NovelToon NovelToon
JANJI TANPA CINTA

JANJI TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / CEO / Percintaan Konglomerat / Romantis / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28: Bayang-bayang di Balik Mukjizat

Dua minggu menjelang keberangkatan Umroh, Danu sedang memeriksa paspor dan dokumen visa di ruang kerjanya. Senyumnya tak lepas saat melihat foto Nara di paspornya wanita itu tampak sangat teduh dengan hijab berwarna pastel.

Tok! Tok!

Andra masuk dengan wajah yang jauh dari kata tenang. Ia meletakkan sebuah amplop cokelat tanpa pengirim di atas meja Danu.

"Tuan, ini dikirim ke kantor pusat pagi tadi. Awalnya tim keamanan mengira ini hanya surat kaleng dari kompetitor, tapi isinya... lebih personal," lapor Andra dengan nada rendah.

Danu membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat foto pernikahan mereka semalam yang sudah disilang dengan tinta merah darah. Di balik foto itu tertulis:

"Ibadah ke tanah suci tidak akan menghapus dosa pria yang sudah menghancurkan hidup Vanya. Jangan harap pesawat itu akan mendarat dengan selamat."

Rahang Danu mengeras. Urat-urat di lehernya menegang. "Siapa yang mengirim ini? Vanya masih di dalam sel isolasi, dia tidak mungkin melakukan ini sendiri."

"Vanya memang di penjara, Tuan. Tapi pengikut setianya, terutama Raka mantan kepala keamanannya yang dulu sempat menghilang dikabarkan telah kembali ke Jakarta. Dia merasa berutang budi karena Vanya pernah membiayai pengobatan ibunya hingga sembuh," jelas Andra.

Sementara itu, Nara sedang berada di yayasannya, sibuk memilah barang-barang yang akan disumbangkan sebelum ia berangkat Umroh. Tiba-tiba, suara kaca pecah terdengar dari arah depan.

PRANG!

Sebuah batu besar yang dibalut kain hitam dilemparkan ke arah jendela toko. Di kain itu tertera logo perusahaan Setiawan Group yang sudah dicoret-coret. Nara tersentak, untungnya ia tidak terkena serpihan kaca.

"Mbak Nara! Jangan mendekat!" teriak salah satu staf yayasan.

Beberapa pria dengan motor besar tampak melesat pergi setelah melakukan aksi tersebut. Nara gemetar, namun ia segera beristighfar. Ia tahu, ketenangan yang ia miliki sekarang adalah incaran bagi orang-orang yang menyimpan benci.

Ia segera menelepon Danu. Belum sempat ia bicara, suara Danu di seberang sana terdengar sangat protektif, "Nara? Kamu di mana? Jangan bergerak, Andra dan tim keamanan sedang

menuju ke tempatmu. Sekarang!"

Satu jam kemudian, di dalam mobil antipeluru milik Danu, Nara duduk dengan wajah pucat. Danu menggenggam tangannya sangat erat, seolah tak ingin melepaskannya meski hanya sedetik.

"Mas... apa kita harus membatalkan Umroh ini? Aku takut terjadi sesuatu pada Mas dan Bapak," bisik Nara lirih.

Danu menatap mata istrinya dengan sorot yang tajam namun penuh cinta. "Membatalkan panggilan Allah karena takut pada manusia? Tidak, Nara. Itu justru yang mereka inginkan. Mereka ingin kita hidup dalam ketakutan."

Danu kemudian berpaling ke arah Andra yang duduk di kursi depan. "Andra, aktifkan protokol keamanan tingkat tertinggi. Saya tidak peduli berapa biayanya. Hubungi jaringan intelijen kita. Saya ingin Raka dan sisa-sisa pengikut Vanya ditemukan sebelum matahari terbenam besok."

"Baik, Tuan. Bagaimana dengan rencana keberangkatan Bapak Rahardi?"

"Bap

akan kita pindahkan ke safe house di Bogor malam ini juga dengan pengawalan medis rahasia. Jangan sampai ada yang tahu, termasuk Karin," perintah Danu tegas.

