NovelToon NovelToon
Aku Tak Sempurna

Aku Tak Sempurna

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Meitania

Kesempurnaan seorang wanita adalah ketika bisa hamil dan melahirkan. Tapi, bagaimana jika bagian terpentingnya harus di relakan karena sebuah takdir. Apa yang harus kita lakukan? Sementara hidup terus berjalan.

Berdamai dengan sebuah takdir dan menjalani kehidupan seperti biasa adalah hal yang harus di lakukan. Itulah yang di lakukan seorang gadis belia yang harus menyerah pada takdir yang di miliknya.

"Kenapa Tuhan takdirkan aku seperti ini? Apa salah aku?".....

......

Cerita ini hanya hayalan penulis ya... Jadi, maaf jika ada kesamaan karakter atau apapun...

Semoga suka dengan cerita baru nya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang Hangat

Dita berjalan seperti biasa menuju lobi menyapa yang juga menyapanya. Tersenyum ramah pada pasien yang tengah menunggu antrean. Langkahnya pasti walau terdapat keraguan di hatinya. Dari kejauhan terlihat seorang pria dengan seragam kebanggaannya tengah duduk tegap memainkan ponselnya.

Jantung Dita semakin berdetak tak menentu ketika melihat pria tersebut yang tak lain adalah Feri. Entah mengapa dirinya masih saja berdebar melihat Feri. Rasanya ingin berbelok saja ke poli jantung untun memeriksakan keadaan jantungnya. Sayangnya Feri keburu melihat keberadaannya.

Senyuman manis tersungging di bibir Feri menyambut kedatangan Dita. Ponsel yang semula di pegangnya ia masukkan kedalam saku. Bukan karena takut ketauan chat dengan yang lain tapi prioritas nya kini beralih pada Dita. Ketika Dita membalas senyumannya ingin rasanya Feri mendekap Dita dalam pelukannya tapi itu tak mungkin terjadi. Feri tak ingin merusak citra Dita sebagai dokter dan petinggi rumah sakit.

"Sudah lama?" Tanya Dita.

"Baru dua menit." Jawab Feri melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Maaf ya. Tadi ngobrol dulu sama Papi." Jawab Dita jujur.

"Loh, mana Papi?" Tanya Feri mencari keberadaan Dokter Wijaya.

"Papi mau visit jadi ngga bisa anter sampai ke sini. Papi titip salam sama titip pesan." Dita.

"Apa?" Tanya Feri memotong ucapan Dita.

"Ish.... Makanya dengerin dulu. Kata Papi hati-hati di jalan udah." Dita.

Feri melihat ekspresi wajah Dita membuatnya gemas.

"Hm... Oke. Ayo." Feri.

Feri membukakan pintu mobil untuk Dita seperti pagi tadi. Feri mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang untuk menuju ke rumahnya. Feri akan memberikan kejutan pada Putranya yang selalu menanyakan tentang Mama padanya. Entah mengapa Jonathan begitu keukeuh menyebut Dita Mama.

"Hm... Tadi pagi ada perawat yang nanya sama aku Mas." Ucap Dita tiba-tiba.

"Ah,,," Ucap Feri memegang dadanya.

"Hah! Eh, kenapa?" Tanya Dita panik.

Tiba-tiba Feri menepikan mobilnya kemudian membuka seatbelt nya dan menghadap ke Dita. Dita yang bingung kenapa Feri berhenti hanya bisa diam.

"Coba ulangi lagi?" Feri.

"Apanya?"

"Omongan kamu tadi."

"Omongan yang mana? Hm.. Tadi pagi ada perawat yang nanya sama aku." Dita.

"Terus."

"Udah..."

"Sayang..."

Blush... Pipi Dita memerah mendengar ucapan Feri. Dita pun menunduk malu.

"Mas.." Ucap Dita pelan tapi masih bisa di dengar Feri.

"Iya sayang." Jawab Feri.

"Iih,,, ngerjain. Udah ih sana nyetir yang bener." Ucap Dita mendorong tubuh Feri agar tidak melihatnya.

Tanpa ungkapan cinta mereka saling memahami perasaan masing-masing. Tak perlu di jelaskan seperti anak remaja. Dita meremas jari-jarinya sendiri karena merasa gugup. Feri menyadarinya kemudian tangan kiri Feri meraih tangan Dita dan menggenggamnya.

"Mas ih kan lagi nyetir." Dita.

"Satu tangan masih bisa kok." Feri.

Dita pun hanya pasrah diam menerima perlakuan Feri yang selalu sukses membuatnya salah tingkah. Hingga memasuki gerbang rumah Feri genggaman tangan itu masih belum juga terlepas.

"Ada siapa?" Tanya Feri pada ajudannya.

"Ibu sama bapak Pak." Lapor ajudan Feri.

