Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.
Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.
Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.
"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.
Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Kesadarannya perlahan kembali, namun rasanya sangat aneh.
Xin Yi merasa seolah-olah ia telah tertidur selama berabad-abad. Tubuhnya terasa sangat ringan, melayang-layang seperti kapas yang tertiup angin. Tidak ada tenaga sama sekali di dalam anggota tubuhnya.
Di telinganya, terdengar samar-samar suara orang-orang yang berbicara di sekitarnya. Suasana sangat ricuh dan emosional.
Ia bisa mendengar suara isak tangis Neneknya yang terdengar sangat pilu dan sedih. Lalu ada suara Huo Feilin yang biasanya tenang dan anggun, kini terdengar begitu dingin, tajam, dan penuh amarah seolah sedang memarahi seseorang dengan sangat keras.
Dan yang paling mengejutkan... ia bahkan mendengar suara tangisan dan isak tangis Xin Yiran!
Gadis itu menangis tersedu-sedu, terdengar sangat panik dan menyesal.
Apa yang sebenarnya terjadi...? batin Xin Yi bertanya-tanya dengan lemah.
Ia mencoba mengingat-ingat potongan kejadian terakhir sebelum ia kehilangan kesadaran.
Ia ingat... setelah selesai mandi dan membersihkan diri, ia merasa kepalanya sedikit pusing. Mungkin karena kurang makan atau kelelahan emosional semalam. Ia berniat berjalan mendekati meja belajar untuk merapikan barang-barang atau mungkin ingin mengambil air minum.
Namun, baru beberapa langkah berjalan, rasa pusing itu tiba-tiba menyerang dengan sangat hebat. Kepalanya terasa berat, pandangannya menggelap seketika, dan...
Sisanya... ia tidak ingat apa-apa lagi.
Gadis itu hanya bisa berbaring diam dengan mata masih terpejam, mencoba mencerna situasi yang kacau balau ini tanpa memiliki kekuatan untuk sekadar membuka kelopak matanya.
Xin Yuning duduk tegak di kursi kayu di samping ranjang tempat Xin Yi berbaring. Matanya tidak berkedip sedikitpun, terus mengawasi wajah adiknya yang masih pucat dan tertutup perban di bagian kening.
Sudah berjam-jam gadis itu belum juga membuka matanya. Hanya ada alat bantu pernapasan dan infus yang terpasang, menandakan bahwa ia masih dalam pemulihan.
Di luar kamar, suasana terasa sangat mencekam dan berat.
Para orang tua dan tetua keluarga tampak murung dan marah besar. Nenek Xin bahkan sampai masuk ke ruang istirahat khusus untuk menenangkan diri karena syok.
Di ruang tamu utama, Bibi Xin—ibu dari Xin Yiran—akhirnya tidak bisa membela anaknya lagi. Dengan wajah penuh penyesalan dan kepala tertunduk, ia meminta maaf kepada Huo Feilin dan Xin Fuyang dengan sangat tulus.
"Maafkan kami, Kakak, Kak Ipar..." ucapnya bergetar. Wajah Xin Wei pucat, tampak dia juga terkejut dengan hal yang terjadi.
"Sungguh saya tidak pernah menyangka Yiran akan bertindak sejauh itu dan membuat adiknya sampai seperti ini. Tolong terima permintaan maaf saya. Saya berjanji... mulai hari ini saya tidak akan pernah membiarkan Xin Yiran mendekati Xin Yi lagi."
Huo Feilin mendengarkan dengan wajah datar namun dingin. Ia tidak membalas, tapi setidaknya kemarahan besarnya sedikit mereda mendengar janji itu.
Mereka semua sadar bahwa insiden ini adalah titik balik yang sangat menyakitkan. Kata-kata pedas dan dendam konyol anak-anak ternyata bisa berakibat fatal bagi seseorang yang memiliki kondisi fisik dan mental yang sedang rapuh.
Matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah tirai jendela.
Xin Yi terbangun karena perutnya yang keroncongan luar biasa. Rasa lapar yang hebat justru menjadi alarm yang membangunkannya dari tidur panjangnya.
Perlahan dan dengan susah payah, ia membuka kedua kelopak matanya yang berat. Pandangannya sedikit kabur, namun perlahan menjadi jelas.
