Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.
Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.
bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Pagi itu di kantor Satgas, suasana terasa sedikit lebih formal karena beberapa perwira tinggi sedang melakukan kunjungan. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Alvin. Ia masuk ke ruangan kerja Vino dengan santai, bahkan hampir saja menabrak seorang sersan yang baru keluar.
"Vin, lo udah dengar kabar dari SDM?" seru Alvin tanpa basa-basi. Ia duduk di depan meja Vino, menyilangkan kakinya dengan gaya yang sangat akrab. Seperti biasa, saat hanya berdua, Alvin tidak pernah menggunakan panggilan formal. Bagi Alvin, Vino adalah sahabat sejak masa pendidikan yang sudah ia anggap saudara sendiri.
Vino mendongak dari tumpukan berkas. "Kabar apa? Soal penggerebekan di pelabuhan?"
"Bukan, itu mah urusan kecil," Alvin menyeringai. "Gue baru balik dari ruangan Karo SDM. Surat Keputusan (SK) lo udah turun, Man! Lo resmi naik pangkat jadi Komisaris Polisi (Kompol) bulan depan. Gila, Vin, lo bakal jadi salah satu Kompol termuda. Selamat ya!"
Vino tertegun. Meskipun ia tahu prestasinya selama ini cukup menonjol, mendengar kabar kenaikan pangkat tetap saja memberikan rasa bangga yang luar biasa. "Beneran, Vin? Gue belum cek email resmi."
"Beneran. Dan lo tau kan prosedurnya? Upacara pelantikannya bakal besar-besaran di Polda. Lo wajib bawa Alisa. Istri harus dampingi suami buat nyematin pangkat baru di bahu. Jangan sampai dia absen, bisa kena tegur pimpinan lo," goda Alvin.
Vino tersenyum lebar. "Alisa pasti senang. Dia selalu bilang ingin lihat gue pakai PDU (Pakaian Dinas Upacara) lengkap dengan tanda pangkat baru. Thanks infonya, Vin."
"Sama-sama. Tapi Vin," Alvin merendahkan suaranya, "Lo harus hati-hati. Gue dengar dari intelijen rumah sakit tempat Alisa kerja... ada 'hama' lama yang balik lagi. Lo tau siapa kan?"
Wajah Vino seketika mengeras. Ia tahu persis siapa yang dimaksud Alvin. "Raka?"
"Tepat. Dia sudah balik ke Indonesia, Vin. Dan gue dengar dia kerja di manajemen rumah sakit yang sama dengan Alisa. Lo tau kan itu orang sifatnya kayak gimana? Dia nggak peduli Alisa sudah jadi istri lo," Alvin memperingatkan dengan nada serius.
Vino mengepalkan tangannya di atas meja. "Gue tahu. Dan gue nggak akan biarkan dia sentuh Alisa sedikit pun."
Di Rumah Sakit Medika Utama, Alisa sedang merasa sangat lelah. Pasien di poli sangat padat, dan ia baru saja selesai menangani kasus darurat di UGD. Saat ia baru saja duduk di ruangannya untuk menarik napas, pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan.
Seorang pria dengan setelan jas mahal dan jam tangan mewah berdiri di sana. Wajahnya yang tampan namun terlihat sombong itu tersenyum tipis ke arah Alisa.
"Masih cantik seperti dulu, Alisa," suara itu terdengar sangat familiar, sekaligus sangat memuakkan bagi Alisa.
"Raka?" Alisa berdiri dari kursinya, wajahnya menegang. "Apa yang kamu lakukan di sini? Ini ruang pribadi dokter."
Raka melangkah masuk dengan santai, menutup pintu di belakangnya dan menguncinya. "Aku sekarang menjabat sebagai salah satu konsultan manajemen di sini. Jadi, secara teknis, aku punya akses ke seluruh bagian rumah sakit ini, termasuk ruanganmu."
"Keluar, Raka! Aku sudah menikah, dan kamu tahu itu!" seru Alisa dengan suara bergetar karena marah.
Raka tertawa dingin. Ia mendekat ke arah meja Alisa, menatap foto pernikahan Alisa dan Vino yang terpajang di sana. Tanpa ragu, Raka membalikkan bingkai foto itu hingga tertelungkup di atas meja.
"Aku tahu kamu sudah menikah dengan polisi itu. Davino? Pangkatnya apa? Kapten? Mayor?" Raka mencibir. "Alisa, kamu hanya terjebak dalam pernikahan yang membosankan. Polisi itu tidak punya waktu untukmu. Dia lebih cinta dengan pistolnya daripada kamu. Tapi aku... aku punya segalanya untuk membahagiakanmu kembali."