Hari keberangkatan tiba. Bandara Soekarno-Hatta tampak sibuk. Danu, Nara, dan Pak Rahardi yang duduk di kursi roda sudah berada di ruang tunggu VIP. Namun, Danu menyadari ada sesuatu yang aneh. Beberapa pria dengan jaket hoodie gelap tampak mondar-mandir di dekat gerban.Tiba-tiba, ponsel Andra bergetar. "Tuan, kita dalam masalah. Mereka tidak mengincar pesawatnya... mereka sudah menyabotase sistem manifes keberangkatan kita. Paspor Mbak Nara dilaporkan sebagai dokumen palsu di sistem imigrasi pusat beberapa menit lalu!"

?Apa?!" Danu berdiri dengan geram. "Beraninya mereka bermain di level ini."

Di saat yang sama, seorang petugas imigrasi bersama dua orang polisi mendekat ke arah mereka. "Mohon maaf, Ibu Nara Atmadja? Kami harus meminta Anda ikut kami untuk pemeriksaan dokumen."

Nara menatap Danu dengan panik. Bapak Rahardi mulai terlihat sesak napas ng menegang itu.

Ini bukan sekadar balas dendam biasa. Ini adalah upaya sistematis untuk memisahkan Danu dan Nara tepat di gerbang keberangkatan menuaat petugas hendak membawa Nara, Danu melangkah maju dan menghalangi jalan mereka. Auranya berubah menjadi sangat dingin, persis seperti "Monster Setiawan" yang dulu ditakuti lawan bisnisnya.

"Satu langkah lagi kalian menyentuh istri saya, saya pastikan jabatan kalian berakhir hari ini juga," ucap Danu dengan suara rendah yang mengancam.

"Tuan Danu, kami hanya menjalankan tugas..."

"Tugas berdasarkan laporan palsu dari peretas suruhan Raka?" Danu mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah video live yang dikirimkan oleh tim IT-nya. Video itu memperlihatkan Raka yang sedang disergap oleh tim keamanan Danu di sebuah gudang di pinggiran Jakarta, tepat saat ia sedang mencoba meretas sistem bandara.

Danu mendekatkan wajahnya ke petugas itu. "Cek kembali sistem kalian dalam sepuluh detik. Teknisinya sudah saya 'bersihkan'."

Petugas itu memeriksa tabletnya dengan gugup. Benar saja, status paspor Nara kembali "Valid" secara ajaib.

Setelah melewati ketegangan yang menguras emosi, mereka akhirnya berhasil duduk di dalam kabin pesawat. Pak Rahardi sudah tertidur pulas setelah diberi obat oleh perawat pendamping.

Nara masih menggenggam tasbihnya, bibirnya tak henti mengucap syukur. Danu merangkul bahunya, membiarkan kepala Nara bersandar di dadanya.

"Mas... tadi itu sangat menakutkan," bisik Nara.

Danu mencium kening Nara. "Dendam Vanya mungkin besar, tapi cinta kita punya Penjaga yang jauh lebih besar, Nara. Mulai detik ini, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menghalangi langkah kita menuju-Nya."

Saat pesawat mulai lepas landas (take-off), Nara melihat ke luar jendela. Di kejauhan, lampu-lampu kota Jakarta perlahan mengecil. Ia tahu, tantangan setelah pulang Umroh mungkin akan lebih berat, tapi selama tangan Danu menggenggamnya, ia tidak lagi takut pada bayang-bayang mana pun.

[BERSAMBUNG KE EPISODE 29]

> Langkah selanjutnya yang bisa saya lakukan untuk Anda:

> * Lanjut ke Episode 29: Menceritakan momen haru dan spiritual saat mereka tiba di depan Ka'bah, namun ada sosok misterius yang mengawasi mereka di sana?

> * Buat plot twist: Ternyata ada pengkhianat di dalam "tim keamanan" Danu yang membocorkan posisi mereka selama di Madinah?

> Mana yang ingin Anda eksplorasi?

>

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!