahannya makin menumpuk di saat yang bersamaan.

“Mereka harus membayar ini. Mereka benar-benar melewati batas yang tak bisa dimaafkan,” batin Dante penuh tekad.

Tiba-tiba seorang detektif dari kepolisan menghampiri Dante dan memperkenalkan dirinya. “Sel malam, Tuan Valtieri. Saya Detektif Alberto. Kami sedang memeriksa kasus ini.”

Dante menatap detektif itu dengan tatapan kosong “Bagaimana hasil investigasinya Alberto? Apa ada jejak atau petunjuk yang bisa mengarah ke pelaku?”

Detektif Alberto mengangguk sedikit, “Kami menduga ini bukan kebetulan atau kecelakaan teknis semata, Tuan. Berdasarkan pola ledakan dan jejak bahan yang kami temukan, indikasinya ini adalah tindakan teror yang disengaja. Namun, petunjuknya sangat sedikit dan pelakunya sepertinya sangat ahli dan hati-hati. Mereka tidak meninggalkan jejak yang mencolok.”

“Mereka memang ahli. Mereka terbiasa bekerja di dalam kegelapan dan kekejian,” batin Dante. “Baik, Detektif. Saya harap kepolisan bisa bekerja cepat dan menemukan siapa dalang di balik semua ini. Saya akan memberikan dukungan penuh untuk Investigasi ini. Silakan ambil data dan keterangan dari pihak kami bila diperlukan.”

“Tentu, Tuan. Kami akan bekerja maksimal,” jawab Detektif Alberto lalu undur.

Beberapa jam berlalu. Berita tentang insiden ini telah menyebar luas ke media masa dan sosial. Berbagai reaksi bermunculan, mulai dari bela sungkawa, dukungan, hingga spekulasi dan berita tidak sedap yang dikembangkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Citra organis Dante makin terancam hancur di hadapan publik.

Di lokasi tersebut, setelah situasi mulai terkontrol dan evakuasi korban selesai dilakukan, Dante bertemu dengan keluarga salah satu korban jiwa yang tewas dalam insiden itu. Seorang wanita paruh baya nampak hancur hatinya menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh suaminya yang terbujur kaku.

Dante mendekat dengan hati-hati dan penuh rasa hormat. “Ibu… Saya Dante. Saya mewakili seluruh keluarga besar organisasi ini menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalam atas meninggalnya suami Ibu. Ini semua terjadi karena ketidak beruntungan dan kejahatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Saya sungguh minta ma…”

Belum seles Dante menyelesaikan ucapannya, wanita itu tiba-tiba menatap wajah Dante dengan tatapan yang penuh rasa sakit dan kemarahan. “Tidak perlu minta maaf! Semua ini terjadi karena Kalian! Karena Kalian suamiku meninggal! Karena kalian anak-anakku menjadi yatim piatu! Kenapa kalian tidak mati saja bersama dengan organis busuk kalian itu?! Kenapa orang tidak berdosa yang menjadi korbannya?! Aaaaa!”

Wanita itu itu teriak histeris dan akhirnya ambruk pingsan tidak sadarkan diri. Situasi menjadi kacau sejenak dan petugas medis segera memberikan pertolongan.

Dante diam membeku di tempatnya. Seolah ribuan pisau tajam menusuk tubuhnya serentak. Kata-kata wanita itu terngiang terus di kepalanya. Betul… betul sekali. Semua ini terjadi karena dirinya. Karena dia berusaha mengubah sistem, karena dia berusaha melawan organis jahat itu, maka orang-orang di sekelilingnya lah yang menanggung akibatnya. Rasa bersalah yang luar biasa menyelimuti hati Dante.

“Tuan… Tuan tidak apa-apa?” tanya Pak Herman yang ada di sebelah Dante dengan khawatir.

Dante tidak menjawab apa-apa. Ia hanya menatap kosong ke bawah, tubuhnya terasa sangat lemas dan lunglai. Ia merasa sangat gagal. Gagal menjadi pemimpin, gagal menjadi pelindung, gagal menjadi manusia yang berguna.

Namun di hatinya yang paling dalam, rasa marah dan tekadnya untuk membalas dan mengakhiri ini semua juga ikut berkobar. Rasa sakit dan kemarahan ini tidak boleh sia-sia. Dia harus memastikan ini adalah insiden terakhir yang terjadi. Dia tidak boleh membiarkan lagi ada orang yang tidak berdosa menjadi korban ambisi kejahatan mereka.

Subuh hari, setelah segala sesuatu di lokasi kejadian tertangani, Dante akhirnya kembali ke kediaman utama. Ia terasa sangat lelah secara fisik maupun batin. Namun, mereka sadar bahwa perjuangan ini belum selesai. Masih ada banyak hal yang harus diselesaikan.

Sesampai di kediamannya, Dante langsung menuju ke kamar di atas. Ia harus memastikan kondisi istrinya dan menenangkan hati istrinya yang pasti sedang gelisah menunggunya.

Dante membuka pintu kamarnya, Ia melihat istrinya sedang duduk di tepi kasur dengan wajah pucat dan mata sembab. Terlihat dia sangat khawatir sepanjang Dante pergi. Begitu melihat kehadiran suaminya itu, Elara seketika beranjak dan berlari mendekat ke arah Dante.

