Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
“Kita masing-masing pilih satu kode saham. Dalam waktu yang ditentukan, siapa yang persentase kenaikannya lebih tinggi, dialah pemenangnya. Kita lihat siapa yang lebih hebat—kau, si Titisan Naga, atau aku, sang Master Trader!”
Tatapan Kevin tajam, penuh tantangan. Ia benar-benar ingin mengembalikan harga dirinya yang terluka. Di dunia saham, Kevin sangat percaya diri. Julukan “Serigala Bursa atau Master Trader” yang disematkan padanya bukan isapan jempol semata; itu diraih dari pengalaman bertahun-tahun di pasar modal.
Arga menatap Kevin dengan sorot mata aneh. Bertanding saham dengannya? Di dalam benak Arga tersimpan database pergerakan saham yang akan meledak ribuan persen! Bertanding dengannya dalam hal ini tak ubahnya seperti mencari penyakit.
“Berani atau tidak?” desak Kevin.
“Jika kau ingin dipermalukan lagi, aku tidak keberatan,” jawab Arga dengan senyum tipis. “Namun, aku punya satu syarat.”
“Katakan.”
“Siapa pun yang kalah, dilarang keras mendekati Sherly lagi dalam bentuk apa pun!”
“Hiss—!”
Para tamu menarik napas panjang. Tantangan Kevin semula hanya soal adu gengsi, namun syarat Arga mengubahnya menjadi pertarungan hidup dan mati bagi perasaan mereka.
“Setuju!” sahut Kevin cepat.
Sang Titisan Naga melawan si Master Trader! Wajah-wajah penuh antisipasi memenuhi aula. Tak lama kemudian, pasar saham sesi siang dibuka. Ribuan angka bergerak fluktuatif, berubah setiap detik. Para pelayan membawakan laptop high-end untuk Arga dan Kevin.
Arga memejamkan mata sejenak, mengingat satu "saham iblis" yang meledak di tanggal ini. Tak lama kemudian, ia mengetikkan pilihannya—Saham Energi Nusantara (ENUSA).
Saham ini sudah anjlok selama setahun penuh. Banyak investor mengejeknya sebagai "saham kuburan". Bahkan pagi tadi, ENUSA sudah anjlok sembilan persen, hampir menyentuh batas bawah penolakan otomatis (Auto Reject Bawah).
“Aku memilih Saham Energi Nusantara,” ucap Arga tenang.
Begitu mendengar pilihan Arga, aula meledak dalam tawa.
“Bukannya itu saham gorengan yang sudah mati?”
“Aku pernah sangkut di sana. Benar-benar gila! Pas pasar bullish dia diam, pas pasar bearish dia terjun paling dalam!”
“Lihat pilihan Tuan Kevin—Juli Teknologi! Fundamentalnya kuat, trennya lagi uptrend parah. Jelas akan cuan! Dibandingkan pilihan Arga? Sampah!”
Kevin tertawa sinis. “Jangan begitu. Dia kan Titisan Naga—mungkin dia punya 'ilmu gaib'?”
Namun saat kata-kata itu terucap, layar menunjukkan saham ENUSA langsung menyentuh batas bawah. Tawa pun semakin pecah.
“Hahaha! Ilmu gaib macam apa itu? Langsung nyungsep!”
Shelina menggelengkan kepala dengan jijik ke arah Arga. “Inikah yang kau sebut percaya diri? Tak punya kemampuan tapi berani menantang Kak Kevin? Konyol!”
Namun, ejekan di sekitar sama sekali tidak memengaruhi Arga maupun Sherly. Sherly sudah berkali-kali melihat keajaiban yang diciptakan Arga. Baginya, Arga adalah sosok yang mampu mengubah kehancuran menjadi kemuliaan.
Sementara Arga, yang memegang "kunci jawaban" masa depan, hanya tersenyum tipis. Sehebat apa pun keahlian seseorang, bahkan sekalipun ia juara dunia investasi, tetap tak ada artinya di hadapan Arga—karena Arga bermain dengan cheat takdir.
Bagaimana mungkin mereka bisa menang melawan masa depan?
Pada saat itu, seseorang di tengah kerumunan tiba-tiba berseru keras,
“Lihat! Saham Juli Teknologi milik Tuan Muda Kevin melonjak!”
Semua orang spontan menoleh. Di layar besar terlihat jelas grafik pergerakan Juli Teknologi yang dipilih Kevin melesat tajam, volume pembelian membeludak, dan harganya terus merangkak naik hingga hampir menyentuh batas atas harian (Auto Reject Atas).
