Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.
Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.
Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.
Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.
Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.
Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."
Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.
Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.
Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.
Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:
"Aku mau pergi utuh."
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: TIGA EKOR AYAM
Pagi itu, kakek tidak membawa cangkul.
Mahesa melihat dari balik tirai jendela yang robek—kakek berdiri di halaman depan, di depan kandang ayam yang sudah usang. Kandang itu terbuat dari bilah bambu yang diikat tali rafia, atapnya rumbia yang sudah hitam dimakan usia. Di dalamnya, tiga ekor ayam. Putih, coklat, dan hitam yang paling kecil. Ternak terakhir kakek.
Kakek tidak bergerak. Hanya berdiri, menatap mereka. Seperti sedang mengucapkan selamat tinggal.
Mahesa tahu. Tahu dari cara kakek menggenggam ujung baju, dari cara rahangnya mengatup seperti orang yang mencoba menelan batu. Tiga ekor ayam itu akan pergi hari ini. Bukan untuk disembelih, bukan untuk dimakan. Tapi untuk sesuatu yang bahkan tidak bisa disentuh, tidak bisa dirasakan, tidak bisa menenangkan rasa sakit di malam hari.
Stocking kompresi.
Kata itu pertama kali Mahesa dengar dari mulut dokter desa yang datang dua minggu lalu. Dokter muda dengan tas coklat yang sudah kusut, matanya lelah seperti semua dokter yang harus keliling kampung dengan bayaran pas-pasan. Dia memeriksa kaki Mahesa—memegang, menekan, mengukur—lalu menghela napas panjang.
"Sudah parah," katanya. Bukan pada Mahesa, tapi pada kakek. "Bengkaknya harus ditekan. Kalau tidak, progresinya cepat. Bisa... bisa sampai tidak bisa jalan sama sekali."
Kakek diam. Tangan tuanya gemetar di pangkuan.
"Ada stocking khusus," dokter melanjutkan. "Untuk kompresi. Harganya... lumayan. Tapi ini penting. Satu-satunya yang bisa memperlambat."
Dokter menulis di kertas kecil. Tulisan yang hanya apoteker yang bisa baca. Lalu pergi, meninggalkan mereka dengan kata-kata yang menggantung.
Stocking kompresi. Harga lumayan. Satu-satunya yang bisa memperlambat.
Kakek menyimpan kertas itu di saku. Tidak bilang apa-apa. Tapi malam-malam setelahnya, Mahesa mendengar kakek bangun tengah malam. Duduk di tepi tikar. Menatap ke arah kandang ayam.
Sekarang, pagi itu, kakek tidak membawa cangkul.
---
Kakek masuk ke rumah. Wajahnya seperti orang yang baru selesai perang. Tapi dia tersenyum pada Mahesa. Senyum yang sama. Senyum yang dipaksakan.
"Kakek ke kota," katanya. "Sebentar. Jaga rumah."
Mahesa ingin bertanya. Ingin bilang jangan. Ingin bilang ayam itu untuk kakek, untuk telurnya, untuk lauk di saat tidak ada uang. Tapi kata-kata itu tidak keluar. Hanya mengangguk.
Kakek mengambil tiga ekor ayam. Dimasukkan ke dalam keranjang bambu. Ayam putih berkotek pelan. Ayam coklat diam saja. Ayam hitam yang kecil berusaha melompat, tapi tidak bisa.
Kakek berjalan. Pergi.
Mahesa duduk di beranda. Menunggu. Menghitung waktu dari bayangan. Bayangan pohon kelapa yang memendek kemudian memanjang. Bayangan dirinya sendiri yang miring karena tidak bisa berdiri tegak dengan dua kaki yang tidak seimbang.
Siang. Sore. Matahari mulai turun.
Mahesa mulai takut. Bukan takut ditinggal—kakek selalu pulang. Tapi takut pada apa yang akan dibawa pulang. Takut pada harga yang harus dibayar. Takut pada kenyataan bahwa tiga ekor ayam, satu-satunya yang tersisa, tidak akan kembali.
Kakek pulang ketika langit sudah jingga. Jalannya pelan. Lebih lambat dari biasanya. Tangan kirinya membawa kantong kertas coklat yang kusut. Tangan kanannya kosong.
