NovelToon NovelToon
Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Pawai Bisu

Matahari sore mulai menyentuh ufuk barat, memancarkan semburat jingga kemerahan yang melukis langit Benua Langit Azure. Di Dapur Luar, waktu persiapan makan malam biasanya diwarnai dengan hiruk-pikuk suara pisau yang beradu dengan talenan dan kobaran api tungku. Namun, sejak sudut barat laut ditetapkan sebagai Tanah Suci Terlarang, seluruh pelayan dapur telah menguasai seni memasak dalam kebisuan yang menyerupai pantomim massal.

Zhao Er sedang mengaduk panci besar berisi kaldu jamur dengan sutil kayu yang dibalut kain peredam suara di ujung pegangannya, ketika tiba-tiba, suhu udara di Dapur Luar anjlok secara tidak wajar.

Bukan hawa dingin yang menusuk tulang seperti badai, melainkan kesejukan murni yang biasanya hanya bisa dirasakan di puncak gunung salju tertinggi. Aroma debu dan rempah-rempah yang menempel di dinding dapur mendadak tersapu bersih, digantikan oleh wangi bunga teratai surgawi dan kayu gaharu yang dibakar.

Zhao Er mengangkat wajahnya yang berlumuran jelaga. Matanya membelalak lebar. Tangannya yang memegang sutil kayu membeku di udara.

Dari ambang pintu ganda Dapur Luar yang terbuka, sebuah prosesi yang paling aneh dan menakutkan dalam sejarah sekte mulai melangkah masuk.

Itu bukanlah pawai kemenangan dengan panji-panji yang berkibar atau terompet yang ditiup. Ini adalah "Pawai Bisu". Di barisan paling depan, Kepala Koki Wang Ta berjalan dengan dada membusung sangat ke depan hingga nyaris membuat punggungnya melengkung ke belakang. Namun, kakinya melangkah berjinjit dengan sangat berlebihan, menghasilkan pemandangan yang sangat kontras antara wibawa dan kehati-hatian yang komikal.

Di belakang Wang Ta, pemandangan yang sesungguhnya membuat rahang seluruh pelayan dapur nyaris copot terbentang.

Enam orang pria tua berjubah sutra emas bermotif koin—seragam resmi Tetua Logistik Tingkat Tinggi dari Paviliun Harta Karun Langit—sedang memanggul sebuah objek raksasa di atas pundak mereka. Di antara keenam pria itu, Tetua Jin yang kurus kering berada di posisi paling depan sebelah kanan. Keringat sebesar biji jagung mengucur deras dari dahi Tetua Jin, urat-urat hijau bermunculan di leher dan pelipisnya. Matanya melotot tajam, memancarkan fokus dan teror absolut.

Mereka tidak sedang memikul beban yang berat. Sebaliknya, objek yang mereka bawa justru *menarik* mereka ke atas.

Itu adalah sebuah ranjang.

Namun, menyebutnya sebagai ranjang sama saja dengan menyebut lautan sebagai genangan air. Kerangka benda tersebut terbuat dari Kayu Roh Pengapung yang dipanen dari dasar Lautan Selatan. Kayu itu berwarna biru tua gelap yang memancarkan pendaran cahaya seperti galaksi bima sakti. Sifat alami kayu tersebut adalah menolak gravitasi bumi. Alhasil, keenam Tetua Logistik itu tidak sedang mengangkat ranjang tersebut, melainkan menahannya sekuat tenaga agar tidak terbang menembus atap!

Di atas kerangka kayu anti-gravitasi itu, terhampar sebuah kasur yang tidak terlihat seperti benda padat. Kasur itu terbuat dari tumpukan Sutra Awan Bintang yang dipintal bersama jutaan bulu Perut Angsa Surgawi berusia seribu tahun. Warnanya putih berkilau, sedikit memancarkan pendaran cahaya perak yang lembut, dan terlihat seperti gumpalan kabut tebal yang ditangkap dan dipadatkan menjadi bentuk persegi panjang raksasa selebar tiga meter.

Tidak ada ukiran naga yang norak. Tidak ada tiang penyangga yang sombong. Sesuai pesanan "kesederhanaan", ranjang itu hanyalah sebuah hamparan awan yang dibingkai oleh kayu bintang.