Selama bukan orang bodoh, siapa pun bisa melihat perbedaan mencolok antara saham yang menghijau pekat dan saham Energi Nusantara (ENUSA) milik Arga yang masih terpuruk di zona merah.
Kevin tersenyum puas, lalu menatap Arga dengan nada meremehkan.
“Sejak detik kau memilih ENUSA, kau sudah kalah telak. Ingat baik-baik, Arga, mulai sekarang jika kau berani melangkah setengah langkah saja mendekati Sherly, aku sendiri yang akan membuatmu menyesal!”
“Kevin, ini belum berakhir. Dari mana kau tahu kau sudah menang?” ucap Sherly dingin, matanya tetap tertuju pada layar Arga.
“Hanya tersisa lima menit sebelum pasar tutup. Menunggu pun hasilnya tak akan berubah, hanya membuang waktu semua orang,” jawab Kevin penuh kemenangan. “Namun jika kau ingin menunggu, Sherly, aku akan meladeninya—biar bocah ini sadar di mana tempatnya!”
Tepat saat itu, seseorang di kerumunan kembali berteriak histeris,
“Naik! Lihat ENUSA naik gila-gilaan!”
“Kenapa berisik? Semua orang tahu Juli Teknologi memang lagi naik,” sahut yang lain malas.
“Bukan Juli Teknologi! Itu ENUSA! Lihat! Astaga! Kenaikannya tidak masuk akal!”
Mendengar itu, semua orang—termasuk Kevin—terperanjat dan menatap layar komputer di depan Arga.
Di antarmuka saham milik Arga terlihat jelas: saham Energi Nusantara bukan hanya berhasil bangkit dari jurang batas bawah, tetapi pergerakannya melesat vertikal seperti roket yang baru saja memicu mesin utamanya! Sebuah kekuatan beli raksasa mendorongnya naik secara brutal, langsung membawa ENUSA menutup di batas atas harian.
Dari posisi hampir bangkrut ke batas tertinggi—hanya butuh waktu tiga setengah menit!
Sebaliknya, Juli Teknologi justru mulai kehilangan tenaga setelah naik sekitar delapan persen. Meski kenaikannya besar, jika dibandingkan dengan ENUSA yang melakukan comeback dari titik nadir, nilainya sama sekali tak sebanding.
Kevin terpaku. Ia tahu—ia telah kalah. Bahkan jika sahamnya menyentuh batas atas pun, ia tetap kalah dalam hal persentase lonjakan harian.
“Batas atas terkunci! Antrean belinya jutaan lot!” seseorang berseru dengan wajah pucat. “Ini aneh sekali! Apa yang terjadi dengan Energi Nusantara hari ini? Rasanya seperti ada keajaiban!”
Semua orang terdiam, lalu secara refleks menatap Arga dengan sorot mata penuh ketakutan. Orang ini… apakah dia benar-benar punya "tangan dingin" yang bisa menghidupkan saham mati?
Namun, para tokoh besar di aula itu memiliki penilaian lain. Lonjakan sebrutal itu jelas digerakkan oleh kekuatan modal yang sangat masif. Siapa pun yang mampu menggerakkan saham ENUSA pasti termasuk dalam jajaran orang terkaya di negeri ini. Mungkinkah Arga punya koneksi dengan sosok sekaliber itu?
Di bawah tatapan rumit semua orang, Arga memandang Kevin dengan ekspresi datar.
“Mulai sekarang, aku tidak mengizinkanmu mendekati Sherly.”
Kevin mundur beberapa langkah, wajahnya pucat pasi. Ia kalah di bidang yang paling ia banggakan. Sebagai putra mahkota Grup Otomotif, ia tak mungkin menjilat ludah sendiri di depan begitu banyak saksi.
“Cukup!”
Tiba-tiba, sebuah suara berat dan berwibawa menggelegar dari lantai dua. Semua orang mendongak.
“Itu Pak Rendra!”
Jika nama Rendra Gunawan disebut, maka seisi Semarang akan bergetar. Beliau adalah salah satu naga ekonomi di Jawa Tengah. Dibandingkan dengannya, Joni Hartono hanyalah butiran debu.
Pak Rendra berjalan menuruni tangga dengan ekspresi tenang namun mematikan. Tatapannya tajam menghunjam Arga.
“Kau yang bernama Arga?”