seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Tepat saat tangan Sasha hendak mendorong keras bahu Dinda, tiba-tiba sebuah tangan kekar dan kuat muncul dari samping, mencengkeram pergelangan tangan Sasha dengan kuat namun tetap terkontrol.
Semua orang terkejut. Sasha yang tadinya garang langsung membeku.
"JANGAN SEMBARANGAN SENTUH ORANG!"
Suara berat dan tegas itu menggema, membuat suasana kantin seketika hening total.
Semua mata tertuju pada pemilik suara itu. Berdiri tegap dengan postur tubuh yang tinggi dan atletis, wajahnya tampan rupawan dengan tatapan tajam yang memancarkan wibawa luar biasa. Dia adalah Samudra Lesmana, ketua BEM, idola seluruh kampus, dan dikenal sebagai pria yang sangat tegas, pintar, namun juga sangat protektif terhadap keadilan.
Sasha tergagap-gagap, wajahnya langsung berubah pucat. "S-Sam... Samudra? Lo ngapain sih?! Ini urusan gue sama si cupu ini!"
Samudra melepaskan tangan Sasha dengan kasar hingga gadis itu mundur teratur. Tatapannya tajam menusuk.
"Urusan lo apaan?! Sejak kapan kampus ini milik lo sampai lo bisa seenaknya bully orang lain?! Lo pikir dengan sok kaya dan sok cantik lo bisa bertindak sewenang-wenang?!" ucap samudra dengan nada dingin .
Teman-teman Sasha mulai gemetar ketakutan. Mereka tahu, melawan Samudra sama saja bunuh diri. Keluarga Lesmana bukan kaleng-kaleng, dan pengaruh Samudra di kampus sangat besar.
Samudra menatap tajam ke arah geng itu satu per satu.
"Gue dengar dari tadi lo menghina dia, merendahkan dia, cuma karena dia hidup sederhana?! Lo tahu gak sih?! Kecantikan yang lo bangga-banggakan itu bakal pudar dimakan waktu. Tapi kelakuan busuk kayak lo itu yang bakal bikin lo terlihat jelek selamanya!"
Sasha mencoba membela diri dengan suara gemetar. "Ta-tapi Sam... Dia kan cuma anak miskin... Dia gak setara sama kita..."
Samudra tertawa sinis. "Anak miskin? Lo buta apa gimana?! Lihat baik-baik! Wajahnya, auranya, itu jauh lebih berkelas daripada lo yang cuma bisa numpang harta orang tua! Dan yang paling penting, dia punya pendidikan dan akhlak yang lo gak punya!"
Samudra lalu berbalik menghadap Dinda. Wajah garangnya seketika berubah menjadi lembut dan penuh perhatian. Ia menatap Dinda dengan tatapan teduh.
"Kamu gak apa-apa kan Din? Maaf ya aku terlambat datangnya. Mulai sekarang jangan takut, selama ada aku di kampus ini, gak ada yang berani nyakitin kamu."
Dinda tertegun, matanya berbinar. Angel dan Mira di belakangnya sudah melongo tak percaya. 'Ya Ampun... Samudra ngebela Dinda?! Dan dia manggil nama Dinda dengan akrab?!'
Dinda tersipu malu, mengangguk pelan. "A-aku gak apa-apa Kak... Makasih banyak."
Samudra tersenyum tipis, lalu kembali menatap Sasha dan gengnya yang sudah ciut.
"Sekarang! Minggir dari hadapan kami! Atau aku laporin kelakuan kalian ke Dekan dan orang tua kalian buat dikeluarkan dari kampus ini! Gue serius!"
Mendengar ancaman itu, Sasha dan anak buahnya tidak berani banyak omong lagi. Wajah mereka merah padam menahan malu. Mereka buru-buru minggir dan pergi menjauh dengan kepala tertunduk, diikuti tawa dan ejekan mahasiswa lain yang melihat kejadian itu.
Setelah Sasha dan gengnya pergi, suasana kembali cair. Samudra menoleh ke Dinda.
"Jangan diambil hati ya omongan mereka. Kamu itu berharga, jauh lebih berharga dari yang mereka pikirkan. Oh iya, aku dengar kamu sekarang kerja juga ya? Hati-hati ya, kalau ada apa-apa kabarin aku."
Angel menyenggol lengan Dinda pelan sambil berbisik. "Woyy Din... Kenapa lo gak cerita kalau lo kenal dekat sama Samudra?! Ganteng parah sih pangeran penyelamat kita!!"
Dinda hanya bisa tersenyum malu-malu. Hatinya yang sempat terluka sedikit demi sedikit mulai terobati oleh kebaikan orang-orang di sekitarnya.
