NovelToon NovelToon
Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: the anonym

Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Mata Sang Pengembara dan Pantheon Bintang Terkoyak

Hermes menggigit kue keringnya dengan santai, suara renyahnya terdengar tidak pada tempatnya di tengah ketegangan yang menyesakkan ruang tamuku. Mata jingganya menatapku dari balik pinggiran topinya yang lebar, menuntut sebuah jawaban tanpa perlu mengucapkannya.

​Aku tertawa getir, membiarkan tubuhku bersandar berat pada ambang pintu. Kesepakatan dengan kapten Loki Familia, ancaman dari Tsubaki, dan perlindungan posesif Freya—semua itu terasa seperti permainan anak-anak dibandingkan dengan manipulasi dewa pembawa pesan ini.

​"Anda ingin menjadi editor pribadiku, Hermes-sama?" tanyaku sarkastis. "Mendikte apa yang harus kutulis berdasarkan apa yang Anda lihat di kedalaman Dungeon?"

​"Bukan editor, Anonym. Aku adalah saksi matamu," balas Hermes, tersenyum lebar. Ia menunjuk ke arah gulungan perkamen di ruang bawah tanahku. "Kau menciptakan Kanker Semua Dunia dan sekte Murid Keabadian. Kau membuat Orario percaya bahwa faksi Evilus digerakkan oleh entitas purba. Tapi ceritamu memiliki lubang besar."

​Hermes mencondongkan tubuhnya ke depan, auranya berubah tajam. "Jika sekte itu memuja Dewa Keabadian, lalu siapa Dewa yang dipuja oleh pahlawanmu, Jing Yuan? Jika Orario memiliki pilar dewa seperti Zeus, Hera, Loki, dan Freya, maka dunia fiktifmu yang masif itu pasti memiliki pantheonnya sendiri. Faksi Evilus sedang mengadaptasi kultus Abundance milikmu di lantai 60. Jika kau tidak memberi Finn dan aliansi Orario narasi tentang kekuatan yang sepadan untuk melawannya, mereka akan mati di sana."

​Aku terdiam. Hermes benar. Dalam mitologi yang kubangun di kepalaku, alam semesta tidak hanya digerakkan oleh satu entitas.

​"Kau ingin aku menuliskan Dewa-Dewa lain," bisikku, menyadari skala dari apa yang ia minta. "Kau ingin aku merilis konsep Aeon ke Orario."

​"Tepat!" Hermes menjentikkan jarinya, matanya berbinar antusias. "Buatlah tatanan Familia baru. Familia konseptual. Beri nama pada kekuatan-kekuatan itu. Biarkan para petualang di Orario percaya bahwa perang di bawah tanah sana bukanlah sekadar manusia melawan monster, melainkan perang perwalian antar dewa kosmis!"

​Malam itu, di bawah pengawasan Hermes yang duduk di sudut ruangan sambil menikmati teh melati, aku kembali ke meja kerjaku. Jika Orario menginginkan dewa-dewa bintang, maka aku akan menurunkan mereka dari langit fiktifku.

​Aku mencelupkan pena ke dalam tinta, memulai babak baru yang akan merombak seluruh struktur kepercayaan di kota labirin ini.

​"Di balik langit tiruan Dungeon dan jauh di luar jangkauan para Dewa Orario yang fana, eksis entitas-entitas primordial yang disebut Aeon. Mereka tidak turun ke bumi untuk memberikan Falna melalui setetes darah. Mereka memberikan kekuatan melalui jalan filosofis—Paths. Sebuah Familia tanpa wujud fisik dewa, disatukan oleh obsesi absolut."

​"Sekte Evilus yang bermutasi di lantai bawah kini menyebut diri mereka Familia Yaoshi. Sang Aeon Kelimpahan (Abundance). Falna mereka bukanlah status angka, melainkan sel daging yang menolak mati. Yaoshi tidak menjanjikan kejayaan, Ia hanya memberikan kehidupan tanpa akhir, mengubah pengikutnya menjadi monster berakar yang kehilangan kewarasan demi keabadian."

​"Namun, setiap kutukan memiliki penawarnya. Jing Yuan dan Kuintet Awan Tinggi tidak berdiri sendiri. Mereka adalah ujung tombak dari Familia Lan. Sang Aeon Pemburu (The Hunt). Falna dari Lan tidak memberikan sihir penyembuh atau ketahanan fisik. Falna ini membakar jiwa pemakainya, memberikan kecepatan absolut dan ketajaman yang mampu membelah dimensi. Familia Lan hanya memiliki satu tujuan yang mengakar dalam akal budi mereka: memburu dan membumihanguskan setiap sisa dari Familia Yaoshi hingga tak bersisa. Mereka adalah badai panah cahaya yang tidak mengenal kata mundur."

