Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Lampu mobil di ujung gang itu masih menyala terang, menerangi sebagian jalan sempit yang tadi gelap.
Pria yang hendak menendang pintu kontrakan Andin langsung menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke arah mobil itu dengan tatapan tajam.
“Siapa lagi itu?” gumam salah satu dari mereka.
Pintu mobil terbuka.
Seorang pria tinggi keluar dengan langkah cepat. Wajahnya terlihat tegang saat matanya langsung menangkap tiga orang yang berdiri di depan kontrakan Andin.
Mark. Tatapan Mark langsung berubah dingin.
Ia tidak perlu berpikir lama untuk mengerti apa yang sedang terjadi.
“Cari siapa kalian?” tanyanya tegas sambil melangkah mendekat.
Tiga pria itu saling bertukar pandang. Salah satu dari mereka menyeringai tipis.
“Bukan urusanmu.”
Mark berhenti beberapa langkah dari mereka. Matanya menatap pintu kontrakan Andin yang tertutup rapat, lalu kembali pada ketiga pria itu.
“Aku tanya sekali lagi,” katanya dengan nada lebih rendah namun tajam. “Kalian cari siapa?”
Pria bertubuh besar di antara mereka melipat tangannya di dada.
“Kami cuma mau bicara dengan penghuni rumah ini.”
Mark tertawa pendek tanpa humor. “Tengah malam, tiga orang pria datang ke rumah perempuan sendirian… cuma buat bicara?”
Pria itu mulai kehilangan kesabaran. “Pergi saja kalau tidak mau ikut masalah.”
Mark justru melangkah semakin dekat.
“Masalahnya sudah terjadi sejak kalian berdiri di depan pintu itu.”
Ketiga pria itu kini menatap Mark dengan lebih serius. Salah satu dari mereka berbisik pelan, “Ini orangnya siapa?”
Pria yang paling besar mengangkat bahu.
“Tidak tahu. Tapi kalau dia menghalangi…”
Kalimatnya tidak dilanjutkan, namun tatapan mereka sudah cukup menjelaskan maksudnya.
Sementara di dalam kamar, Andin masih berdiri memegang gagang pintu dengan tangan gemetar.
Ia bisa mendengar suara-suara dari luar, meski tidak terlalu jelas. Namun satu hal yang ia sadari, ada orang lain di luar sana. Bukan hanya tiga pria itu.
Jantungnya berdetak semakin cepat. Apakah orang itu datang untuk menolongnya…? Atau justru orang lain yang sama berbahayanya?
Di luar rumah, Mark mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor dengan cepat. Begitu sambungan terangkat, ia langsung berkata singkat.
“Nathan, gue sudah sampai.”
Nathan yang masih berada di rumah sakit langsung berdiri dari kursinya.
“Apa yang terjadi?”
Mark menatap tiga pria di depannya yang kini mulai terlihat tidak sabar.
“Kamu benar,” katanya pelan.
“Orang-orang Papi kamu sudah di sini.”
Nathan langsung menegang. “Mark… jangan sampai mereka menyentuh Andin.”
Mark menghela napas pendek. “Tenang saja.”
Matanya kembali menatap tiga pria itu. “Selama gue masih berdiri di sini…” Ia menghentikan kalimatnya.
Karena pada detik yang sama. Salah satu pria itu tiba-tiba melangkah maju.
“Sudah cukup bicara,” katanya dingin.
Lalu ia mengangkat tangannya, memberi isyarat pada dua orang lainnya. Dan sebelum Mark sempat bergerak, pria bertubuh besar itu kembali mengangkat kakinya dan kali ini benar-benar hendak mendobrak pintu kontrakan Andin.
Langkah pria bertubuh besar itu maju satu langkah. Kakinya sudah terangkat, bersiap menendang pintu kontrakan Andin.
Namun sebelum kakinya benar-benar menghantam pintu—
“Berhenti.”
Suara Mark terdengar rendah, tapi penuh tekanan.
Ketiga pria itu menoleh bersamaan.
Mark kini berdiri beberapa langkah dari mereka, bahunya tegap, tatapannya dingin menilai satu per satu wajah orang yang berdiri di depannya.
“Kalau kalian masih punya sedikit akal,” katanya pelan, “tinggalkan tempat ini sekarang.”
Pria bertubuh besar itu justru tertawa pendek.
“Kamu pikir kami takut?”
Mark tidak menjawab. Ia hanya berdiri tenang, tapi seluruh tubuhnya sudah siap. Ia tahu orang-orang seperti ini tidak datang hanya untuk menakut-nakuti.
Pria kedua melangkah mendekat.
“Bos kami cuma mau bicara dengan perempuan di dalam,” katanya santai. “Jadi jangan ikut campur.”
Mark menyeringai tipis. “Masalahnya, aku ikut campur.”
Kalimat itu langsung membuat suasana berubah. Pria bertubuh besar itu tidak lagi membuang waktu. Dengan gerakan cepat ia langsung mengayunkan tangannya ke arah Mark.
