"Dua sisi kegelapan, satu raga, dan satu candu yang mematikan: diriku."
Zaviar, penguasa dingin yang sebelumnya mati rasa, mendadak meledak gairahnya saat Arumi—sang macan bar-bar yang bertransmigrasi ke tubuh istrinya antagonis—menghapus riasan badutnya.
Perubahan drastis ini tak hanya membangkitkan Zaviar, tapi juga monster di dalamnya: Varian.
Varian, alter ego gelap, obsesif, dan haus gairah, bangkit tanpa kendali, matanya memancarkan kedalaman yang menakutkan dengan mata merahnya.
Terkunci di dalam sangkar emas kamar utama, Arumi terjebak dalam kecemburuan Calista istri kedua sekaligus pemeran utama wanita dan pusaran hukuman ganda: kelembutan menuntut Zaviar, dan keganasan tanpa lelah Varian. Keduanya menginginkannya dengan cara yang paling mengerikan.
Varian menyeringai gelap, manik merahnya mengunci pergerakan arumi. "Kau membuat monster dalam diriku terbangun, Sayang. Bersiaplah untuk tidak bisa berjalan besok pagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Mengubah Alur Drama
Detik itu juga, napas Arumi tertahan.
Di dalam cermin, tidak ada lagi sosok wanita menor yang tampak tua dan aneh. Yang ada adalah seorang gadis muda dengan struktur wajah yang luar biasa sempurna. Kulitnya seputih pualam, halus tanpa pori-pori yang terlihat. Matanya berbentuk almond dengan manik mata berwarna cokelat gelap yang jernih, dibingkai oleh bulu mata lentik yang lebat secara alami. Hidungnya kecil dan bangir, serta bibirnya sewarna kelopak bunga mawar, penuh dan berbentuk cupid's bow yang sempurna tanpa perlu pulasan lipstik.
Kecantikan ini bukan lagi berada di level manusia biasa. Ini adalah kecantikan fantasi yang mutlak, jenis visual yang bahkan mengalahkan kecantikan Calista sang istri kedua yang menjadi pemeran utama wanita di drama tersebut.
"Gila..." Arumi menyentuh pipinya sendiri yang terasa sangat lembut. "Ternyata wajah asli si antagonis ini mirip denganku di dunia nyata, tapi versi seribu kali lebih sempurna. Kenapa dia harus menyembunyikan wajah seindah ini di balik make-up menor itu? Benar-benar titisan orang bodoh."
Arumi tersenyum tipis ke arah cermin. Sorot matanya kini tidak lagi tampak kosong dan penuh keputusasaan seperti Arumi yang lama. Kini, sepasang mata indah itu memancarkan kilatan kecerdasan, keberanian, dan sedikit kelicikan yang jenaka. Sebuah kombinasi yang berbahaya.
"Zaviar Ravindra, Calista... mari kita lihat seberapa lama kalian bisa bermain-main dalam drama ini," bisik Arumi penuh arti.
Ia melangkah masuk ke dalam bathtub, membiarkan air hangat merendam seluruh tubuhnya yang lelah. Arumi memejamkan mata, menyusun rencana di dalam kepalanya. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah mengamankan aset perusahaan peninggalan orang tuanya yang saat ini sedang mengalami krisis akibat salah urus dan sabotase dari dalam. Setelah itu, ia akan mengajukan perceraian dari Zaviar. Ia tidak sudi berbagi atap dengan pria kaku yang mengabaikannya sembarangan.
Arumi menghabiskan waktu satu jam untuk berendam dan merawat tubuhnya. Setelah merasa energinya pulih, ia keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju lemari pakaian (walk-in closet) yang luar biasa besar.
Ia melewati deretan gaun-gaun dengan warna mencolok dan penuh payet berlebihan yang biasa dipakai Arumi lama. Jari-jarinya berhenti pada sebuah gaun sutra sederhana berwarna hitam pekat dengan potongan sleeveless dan kerah persegi yang elegan. Gaun itu tidak memiliki motif apa pun, hanya mengandalkan potongan kain yang jatuh dengan pas di lekuk tubuhnya yang seksi.
Arumi mengenakan gaun tersebut. Tanpa korset ketat yang menyiksa, tanpa lapisan bedak tebal. Ia membiarkan rambut hitam panjangnya yang bergelombang terurai bebas hingga ke pinggang, hanya disisir rapi hingga berkilau alami di bawah cahaya lampu.
Suara ketukan pintu terdengar kembali dari luar.
"Nyonya Besar, waktu persiapan Anda sudah habis. Tuan Muda Zaviar dan Nona Calista sudah menunggu di ruang makan utama," suara Albert terdengar dari balik pintu, ada nada tidak sabar dan merendahkan yang tersirat di sana.
Arumi berjalan menuju pintu, membuka knopnya dengan satu gerakan tenang.
Saat pintu terbuka, Albert yang bersiap untuk memberikan teguran langsung terdiam membeku. Kata-kata yang sudah tersusun di ujung lidahnya menguap begitu saja. Pria paruh baya yang terkenal kaku dan disiplin itu menatap wanita di depannya dengan mata yang melebar sempurna karena terkejut.
