Elfesya terjebak perjodohan paksa dengan Ravion Arshaka, CEO angkuh yang terus menghinanya. Luka semakin dalam saat Elfesya tahu ayah Ravionlah yang menghancurkan bisnis ayahnya. Ia melarikan diri ke pesisir, hidup nestapa sebagai buruh ikan demi harga diri.
Sadar akan dosanya, Ravion melepaskan kemewahan demi menyusul Elfesya ke gubuk reyot. Di tengah bau laut dan kemiskinan, ego sang CEO runtuh demi meraih kembali hati sang sekretaris. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan korporasi, penebusan dosa yang perih, dan cinta yang akhirnya berlabuh di dermaga ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puing-puing memori di balik pintu yang terkunci
Matahari sudah mulai merayap naik, namun pintu kamar utama masih tertutup rapat. Tak ada aroma kopi yang biasanya diseduh Ravion, tak ada suara langkah sepatu pantofel yang tegas di atas lantai marmer. Elfesya berdiri di depan pintu kayu jati itu dengan perasaan gelisah yang tak beralasan.
"Pak Ravion?" panggilnya. Hening.
Elfesya mencoba memutar knop pintu. Tidak dikunci. Saat pintu terbuka, hawa panas langsung menyergapnya. Di atas ranjang besar itu, Ravion terbaring dengan napas yang pendek dan berat. Wajahnya yang biasa tegas kini tampak sangat pucat, dengan keringat dingin yang membasahi keningnya.
Elfesya mendekat, ragu-sejenak, lalu memberanikan diri menyentuh dahi suaminya. "Panas sekali..." bisiknya. Tubuh Ravion menggigil hebat; pria itu seolah sedang bertarung dengan badai di dalam tidurnya.
Saat Elfesya hendak beranjak untuk mengambil air kompres, tangan Ravion yang panas tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya. Matanya terbuka sedikit, merah dan sayu.
"Jangan pergi... Elfesya... jangan kembali ke pesisir sendirian..." racau Ravion dalam igauannya.
Mendengar kata-kata itu, kepala Elfesya kembali berdenyut. Suara Ravion yang parau seolah memicu sebuah saklar di sudut gelap ingatannya. Ia terdiam, mematung di sisi ranjang. Di atas meja nakas, matanya menangkap sebuah map cokelat tua yang sedikit terbuka. Di sana, tertulis sebuah nama yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak:
"Audit Investigasi: Winda Jaya Construction."
Dunia Elfesya mendadak berputar. Nama itu. Nama perusahaan konstruksi milik mendiang ayahnya yang hancur dalam semalam.
Seketika, kilasan memori menghantamnya seperti ombak yang menghancurkan dermaga. Ia melihat wajah ayahnya yang kuyu, tangisan ibunya yang memilukan, dan tumpukan surat sita dari bank. Dan di balik semua kehancuran itu, ada bayangan Pak Arshaka—ayah Ravion—yang tersenyum dingin saat menandatangani dokumen pengalihan aset.
"Winda Jaya..." bisik Elfesya, suaranya bergetar hebat. "Keluarga ini... keluarga suamiku... mereka yang merusak semuanya."
Ingatannya tentang pengkhianatan itu kembali lebih tajam daripada kenangan tentang cintanya. Ia ingat betapa kerasnya ia bekerja sebagai sekretaris hanya untuk bertahan hidup setelah keluarganya jatuh miskin. Ia ingat rasa sakit saat ia pertama kali menginjakkan kaki di gedung Arshaka, tanpa tahu bahwa ia sedang bekerja untuk orang-orang yang telah mencuri masa depannya.
Elfesya menatap Ravion yang masih merintih kesakitan dengan pandangan yang kini penuh dengan kemarahan yang menyala-nyala.
"Jadi ini alasannya Bapak begitu baik?" tanya Elfesya pada pria yang tak sadarkan diri itu. "Bapak membayar hutang darah ayah Bapak dengan pernikahan ini? Bapak menjadikan saya istri hanya untuk menutupi kebusukan keluarga Arshaka?"
Di luar kamar, Elric yang baru saja bangun terkejut melihat kakaknya keluar dari kamar Ravion dengan wajah yang sangat menyeramkan—mata merah penuh air mata dan rahang yang mengeras.
"Kak? Kak Ravion kenapa?" tanya Elric cemas.
Elfesya menatap adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Elric, kemasi barang-barangmu. Kita tidak seharusnya berada di sini. Kita sedang tidur di bawah atap orang yang menghancurkan hidup Ayah dan Ibu."
"Kak, tapi Kak Ravion..."
"Dia sedang sakit, Elric! Tapi sakitnya tidak sebanding dengan hancurnya hati Ayah saat perusahaannya dirampas!" teriak Elfesya, membuat Elric tersentak mundur.
Elfesya kembali masuk ke kamar, bukan untuk merawat, tapi untuk mengambil map cokelat itu. Ia ingin melihat sejauh mana keluarga suaminya telah "memakan" kehidupan mereka. Namun, saat ia membuka map itu, ia menemukan lembaran-lembaran surat yang tertanggal baru beberapa minggu lalu.
Surat-surat itu berisi pengalihan aset kembali ke nama Elfesya dan permohonan maaf resmi yang sedang disusun Ravion untuk memulihkan nama baik ayahnya di pengadilan. Ravion ternyata sedang bekerja diam-diam di belakang ayahnya sendiri untuk mengembalikan Winda Jaya Construction kepada pemilik yang sah.
Elfesya terduduk di lantai, mendekap map itu di dadanya. Di satu sisi, ia membenci darah Arshaka yang mengalir di tubuh suaminya. Di sisi lain, ia melihat pria yang sedang bertaruh nyawa dan karir demi menebus kesalahan yang bahkan bukan ia yang melakukannya.
"Kenapa kamu harus melakukan ini, Ravion?" tangis Elfesya pecah. "Kenapa kamu membuatku sulit untuk membencimu saat aku punya setiap alasan untuk melakukannya?"
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...