Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seorang Pria Asing
Pagi itu datang, nyaris sama seperti pagi-pagi lain di rumah itu. Lampu-lampu sudah menyala sejak sebelum fajar, lantai marmer tampak sudah bersih dan mengkilap, dan aroma kopi tipis mengisi udara. Segalanya tertata rapi dan berjalan sesuai ritme yang tidak pernah berubah. Namun Rachel merasakannya sejak ia turun ke lantai bawah, bahwa ada sesuatu yang bergeser tipis tapi nyata.
Liam akan berangkat ke Sevilla hari ini, sesuai rencana. Ia sudah mempersiapkannya sejak beberapa hari lalu, dengan jadwal yang sudah ia atur sebaik mungkin. Rencananya, ia akan tinggal di sana selama beberapa hari, atau setidaknya hingga kondisi Rafael sudah jauh lebih baik untuk ditinggalkan.
Sekitar pukul tujuh, Liam muncul dari arah tangga dengan setelan gelap yang pas di tubuhnya. Rambutnya tertata rapi, dengan ekspresi tenang seperti biasa. Ia memeriksa jam tangannya sambil berjalan, tampak fokus, seolah pikirannya sudah lebih dulu berada di tempat lain. Sementara itu, Rachel berdiri tak jauh darinya, membereskan beberapa barang yang sedikit berantakan di ruang tengah.
“Gudang belakang sudah saya kosongkan seperti keinginan Tuan,” kata Rachel, suaranya datar dan profesional.
Liam pun mengangguk. “Baik. Pastikan kau memindahkan semua barang-barang yang sudah kuberitahu dan menatanya rapi di sana.”
“Baik, Tuan.”
Tidak ada jeda setelah itu. Tidak ada kalimat tambahan yang terasa perlu diucapkan. Liam hanya mengambil map tipis dari meja, lalu berhenti sejenak seolah mengingat sesuatu yang tertinggal. Namun akhirnya ia hanya melangkah lagi.
Rachel memperhatikannya tanpa sadar. Ia tidak merasa sedih, tidak juga kecewa. Hanya sebuah kesadaran yang muncul pelan, bahwa rumah ini akan terasa lebih besar saat Liam tidak ada di dalamnya. Kepergiannya tidak meninggalkan suara, tapi ketidakhadirannya begitu terasa.
Beberapa menit kemudian, tepat sebelum Liam menuju pintu, Rachel memberanikan diri membuka suara lagi. Nada yang ia gunakan tetap hati-hati dan penuh perhitungan, seperti setiap kali berbicara tentang hal di luar rutinitasnya.
“Tuan, saya ingin meminta izin. Malam ini… setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, saya berencana mengunjungi Anna dan Mrs. Portman.”
Liam pun berhenti. Ia menoleh, lalu menatap Rachel sekilas. Tidak ada perubahan di wajahnya—ia tidak tampak terkejut, tidak bertanya mengapa, juga tidak meminta penjelasan lebih jauh.
“Silakan,” jawabnya singkat. “Pergi sore ini lebih baik.”
Ia lalu melanjutkan langkahnya yang terhenti, seolah itu adalah keputusan yang sudah selesai dibahas. “Gunakan mobil. Sopir akan mengantarmu.”
Rachel mengangguk refleks. “Baik.”
“Itu lebih efisien,” tambah Liam, nadanya tetap datar. “Aku tidak mau direpotkan kalau kau sampai tersesat atau berbuat masalah di luar, selama aku tidak ada.”
Tidak ada ruang untuk diskusi. Apa yang Liam sampaikan tidak juga terdengar seperti perhatian yang bersifat personal. Semuanya terdengar seperti instruksi logis yang dikeluarkan seorang majikan terhadap pelayannya. Rachel pun tidak merasa sedang dilindungi, melainkan hanya diarahkan.
Liam melangkah pergi setelah itu. Pintu tertutup pelan, dan rumah kembali ke keheningan yang rapi. Yang tidak diketahui Rachel adalah, beberapa menit setelah itu, Liam memberikan perintah singkat pada salah satu anak buahnya, untuk mengantar Rachel sore ini dan mengawasinya dari jauh, tanpa harus terlalu ikut campur kecuali jika diperlukan. Tidak ada instruksi yang berlebihan, semuanya tampak normal dan profesional.
Sore itu, setelah pekerjaannya selesai lebih cepat dari perkiraan, Rachel segera bersiap, karena tidak ingin terlambat lagi. Ia tahu Anna pasti sudah menunggunya, dan rasa bersalah kecil masih tersisa karena janji yang tak sempat ditepati hari itu.
