Dikhianati... Kemudian dibunuh...
Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.
Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.
"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.
"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Persiapan Acara Lelang.
"Tuan, ada undangan untuk Anda."
Seorang pria paruh baya dengan setelan butler membungkuk sopan sebelum menyerahkan sebuah undangan berwarna hitam dengan pita emas di tangannya pada pria yang menjadi majikannya. Luwis.
Luwis menerima undangan yang disodorkan, membaca barisan tulisan yang terukir di bagian depan undangan lalu tersenyum.
"Lelang," Luwis bergumam pelan. "Apakah dia juga mendapatkan undangannya?" sambungnya bertanya.
"Tentu saja, Tuan," butler menjawab. "Justru akan tidak mungkin jika Tuan Angkasa tidak mendapatkan undangan."
"Benar. Dia akan datang seperti biasa tanpa menawar apapun." Luwis tersenyum, membuka undangan di tangannya, dan membaca isinya.
"Tapi, kali ini dia tidak akan datang." sambungnya dalam hati. "Aku tidak mendengar kabar apapun tentangnya sejak terakhir kali dia datang kemari. Andaipun dia nekat datang, dia akan datang dengan duduk di kursi roda."
Seringai kemenangan terbentuk jelas di bibir Luwis, merasa usahanya untuk menyingkirkan Angkasa secara perlahan akan berjalan mulus. Dalam benaknya, ia sudah membuat skenario.
Pertama. Jika Angkasa datang, ia akan bersikap layaknya seorang kakak yang baik dan peduli pada kesehatan adiknya. Tetapi juga dengan rencana di belakangnya.
Kedua. Jika Angkasa tidak datang, ia akan datang ke mansion Angkasa untuk melihat keadaan Angkasa secara langsung bersama rencana yang juga sudah ia susun.
"Gunakan cara apapun untuk mendapatkan satu undangan lagi. Berikan undangan itu pada Samuel Elgantara. Orang yang belum lama ini Angkasa pecat," perintahnya pada butler.
"Baik." jawab butler sembari membungkukkan badan, lalu berbalik pergi.
Drtt...
Getar notifikasi pesan terdengar sesaat setelah butler pergi, membuat Luwis segera mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, lalu membuka pesan dari seseorang yang baru saja ia terima.
"Angkasa akan datang ke perlelangan."- Vito.
Pandangan Luwis beralih dari ponsel ke meja di depannya, menatap botol kaca berisi serbuk putih yang ia letakan di samping gelas berisi minuman favoritnya, kemudian tersenyum.
"Kurasa ...aku akan menggunakan opsi pertama."
.
.
.
"Kau terlambat."
Langkah Lea terhenti saat ia baru saja masuk ke dalam mansion. Dalam jarak beberapa langkah di depannya, Angkasa duduk dengan tatapan tertuju ke arahnya, tatapan yang membuat ia mengurungkan niatnya untuk segera masuk ke kamarnya sendiri.
"Bukankah seharusnya kuliahmu selesai dua jam lalu?" Angkasa bertanya lagi seraya berdiri. Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Lea.
"Apakah ada aturan jam berapa aku harus pulang?" Lea balas bertanya.
Angkasa menyipitkan mata, tidak menyangka akan mendapatkan jawaban pertanyaan balasan. "Di tempatku, aturan itu selalu ada."
"Salah satunya?" tanya Lea.
"Jika kau sudah selesai kuliah, kau harus segera pulang," jawab Angkasa.
"Di awal, perjanjian seperti itu tidak ada," sanggah Lea. "Aku tinggal di sini karena aku menunggu hasil dari yang aku minta, dan aku akan melakukan perintah yang kamu berikan. Tidak ada catatan kamu mengusik hidupku," lanjutnya tegas.
"Sepertinya kau lupa satu hal, Lea," ujar Angkasa dengan suara berat. "Kau sudah menawarkan dirimu padaku. Dan aku tidak pernah melepaskan apa yang sudah menjadi milikku. Kau tinggal di mansion-ku. Itu artinya kau harus mengikuti aturan yang kubuat. Kau harus sudah ada di mansion ini sebelum jam delapan malam," jawab Angkasa.
"Jadi, aturan itu bisa dilanggar hanya jika aku sedang menjalankan tugas darimu?" sahut Lea tanpa meninggikan suaranya.
Angkasa diam. Bukan itu maksud sebenarnya mengapa dirinya bertanya. Tetapi, setiap kali ia mencoba untuk bertanya alasan mengapa Lea pulang terlambat, justru kalimat tuntutan yang selalu saja keluar dari mulutnya.
"Atau begitu cara sang singa mengatakan 'aku khawatir?'" Lea melanjutkan, membuat Angkasa kian terdiam dan merutuki mulutnya sendiri di dalam hati.
Lea menghela napas, merasa lelah untuk berdebat setelah ia baru saja menghadapi Samuel. Ia melangkah maju, mengikis jarak yang tersisa untuk meraih tangan Angkasa yang masih setia duduk di sofa, mengeluarkan botol kaca berisi serbuk putih yang ia dapatkan dari sahabatnya dan meletakkannya di telapak tangan Angkasa.
"Gunakan ini untuk mengintrogasi Vito jika kau belum membunuhnya. Ini alasanku mengapa aku terlambat," ucap Lea setengah berbohong.
Angkasa tertegun selama beberapa saat. Ia menatap lama botol kaca yang kini sudah berada di tangannya.
"Ini apa?" tanya Angkasa.
"Bahasa sederhananya, halusinogen. Vito akan menjawab semua pertanyaanmu dengan jujur tanpa drama kekerasan. Tapi, jika cara itu menjatuhkan imagemu, kamu bisa gunakan caramu sendiri," jawab Lea.
"Tidak perlu. Aku sudah mendapatkan jawaban yang kuinginkan," suara Angkasa melunak.
"Kau yakin dia tidak berbohong?" tanya Lea.
"Dia mengatakan yang sebenarnya," jawab Angkasa.
"Dan itu berkaitan dengan kedua orang tuamu," lanjutnya dalam hati. "
"Baiklah, kalau begitu, botol ini kuambil lagi." ucap Lea mengambil kembali botol dari tangan Angkasa dan memasukkannya ke dalam saku jaket.
"Tunggu," cegah Angkasa saat Lea akan melanjutkan langkah menuju kamar.
Lea tidak bertanya, hanya menunggu dengan netra terkunci pada wajah Angkasa.
"Akan ada acara lelang dua hari lagi. Pergilah bersamaku dan tawarlah barang yang kau inginkan di sana. Anggap itu sebagai hadiah karena kau sudah membawa Vito padaku," ucap Angkasa.
Lelang.
Satu kata itu terdengar begitu lambat masuk ke dalam indra pendengarannya. Perasaan gelisah tiba-tiba memenuhi hatinya dengan perubahan alur yang kembali terjadi.
"Acara lelang harusnya terjadi lebih dari satu bulan lagi," batin Lea berpikir.
"Baiklah," jawab Lea pada akhirnya.
.
.
.
Di tempat berbeda, apartemen Samuel di datangi oleh tamu yang segera ia kenali saat waktu menunjukkan pukul tengah malam.
Pria itu hanya sedikit menundukkan kepalanya saat pintu dibuka, menyerahkan sebuah undangan yang segera Samuel terima, kemudian berbalik pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.
Sementara Samuel, ia kembali menutup pintu, mengamati undangan berwarna hitam dengan pita warna emas di tangannya, kemudian membukanya untuk ia baca.
"Acara lelang?"
. . .
. . .
To be continued...