Siapa wanita ini? Apakah ini benar-benar Arumi Razetha yang dua minggu lalu dikurung di ruang bawah tanah dengan wajah hancur penuh air mata dan kosmetik luntur?
"Kenapa diam saja? Katanya sudah ditunggu," ucap Arumi sambil melangkah melewati Albert yang masih mematung seperti patung lilin. "Ayo jalan, gue—maksudnya saya sudah lapar setengah mati. Kalau saya pingsan karena kelaparan di jalan, saya akan memastikan suami saya yang terhormat itu yang repot."
Albert menelan ludah dengan susah payah. Ia segera mempercepat langkahnya untuk memimpin jalan di depan Arumi, namun tatapan matanya tidak bisa berhenti mencuri pandang ke arah Nyonya Besarnya dari kaca pantul di sepanjang koridor. Perubahan ini terlalu drastis. Bukan hanya masalah penampilan, melainkan aura atau vibes yang dipancarkan oleh Arumi benar-benar terasa mendominasi, dingin, namun penuh dengan daya pikat yang misterius.
Mereka berdua berjalan menuju ruang makan utama yang berada di lantai satu. Sebuah ruangan luas dengan meja makan panjang dari kayu jati kuno yang dilapisi ukiran emas. Di ujung meja, telah duduk seorang pria dengan setelan jas hitam tanpa dasi, kancing kemeja atasnya terbuka dua buah, menampilkan kesan seksi sekaligus berbahaya. Pria itu adalah Zaviar Ravindra. Wajahnya tampan bak pahatan dewa Yunani, namun ekspresinya sedingin gunung es di kutub utara.
Di sebelah kanan Zaviar, duduk seorang wanita dengan gaun putih salju yang tampak anggun dan rapuh. Wajahnya cantik dengan tipe keindahan yang polos, membuat siapapun yang melihatnya ingin melindunginya. Dialah Calista, sang istri kedua yang sah secara hukum namun belum pernah disentuh oleh Zaviar.
Mendengar langkah kaki yang mendekat, Zaviar tidak langsung mendongak. Ia masih sibuk memotong daging steak di piringnya dengan gerakan yang presisi dan anggun.
"Duduk," perintah Zaviar dengan suara baritonnya yang berat dan bergetar, mengirimkan sensasi dingin yang instan ke seluruh ruangan. "Dan mulailah meminta maaf pada Calista sebelum aku kehilangan kesabaranku untuk kedua kalinya, Arumi."
Calista di sebelahnya langsung memasang wajah tidak enak hati, memegang lengan Zaviar dengan lembut. "Zaviar, tidak apa-apa... Kak Arumi pasti tidak sengaja waktu itu. Jangan terlalu keras padanya."
Arumi yang baru saja sampai di ambang pintu ruang makan hanya bisa memutar bolanya malas mendengar dialog klise yang persis seperti di skenario drama tersebut. Ia melangkah maju, menarik kursi makan yang berada tepat di seberang Zaviar dengan suara decitan yang cukup keras, sengaja memotong atmosfer kaku yang diciptakan oleh sang suami.
Zaviar menghentikan gerakan pisau makannya. Alisnya berkerut tajam karena merasa otoritasnya ditantang oleh tindakan tidak sopan tersebut. Ia mengangkat wajahnya secara perlahan, bersiap untuk memberikan tatapan mematikan yang biasa membuat Arumi lama gemetar ketakutan.
Namun, saat pandangan mata Zaviar jatuh pada sosok yang duduk di seberangnya, seluruh kata-kata kutukan yang sudah berada di benaknya mendadak lenyap tanpa bekas.
Manik mata hitam kelam milik Zaviar bersibubruk langsung dengan manik mata cokelat jernih milik Arumi yang menatapnya dengan pandangan acuh tak acuh, bahkan cenderung meremehkan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Zaviar melihat wajah asli dari wanita yang menyandang status sebagai istri pertamanya tersebut. Wajah tanpa topeng bedak menor yang selama ini membuatnya muak.
Detik itu juga, sebuah sengatan listrik yang luar biasa kuat—jauh lebih kuat dari sengatan listrik yang membunuh Arumi di dunia nyata—seolah menghantam sistem saraf pusat Zaviar. Jantungnya yang biasanya berdetak konstan dan dingin mendadak berdegup kencang secara tidak beraturan. Ada sesuatu di dalam lubuk hatinya yang terdalam—sesuatu yang selama ini tidur mati, sebuah insting purba yang gelap dan penuh gairah—mendadak menggeliat bangun dengan paksa hanya karena satu tatapan mata dari istri pertamanya yang telah berubah total.
Zaviar terpaku, napasnya memberat secara misterius, sementara Arumi justru dengan santai mengambil sendok dan garpu, bersiap untuk menyantap makanan di depannya tanpa memedulikan tatapan syok dari suami dinginnya tersebut. Petualangan Arumi Razetha yang baru, di dunia yang penuh dengan bahaya dan gairah yang tersembunyi, baru saja dimulai.
kek nya seru nih. aku juga sering uring² thor klo baca novel yg mc ny cinta buta + tulul.