Dita semakin kalang kabut mendengar kata Ibu dan Bapak. Dita rasanya ingin menyerah saja dan minta pulang tapi lagi-lagi tangannya di genggam Feri. Feri benar-benar tak membiarkan Dita merasa sendiri.

"Assalamualaikum..."

"Wa'alaikum salam..."

Semua memandang ke arah pintu masuk. Feri tersenyum lebar dengan Dita di sampingnya. Ibu Fatimah yang mengenali Dita pun tersenyum dan bangkit dari duduknya. Sedangkan Pak Hadi masih diam menerka. Jonathan menatap Dita lama sampai akhirnya mengeluarkan suaranya.

"Mama..."

Perhatian pun tertuju pada Jonathan. Mata Dita berkaca-kaca tak percaya batita itu masih mengingatnya. Feri mengusap punggung Dita. Feri dan yang lainnya pun tak percaya Jonathan masih begitu mengingat wajah Dita. Bocah 2thn itu jarang membuka suaranya untuk bicara dan lihat mulutnya dengan percaya diri memanggil Mama dan langkah kecilnya menghampiri Dita.

Dita pun berdiri dengan kedua lututnya tangannya di rentangkan menyambut kedatangan Jonathan tak lupa senyuman manisnya terukir di bibirnya. Saat Jonathan sudah dekat Dita pun mendekapnya penuh hangat. Keduanya saling berpelukan seolah takut terpisah kembali. Feri tanpa sadar menitikkan air matanya begitu juga dengan Ibu Fatimah dan Pak Hadi yang baru menyadari jika wanita yang di bawa putra sulungnya adalah Dita.

"Mama..."

"Iya sayang. Abang Nathan apa kabar sayang?" Tanya Dita menangkup wajah imut Jonathan.

"Aik Mama. Lindu ma." Ucap Jonathan.

"Iya Mama juga rindu abang. Sini peluk lagi." Dita kembali memeluk Jonathan kemudian mencium puncak kepala Jonathan dengan penuh sayang.

Kehangatan Dita dan Jonathan tersadarkan oleh tangisan jemima yang rupanya tau jika sosok Mama sudah datang. Bayi 3 bulan itu menangis dengan kuat. Jonathan menunjuk adiknya dan menarik lengan Dita untuk mendekati Jemima. Dita pun menurutinya. Dan lihatlah Jemima berhenti menangis ketika suara Dita menyapanya.

"Halo anak cantik..." Sapa Dita.

Bayi mungil nan cantik itu membuka matanya yang berkaca-kaca penuh air mata menatap Dita.

"Halo.." Sekali lagi Dita menyapa setelah bayi itu melihat ke arahnya. Dan wow... Senyum Jemima merekah khas bayi.

Semua seolah terhipnotis dengan kehangatan mereka bertiga. Mereka bagai Ibu dan anak yang lama terpisahkan. Feri merasa bersalah walau itu bukan suatu kesalahan. Beberapa kali Ibu Fatimah membawa calon istri dan mendekatkannya pada kedua Putra dan putrinya tak ada penyambutan seperti ini dari keduanya.

"Pah, ini Dita yang Abang ceritakan." Feri membuka suaranya.

Dita menoleh ke arah pria yang di panggil Papa oleh Feri. Dita menghampirinya dan mencium punggung tangannya yang membuat Pak Hadi semakin takjub. Kemudian Dita menyapa Ibu Fatimah yang memang pernah dia temui saat mengantarkan Jonathan dan Jemima ke rumah sakit.

"Ibu apa kabar?" Tanya Dita.

"Kabar baik Dokter Dita. Dokter apa kabar?" Tanya Ibu Fatimah.

"Baik juga alhamdulillah. Panggil Dita saja Ibu. Dita sedang tidak bertugas." Dita.

"Eh, iya ya hahaha..." Ibu Fatimah.

"Nak Dita asli kota Y?" Tanya Pak Hadi.

"Bukan Pak. Saya asli kota M. Di sini saya ikut orang tua angkat saya." Dita.

"Oh,, orang tua kandung masih ada?" Pak Hadi.

"Ada Pak. Sekarang pun mereka ada di kota Y. Papa saya sedang mengurusi kerjaannya di kota ini." Jawab Dita jujur.

"Orang tuanya kerja apa?" Pak Hadi.

"Papa punya usaha kecil di bidang kuliner sama perhotelan." Dita.

"Loh, terus orang tua angkatnya?" Tanya Pak Hadi heran. Karena dirinya berfikir jika Dita anak dari keluarga tak mampu sehingga di angkat anak oleh dokter wijaya.

"Papi kebetulan dokter di rumah sakit tempat saya kerja juga Pak." Dita.

"Dokter Wijaya Pah." Feri.

"Dokter Wijaya."

1
farah
baru awal cerita sdh bikin penasaran, ada apa dgn dhita?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!