NovelToon NovelToon
Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:19k
Nilai: 5
Nama Author: GABRIELA POSENTIA NAHAK

Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
​Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
​Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
​'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
​Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : Pecahnya Keheningan yang Mematikan

Mansion megah di kawasan elit Jakarta itu kini tak lebih dari sebuah peti es raksasa.

Keheningan yang merayap di setiap sudut ruangan terasa begitu mencekik, bahkan lebih menyakitkan daripada suara guntur yang menggelegar.

Sejak insiden di kantor kemarin, tidak ada satu pun kata yang keluar dari bibir Kinara. Wanita itu menjelma menjadi sosok asing—sebuah raga tanpa jiwa yang bergerak hanya berdasarkan insting bertahan hidup.

​Arlan terbangun dengan tubuh kaku. Ia tidak pindah dari posisinya; ia tetap bersandar di depan pintu kamar yang terkunci sepanjang malam, memeluk lututnya sendiri seperti pria yang kehilangan segala miliknya di dunia.

Saat suara kunci diputar dari dalam, Arlan langsung terjaga. Ia mendongak dengan mata yang merah, kusam, dan dipenuhi gurat kelelahan yang luar biasa.

​Kinara keluar.

Ia tidak menatap Arlan.

Ia melangkah melewati tubuh suaminya seolah Arlan hanyalah seonggok debu yang tidak berarti. Aroma parfum Kinara yang lembut biasanya menjadi candu bagi Arlan, namun pagi ini, aroma itu terasa seperti aroma perpisahan yang menyesakkan.

​"Kin... tolong..." suara Arlan parau, pecah di ujung lidah.

​Kinara tidak berhenti.

Langkah kakinya yang pelan namun pasti terdengar bergema di lorong sunyi itu. Ia menuju dapur. Meskipun hatinya sedang lumat, Kinara tahu ada nyawa lain di rahimnya yang butuh makan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas.

​Arlan mengikuti dengan langkah gontai, jaraknya selalu dijaga sekitar dua meter, seolah ia takut jika mendekat, Kinara akan meledak atau menghilang. Ia berdiri di ambang pintu dapur, menyaksikan Kinara mulai mengupas bawang.

Keheningan di antara mereka begitu tajam, hingga suara pisau yang beradu dengan papan kayu terdengar seperti dentuman meriam.

​Tak... Tak... Tak...

​"Kinara, aku mohon... bicaralah padaku. Maki aku, pukul aku, atau hancurkan semua barang di rumah ini, tapi tolong jangan diam seperti ini," Arlan memulai kembali usahanya.

Suaranya bergetar, menahan beban rasa bersalah yang hampir membuatnya gila. "Situasi di kantor kemarin... itu murni jebakan. Clarissa, dia hanya sekretaris baru yang tidak tahu diri. Aku bersumpah demi nyawaku, demi bayi kita, aku tidak pernah memberikan celah sedikit pun padanya."

​Kinara tetap bergeming. Ia menyalakan kompor. Suara desisan minyak panas mulai memenuhi ruangan, namun hatinya tetap dingin membeku.

​"Tadi itu ada debu di mataku, Kin. Dia hanya mencoba mengambilnya saat aku sedang lengah. Aku tidak tahu dia akan senekat itu untuk mendekatkan wajahnya tepat saat kamu masuk," Arlan melangkah satu tindak lebih dekat.

"Aku sudah memecatnya. Dia tidak akan pernah bisa bekerja di perusahaan mana pun di negara ini lagi. Aku sudah memusnahkan keberadaannya dari hidupku, Kin."

​Kinara memasukkan sayuran ke dalam wajan. Uap panas mengepul, menutupi wajahnya yang pucat. Ia tetap diam. Kediaman itu adalah senjata paling mematikan yang pernah Kinara gunakan untuk melawan Arlan.

​"Sayang... tolonglah. Makan sedikit saja. Kamu belum menyentuh makanan sejak kemarin siang. Kamu bisa sakit, bayi kita bisa kekurangan nutrisi," Arlan mencoba meraih tangan Kinara, namun dengan gerakan kilat, Kinara menarik tangannya.

Ia menjauh ke sudut meja dapur yang lain, seolah sentuhan Arlan adalah racun yang paling mematikan.

​"Kinara! Sampai kapan kamu mau begini?!" suara Arlan mulai naik satu oktav, bukan karena marah, tapi karena frustrasi yang sudah mencapai puncaknya.

"Aku sudah bersujud di depanmu! Aku sudah membuang harga diriku di depan para pelayan! Apa lagi yang harus aku lakukan agar kamu percaya bahwa aku hanya milikmu?"

​Arlan berlutut di atas lantai marmer dapur.

Seorang CEO yang ditakuti ribuan karyawan, kini bersimpuh di kaki seorang wanita yang sedang mengaduk sayur.

"Maafkan aku... Maafkan kecerobohanku... Aku mohon, Kin. Jangan hukum aku dengan keheningan ini. Aku bisa mati jika kamu seperti ini..."

​"Maafkan aku, Kinara... Maaf..." Arlan mengulang kata itu seperti kaset rusak.

Ia mulai meracau, menceritakan betapa ia tidak tidur, betapa ia merasa hancur, dan betapa ia sangat mencintai Kinara. Ia terus bicara, berharap ada satu celah di hati Kinara yang bisa ia masuki.

​Namun, Arlan tidak menyadari bahwa setiap kata yang ia ucapkan justru menjadi tekanan yang luar biasa bagi Kinara.

