Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.
Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.
Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Dirawat Istri
Ayu sontak meraba-raba dahi Arvin. Bahunya tersentak seketika saat merasakan panas tinggi.
“Pak. Bangun!” Ayu terpaksa menyentak-nyentak Bahu Arvin lantaran suaminya itu juga nampak setengah sadar.
Dan hasilnya tidak ada respon.
Arvin hanya meracau kecil, nadanya kesakitan, kelopak mata tertutup.
Semakin panik, Ayu tak pikir panjang berlari keluar, menelepon dokter.
Beberapa menit kemudian, dokter datang tepat waktu, bergegas masuk ke kamar Arvin. Ayu sebenarnya diperbolehkan masuk, hanya saja dia tidak mau langsung mendengar kabar buruk.
Sambil terus menutup mulut, Ayu tidak bisa berdiri tenang.
Sampai akhirnya dokter keluar. Ayu menoleh, buru-buru bertanya.
“Bagaimana keadaan suami saya, dok?” tatapan Ayu membuka lebar, dibaluti kecemasan l.
Dokter tersenyum tenang. “Suami ibu tidak apa-apa. Cuma demam karena kelelahan dan banyak pikiran.”
“Tapi wajahnya pucat sekali terus badannya panas.”
“Itu normal. Tidak perlu dibawa ke rumah sakit, asal cukup istirahat. Paling cepat besok atau lusa sudah sembuh. Saya sudah siapkan obatnya di meja dalam.”
“Terimakasih pak Dokter.” Ayu menyalami.
“Saya permisi.”
Ayu masuk mengecek kondisi Arvin setelah selesai mengantar pak dokter. Baru membuka pintu kamar, dia mendapati Arvin berusaha payah untuk duduk.
Ayu sigap mendatangi.
“Bapak mau kemana?” Tangan Ayu menahan lengan Arvin agar tidak turun.
“Hari ini saya ada rapat penting. Saya harus ke kantor!”
Arvin mengenakan baju tidur. Gerakannya sangat tidak bertenaga hanya untuk menurunkan dua kaki ke lantai. Maka, Ayu dengan mudah mencegahnya.
“Bapak lagi sakit. Istirahat saja.”
“Minggir. Jangan halangi!” Arvin menepiskan diri dari cegahan tangan Ayu namun berakhir terbatuk-batuk.
“Uhuk-uhuk!” Arvin roboh ke bantalnya, tidak sanggup duduk lagi.
“Dibilangin!” Omel Ayu bersuara rendah, sembari kembali menyelimuti Arvin.
Setelah melihat Arvin cukup tenang, Ayu keluar kamar untuk menelepon Alden. Alden tentu sangat mengizinkan dan menyuruh Arvin istirahat hingga sembuh.
Ayu masuk lagi ke kamar Arvin dengan membawa baskom kecil berisi air dingin dan kain lembut.
“Apa itu?” tanya Arvin, suaranya serak.
“Saya mau ngompres kepala bapak?”
“Tidak perlu ginian?” Arvin jauh-jauh memalingkan wajah ke sisi lain
“ini perlu. Biar panasnya cepat turun!” Nada omel Ayu makin terdengar jelas.
“Ayu!” frustasi Arvin. Dia sebenarnya tahu mengompres kepala saat demam adalah hal benar hanya saja dia menolak untuk menutupi wajah malunya.
Dia merasa jadi seperti anak kecil.
Akan tetapi, Ayu tetap ngotot. Dia meletakkan kain dingin lembut yang sudah diperas ke dahi Arvin.
Arvin diam pasrah.
“Kenapa masih di sini?” Tanya Arvin.
“Saya mau menemani bapak”
“Saya tidak mau ditemani.”
“Saya harus menemani. Nanti bapak kenapa-kenapa.”
“Saya bilang…. Uhuk-uhuk!” lagi-lagi saat mau marah, Arvin tidak bisa menahan batuk. Membuat kain di dahi Arvin jatuh.
“Tuh kan Pak!”
Ayu betulkan kainnya lagi.
Arvin pun mengalah meski rasa malunya menjadi-jadi. Entahlah kenapa jadi malu begini. Mungkin karena yang merawat adalah Ayu.
Arvin tertidur pulas. Ayu tetap menemani dan jini ikut tertidur pulas. Meletakkan dahinya ke pinggiran tepi tempat tidur.
Disisi lain, Arvin bermimpi tentang ibunya yang meninggal. Dia bermimpi kembali menjadi anak SD yang sedang sakit demam.
Ibunya mengompres kepala Arvin kecil.
“Cepat sembuh ya Nak” kata sang ibu.
Arvin terbangun. “Ibu?”
Ayu sontak terbangun.
“Bapak sudah bangun. Saya buatkan bubur ya. Habis itu minum obat.
Arvin Terdiam.
Ayu lekas pergi. Arvin melihat jam dinding. Waktu sudah menunjukkan jam 3 sore. Kepalanya masih panas tapi tak sepanas tadi.
Ayu pun datang bawa bubur.
Ayu menyuapi dan meniup buburnya. Arvin membuka mulut dan malu merasa seperti anak kecil.
Dan ketika merasakan rasanya, mata Arvin berkaca-kaca.
“Loh bapak ko nangis?” heran Ayu.
“Kamu bisa keluar bentar.” Arvin menimpali.
“Tapi Pak—”
“Tolong. Keluar sebentar.” seru Arvin.