​Aku berhenti sejenak. Jika aku hanya memasukkan Yaoshi dan Lan, itu hanyalah dualisme sederhana. Hermes menginginkan kekacauan yang bisa ia mainkan. Aku harus memasukkan pion-pion liar yang akan membuat faksi-faksi di Orario semakin paranoid.

​Pena itu kembali menari dengan agresif.

​"Namun, Perang Dewa Bintang tidak hanya sebatas Berburu dan Berlimpah. Di sudut-sudut paling brutal di mana peperangan tak pernah padam, bangkitlah para pemuja Familia Nanook. Sang Aeon Kehancuran (The Destruction). Mereka adalah Legiun Antimateri. Mereka tidak tertarik pada keabadian Yaoshi atau keadilan Lan. Falna Nanook mengubah rasa sakit menjadi kekuatan tempur. Semakin dekat pengikutnya pada kematian, semakin mematikan serangan mereka. Mereka adalah anarki murni, berjalan di atas bara api untuk mengembalikan seluruh penciptaan menjadi ketiadaan."

​"Sebagai penyeimbang kehancuran itu, berdirilah benteng raksasa dari Familia Qlipoth. Sang Aeon Pelestarian (The Preservation). Pengikut Qlipoth, para Arsitek, memiliki Falna berbentuk lapisan perisai kristal kuning yang tidak bisa ditembus oleh sihir atau baja apa pun. Mereka tidak menyerang. Mereka membangun tembok yang memisahkan keputusasaan dari peradaban."

​Ketika aku menyelesaikan paragraf terakhir yang mendeskripsikan dewa para cendekiawan (Nous) dan dewa kekosongan mutlak (IX), tanganku terasa kram yang luar biasa.

​Aku menyerahkan lembaran perkamen basah itu kepada Hermes. Sang Dewa membacanya dalam keheningan. Senyum cerahnya perlahan memudar, digantikan oleh raut wajah serius yang jarang ia tunjukkan kepada manusia mana pun.

​"Luar biasa," gumam Hermes, suaranya sedikit bergetar oleh kegembiraan yang gelap. "Kau tidak hanya menciptakan musuh, Anonym. Kau baru saja memecah belah psikologis para petualang."

​Ia menatapku dengan mata jingganya yang menyala. "Tahukah kau apa yang akan terjadi ketika naskah ini beredar di pasar gelap besok pagi? Petualang yang trauma melihat kematian akan mulai mengagumi ketahanan Qlipoth. Petualang haus darah yang muak dengan aturan Guild akan mulai meniru gaya bertarung Nanook. Dan Finn Deimne... ia akan tanpa sadar mengadopsi taktik tanpa ampun dari Familia Lan untuk membantai Murid Keabadian di bawah sana."

​Hermes melipat naskah itu dan menyelipkannya ke balik jubahnya.

​"Kau menanamkan ide bahwa seseorang bisa mendapatkan kekuatan kosmis (Falna Aeon) murni dari obsesi filosofis, tanpa perlu menundukkan kepala pada Dewa Orario," kata Hermes, tawanya menggema pelan di ruang bawah tanah. "Para Dewa akan membencimu. Freya mungkin menikmati penderitaannya, tapi para Dewa lain akan melihat konsep Aeon ini sebagai ancaman nyata terhadap otoritas mereka."

​Sang Dewa Pengembara berjalan menuju tangga, menoleh ke arahku untuk terakhir kalinya sebelum menghilang ke lantai atas.

​"Aku akan kembali ke pinggiran Babel untuk mengamati reaksi pasar besok, Pencerita. Bersiaplah. Kau baru saja memicu perang ideologi di kota labirin ini. Dan di mataku... sejarah Orario tidak pernah semenyenangkan ini."

​Pintu depanku tertutup dengan bunyi klik pelan.

​Aku kembali sendirian. Tinta di tanganku terasa seperti noda darah yang tak bisa dicuci. Hermes benar. Aku telah melepaskan konsep yang terlalu besar. Jika fiksiku mulai membuat para petualang meragukan sistem Falna konvensional dan mencoba membangkitkan "Path" dari para Aeon melalui obsesi mereka sendiri, Orario akan runtuh bukan karena diserang monster, melainkan karena hancurnya sistem kepercayaan dari dalam.

1
l.."..l
aku suka novel ini, makin lama ceritanya menarik
Ero-Sensei
oke ini semakin menarik
Ero-Sensei
buseng dah repot amat MC skizo padahal tinggal bilang cuma fiksi dan ngapain juga perlu ngumpet.
Ero-Sensei
repot amat, tinggal bilang aja ini cuma karya fiksi. lagian kisah argonot aja cuma karya fiksi khayalannya argonot yang pengen jadi pahlawan. aslinya mah bocah cupu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!