Tidak ada ayam.
Mahesa sudah tahu. Tapi melihatnya langsung, melihat kakek tanpa ayam, tetap menghantam dadanya seperti batu.
Kakek naik ke beranda. Duduk di kursi goyang. Napasnya tersengal. Keringat masih membasahi keningnya. Tapi dia tersenyum.
"Sudah," katanya. "Dapat."
Mahesa menerima kantong itu. Tangannya gemetar. Membuka lipatan kertas.
Stocking kompresi. Warna coklat kusam. Kaku. Tidak seperti kaus kaki biasa yang lembut dan melar. Ini seperti kulit buatan, seperti tabung yang dirancang untuk memenjarakan.
"Dokter bilang harus dipakai setiap hari," kata kakek. "Kalau bisa, sepanjang waktu. Cuma boleh dilepas kalau mandi."
Mahesa memegang stocking itu. Berat. Aneh. Dia membayangkan kakinya masuk ke dalam sana. Terjepit. Tidak bisa bernapas.
"Ayam?" tanyanya. Suara kecil.
Kakek diam sebentar. Lalu berkata, "Dijual. Ke pasar. Bu Tini yang beli. Dia baik, kasih harga lebih."
Harga lebih. Mahesa tahu artinya. Kasihan. Kasihan pada kakek tua yang menjual ayam terakhirnya. Kasihan pada cucu sakit yang kakinya semakin besar.
Tapi kasihan tidak mengembalikan ayam. Tidak mengembalikan telur yang dulu kadang jadi lauk. Tidak mengembalikan suara berkokok di pagi hari yang membuat rumah terasa hidup.
---
Malam. Kakek membantu Mahesa memakai stocking.
Kaki kanan Mahesa dimasukkan perlahan ke dalam tabung coklat itu. Sempit. Sangat sempit. Kakek menarik, hati-hati, seperti takut kakinya akan pecah.
Tekanan datang seketika. Bukan sakit biasa. Sakit yang berbeda. Seperti ribuan jarum menusuk dari luar ke dalam. Seperti pembuluh darah yang dipaksa mengalir di ruang yang lebih sempit. Seperti dipenjara.
"Nyeri?" tanya kakek.
Mahesa ingin bilang iya. Ingin bilang sangat. Ingin bilang lepaskan. Tapi dia melihat tangan kakek—tangan yang bergetar hebat setelah berjalan puluhan kilometer. Tangan yang menjual tiga ekor ayam, satu-satunya yang tersisa. Tangan yang tidak akan pernah tega melihatnya sakit, tapi terpaksa melakukan ini demi kebaikan.
"Tidak," kata Mahesa. "Tidak nyeri."
Kakek tersenyum. Lega. "Bagus. Nanti sembuh."
Nanti. Kata itu lagi. Kata yang selalu diucapkan sejak dulu. Nanti kalau besar. Nanti kalau ada uang. Nanti kalau kakek sudah dapat kerja lagi. Nanti kalau obatnya manjur.
Nanti yang tidak pernah datang. Tapi harus dipercaya. Karena tanpa nanti, tidak ada alasan untuk bertahan.
---
Mahesa berbaring. Kaki kanan terangkat di atas dua bantal—posisi yang kakek atur agar tidak terlalu sakit. Tapi stocking itu terus menekan. Tidak kendur. Tidak memberi ampun.
Dia tidak bisa tidur.
Kaki itu terasa seperti bukan miliknya. Bukan kaki yang sakit dan berat yang dia kenal selama ini. Ini kaki asing. Kaki yang terpenjara. Kaki yang berteriak tapi tidak bisa keluar.
Dia memikirkan tiga ekor ayam. Putih, coklat, hitam kecil. Apakah mereka sudah disembelih? Atau masih hidup di kandang orang lain? Apakah mereka tahu mereka dijual untuk kaki ini? Untuk stocking yang menyiksa ini?
Air mata keluar. Pelan. Tidak berisik. Tidak ingin kakek dengar.
Di seberang ruangan, kakek tidak tidur. Mahesa tahu dari napasnya yang tidak teratur. Dari gerakan kecil di tikar. Kakek juga terjaga. Kakek juga memikirkan tiga ekor ayam. Kakek juga merasakan sakit yang sama.