Di ujung tempat tidurnya, Xin Yuning sedang duduk membelakangi dia. Pria itu tampak sangat fokus dan serius, sedang dengan hati-hati memasangkan kaus kaki putih bersih pada kaki adiknya.
Ia begitu sibuk dan khawatir memastikan kaki kecil itu tetap hangat, sehingga ia sama sekali tidak menyadari bahwa mata adiknya sudah terbuka dan sedang mengawasinya.
Xin Yi menatap punggung lebar kakaknya itu sebentar. Rasanya aneh... ada seseorang yang begitu peduli padanya.
Dengan sedikit kekuatan yang ia punya, Xin Yi menggerakkan jari-jari kakinya yang sudah dipakaikan kaus kaki itu, lalu menggoyangkannya pelan di udara tepat di depan wajah Xin Yuning.
"......"
Gerakan kecil itu sontak membuat Xin Yuning terkejut.
Ia berbalik cepat, dan saat melihat mata bulat gelap gadis itu sudah terbuka lebar menatapnya, napas pria itu seakan tertahan di tenggorokan.
"Sangat tidak sopan," tegur Xin Yuning dengan suara parau namun matanya tampak belum tidur nyenyak.
Meskipun mulutnya memarahi, tangannya justru bertindak sangat hati-hati. Ia menurunkan kaki gadis itu perlahan ke atas kasur, memastikan tidak ada gerakan tiba-tiba yang bisa membuat adiknya kesakitan.
"Jangan bergerak sembarangan! Tunggu di situ sebentar!" serunya cepat.
Tanpa menunggu jawaban, pria itu langsung berlari keluar kamar dengan langkah panik namun penuh semangat.
"DOKTER SONG! DOKTER SONG! CEPAT KEMARI! ADIKKU BANGUN! XIN YI SUDAH BANGUN!!"
Teriakannya yang keras dan penuh emosi bergema di seluruh rumah.
"......" Kakak yang konyol.
Selama dua hari penuh, seluruh keluarga besar Xin sama sekali tidak bisa tidur nyenyak. Mereka terjaga, gelisah, dan takut memejamkan mata takut terjadi hal buruk.
Mendengar teriakan ajaib itu, seolah ada listrik yang menyambar, semua orang yang sedang duduk lesu di ruang tengah langsung melompat bangun.
Nenek Xin yang sedang memijat pelipisnya langsung berdiri tegak. Kakek Xin yang memegang teh langsung meletakkan cangkirnya dengan kasar.
Xin Fuyang dan Huo Feilin saling tatap dengan wajah yang seketika berubah dari pucat menjadi penuh harapan.
"Benarkah...? Yi Yi sudah sadar?!"
Beberapa waktu kemudian, Dokter Song memeriksa kondisi Xin Yi dengan sangat teliti dan hati-hati. Ia mengecek tekanan darah, denyut nadi, serta lukanya di dahi yang sudah mulai kering dan menutup.
Gadis itu memang masih terlihat sangat pucat dan lemah, namun matanya sudah terlihat lebih hidup dan sadar sepenuhnya.
"Sukurlah, semua indikatornya sudah normal," ucap Dokter Song sambil meletakkan alat stetoskopnya. "Hanya saja tubuhnya butuh asupan makanan bergizi dan istirahat total. Saya tahu Nona Xin suka berolahraga dan bergerak aktif, tapi untuk beberapa hari ke depan tolong dilarang keras. Biarkan tubuhnya memulihkan energi."
Mendengar penjelasan itu, semua orang di kamar menghela napas panjang lega. Beban berat di dada mereka seketika terangkat.
Nenek Xin segera duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan cucunya yang dingin dengan lembut.
"Nak... Yi Yi... apa kau merasa baik-baik saja? Ada yang sakit di mana saja?" tanyanya cemas.
Xin Yi menganggukkan kepalanya pelan, lalu menatap neneknya dengan tatapan polos.
"Saya baik-baik saja... hanya saja... saya lapar," jawabnya jujur.
Suara itu sontak membuat Kakek Xin tersentak.
"Lapar? Baik! Tunggu Kakek sebentar!" seru pria tua itu antusias.