Rachel tidak merasakan apa pun selain rasa aman yang samar. Sopir datang tepat waktu dengan mobil yang tampak bersih, rapi, dan melaju dengan tenang. Semuanya terasa seperti bagian dari sistem yang sudah lama berjalan.
Di kursi belakang mobil, Rachel memandang keluar jendela. Kota bergerak pelan, dengan cahaya sore yang memantul di setiap kaca gedung pencakar langit. Lalu, ia mencoba mengosongkan pikiran, dan membiarkan pikirannya beristirahat setelah hari yang panjang.
Mobil terus melaju, menyusuri jalanan yang semakin ramai menjelang malam. Rachel tidak tahu bahwa hari itu akan meninggalkan sesuatu yang menetap di pikirannya—sebuah detail kecil yang tampak sepele, namun perlahan akan menuntut penjelasan.
Butuh waktu kurang dari satu jam lamanya, hingga ia akhirnya tiba di apartemen yang ditinggali Anna dan Mrs. Portman. Apartemen itu tidak berubah sejak terakhir kali Rachel datang. Bangunannya modern, dengan lorong luas dan cat dinding yang tampak dingin. Namun begitu pintu dibuka, kehangatan langsung terasa—bukan dari suhu ruangan, melainkan dari suasana yang sederhana dan jujur.
“Rachel!” seru Anna begitu melihatnya.
Gadis kecil itu berlari mendekat dengan langkah tergesa, hingga rambutnya sedikit berantakan dan pipinya memerah karena antusias. Rachel pun tersenyum refleks dan berjongkok untuk menyambutnya.
"Hai, Anna! Bagaimana kabarmu? Apa kau merasakan sakit?"
"Tidak, Rachel. Dokter sering datang kesini. Dan mereka memberiku obat. Obat itu membuatku tidak merasakan sakit sama sekali.", jawab Anna, polos.
Tidak lama setelah itu, Mrs. Portman datang dan menyambut hangat Rachel. "Rachel! Apa kau baik-baik saja?"
Rachel tersenyum, hatinya merasa penuh dengan kehangatan dan kepedulian yang diberikan Mrs. Portman padanya. "Aku baik-baik saja, Mrs. Portman. Bagaimana dengan Anda?"
"Tidak pernah sebaik ini, Rachel.", jawabnya, tersenyum hangat.
"Rachel!", pekik Anna, mencoba mendapatkan perhatian Rachel dengan mendekatinya dan memeluknya.
“Hmm, aku ingin minta maaf padamu, Anna,” kata Rachel begitu mereka berpelukan. Nada suaranya tulus, dan ada rasa bersalah yang tidak ia coba sembunyikan. “Aku sudah janji datang di hari ulang tahunmu, tapi aku tidak bisa menepatinya.”
Anna menatapnya sejenak, lalu menggeleng pelan. Tidak ada raut kecewa di wajahnya. Hanya ketenangan yang terasa dewasa untuk anak seusianya.
“Tidak apa-apa, Rachel,” katanya ringan. “Hari itu tidak benar-benar sepi.”
Kalimat itu membuat Rachel terdiam sesaat. Ada jeda kecil yang tidak ia rencanakan. “Maksudmu?” tanyanya akhirnya, berusaha menjaga nadanya tetap santai.
Anna melangkah mundur sedikit, memberi ruang bagi Rachel masuk. “Ada tamu,” jawabnya. “Seseorang datang siang itu.”
Rachel menutup pintu di belakangnya perlahan. Ia melepas mantel, dan menggantungnya di tempat yang seharusnya. Ada sesuatu dalam cara Anna bercerita—terlalu tenang dan terlalu polos, yang membuat Rachel memperhatikannya lebih saksama.
“Tamu?” ulang Rachel. “Siapa?”
Anna duduk di sofa, dan kakinya mengayun ringan. Matanya berbinar saat ia mulai bercerita, seperti mengingat sesuatu yang menyenangkan.
“Seorang pria,” katanya. “Dia tinggi. Tampan. Berpakaian rapi. Seperti pangeran di film.”
Rachel menahan reaksi apa pun. Ia berdiri di dekat meja kecil, dan berpura-pura memperhatikan vas bunga kering di dekatnya.
“Dia sopan,” lanjut Mrs. Portman. “Bicaranya tenang. Dia bilang dia temanmu.”
Kata-kata itu membuat jari Rachel berhenti bergerak.
“Temanku?” ulangnya, nyaris tanpa suara.
“Iya,” jawab Anna mantap. “Dia membawa kue ulang tahun. Dan kado.” Anna tersenyum lebar, lalu menunjuk ke arah rak kecil di sudut ruangan. “Itu masih aku simpan.”
