NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12

Pagi itu tidak seperti biasanya.

Tidak ada latihan.

Tidak ada instruksi.

Tidak ada rutinitas yang diulang.

Di depan gubuk—

Grachius berdiri dengan tenang.

Tatapannya mengarah ke hutan.

Ke dunia di luar—

yang selama ini hanya ia bayangkan.

Di belakangnya, Purus keluar dari dalam gubuk.

Di tangannya—

sebuah pedang.

“Bawa ini.”

Grachius menoleh.

Matanya langsung tertuju pada pedang itu.

Sarungnya sederhana.

Tidak mencolok.

Namun—

ada sesuatu yang berbeda.

Ia menerimanya.

Perlahan.

Saat tangannya menyentuh gagangnya—

ia langsung merasakannya.

Bukan energi yang besar.

Bukan tekanan yang berat.

Namun… stabil.

Seimbang.

“…ini bukan pedang biasa.”

Purus mengangguk pelan.

“Namanya… Enjin.”

Grachius menariknya perlahan.

Shing.

Bilahnya memantulkan cahaya pagi.

Tidak berkilau berlebihan.

Namun tajam.

Bersih.

“Termasuk Rare Grade.”

Grachius sedikit mengangkat alis.

“Rare Grade?”

Purus mengangguk.

“Di dunia ini… ada tingkatan senjata.”

Ia melangkah sedikit mendekat.

“Rare Grade.”

“Unique Grade.”

“Legendary Grade.”

“…dan Mythical Grade.”

Sunyi.

“Di luar itu…”

Purus menatap pedang di tangan Grachius.

“…hanya senjata biasa.”

Grachius mengamati bilah pedangnya lagi.

“…jadi ini tidak terlalu kuat.”

“Tidak.”

Jawaban itu jujur.

“Namun…”

Purus melanjutkan.

“…cukup.”

Grachius tersenyum tipis.

“Itu sudah lebih dari cukup.”

Ia memasukkan kembali pedangnya ke sarung.

Angin berhembus.

Untuk beberapa saat—

keduanya hanya berdiri diam.

“…aku akan pergi.”

Purus tidak menjawab langsung.

Ia hanya menatap Grachius.

“…ya.”

Tidak ada larangan.

Tidak ada nasihat panjang.

Hanya penerimaan.

Tiba-tiba—

suara kepakan sayap terdengar.

Grachius sedikit menoleh.

Seekor burung mendarat di dekat mereka.

Namun—

ada sesuatu yang aneh.

Tatapannya.

Terlalu… sadar.

“…kau tidak pernah sembunyi dengan baik.”

Burung itu memiringkan kepalanya.

Dan suara itu terdengar—

bukan dari mulut manusia.

“Dan kau terlalu cepat menyadari.”

Grachius tersenyum kecil.

“Vita.”

Burung itu mengepakkan sayapnya sedikit.

“Cukup untuk sekarang.”

Di paruhnya—

ada sesuatu.

Sebuah gulungan kecil.

Burung itu menjatuhkannya ke tangan Grachius.

Ia membukanya.

Sebuah peta.

Detail.

Rumit.

Dan luas.

“…ini?”

“Langkah pertamamu.”

Grachius menatap peta itu.

Matanya bergerak perlahan—

hingga berhenti di satu titik.

“Aetherion Highlands…”

Angin berhembus.

“Wilayahnya.”

Vita melanjutkan.

“Sagitta tidak bersembunyi.”

“Dia menguasai wilayah itu.”

“Dan menunggu.”

Sunyi.

Grachius menutup peta itu perlahan.

“…bagus.”

Satu kata.

Namun penuh arti.

“Jangan anggap ini mudah.”

Grachius menatap burung itu.

“Aku tidak pernah menganggapnya begitu.”

Beberapa detik berlalu.

Vita mengepakkan sayapnya.

“Kalau begitu…”

Ia terbang.