Tanpa menunggu lama, Kakek Xin langsung berjalan cepat keluar kamar dan menuruni tangga. Ia berniat memasak sendiri di dapur untuk cucu kesayangannya! Hanya makanan buatan tangannya yang menurutnya paling bersih dan enak untuk Yi Yi.
Sementara itu, Huo Feilin, Xin Fuyang, dan Xin Yuning mengikuti Dokter Song keluar ke ruang tamu. Mereka melihat dari raut wajah dokter itu sepertinya ada hal penting yang ingin dibicarakan secara pribadi.
Mereka duduk berempat dengan suasana yang kembali menjadi serius.
"Jujur saja," mulai Dokter Song pelan. "Penyebab utama dia pingsan dan tidak sadarkan diri selama dua hari bukan hanya karena kurang makan atau benturan di kepala saja. Kemungkinan besar... itu disebabkan oleh guncangan emosional yang terlalu besar dan stres yang menumpuk."
Huo Feilin menghela napas panjang. Ia sudah menebak hal ini sejak awal melihat kondisi Xin Yi yang tertutup.
Xin Fuyang menundukkan wajahnya, rasa bersalah semakin menggerogoti hatinya. Ia merasa gagal menjadi ayah yang bisa melindungi putrinya dari hal-hal menyakitkan.
Xin Yuning pun memejamkan matanya. Ia merasa sangat bodoh. Seharusnya ia bisa mencegah hal itu terjadi. Seharusnya ia tidak meninggalkan adiknya sendirian di tengah kerumunan itu.
"Anak itu..." lanjut Dokter Song dengan nada lembut namun tegas. "Dia tipe orang yang tidak pandai mengungkapkan apa yang dia rasakan. Dia memendam semuanya sendiri, sampai tubuhnya akhirnya menyerah dan tidak dapat bekerja dengan normal. Jadi mulai sekarang, tolong perhatikan dia lebih dari sekadar fisiknya. Perhatikan juga perasaannya."
Sejak hari itu, kehidupan di rumah keluarga Xin berubah total.
Xin Yi yang sedang beristirahat di kamar mulai menyadari sesuatu yang aneh. Ia melihat bahwa Ayahnya, Xin Fuyang, dan Ibu tirinya, Huo Feilin, kini jauh lebih sering berada di rumah daripada pergi ke kantor.
Mereka membawa banyak berkas pekerjaan, laptop, dan rapat-rapat justru dilakukan di ruang kerja dalam rumah atau bahkan di ruang tamu.
Dan yang paling membuatnya bingung... Xin Yuning!
Kakaknya yang biasanya sibuk magang di perusahaan atau keluar bersama teman-teman, kini malah bisa ditemukan duduk diam di sofa sudut kamarnya. Pria itu membawa laptop dan bekerja di sana, seolah-olah kamar adiknya adalah kantor kedua baginya.
Xin Yi mengerutkan keningnya dalam-dalam.
Kenapa semua orang jadi seperti ini? Kenapa mereka tidak pergi bekerja seperti biasa?
Begitu alis indahnya itu terlihat berkerut dan wajahnya tampak berpikir keras atau sedikit tidak senang...
BRAK! – Xin Yi menaruh bukunya di meja dengan kuat.
Xin Yuning yang sedang mengetik keyboard langsung melompat kaget, hampir menjatuhkan laptopnya.
Huo Feilin juga ikut masuk melihat ke arahnya.Xin Fuyang yang sedang lewat pintu langsung berhenti mendadak, wajahnya berubah waspada.
"Ada apa?! Ada yang sakit?!" tanya mereka serentak dengan nada hati-hati.
Bayangan kejadian dua hari lalu di mana gadis itu pingsan dan terluka masih sangat segar di ingatan mereka.
Setiap kali melihat Xin Yi mengerutkan kening atau diam saja, jantung mereka seakan berhenti berdetak, takut-takut gadis itu akan merasa tidak nyaman, kecewa, atau bahkan mengalami kondisi tidak baik lagi.
Xin Yi hanya menatap mereka bingung.
Kenapa mereka jadi sangat khawatir begini... batinnya bertanya-tanya.