"Mungkin besok lebih baik," bisik Mahesa pada dirinya sendiri. Pada stocking yang menekan. Pada ayam-ayam yang sudah pergi. Pada kakek yang pura-pura tidur.
"Mungkin."
Tapi tidak ada yang menjawab. Hanya jangkrik di luar. Hanya angin yang masuk lewat celah dinding. Hanya malam yang panjang dan gelap.
---
Pagi. Mahesa bangun dengan kaki mati rasa. Bukan mati rasa yang berarti sembuh, tapi mati rasa karena tekanan terlalu lama. Dia mencoba menggerakkan jari-jari. Susah. Seperti menggerakkan balok kayu.
Kakek sudah bangun. Membuat bubur dari sisa beras kemarin. Meletakkannya di depan Mahesa dengan hati-hati.
"Makan," katanya. "Biar kuat."
Mahesa makan. Diam. Bubur itu hambar. Hanya air dan beras. Tidak ada garam. Tidak ada lauk. Tapi dia makan. Karena kuat itu penting. Karena kakek bilang begitu.
"Kakinya?" tanya kakek.
Mahesa menatap kaki kanannya. Masih terbungkus stocking coklat. Masih terasa asing. Tapi mungkin sedikit berkurang bengkaknya? Atau hanya perasaannya?
"Baik, Kek," katanya. "Lebih baik."
Bohong. Tapi kakek percaya. Atau pura-pura percaya. Yang penting, kakek tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang membuat Mahesa merasa, untuk sesaat, bahwa tiga ekor ayam tidak mati sia-sia.
---
Hari-hari berikutnya, Mahesa terbiasa dengan stocking. Rasa sakit berkurang, berganti menjadi tekanan konstan yang mengganggu tapi bisa ditahan. Dia bisa berjalan sedikit lebih baik. Tidak pincang terlalu dalam. Atau mungkin hanya perasaannya.
Kakek pergi setiap pagi. Mencari kerja serabutan. Kadang dapat, kadang tidak. Tapi selalu pulang dengan sesuatu. Kadang beras. Kadang sayur. Kadang hanya cerita tentang orang-orang di pasar.
Suatu sore, kakek pulang dengan wajah berbeda. Bawa kertas. Amplop putih.
"Surat," katanya. "Dari desa seberang. Untukmu."
Mahesa membuka dengan tangan gemetar. Siti. Lagi.
"Mahesa, apa kabar? Kaki mu bagaimana? Ibu titip salam. Kita di sini baik-baik. Aku dapat nilai bagus. Nanti kalau aku besar, aku mau jadi dokter. Biar bisa obati kamu."
Mahesa membaca berulang kali. Kata-kata Siti. Sederhana. Tapi menghangatkan dada.
Dokter. Siti mau jadi dokter. Untuknya.
Dia menatap kakinya. Yang terbungkus stocking. Yang sudah menebal dan pecah-pecah. Yang dijaga dengan tiga ekor ayam.
Mungkin. Mungkin suatu hari nanti, Siti benar-benar jadi dokter. Mungkin suatu hari nanti, ada obat yang bisa menyembuhkan. Mungkin suatu hari nanti, nanti itu datang.
Malam itu, Mahesa tidur dengan senyum. Kaki masih sakit. Masih tertekan. Masih terpenjara. Tapi ada surat Siti di bawah bantal. Ada harapan kecil yang disimpan di hati.
Tiga ekor ayam sudah pergi. Tapi mereka pergi untuk sesuatu. Untuk stocking ini. Untuk harapan ini. Untuk nanti yang mungkin—mungkin saja—datang.
Mahesa memejamkan mata. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, dia tidur tanpa menangis.
Karena kadang, penjara tidak selamanya gelap. Kadang, ada cahaya kecil yang masuk dari celah-celahnya. Cukup untuk melihat bahwa di luar sana, ada yang menunggu. Ada yang peduli. Ada yang mau jadi dokter untukmu.
Itu cukup. Untuk malam ini. Untuk tiga ekor ayam. Untuk stocking yang menyiksa.
Itu cukup.
---
di tunggu up nya kk.. semangat