Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FOKUS SAYA BUKAN KAMU
BAB 33 — FOKUS SAYA BUKAN KAMU
Pagi itu Arsen sengaja datang ke kantor jauh lebih awal dari biasanya.
Bukan karena ia tiba-tiba jadi rajin.
Bukan juga karena tumpukan pekerjaan yang menumpuk.
Tapi karena sejak semalam, ia tidak bisa berhenti tersenyum sendiri setiap kali mengingat kalimat Keisha.
“Kalau lain kali datang bawa wanita lain lagi... kabari dulu.”
Wanita itu mungkin mengira kalimat itu adalah bentuk ancaman atau kekesalan.
Tapi bagi Arsen... itu adalah pengakuan kecil yang sangat manis. Bukti bahwa wanita itu juga peduli.
Begitu melangkah masuk ke lobi gedung, sekretaris pribadinya langsung menyambut dengan berkas di tangan.
“Pak, meeting dengan investor dimulai jam sepuluh. Bu Vanessa sudah menunggu di lounge sejak tadi.”
Arsen mengangguk singkat, wajahnya datar.
“Masukkan lima menit lagi.”
Sekretaris itu tampak ragu sedikit.
“Tapi Pak... beliau sudah datang sejak setengah jam lalu.”
“Berarti... dia suka menunggu,” jawab Arsen santai lalu berjalan masuk ke lift.
Di ruang tunggu VIP, Vanessa duduk dengan anggun sambil menyilangkan kaki, matanya fokus membaca berkas proposal.
Saat Arsen masuk dan duduk di hadapannya, wanita itu menutup map-nya perlahan dengan tatapan tajam.
“Kamu sengaja ya bikin aku nunggu lama?”
“Apaan sih?”
“Bikin aku nunggu di sini sendirian.”
“Aku sibuk.”
Vanessa mendecakkan lidah.
“Kamu makin santai dan berani ya sejak kenal perempuan itu. Keisha namanya kan?”
Arsen duduk tegak.
“Kita meeting soal kerjaan. Fokus.”
“Sayang sekali. Padahal aku lebih suka ngobrolin gosip dan kehidupan pribadimu.”
Meeting berjalan cukup alot dan panas.
Para investor meminta perubahan strategi yang cukup besar.
Vanessa tampil sangat agresif mendorong rencana ekspansi.
Sementara Arsen tetap tenang, dingin, namun tajam dalam memberikan argumen.
Mereka memang pasangan kerja yang hebat dan seimbang.
Namun begitu urusan bisnis selesai dan semua staf keluar, Vanessa langsung menutup laptopnya dan bersandar malas ke kursi.
“Sekarang... urusan pribadi.”
“Tidak ada jadwalnya.”
“Aku lihat perempuan itu kemarin. Cantik sih.”
Arsen diam, tidak menanggapi.
“Tapi... biasa saja lah.”
SLET!
Tatapan Arsen yang tadi tenang langsung berubah menjadi sangat dingin dan menusuk dalam sekejap.
Vanessa langsung mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
“Oke, oke! Sensitif banget sih!”
“Aku cuma penasaran,” lanjut Vanessa mencoba mencairkan suasana. “Apa sih istimewanya dia sampai Arsen Mahendra bisa menolak semua perempuan di dunia ini selama bertahun-tahun? Apa sih hebatnya?”
Arsen menjawab dengan nada datar namun tegas.
“Dia adalah ibu dari anak saya.”
“Itu cuma alasan tanggung jawab.”
“Dan... dia adalah perempuan yang saya pilih. Sepenuh hati.”
Vanessa berhenti tersenyum.
Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun mengenal pria itu, ia mendengar nada bicara yang begitu final. Nada yang menandakan bahwa tidak ada ruang untuk perdebatan lagi.
Siang harinya diadakan jamuan makan siang dengan para investor di restoran hotel mewah.
Vanessa sengaja memilih duduk tepat di sebelah Arsen.
Beberapa tamu mulai berbisik-bisik, jelas mengira mereka adalah pasangan suami istri atau kekasih.
Vanessa membiarkan kesalahpahaman itu terjadi.
Bahkan sesekali ia menyentuh lengan Arsen atau menyesuaikan dasi pria itu seolah sangat akrab saat sedang berbicara.
Arsen menahan sabar sampai acara hampir selesai.
Hingga akhirnya salah satu investor tua tertawa ramah dan bertanya,
“Wah, kalian berdua cocok sekali ya! Sepadan! Kapan rencana menikah nih?”
Vanessa tersenyum lebar dan hendak menjawab dengan bercanda,
“Tergantung dia mau nggak...”
Namun Arsen lebih cepat.
“Salah paham, Pak.”
Suaranya tenang tapi membuat seluruh meja mendadak hening total.
“Saya tidak punya hubungan pribadi apa pun dengan Bu Vanessa. Kami murni rekan kerja.”
Vanessa menoleh tajam ke arah pria itu, terkejut.
Arsen melanjutkan dengan tenang tanpa rasa sungkan sedikit pun.
“Dan... fokus saya saat ini bukan beliau.”
“Lalu siapa dong, Pak? Pasti ada wanita istimewa kan?” tanya investor lain penasaran.
Arsen mengambil gelas air putih, menyesapnya pelan, lalu menjawab santai,
“Ibu dari anak saya.”
Setelah para tamu kembali sibuk mengobrol, Vanessa menatap Arsen dengan kesal.