Rachel pun menoleh. Ada sebuah kotak kado kecil di sana dan dibungkus rapi, seolah memamg sengaja diletakkan dengan hati-hati, dan tidak tampak seperti sesuatu yang dibeli dengan terburu-buru.
“Dia baik sekali,” tambah Anna, polos. “Bicaranya juga lembut kepadaku dan Mrs. Portman.”
Rachel menarik napas pelan. Cara Anna bercerita terlalu jujur untuk terdengar dibuat-buat. Tidak ada tanda bahwa ia sedang berkhayal atau salah mengingat.
“Pria itu…” Rachel berhenti sejenak, memilih kata-katanya. “Apa kau tahu namanya?”
Anna tidak perlu berpikir lama. “Liam.”
Nama itu jatuh begitu saja di udara, dan Rachel tidak langsung bereaksi. Wajahnya tetap tenang, bahkan terlalu tenang. Ia mengulang nama itu dalam hati, sembari mencoba menemukan kaitan, ingatan, atau bayangan apa pun. Namun tidak ada. Nama itu nyatanya tidak memberinya petunjuk atau jawaban apa pun.
Tidak ada nama 'Liam' dalam hidupnya. Setidaknya, tidak yang ia kenal sebagai teman. Namun, bagaimana bisa pria itu tahu tentang dirinya? Ia bahkan tahu tentang Anna, ke mana harus datang, juga kapan hari ulang tahunnya.
“Oh,” kata Rachel akhirnya, suaranya ia buat agar terdengar wajar. Ia bahkan memaksakan senyum kecil di sudut bibirnya. “Liam, ya.”
Anna mengangguk, puas. Rachel tidak ingin mengecewakannya dengan mengatakan bahwa ia tidak mengenal nama itu. Ia juga tidak ingin membuat Mrs. Portman khawatir tentang seorang pria asing yang datang begitu saja. Maka ia menyimpan kebingungannya rapat-rapat, seperti menyelipkan benda tajam ke dalam saku yang dalam.
Mrs. Portman kembali dari arah dapur dengan langkah pelan dan nampan berisi dua cangkir teh. “Rachel,” katanya hangat. “Senang akhirnya kau datang.”
Mereka pun duduk bersama, dengan obrolan yang mengalir ringan—tentang kondisi Anna yang semakin membaik, tentang keseharian Anna dan Mrs. Portman, juga tentang hal-hal kecil yang tidak menuntut perhatian penuh. Rachel ikut tertawa di saat yang tepat, sesekali mengangguk, dan menjawab seperlunya.
Dari luar, tidak ada yang tampak tidak biasa. Namun di dalam kepala Rachel, pikirannya terpecah. Berbagai pertanyaan pun bermunculan, memenuhi pikirannya.
'Siapa yang tahu alamat ini selain Tuan Smith dan orang-orangnya?'
'Apakah pria itu orang suruhan Tom?'
'Ataukah ia hanya orang asing yang kebetulan saja salah alamat, dan datang di waktu yang terlalu tepat, dengan membawa kue dan kado, dan entah bagaimana tahu tentang Rachel?'
'Namun jika itu kebetulan, mengapa ia tahu nama Anna? Dan mengapa ia tahu hari ulang tahunnya?'
Rachel menatap cangkir tehnya tanpa benar-benar memperhatikannya. Sejak tadi, ia menjaga wajahnya agar tetap netral. Ia bahkan tidak bertanya lebih jauh tentang sosok pria asing misterius yang ada di dalam cerita Anna.
Lalu, saat malam sudah semakin larut, Rachel berdiri dan berpamitan. Anna memeluknya erat. Semnetara itu, Mrs. Portman menepuk tangannya lembut dan berterima kasih atas kunjungan itu.
Di luar sana, udara terasa lebih dingin dan angkuh. Seorang sopir tampak sudah menunggunya. Dan Rachel pun langsung masuk ke dalam mobil dan menutup pintu pelan.
Tidak lama setelah itu, mobil pun melaju, meninggalkan apartemen itu dalam cahaya lampu lorong yang redup. Suasana kota tampak mulai gelap, dengan ampu-lampu jalan yang menyala satu per satu.
Rachel menyandarkan kepala ke kursi mobil, seraya menatap ke depan tanpa benar-benar fokus. Nama itu muncul lagi, seperti gema yang tidak menemukan tempat untuk berhenti.
Liam. Ia tidak tahu siapa pria bernama Liam itu. Tapi malam itu, nama itu pulang bersamanya.