Di kepala Kinara, bayangan Clarissa yang membungkuk manja, jemari wanita itu yang menyentuh lengan Arlan, dan ekspresi Arlan yang terlihat "diam saja" saat itu terus berputar-putar.

Hormon kehamilannya membuat emosi itu menjadi sepuluh kali lipat lebih menyakitkan. Dada Kinara sesak, paru-parunya seolah kehabisan oksigen.

​Arlan terus bicara.

"Kin, demi masa depan kita... demi janji kita di desa... aku tidak bohong..."

​Tiba-tiba, Kinara membanting sodet yang dipegangnya ke atas wajan.

Suara denting logam yang keras itu memutus kalimat Arlan seketika.

Tubuh Kinara bergetar hebat.

Ia memutar tubuhnya, matanya yang bengkak kini menatap Arlan dengan kobaran kemarahan yang belum pernah Arlan lihat sebelumnya.

​"BISA DIAM DULU NGAK??"

​Suara Kinara menggelegar, merobek kesunyian mansion tersebut.

Arlan tersentak, ia mendongak dengan wajah pucat.

​"BISAA DIAM???????" teriak Kinara lagi, suaranya melengking tinggi, penuh dengan kepedihan yang sudah tidak bisa dibendung.

​"BISA DIAM HA???????"

​Kinara memukul dadanya sendiri dengan kepalan tangan, mencoba melonggarkan sesak yang menghimpit jantungnya. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah seperti bendungan yang jebol.

​"Kamu pikir dengan terus-menerus bicara 'maaf', rasa sakit ini hilang?! Kamu pikir aku ini apa, Arlan?! Aku ini istrimu, atau cuma pajangan yang bisa kamu tipu dengan kata-kata manis setelah kamu bersenang-senang dengan wanita lain?!"

​"Kin, aku tidak bersenang-senang—"

​"DIAM! AKU BILANG DIAM!" Kinara berteriak histeris. Ia menyambar sebuah piring porselen di dekatnya dan membantingnya ke lantai.

PRAAANG!

Serpihan piring itu beterbangan, salah satunya menggores punggung tangan Arlan hingga berdarah, namun Arlan tidak bergeming.

​"Aku muak mendengar suaramu! Setiap kamu bicara, aku cuma ingat bagaimana perempuan itu menyentuhmu! Aku ingat bagaimana kamu membiarkan dia masuk ke ruang pribadimu yang bahkan aku pun harus ragu untuk memasukinya!" Kinara terengah-engah, wajahnya merah padam.

​"Aku sedang mengandung anakmu, Arlan! Aku berjuang dengan rasa mual, dengan sakit punggung yang membuatku tidak bisa tidur, dengan ketakutan apakah aku bisa menjadi ibu yang baik! Dan di saat aku ingin memberikan kejutan kecil untuk suamiku... aku malah melihat suamiku sedang hampir berciuman dengan sekretarisnya?!"

​"Itu tidak benar, Kin! Dia yang mendekat!" Arlan mencoba membela diri dengan suara gemetar.

​"TAPI KAMU DIAM SAJA, ARLAN! KAMU TIDAK MENDORONGNYA! KAMU MENIKMATINYA, KAN?!" Kinara menjerit lagi, kali ini ia terduduk di lantai, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

"Aku benci kamu... Aku benci kenapa aku bisa sebodoh ini memberikan hatiku lagi pada monster sepertimu..."

​Tangisan Kinara pecah menjadi raungan yang sangat memilukan. Ia meringkuk di lantai dapur, di antara potongan sayur dan pecahan piring. Bahunya terguncang hebat.

​Arlan terpaku. Ia melihat wanita yang ia puja kini hancur di lantai karena perbuatannya—meskipun itu sebuah kesalahpahaman. Ia melihat darah di tangannya sendiri, namun rasa perih itu tidak sebanding dengan rasa sakit di dadanya melihat Kinara histeris.

​"Baik..." suara Arlan berbisik, nyaris hilang tertelan isak tangis Kinara.

"Aku diam. Aku akan pergi dari sini agar kamu bisa bernapas. Aku akan pergi..."

​Arlan berdiri dengan sisa-sisa kekuatannya.

Ia mundur perlahan, meninggalkan dapur, meninggalkan Kinara yang masih menangis sejadi-jadinya.

Di dalam mansion yang luas itu, Arlan menyadari satu hal: terkadang, luka yang dibuat oleh ketidaksengajaan jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka yang disengaja.

Dan pagi itu, keheningan kembali bertahta, namun kali ini dengan aroma kehancuran yang lebih nyata.

catatan :

heyyyy gaisssssssss gimana?? menghibur ngak niii?? kira kira arlan bakal cari bukti ngak yah😭 tunggu di partt selanjut-nya yah lopee🤞😫 btwwww jangan lupa like, dan komentar sebanyak- banyak nya yah... akuuu sayanggg kalian...💐

lvyouuuu gayssss💋😻🤍

1
Ma Em
Akhirnya Kinara mau memaafkan Arlan karena Arlan memang tdk salah cuma salah sangka saja , semoga Arlan dgn Kinara selalu rukun dan bahagia bersama anaknya nanti setelah lahir semakin bertambah bahagia dan tdk akan terpisahkan .
riela_nahak: halloooooo kkkk😻 semogaaaa yah ka ih💐 btwwww tunggu partai selanjutnya yah kk lvyouuuuui🤍🤍💐😻
total 1 replies
Anonim
maso..,,...,...kis
riela_nahak: hallooo kakakakakakakk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!