****
Setelah kejadian di kantin itu, Sasha dan gengnya pergi dengan kepala tertunduk malu, tidak berani menatap ke arah mereka lagi. Samudra pun mengajak Dinda, Angel, dan Mira untuk bergabung duduk di meja yang cukup besar di sudut kantin.
Di sana sudah menunggu dua orang teman laki-laki lainnya yang tak lain adalah sahabat karib Samudra, Bimo dan Raka. Mereka bertiga satu jurusan yang sama, sering disebut sebagai "Trio Ganteng" yang paling populer di kampus.
"Sini duduk guys. Santai aja." ajak samudra .
Mereka pun duduk bersama. Awalnya Angel dan Mira agak grogi, tapi karena Bimo dan Raka orangnya asik dan humoris, suasana pun jadi cair dan akrab dalam sekejap.
"Waduh, beruntung banget sih lo Din tadi. Kalau gak ada Samudra, bisa habis lo dimakan hidup-hidup sama si Sasha itu." ucap Bimo .
"Iya nih... Tapi emang udah takdirnya lo dilindungi sama ketua BEM kita yang ganteng ini. Hahaha." ledek Raka .
Samudra hanya tersenyum tipis sambil menatap Dinda dengan tatapan yang sangat lembut, berbeda jauh dengan tatapan tajamnya tadi.
"Bukan soal takdir doang. Aku emang nggak bisa lihat orang lain disakiti, apalagi..."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara pelan namun jelas.
"...apalagi orang yang udah aku suka dari pertama kali dia masuk ke kampus ini."
JLEB!
Dinda tersentak kaget. Angel dan Mira sampai menutup mulut tak percaya. Bahkan Bimo dan Raka hanya tersenyum menyeringai, seolah mereka sudah tahu rahasia ini sejak lama.
"Maksud Kak Samudra...?" tanya dinda memastikan ucapan samudra .
Samudra menatap mata Dinda dalam-dalam. "Iya Din. Aku suka kamu. Sejak hari pertama orientasi mahasiswa, aku udah perhatiin kamu. Kamu itu beda. Tenang, cantik, rendah hati, dan selalu bawa aura positif. Aku suka kamu bukan karena siapa orang tua kamu, tapi karena kamu emang Dinda yang luar biasa."
Dinda merasa wajahnya memanas, pipinya merona merah padam. Ia tidak menyangka kalau cowok setampan dan sekeren Samudra ternyata sudah memendam rasa padanya selama ini.
Angel berbisik heboh ke telinga Dinda. "GILA GILA GILA! DINDA LO DITEMBAK SAMA IDOLA KAMPUS! BAHAGIA BANGET SIH HIDUP LO!"
"Iya nih! Pantesan tadi dia marah banget pas liat lo diganggu! Ternyata ada rasa! Cieee!"
Mereka pun makan siang bersama dengan suasana yang sangat hangat dan bahagia. Tawa mereka terdengar renyah. Samudra bahkan dengan sangat perhatian menuangkan minuman ke gelas Dinda dan memastikan Dinda makan dengan lahap.
Namun, kebahagiaan dan kedekatan mereka itu ternyata menyulut api cemburu di hati orang-orang yang melihat.
Di meja-meja lain, banyak mahasiswi yang menatap ke arah mereka dengan tatapan iri dan tidak suka. Terutama para penggemar rahasia Samudra, Bimo, dan Raka.
"Hhh lihat deh! Sok akrab banget sih si Dinda itu! Padahal kan dia cuma anak miskin! Beruntung banget bisa duduk sama mereka!"
"Iya nih! Pasti dia pake ilmu pelet atau apa gitu deh! Samudra kan biasanya jutek, tapi sama dia kok bisa selembut itu? Gak terima aku!"
"Udahlah biarin aja... Toh itu Dinda kan baru aja gagal jadi anak orang kaya. Balik lagi jadi orang biasa. Pasti sebentar lagi Samudra juga bakal ilfil dan ninggalin dia."
Bisik-bisik jahat itu terdengar sampai ke telinga mereka, tapi Samudra seolah tidak peduli. Ia justru semakin mengangkat dagu, menunjukkan bahwa ia bangga dekat dengan Dinda.
"Gak usah didengerin Din. Mereka iri karena kita bahagia. Anggap aja angin lalu."
Dinda mengangguk pelan, tersenyum manis. Untuk saat ini, ia ingin menikmati momen bahagia ini. Disayangi teman, dibela sahabat, dan disukai oleh orang yang baik hati. Rasanya hidup mulai membaik lagi.
...----------------...