Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
3 bulan kemudian...
"Bos, berhentilah menatap jendela kaca itu. Dia tidak akan memberikan jawaban di mana mbak Aisya berada," ucap Dhani.
Kaisar tidak bergeming. Tatapannya kembali kosong. Ia terpaku pada langit Jakarta yang mendung siang ini.
"Tiga bulan, Dhani. Tiga bulan dia hilang tanpa jejak. Bagaimana bisa seseorang menghilang begitu saja jika tidak ada yang menyembunyikannya atau atau dia memang sudah tidak ada di dunia ini?"
"Jangan bicara sembarangan, Bos. Saya sudah kerahkan informan sampai ke pelosok desa. Hasilnya nihil, semoga saja dia memang ingin memulai hidup baru. Mungkin dia sangat pintar bersembunyi," sahut Dhani sambil meletakkan berkas di meja kerja Kaisar.
"Aku merasa gagal. Dulu aku marah karena dia milik orang lain. Sekarang, setelah dia bebas, aku justru kehilangan dia sepenuhnya. Hati ini rasanya hampa sekali, Dhani. Lebih sakit daripada saat aku melihatnya dihina Marni dulu."
"Saya paham, Bos. Tapi mending sekarang Bos salurkan energi negatif itu ke hal lain," Dhani menyodorkan sebuah map merah. "Ini laporan yang Bos minta. Si Hendra itu, semenjak naik jabatan jadi Manajer berkat koneksi mertuanya, kelakuannya makin gila. Dia melakukan penggelapan dana proyek di cabang Bekasi. Dia pikir karena dia menantu Joko, dia tidak tersentuh."
Kaisar menyeringai dengan senyum dingin yang sangat mematikan. "Dia pikir dia raja hanya karena menikahi Rima? Dhani, kirimkan semua bukti itu ke pihak kepolisian dan audit internal. Tapi jangan langsung jebloskan dia ke penjara. Aku ingin dia dipecat secara tidak hormat terlebih dahulu, biar dia merasakan bagaimana rasanya menjadi sampah tanpa uang sepeser pun."
"Siap, Bos! Saya juga tidak sabar melihat wajah sombongnya itu jatuh ke tanah." Dhani tersenyum puas.
*
*
Sementara itu, di rumah Hendra, suasana sama sekali tidak mencerminkan pengantin baru yang bahagia. Ruang tamu yang dulu bersih dan rapi berkat tangan Aisya, kini berantakan dengan kotak-kantong belanjaan bermerek yang berserakan.
"Rima! Kenapa cucian menumpuk begitu?! Ibu lapar, kamu belum masak sama sekali?" teriak Marni dari arah dapur.
Rima keluar dari kamar sambil asyik mengikir kuku, mengenakan pakaian tipis yang sudah tidak terlihat menggoda lagi di mata Marni.
"Aduh, Tante... eh, Ibu! Jangan teriak-teriak terus kenapa sih? Aku ini baru pulang belanja, kakiku pegal. Kalau lapar ya pesan lewat ojek online saja, kan gampang!"
"Pesan lagi?! Uang belanja dari Hendra sudah kamu habiskan untuk beli tas itu kan?" Marni menunjuk sebuah tas yang masih dalam kotak. "Dulu Aisya jam segini sudah masak tiga macam sayur!"
Rima langsung menghentakkan kakinya ke lantai. "Aisya lagi! Aisya lagi! Kenapa sih Ibu selalu membandingkan aku dengan wanita mandul itu? Ingat ya, Ayahku sudah tidak ada, hartanya disita bank karena bangkrut! Aku ini cuma punya Hendra. Jadi jangan harap aku mau jadi pembantu di rumah ini!"
"Kurang ajar kamu ya!" Marni memegang dadanya yang terasa sesak. "Dulu kamu bilang kamu jago masak, kamu bilang kamu akan kasih cucu! Ini sudah tiga bulan, perutmu masih rata! Sama saja kamu dengan Aisya!"
"Ibu pikir bikin anak itu gampang?!" bentak Rima tanpa rasa takut. "Mungkin saja anak Ibu yang bermasalah! Dan soal masak, ya memang aku beli! Mana sudi aku pegang spatula panas-panas sampai kulitku rusak!"
Hendra yang baru pulang kerja dengan wajah kuyu mendengar keributan itu dari pintu depan. Ia membanting tas kerjanya ke sofa.
"Bisa tidak sehari saja jangan bertengkar?! Aku pusing di kantor, pulang-pulang malah dengar jeritan!"
"Hendra! Lihat istrimu ini! Dia berani bentak-bentak Ibu!" adu Marni sambil terisak palsu.
Rima tidak mau kalah, ia mendekati Hendra dan menarik lengannya. "Mas, Ibu kamu ini cerewet sekali! Dia minta makan ini-itu padahal aku capek. Mas, aku mau kita pindah ke apartemen saja. Di sini gerah, rumahnya sempit dan bau!"
Hendra melepaskan tangan Rima dengan kasar. "Pindah? Pakai uang apa, Rima?! Kamu pikir gaji Manajer itu tidak terbatas? Tabunganku sudah habis buat pesta pernikahan kita dan bayar cicilan kartu kreditmu!"
"Lho, kan kamu bisa ambil dari dana kantor lagi seperti kemarin?" bisik Rima tanpa rasa bersalah.
Hendra melotot, ia membekap mulut Rima. "Diam! Jangan bicara sembarangan!"
Hendra duduk di kursi, kepalanya terasa ingin pecah. Ia menatap Marni yang terus mengomel dan Rima yang bersikap manja namun egois. Dalam sekejap, ia merindukan ketenangan yang dulu diberikan Aisya. Merindukan aroma masakan rumahan yang hangat dan sambutan lembut tanpa tuntutan.
"Ya Allah... kenapa jadi begini?" gumam Hendra pelan.
Marni yang melihat Hendra melamun, kembali mengomel. "Hendra! Kamu dengar Ibu tidak? Ibu rindu masakan Aisya! Setidaknya dia dulu patuh, tidak seperti wanita ini yang kerjanya cuma menghabiskan uang!"
Rima yang emosinya sudah di puncak, mengambil gelas di meja dan membantingnya ke lantai.
Prang!
"Kalau mau aisya, cari saja dia di lubang semut! aku tidak peduli!" teriak Rima lalu masuk ke kamar dan membanting pintu.
Hendra menatap pecahan gelas itu, teringat saat Aisya menjatuhkan gelas karena terkejut melihatnya di hotel dulu. Penyesalan mulai merayap di hatinya, namun ia tahu, semuanya sudah terlambat. Ia telah menukar mutiara dengan kerikil tajam yang kini mulai melukai hidupnya sendiri.
*
*
"Bos! Saya baru saja mendapat info dari seorang pemilik panti asuhan di pinggiran kota Bandung. Ada wanita yang ciri-cirinya sangat mirip dengan mbak Aisya baru saja melamar jadi guru di sana. Namanya diubah menjadi Sarah."
Mata Kaisar langsung berbinar. "Siapkan mobil. Kita berangkat sekarang Dhani!"
Apakah benar itu Aisya? Dan apa yang akan dilakukan Kaisar saat melihat kondisi Aisya yang sekarang?
apa Sarah nama tengah belakang atau samping 🤣