“Kamu perlu segitunya ya mempermalukanku di depan orang banyak?”
“Aku hanya meluruskan fakta.”
“Kamu berubah jadi kejam sekali, Sen.”
“Tidak. Aku hanya sedang berusaha... menjadi jelas.”
Sore harinya, Arsen melaju ke studio desain tempat Keisha bekerja.
Nadia yang melihat kedatangan pria itu dari jauh langsung heboh.
“Waduh! Waduh! Aktor utama drama kehidupan datang!”
Arsen mengangguk tipis menyapa.
“Mana Keisha?”
“Di dalam. Lagi galak-galaknya hari ini. Hati-hati ya, mulutnya tajam.”
“Aku justru suka tantangan,” jawab Arsen santai lalu melangkah masuk.
Keisha sedang fokus mengetik cepat di depan laptop ketika pintu ruangannya diketuk sekali, lalu langsung dibuka.
Ia mendongak kesal.
Arsen berdiri di sana sambil membawa paper bag besar yang terlihat mahal.
“Kamu tidak bisa telepon dulu atau izin?”
“Bisa.”
“Terus kenapa enggak?”
“Lebih seru kalau lihat kamu kaget dan melongo begitu,” goda pria itu sambil tersenyum nakal.
Keisha kembali menatap layar komputernya.
“Aku sibuk. Tidak ada waktu main-main.”
“Aku tahu. Makanya aku bawa makan malam. Kamu pasti belum makan kan?”
Ia meletakkan paper bag itu di atas meja.
Aroma makanan favorit Keisha—ayam goreng lengkuas dan es teh manis—langsung memenuhi seluruh ruangan.
Wanita itu mengutuk dalam hati. Pria ini tahu sekali cara menyerang pertahanannya.
“Vanessa mana?” tanya Keisha tiba-tiba, berusaha terdengar santai.
Arsen tersenyum kecil melihat tingkahnya.
“Kenapa? Kangen?”
“Enggak! Takutnya dia nyasar ke sini terus ganggu kerjaan.”
“Dia di kantor.”
“Oh.”
“Habis aku buat kesal sih tadi.”
Keisha akhirnya menoleh penasaran.
“Ngapain?”
“Para investor kira kami pacaran atau mau nikah.”
“Terus?”
“Aku bilang... fokus saya bukan dia.”
Keisha berusaha tetap memasang wajah netral.
“Bagus dong. Meluruskan.”
“Aku bilang... fokus saya adalah ibu dari anak saya.”
Jari-jemari Keisha yang sedang di keyboard langsung berhenti bergerak. Ia menatap pria itu tak percaya.
“Apa?”
Arsen melangkah mendekat perlahan ke arah meja, jarak mereka semakin dekat.
“Supaya semua orang jelas. Supaya tidak ada harapan palsu.”
“Kamu aneh sekali.”
“Aku serius, Sha.”
Keisha bangkit berdiri dari kursinya.
“Jangan bawa-bawa nama aku di urusan bisnis atau urusan orang lain! Aku tidak suka!”
“Aku bukan bawa-bawa. Aku bawa kenyataan.”
“Kamu tuh suka banget bikin hidup orang jadi ribet!”
“Aku cuma bikin hidupmu jadi lebih ramai dan berwarna.”
“Arsen!”
“Keisha.”
Mereka saling tatap dalam jarak yang sangat dekat.
Hanya beberapa senti memisahkan wajah mereka.
Jantung Keisha berdetak sangat kencang, tidak sopan sekali rasanya.
KREK!
Pintu tiba-tiba terbuka lebar. Nadia muncul tanpa dosa.
“Eh! Maaf-maaf! Aku kira kalian lagi berantem hebat, ternyata lagi... tatap-tatapan cinta ya!”
Keisha mundur cepat seolah tersetrum listrik. Wajahnya langsung memerah.
Arsen tetap tenang dan santai saja.
Nadia langsung melirik paper bag di meja.
“Ini buat semua tim kan? Terima kasih sebelumnya!”
“Tidak,” jawab Arsen singkat.
“Buat dia. Khusus.”
Nadia memekik kecil sambil menutup mulut.
“Aduh! Aku ship kalian keras banget sumpah! Lanjutkan, lanjutkan!”
Wanita itu langsung kabur menutup pintu kembali.
Keisha rasanya ingin menghilang ditelan bumi saat itu juga.
Malam harinya, saat Arsen mengantar Keisha pulang, mobil berhenti di depan pagar rumah.
Sebelum Keisha sempat turun dan membuka pintu, ia bicara pelan tanpa menatap pria itu.
“Kamu jangan ngomong sembarangan gitu di depan orang banyak ya.”
“Bagian mana?”
“Bagian soal fokusmu itu.”
“Itu bukan sembarangan.”
“Terus apa?”
Arsen menoleh, menatap profil wajah wanita itu dalam gelap.
“Itu peringatan.”
“Untuk siapa?”
“Untuk siapa pun... yang masih berpikir masih ada ruang kosong di hidupku selain kamu dan Leo.”
Napas Keisha tercekat di tenggorokan.
Pria itu langsung membukakan pintu untuknya dari dalam.
“Turun sana... sebelum aku tambah jujur lagi dan kamu makin nggak bisa tidur malam ini.”
Keisha buru-buru turun dan berjalan cepat masuk rumah sambil menutupi wajahnya yang panas.
Dan di dalam mobil, Arsen tertawa puas sendirian. Hari ini sangat menyenangkan.
Bersambung...