Menghilang di antara pepohonan.

Sunyi kembali.

Grachius menatap ke depan.

Ke arah hutan.

Ke arah dunia—

yang akhirnya akan ia masuki.

Ia mengencangkan pegangan pada pedangnya.

“Purus.”

“Ya.”

“…aku pergi.”

Purus tidak menjawab.

Namun—

ia mengangguk.

Itu sudah cukup.

Grachius melangkah.

Satu langkah.

Lalu satu lagi.

Tanpa menoleh.

Tanpa ragu.

Dan untuk pertama kalinya—

ia meninggalkan tempat itu.

Tempat yang membesarkannya.

Melindunginya.

Mempersiapkannya.

Menuju—

sesuatu yang jauh lebih besar.

Angin mengikuti langkahnya.

Dan di belakang—

Purus tetap berdiri.

Menatap ke arah yang sama.

“…pergilah.”

Gumaman pelan.

“…dan jangan kembali sebagai sesuatu yang tidak bisa kau kendalikan.”

Angin berhembus.

Dan perjalanan—

akhirnya dimulai.

...----------------...

Langkah demi langkah—

Grachius semakin menjauh.

Gubuk itu sudah tidak terlihat lagi.

Suara hutan masih sama.

Namun rasanya… berbeda.

Ia berjalan di antara pepohonan.

Tenang.

Tanpa ragu.

Di tangannya—

sebuah peta terbuka.

Ia meliriknya sesekali sambil tetap melangkah.

Peta itu luas.

Jauh lebih luas dari yang pernah ia bayangkan.

Dua daratan besar tergambar jelas.

Yang pertama—

paling luas.

“Mainland…”

Grachius bergumam pelan.

“Tempat manusia… dan ras lainnya.”

Matanya bergeser.

Ke daratan kedua.

Lebih kecil.

Namun terasa… berbeda.

“Forbidden Zone…”

Angin berhembus.

Daun-daun bergesekan.

Tempat itu—

tujuannya.

Namun jaraknya…

tidak sederhana.

Grachius menghentikan langkahnya sejenak.

Mengamati lebih detail.

Dari posisinya sekarang—

ia bahkan belum keluar dari hutan.

Untuk mencapai ujung timur Mainland saja—

butuh perjalanan panjang.

Berminggu-minggu.

Dan setelah itu—

ia masih harus menyeberang laut.

Menuju Forbidden Zone.

Sunyi.

“…jauh.”

Namun—

tidak ada keraguan dalam suaranya.

Ia menutup peta itu sedikit.

Lalu membukanya lagi.

Lebih fokus.

Lebih teliti.

Matanya berhenti di satu titik.

Tidak terlalu jauh dari posisinya sekarang.

“Kota Heimdall…”

Grachius sedikit mengangkat alis.

“Polis…”

Sebuah negara-kota.

Tempat berkumpulnya manusia.

Peradaban.

Sesuatu yang belum pernah ia lihat secara langsung.

Jaraknya—

tidak terlalu jauh.

Beberapa kilometer ke arah timur.

“…tempat pertama.”

Ia melipat peta itu perlahan.

Langkahnya kembali bergerak.

Kali ini—

arahnya jelas.

Timur.

Menuju dunia yang lebih luas.

Menuju manusia.

Menuju sesuatu yang belum pernah ia hadapi sebelumnya—

bukan monster.

Bukan latihan.

Tapi… kehidupan.

Angin berhembus di antara pepohonan.

Dan di kejauhan—

seolah ada sesuatu yang menunggu.

Bukan ancaman.

Belum.

Namun…

permulaan.

Grachius melangkah tanpa henti.

Pedang Enjin di pinggangnya bergoyang pelan mengikuti langkahnya.

Perjalanan panjang sudah menanti.

Namun setiap perjalanan—

selalu dimulai dari satu langkah.

Dan langkah itu—

sudah diambil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!