NovelToon NovelToon
Satya Wanara, Pendekar Toya Emas Angin Langit

Satya Wanara, Pendekar Toya Emas Angin Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Penyelamat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zaenal 1992

Di ambang keruntuhan Majapahit dan fajar menyingsingnya Islam di Nusantara, seorang pemuda eksentrik bernama Satya Wanara berkelana dengan tingkah laku yang tak masuk akal. Di balik tawa jenaka dan tingkah konyolnya, ia membawa luka lama pembantaian keluarganya oleh kelompok rahasia Gagak Hitam. Dibekali ilmu dari seorang guru yang lebih gila darinya, Satya harus menavigasi dunia yang sedang berubah, di mana Senjata bertemu doa, dan pedang bertemu tawa.

​Daftar Karakter Utama:

​Satya Wanara (Raden Arya Gading): Protagonis yang lincah, konyol, namun mematikan.

​Ki Ageng Dharmasanya: Ayah Satya, Panglima Telik Sandi Majapahit (Almarhum).

​Nyai Ratna Sekar: Ibu Satya, keturunan bangsawan yang bijak (Almarhumah).

​Eyang Sableng Jati: Guru Satya yang konyol dan sakti mandraguna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kitab pusaka 'Napas Naga Langit part 9

Di tengah keheningan yang mencekam setelah amukan brutal Balavikra, sebuah langkah kaki yang tenang terdengar menggema dari balik bayang-bayang pilar kuil yang masih berdiri. Sosok pria paruh baya yang tadi duduk santai di kedai, mengenakan jubah lusuh yang kini tersingkap, berjalan maju.

​Satya membelalakkan mata. Ia mengenali garis wajah itu, namun auranya kini jauh berbeda. Pria itu bukan lagi seorang pengelana biasa, melainkan sosok yang memancarkan wibawa yang mampu menundukkan badai.

​"Tuan... Tuan dari kedai tadi?" gumam Satya tak percaya.

​Keempat pangeran lainnya segera bersimpuh, menundukkan kepala sedalam-dalamnya. "Paduka Raja Samudragupta!" seru Pangeran Dharmasara dengan nada gemetar.

​Satya tersentak. Jantungnya berdegup kencang menyadari bahwa pria yang ia ajak bicara secara informal tadi adalah penguasa tertinggi Kerajaan Mahameghavahana.

​Raja Samudragupta berdiri di depan tubuh Bhirawa Hitam yang sudah tak berbentuk. Matanya tidak memancarkan kebencian, melainkan kesedihan yang mendalam.

​"Bhirawa," suara Sang Raja berat dan berwibawa. "Kau mencuri senjata Gada Vajra Barata

karena kau merasa kerdil. Kau mengira dengan memegang Gada Vajra, kau akan menjadi pendekar yang ditakuti. Namun lihatlah dirimu sekarang—tergeletak tanpa lengan di tanah yang kau noda."

​Raja Samudragupta menghela napas panjang. "Kekuatan tanpa jiwa adalah kutukan. Kau menjadi budak dari benda yang kau curi. Sejatinya, kehancuranmu bukan datang dari gada Balavikra, melainkan dari kekosongan di dalam dadamu sendiri."

​Raja kemudian berbalik menghadap Satya (Arya Gading) dan kelima pangeran. Balavikra yang tadinya masih dipenuhi sisa amarah, mendadak luluh dan tertunduk lesu di hadapan sang raja.

​"Pangeran-pangeranku," ujar Raja Samudragupta sambil menatap mereka satu per satu. "Kalian membanggakan kasta ksatria, zirah perunggu, dan silsilah darah biru. Namun hari ini, kalian melihat kebenaran yang pahit."

​Beliau menunjuk ke arah Satya yang masih memegang Toya Emasnya dengan telapak tangan yang berdarah.

​"Kalian meremehkan pemuda ini karena ia terlihat seperti pengelana jelata. Namun saat maut mengincar kepala kalian, bukan silsilah keluarga yang menyelamatkan kalian, melainkan keberanian dan ketulusan jiwa yang ia miliki."

​Raja Samudragupta mendekati Satya dan menepuk bahunya dengan lembut.

​"Ingatlah ini baik-baik: Singa tetaplah singa, meskipun ia terbungkus kain rongsokan. Seekor anjing tidak akan menjadi singa hanya karena ia memakai kalung emas murni, dan seorang ksatria sejati tidak ditentukan oleh kastanya, melainkan oleh kemampuannya untuk berdiri tegak saat dunia sedang runtuh."

​Mendengar itu, Balavikra dan pangeran lainnya merasa malu. Mereka menyadari bahwa selama ini mereka terlalu sombong dengan status, sementara Satya—yang mereka anggap rendah—adalah sosok yang memimpin ritme pertempuran dan menjaga nyawa mereka tetap melekat di badan.

​Raja Samudragupta kemudian mengambil Gada Vajra Hitam yang tergeletak di tanah dengan tangan kosong. Ajaibnya, energi hitam yang tadi membakar siapa saja, kini tunduk dan tenang di bawah genggaman sang raja.

​"Satya, kau telah menunaikan perintah gurumu," ucap Raja. "Namun, takdirmu tidak berakhir di kuil tua ini."