"Sssst!" desis Tetua Jin kepada asistennya di belakang, suaranya dipaksakan keluar dari sela-sela giginya yang terkatup rapat. "Seimbangkan Qi kalian! Jika ranjang ini miring satu milimeter saja dan merusak estetika ketiadaannya, aku akan memotong poin kontribusi kalian selama sepuluh tahun!"

Keenam Tetua itu melangkah masuk ke dalam Dapur Luar dengan sangat perlahan. Sepatu bot mereka bahkan tidak menyentuh lantai batu secara penuh, melainkan menggunakan teknik meringankan tubuh agar tidak menghasilkan suara gesekan sedikit pun. Mereka menahan napas, menavigasi melewati deretan tungku dan keranjang sayur bagai sekumpulan pencuri yang sedang menyusup ke sarang naga.

Para pelayan dapur segera menjatuhkan diri ke lantai, menempelkan dahi mereka ke lantai yang basah, tidak berani bernapas terlalu keras saat pusaka tingkat dewa itu melintas di atas kepala mereka.

Prosesi itu akhirnya tiba di batas tirai sutra biru di sudut barat laut.

Di bawah cahaya senja yang menyusup dari "Jendela Kekosongan" di atap, siluet Lin Fan terlihat berkedip-kedip redup berkat efek Jubah Penolak Gangguan. Ia sedang berbaring menyamping di atas kursi goyangnya, sebelah kakinya masih bertumpu nyaman di atas Batu Giok Api-Es Yin Yang.

Wang Ta mengangkat tangannya, memberikan isyarat berhenti kepada para Tetua. Ia kemudian berlutut, menangkupkan kedua tangannya, dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Hamba melaporkan kedatangan, Master Lin," bisik Wang Ta, suaranya sehalus embusan angin musim semi. "Hamba telah kembali dari Puncak Utama. Tetua Jin dan Paviliun Harta Karun telah mengerahkan seluruh jiwa raga mereka untuk menghadirkan medium yang layak bagi ekspansi dimensi astral Anda. 'Altar Awan'... maksud hamba, 'Kasur Kapas' pesanan Anda telah tiba."

Di balik tirai, Lin Fan yang sebenarnya baru saja terbangun karena merasa lehernya sedikit pegal akibat salah bantal, mengerjap pelan. Ia menarik sedikit kerah Jubah Penolak Gangguan-nya ke bawah, menonaktifkan efek kamuflase optiknya secara parsial agar wujudnya terlihat lebih solid.

Lin Fan memutar kepalanya dengan lambat. Matanya yang masih sayu menatap melewati celah tirai.

Hal pertama yang ia lihat adalah wajah pucat pasi dan penuh keringat dari enam pria tua berjubah mewah yang sedang memeluk erat empat pilar kayu biru yang melayang di udara. Hal kedua yang ia lihat adalah tumpukan awan putih berkilau yang berada di atas kayu tersebut.

Di dalam dadanya, jantung Lin Fan meledak dalam tarian euforia yang tidak terkendali.

*Astaga naga...* batin Lin Fan menjerit histeris, meski wajah luarnya tetap sedatar papan cucian. *Itu bukan sekadar kasur! Itu adalah surga yang diwujudkan dalam bentuk perabotan! Lebarnya cukup untuk membuatku berguling tiga kali berturut-turut tanpa jatuh! Dan teksturnya... kelihatannya aku bisa tenggelam di dalamnya sampai ke inti bumi!*

Lin Fan harus menggigit bagian dalam pipinya sangat keras agar tidak tersenyum lebar seperti orang gila. Ia harus mempertahankan persona 'Master Kosong'-nya. Jika ia terlihat terlalu antusias pada benda material, mereka mungkin akan menganggapnya telah "tersesat ke jalan duniawi" dan menarik kembali fasilitas pensiun abadinya.

1
abyman😊😊😊
🤣🤣🤣💪
abyman😊😊😊
🤣🤣🤣🤭
Gege
idenya keren tiduran saja bisa ngalahin para ahli...epic dan apik..
Gege
temanya menarik..makin malas makin sakti...belom lagi hadiah hadiah yang diluar nalar... nabok nyilih tangan menang tanpo ngasorake sugih tanpo kerjo...🤣
ikyar
bagus lucu
rinn
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!