“Dante! Kau sudah pulang! Terima kasih Tuhan!” ujar Elara dengan suara terbata-bata penuh lega dan haru. Ia memeluk tubuh Dante erat-erat seolah takut suaminya hilang.

Dante juga membalas memeluk istrinya dengan erat, membiarkan rasa hangat tubuh istrinya menembus rasa hancur di hatinya. “Maaf Elara. Aku membuatmu cemas lagi. Aku baik-baik saja.”

Elara melepas pelukannya itu sedikit dan menatap wajah suaminya lekat-lekat. “Bagaimana di sana, Dante? Kondisi korban dan semuanya?”

Dante menunduk lesu, “Sangat buruk, Elara. Banyak korban jiwa dan luka. Banyak keluarga yang hancur masa depannya. Semua ini karena aku…”

Elara segera menutup mulut suaminya dengan jarinya. “Jangan bicara begitu, Dante. Ini bukan salahmu. Ini salah orang-orang jahat itu.”

“Tapi mereka menyerang karena mereka takut akan perubahan yang aku lakukan, El. Aku lah tujuan utama mereka. Aku lah penyebab semua ini,” bantah Dante dengan suara penuh rasa bersalah.

Elara memegang wajah suaminya di kedua tangannya. “Dengar Dante. Tindakan mereka menyerang adalah karena mereka jahat. Bukan karena kamu berbuat salah. Justru karena kamu berusaha melawan kejamnya itulah maka mereka takut dan panik. Ini bukan salahmu Dante. Jadi jangan merasa bersalah.”

“Tapi El… korban nyawa itu nyata. Kehancuran itu nyata,” bantah Dante lemah.

“Aku tahu, Dante. Aku mengerti. Tapi ini bukan akhir dari segalanya. Kita masih bisa berbuat sesuatu untuk menghindari terjadinya hal yang lebih buruk di masa depan. Kita harus berjuang lebih keras lagi untuk menumpaskan kejahatan itu, bukan menyerah dan larut dalam rasa bersalah,” ujar Elara dengan tegas namun penuh kasih sayang.

Dante menatap wajah istrinya yang teguh itu. Hatinya terasa tersentuh kembali. Betul. Elara benar. Rasa bersalah tidak akan menyelesaikan masalah. Justru rasa bersalah itu harus dijadikan bahan bakar untuk berjuang lebih kuat lagi. Dia harus menumpaskan kejahatan itu hingga ke akar-akarnya, bukan hanya untuk keamanan keluarganya, tapi juga untuk menjaga agar tidak ada lagi korban tidak berdosa yang jatuh.

“Terima kasih, Elara. Terima kasih telah memberiku kekuatan lagi,” ujar Dante tulus.

“Kita akan melewati ini semua bersama-sama, Dante. Aku akan selalu mendukungmu,” jawab Elara lembut.

Malam itu, di kediaman yang terlihat tenang itu, namun di hati Dante bergemuruh tekad yang kuat. Insiden terakhir ini bukanlah kemenangan bagi musuhnya, namun justu akan menjadi awal dari pertarungan terakhir yang lebih sengit lagi. Ia berjanji dalam hati, dia tidak akan membiarkan korban lebih banyak lagi. Dia akan mengakhiri ini semua secepatnya, walau bagaimana caranya.

Di sisi lain, di sebuah ruangan tertutup yang gelap dan dingin, seseorang duduk di kursi kebesarannya sambil tersenyum puas mendengar laporan bawahannya. “Bagus… ini baru awal yang baik. Semakin tertekan dia, semakin cepat dia jatuh. Tunggu saja… tidak butuh waktu lama lagi hingga semua hancur total.”

Namun orang itu tidak tahu, di balik rasa sakit dan penderitaan yang dialami Dante hari ini, tersembunyi tekad baja yang baru saja tertanam. Tekad untuk tidak menyerah dan bertahan hingga tetes darah terakhir. Pertama antara dua kekuatan itu akan segera mencapai puncaknya, dan nasib siapakah yang akan kalah dan menang masih belum bisa ditentukan.

BERSAMBUNG

^_^

Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍

Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

^_^

1
Briana Annette
author terbaik aku semngat ya 😍
Briana Annette
Jangan nyerah ya bang 🥲 kami ada untuk ABG dante
Briana Annette
semangat 🤭
Briana Annette
Tak bisa berkata-kata lagi 🥲 sedih banget jadi dante, banyak nian ma
Briana Annette
🥲🥲🥲🥲🥲🥲🥲🥲🥲
Briana Annette
Ada masalah lagi 🥲
Briana Annette
💪💪💪💪💪💪💪💪
Angela Catrine 💢
semangat 🙏
Angela Catrine 💢
Semoga ada jalan penyelesaiannya dan gak membuat dante pening dan gak pulang nanti lihat istrinya
Angela Catrine 💢
semangat 💪
Angela Catrine 💢
Parah....sampai musuh meledakkan sesuatu
gimana nasib orang yang gak bersalah
Angela Catrine 💢
👍👍👍👍👍👍👍👍
Angela Catrine 💢
Sabar ya bang dante
Victoria Genevieve
lanjut dong 👍
Victoria Genevieve
semangat Thor sayang 🙏
Bunga Yona
up dong
Bunga Yona
Dante banyak banget cobaan mu 🤭
Cheryl Emery
lanjut
Cheryl Emery
semangat 👍
Gretchen Paula
semangat ya 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!