Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.
Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.
Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Busa Sabun Mawar
Malam telah sepenuhnya menelan lereng gunung Sekte Teratai Angin, menyisakan kegelapan pekat yang hanya diterangi oleh dua bulan merah kembar di angkasa. Cahaya merah darah itu memantul di permukaan air panas di dalam bak mandi batu meteorit, menciptakan riak-riak bercahaya yang terlihat sangat mistis.
Li Zhen menyandarkan kepalanya di tepi batu hitam yang dingin, menghela napas panjang yang dipenuhi oleh kepuasan duniawi yang absolut. Hawa panas dari air mendidih itu meresap perlahan ke dalam pori-porinya, melunturkan seluruh daki dan debu yang menempel di tubuh kurusnya.
Berkat efek dari pil esensi darah yang dia konsumsi sebelumnya, kulitnya sama sekali tidak melepuh meski direbus dalam air dari lembah kematian. Pemuda itu justru merasa seperti sedang berendam di mata air hangat pegunungan biasa, sebuah kemewahan yang sangat dia hargai saat ini.
Tangannya bergerak menggosok rambutnya yang dipenuhi oleh busa putih tebal dari sampo fana beraroma mawar merah muda. Aroma bahan kimia sintetis yang sangat menyengat itu menguap terbawa oleh uap air panas, menyebar dengan cepat menembus udara malam yang beku.
Gelembung-gelembung sabun kecil beterbangan tertiup angin gunung, melayang melewati pilar-pilar emas paviliun dan turun ke arah halaman. Kontras antara bak mandi dari batu angkasa yang mematikan dan busa sabun merah muda yang kekanak-kanakan itu benar-benar terlihat sangat absurd.
Di luar paviliun, barisan kultivator elit masih berdiri kaku membelakangi Li Zhen layaknya sekumpulan patung penjaga makam kuno. Hidung mereka yang sangat sensitif perlahan mulai menangkap aroma mawar yang sangat asing dan tidak pernah ada di kitab herbal mana pun.
Tetua Yao, sang Kepala Balai Alkimia, langsung melebarkan lubang hidungnya untuk menghirup aroma aneh tersebut dalam-dalam. Wajah keriput pria tua berjubah hijau itu seketika menegang, matanya membelalak lebar memancarkan syok berat yang menggetarkan seluruh jiwanya.
"Aroma bunga mawar ini... kemurniannya melampaui batas nalar manusia fana dan tidak memiliki sedikit pun jejak kotoran duniawi," transmisi suara batin Tetua Yao bergema panik di kepala para tetua lainnya. "Ini pasti Mawar Darah Nirwana Berusia Sepuluh Ribu Tahun, herbal legendaris yang hanya tumbuh di dimensi dewa tingkat atas!"
Mendengar analisis dari ahli alkimia terbaik sekte tersebut, lutut para tetua yang sedang berdiri mematung itu langsung bergetar semakin hebat. Mereka menelan ludah dengan susah payah, membayangkan betapa kayanya pemuda di belakang mereka ini hingga menggunakan herbal dewa hanya untuk mandi.
"Dia mengekstraksi sari pati Mawar Darah Nirwana langsung ke rambutnya tanpa menggunakan tungku pembakaran? Teknik macam apa itu?!" sahut Tetua Lin melalui transmisi batin dengan nada penuh teror. Janggut palsu pria tua itu bergoyang pelan karena rahangnya terus bergetar menahan ketakutan yang mencekam akal sehatnya.
Kepala Sekte Zhao Wuji memejamkan matanya rapat-rapat, keringat dingin kembali membasahi kerah jubah emasnya yang sudah sangat kotor. Pria paruh baya itu semakin yakin bahwa mereka sedang berhadapan dengan monster kuno yang sedang menyamar untuk mempermainkan sekte mereka.
Korset baja di perut Zhao Wuji terasa semakin menyiksa saat dadanya naik turun memburu karena kepanikan massal tersebut. Dia harus menggigit bagian dalam pipinya hingga berdarah hanya untuk mencegah dirinya jatuh pingsan karena kombinasi rasa sakit dan ketakutan.
Sementara para dewa persilatan itu sibuk dengan kesalahpahaman tingkat tinggi mereka, Li Zhen justru sedang bersenandung sumbang di dalam bak mandinya. Suara nyanyiannya yang sama sekali tidak bernada itu memecah keheningan malam, terdengar sangat menyiksa telinga siapa pun yang mendengarnya.
Sebuah gelembung sabun berukuran cukup besar melayang pelan tertiup angin, turun melewati undakan tangga beranda dan mendekati semak-semak gelap. Di balik semak berduri itu, Anjing Petir Ekor Tiga sedang meringkuk menyembunyikan wajahnya yang malang.
Monster buas tingkat lima itu membuka sebelah matanya yang berwarna kuning menyala, menatap gelembung transparan itu dengan tatapan penuh kebingungan. Insting kebinatangannya terpancing, membuat anjing raksasa itu perlahan menjulurkan moncongnya untuk mengendus bola air yang melayang tersebut.
Gelembung sabun mawar itu menyentuh ujung hidung sang anjing yang basah, lalu meletus seketika dengan suara 'pop' yang sangat pelan. Cipratan air sabun yang mengandung bahan kimia fana itu langsung masuk ke dalam lubang hidung monster penjaga peternakan tersebut.
Anjing Petir Ekor Tiga itu langsung tersentak kaget, matanya membelalak lebar saat rasa perih yang luar biasa menyerang indera penciumannya yang sensitif. Hewan buas itu bersin dengan sangat kencang, menyemburkan kilatan petir biru yang langsung menghanguskan semak-semak di depannya menjadi abu.
Suara ledakan petir yang tiba-tiba itu membuat barisan para tetua sekte melompat kaget, beberapa dari mereka nyaris menghunus senjata karena refleks. Namun, mereka buru-buru menahan diri dan kembali ke posisi mematung mereka, tidak berani menoleh sedikit pun ke arah paviliun.
Li Zhen menghentikan senandung sumbangnya, menyeka busa sabun dari matanya dan menatap tajam ke arah semak-semak yang berasap itu. Pemuda bermulut sampah itu mendecakkan lidahnya dengan sangat keras, merasa waktu mandinya yang damai telah diganggu oleh kebodohan seekor anjing.
"Hei, gumpalan bulu hitam yang tidak berguna! Apakah kau mencoba membakar rumah baruku dengan bersin bodohmu itu?!" bentak Li Zhen dari dalam bak mandi. Suaranya menggelegar penuh amarah, membuat suasana malam yang dingin terasa semakin mencekam bagi siapa saja yang mendengarnya.
Anjing Petir Ekor Tiga itu langsung merangkak keluar dari sisa semak-semak yang hangus, menundukkan kepala besarnya hingga menyentuh tanah merah. Monster yang pernah membantai ribuan iblis itu kini mengeluarkan suara rengekan pelan yang sangat memelas, meminta ampun kepada majikan fananya.
"Tutup hidungmu dan pergilah berjaga di ujung jalan setapak, bau bulu hangusmu merusak aroma mawar dari sabun mahalku ini," usir Li Zhen sambil mengibaskan tangannya ke udara. Anjing raksasa itu mengangguk cepat dengan penuh rasa syukur, lalu berlari terbirit-birit menjauhi paviliun dengan ekor yang disembunyikan di bawah perut.
kita udh follow authornya..jd gampanglah nanti balek ksini lg kalo udah banyak cpt nya...
ninggal ktp aja doeloe...
💪