"Kamu gila, Raka! Aku sangat mencintai suamiku. Pergi sekarang atau aku panggil keamanan!" ancam Alisa.
Raka justru tertawa lebih keras. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan meja. "Panggil saja. Semua orang di sini tahu aku siapa sekarang. Ingat Alisa, aku tidak pernah gagal mendapatkan apa yang aku mau. Dulu aku melepaskanmu karena polisi itu!, tapi sekarang aku kembali untuk mengambil hakku."
"Aku bukan barang yang bisa kamu ambil haknya! Pergi!" teriak Alisa.
Raka mundur selangkah, namun matanya tetap menatap Alisa dengan tatapan posesif yang mengerikan. "Oke, untuk sekarang aku pergi. Tapi jangan harap kamu bisa tenang. Aku akan ada di setiap sudut rumah sakit ini. Dan sampaikan salamku pada suamimu... katakan padanya, perang baru saja dimulai."
Setelah Raka keluar, Alisa terduduk lemas. Air matanya hampir jatuh. Ia merasa sangat terancam. Ia segera mengambil ponselnya, ingin menelepon Vino, namun ia ragu. Ia tahu Vino sedang sangat sibuk mempersiapkan kenaikan pangkatnya, dan ia tidak ingin menambah beban pikiran suaminya.
Sore harinya, Vino menjemput Alisa tepat waktu. Saat Alisa masuk ke dalam mobil, Vino langsung menyadari ada yang tidak beres. Mata istrinya terlihat sembab dan wajahnya pucat.
"Lis, kamu kenapa?" tanya Vino sambil memegang tangan Alisa. Tangannya terasa dingin.
Alisa mencoba tersenyum, namun gagal. "Enggak apa-apa, Mas. Cuma capek banget hari ini."
Vino menatap mata Alisa dalam-dalam. "Jangan bohong sama aku, Alisa. Alvin tadi cerita kalau Raka sudah balik. Dia ganggu kamu di RS?"
Mendengar nama Raka disebut oleh Vino, pertahanan Alisa runtuh. Ia menangis di bahu suaminya. "Mas... dia tadi masuk ke ruanganku. Dia bilang dia kerja di sana sekarang. Dia bilang dia mau... dia mau ambil aku lagi."
Rahang Vino mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang luar biasa. Ia memeluk Alisa sangat erat, seolah ingin menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa memisahkan mereka.
"Dengar aku, Alisa," suara Vino terdengar berat dan penuh penekanan. "Dia boleh punya gedung ini, dia boleh punya jabatan di sana, tapi dia tidak akan pernah punya kamu. Aku tidak akan biarkan seujung kuku pun dia menyentuhmu."
"Tapi Mas, dia orang yang nekat..."
"Aku lebih nekat kalau itu urusan melindungi istriku," potong Vino tegas. "Besok, aku akan tugaskan dua orang anggota berpakaian preman untuk mengawasimu di RS dari jauh. Dan bulan depan, saat aku dilantik jadi Kompol, aku ingin kamu berdiri di sampingku dengan bangga. Biar semua orang, termasuk si pengecut Raka itu tahu, siapa pemilik hati kamu yang sebenarnya."
Alisa menatap Vino, merasa sedikit lebih tenang. "Kamu beneran naik pangkat, Mas?"
Vino tersenyum tipis, menghapus air mata Alisa. "Iya. Berkat doa kamu dan Bunda. Jadi, jangan sedih lagi. Kita hadapi ini bareng-bareng. Aku nggak akan pernah lepasin kamu."
Malam itu, di rumah mereka, kehangatan Bunda Ratna sedikit menghibur Alisa. Namun di balik itu, Vino diam-diam menelepon Alvin di teras belakang.
"Vin, perketat pengawasan di rumah sakit Alisa. Dan cari tahu semua data tentang jabatan Raka di sana. Gue mau main bersih, tapi kalau dia main kotor, gue nggak akan segan-segan pakai cara gue sendiri," ucap Vino dingin ke seberang telepon.
Di bawah sinar bulan, sebuah konflik besar mulai membayangi kebahagiaan mereka. Namun bagi Vino, pangkat baru di bahunya bukan sekadar jabatan, melainkan kekuatan lebih untuk menjaga wanita yang sangat ia cintai.
Bersambung