Setelah suasana mencekam di kuil mereda, kelima pangeran memboyong Satya ke pesanggrahan agung kerajaan. Tidak ada lagi tatapan meremehkan; yang ada hanyalah rasa hormat yang mendalam. Di ruang perjamuan yang megah, hidangan terbaik disajikan, namun para pangeran justru lebih memilih berdiri dan membungkuk serentak di hadapan Satya.

​"Satya, atau Arya Gading," ujar Pangeran Dharmasara mewakili saudara-saudaranya. "Terimalah permohonan maaf kami yang paling dalam. Kesombongan kasta telah membutakan mata kami. Jika bukan karena keberanian dan ketajaman strategimu, Gada Vajra mungkin telah hilang dan kepala kami sudah terpisah dari raga."

​Pangeran Balavikra, yang tangannya masih dibalut kain karena luka tempur, menatap Satya dengan takjub. "Ilmu toya dan caramu membaca serangan tadi... itu bukan ilmu sembarangan. Siapakah sebenarnya guru yang menempamu hingga memiliki tingkat kesaktian setinggi itu?"

​Satya meletakkan Toya Emasnya di samping kursi, lalu tersenyum tipis. "Saya beruntung memiliki dua cahaya dalam hidup saya," jawabnya dengan rendah hati.

​"Pertama adalah Sunan Kalijaga. Beliau adalah guru yang tidak mengajarkan cara memukul, melainkan cara tunduk. Beliau mengajarkan saya tentang ketuhanan, tentang bagaimana setiap helai napas adalah milik Sang Pencipta, dan bahwa senjata terbaik adalah keikhlasan hati."

​Para pangeran tertegun mendengar nama yang asing namun terasa begitu suci itu. Satya melanjutkan, "Dan yang kedua, guru yang melatih raga dan silat saya, adalah Eyang Sableng Jati. Beliau pulalah yang memerintahkan saya menyeberang ke tanah ini untuk mengejar Bhirawa Hitam dan mengembalikan keseimbangan pusaka yang dicurinya."

​Reuni Tak Terduga: Sang Resi dan Masa Lalu

​Tiba-tiba, seorang lelaki tua berjubah putih dengan janggut panjang yang menjuntai hingga dada masuk ke ruangan. Ia adalah Resi Agastyamurti, guru besar dari kelima pangeran tersebut. Langkahnya terhenti saat mendengar nama "Eyang Sableng Jati" disebut.

​"Sableng Jati...?" suara sang Resi bergetar. Matanya yang biasanya tenang kini berkaca-kaca. "Apakah kau bilang gurumu bernama Sableng Jati?"

​Satya terkejut dan segera berdiri. "Benar, Resi. Apakah Anda mengenalnya?"

​"Mengenalnya?" Resi Agastyamurti tertawa kecil namun penuh kerinduan. "Dia adalah sahabat karibku saat aku masih muda dan berkelana mencari hakikat alam Saat di Pulau Jawa. Kami pernah bertapa bersama di lereng merapi dan bertukar jurus di tepi pantai selatan. Dia adalah singa di antara manusia!"

​Satya terpaku, tak menyangka takdir mempertemukannya dengan sahabat gurunya di negeri seberang. "Resi pernah tinggal di tanah Jawa?"

​"Benar, anak muda. Bagaimana kabar pria gila itu sekarang? Apakah dia masih suka bicara sendiri dengan pohon?" tanya sang Resi penuh semangat.

​Satya tertawa kecil, teringat tingkah gurunya. "Beliau sekarang menetap di Gunung Kelud, Resi. Sifatnya tidak berubah; dia masih suka tidur di dahan pohon yang paling tipis, tertawa terbahak-bahak tanpa sebab, dan seringkali menghilang selama berhari-hari hanya untuk mengejar seekor kupu-kupu yang menurutnya 'menarik'."

​Resi Agastyamurti mengangguk-angguk sambil mengusap janggutnya. "Dia memang tidak pernah berubah. Jiwanya merdeka, tak terikat oleh aturan duniawi. Pantas saja muridnya memiliki aura yang begitu bersih sekaligus liar."

​Sang Resi kemudian berpaling kepada kelima murid pangerannya. "Kalian lihat? Dunia ini luas. Kalian belajar dariku tentang keteraturan, tapi pemuda ini belajar dari seseorang yang memahami kekacauan alam. Itulah mengapa ia bisa menembus teknik Bhirawa yang tidak bisa kalian baca."

​Kelima pangeran itu semakin tertunduk, menyadari betapa kecilnya pengetahuan mereka dibandingkan luasnya jagat raya.

​"Satya," ucap Sang Resi kembali. "Karena kau adalah murid dari sahabat lamaku, dan kau telah menyelamatkan kerajaan ini, aku ingin memberikan sesuatu yang dititipkan gurumu padaku puluhan tahun lalu melalui sebuah firasat."

1
anggita
wah ada anggota Wali Songo juga😊.
anggita
oke lah👌👍
anggita
ikut dukung like👍iklan👆👆, buat author novel fantasi timur lokal. semoga lancar sukses novelnya.
anggita
nama teknik jurusnya unik😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!