Namun Mark sudah siap. Ia menghindar setengah langkah lalu balas memukul tepat ke rahang pria itu.
Bug!
Tubuh besar itu mundur dua langkah karena pukulan keras tersebut.
“Kurang ajar!” geramnya.
Dua pria lainnya langsung bergerak bersamaan. Gang kecil itu yang tadi sunyi mendadak berubah kacau.
Salah satu pria mencoba menarik bahu Mark dari belakang, namun Mark berputar cepat dan menghantam perutnya dengan siku.
Pria itu mengerang keras sambil terhuyung.
Namun pria ketiga sudah lebih dulu menyerang dari samping. Tinju kerasnya mengenai bahu Mark.
Mark terhuyung sedikit, tapi ia segera membalas. Tendangannya menghantam lutut pria itu hingga orang itu jatuh berlutut di jalan.
Suara keributan mulai memecah kesunyian malam. Di dalam kontrakan, Andin yang masih berdiri di kamar langsung menegang.
Ia bisa mendengar suara benturan dari luar. Suara orang berkelahi, jantungnya berdetak semakin cepat.
Apa yang sedang terjadi? Perlahan ia melangkah mendekati pintu kamar. Tangannya gemetar saat membuka sedikit celah.
Dari balik pintu kamar, Andin bisa mendengar suara seseorang berteriak di luar.
“Ayo! Tangkap dia!”
Andin menutup mulutnya sendiri. Rasa takut langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
Di luar, Mark masih bertarung dengan dua pria yang tersisa. Nafasnya mulai memburu, namun ia tetap berdiri di antara mereka dan pintu kontrakan.
Ia tahu satu hal. Ia tidak boleh membiarkan mereka masuk, tapi pria bertubuh besar yang tadi dipukul kini bangkit kembali dengan wajah penuh amarah.
“Pegang dia!” teriaknya.
Dua orang lainnya langsung menyerang Mark bersamaan. Salah satu berhasil menahan bahu Mark dari belakang. Dalam sekejap pria besar itu maju dan menghantam perut Mark dengan pukulan keras.
Mark mengerang pelan. Pegangan pada tubuhnya semakin kuat.
“Sekarang!” teriak pria besar itu.
Salah satu dari mereka langsung berlari ke arah pintu kontrakan. Mark langsung menyadari tujuan mereka.
“Jangan sentuh dia!” bentaknya.
Dengan sisa tenaga, Mark menghantam kepala pria yang menahannya dengan keras. Pegangan itu terlepas.
Namun semuanya sudah terlambat. Pria yang berlari tadi sudah sampai di pintu kontrakan.
Sekali tendang—
BRAK!
Pintu itu terbuka paksa. Suara kayu pecah membuat Andin membeku di tempatnya.
Pria itu langsung masuk ke dalam rumah. “Keluar kamu!” teriaknya kasar.
Andin mundur panik. Tubuhnya gemetar hebat. Ia berlari ke arah jendela kamar, namun pria itu sudah menemukan pintu kamarnya.
“Di situ!”
Pintu kamar didorong keras hingga terbuka.
Andin berusaha lari, tapi pria itu lebih cepat. Tangannya langsung menangkap pergelangan tangan Andin.
“Lepaskan aku!” teriak Andin panik.
Pria itu menyeretnya keluar kamar.
“Diam!”
Andin meronta sekuat tenaga.
Di luar rumah, Mark yang melihat Andin diseret keluar langsung merasakan darahnya mendidih.
“Andin!”
Ia berlari ke arah mereka, tapi pria bertubuh besar menghadangnya dan menghantam wajah Mark dengan pukulan keras.
Mark jatuh berlutut di jalan.
Namun ia langsung bangkit lagi.
Sementara itu pria yang memegang Andin menyeretnya menuju mobil hitam yang masih terparkir di ujung gang.
Andin berusaha melepaskan diri, tapi cengkeraman pria itu terlalu kuat.
“Tolong!” teriaknya putus asa.
Beberapa lampu rumah di sekitar gang mulai menyala. Tetangga mulai membuka pintu karena keributan.
Namun pria itu tidak peduli. Ia membuka pintu mobil belakang.
“Masukkan dia!”
Andin meronta semakin keras. “Lepaskan aku! Tolong!”
Di belakang mereka Mark berlari dengan sisa tenaga. Namun jaraknya masih beberapa meter.
Pria yang memegang Andin mulai mendorong tubuhnya masuk ke dalam mobil. Dan tepat pada saat itu. Sebuah mobil lain tiba-tiba masuk ke gang dengan kecepatan tinggi.
Lampu mobil itu menyilaukan. Rem mobil berdecit keras, seseorang keluar dari dalam mobil dengan langkah cepat.
Suara itu terdengar sangat familiar.
“Nathan?!”
Namun sebelum siapa pun sempat bereaksi—
Pria yang memegang Andin sudah hampir mendorongnya masuk ke dalam mobil. Dan Mark yang berlari dari belakang hanya bisa berteriak keras.
“ANDIN!”
Bersambung ....