NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Elvy Anggreny

Kesalahan di masa remajanya membuat Dewi harus menerima konsekuensi dari semua itu. Memiliki dua orang anak tanpa suami membuat Dewi menjadi bahan pembicaraan di kampungnya. Hingga suatu hari dia menerima lamaran dari saudara ayahnya yang memiliki seorang anak laki laki. Bertahun-tahun berumah tangga Dewi dan Randi belum memiliki anak. Segala cara mereka melakukan, pengobatan tradisional sampai ke dokter kandungan yang terbaik di kota mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Dewi mulai lelah menghadapi tuntutan suami dan keluarga suaminya yang menginginkan keturunan. Hingga semua keluarga besarnya berprasangka buruk pada Dewi, mereka mengatakan kalau Dewi itu mandul karena minum obat ketika belum bersuami.

Suami Dewi juga mulai terpengaruh dengan pembicaraan orang orang. Pertengkaran menjadi hal biasa. Setiap kali ada pertemuan keluarga, mereka selalu mengatakan agar Randi menikah lagi. Agar bisa memiliki anak.


Bagaimana kisah selanjut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Pertemuan bulanan? Dewi menarik nafas dalam-dalam.

"Jangan terpengaruh dengan apapun Dewi, dia bukan siapa-siapa" Batin Dewi

Dewi masuk ke dalam ruangan yang menjadi tempat pertemuan rutin mereka setiap bulannya setelah Dewi mengambil beberapa laporan di meja kerjanya.

Ketika Dewi memasuki ruangan itu, semua mata tertuju padanya.

Aini terus menatap Dewi, ada rasa iri dalam hatinya melihat kesempurnaan yang di miliki Dewi saat ini tapi jika mengingat dia adalah pemenang hati Rama. Walaupun Aini tau, Rama mencintai Dewi tapi tetap Aini tidak menganggap Dewi itu lebih baik dari dirinya.

Mereka yang berada dalam ruangan itu harus mengakui jika Dewi sangat cantik. Dewi berbeda dari yang kemarin.

Pertemuan berjalan dengan baik, setelah menyampaikan laporan dan kinerja mereka masing-masing. Mereka kembali ke tempat kerja mereka.

"Bu Dewi, saya ingin bicara sebentar" Kata Max pemilik hotel sekaligus Pimpinan mereka.

"Baik Pak" Dewi segera menutup kembali pintu ruangan itu.

"Apakah kamu baik baik saja?" Tanya Max, dia terus menatap Dewi

"Saya baik baik saja Om Max " Jawab Dewi bercanda, Om Max adalah panggilan Deni karena Max adalah om jauh dari Deni. Entah bagaimana kisah keluarga mereka yang Dewi tau Max masih saudara dari Deni. Dan Dewi baru tau kalau Max juga mengenal Aini, entah bagaimana hubungan mereka juga.

Max dan Dewi betemu Dewi ketika Dewi akan melahirkan, Max yang melihat Dewi seorang diri. Hanya ditemani seorang anak kecil. Ketika perawat bertanya tentang suami Dewi. Tanpa menunggu lama, Max mengatakan dialah suaminya.

Dari situlah awal mereka berkenalan dan sampai saat ini, Dewi tak ingin ada yang tau jika dia bekerja di hotel milik temannya.

"Saya nggak tahu kalau Rama itu adalah laki laki yang pernah kamu ceritakan "

"Ya dialah orangnya, saya tau apa tujuannya kembali ke sini, dia menginginkan anak anak saya Max"

"Maksudmu ?" Tanya Max belum mengerti

"Ya begitulah, hanya tebakan saya aja. Belum tentu seperti. Dia memiliki istri yang sempurna. Mungkin hanya kebetulan saja dia dia kembali ke sini"

"Apakah kamu butuh bantuan saya Wi ?"

"Nggak Max, saya bisa mengatasi semua ini. Kamu hanya perlu berpura-pura saja seperti ini. Anggaplah kamu nggak tau apapun ''

"Jadi kamu nggak berhenti kerja kan ?" Tanya Max

"Apa kamu mau melihat saya bertingkah aneh lagi Max?"

"Nggak Wi... saya justru mau meminta kamu tetap bekerja. Kamu pasti kuat. Dulu kamu yang selalu mengingatkan saya untuk kuat. Saya nggak mau kamu berhenti bekerja "

"Iya Max, saya tetap bekerja. Kalau saya nggak kerja, mau makan apa saya sama anak anak saya?"

"Ah kamu nggak se melarat itu juga Wi"

"Hahaha.. Semakin lama kalau saya nganggur juga bakal habis lah. Oh ya, Saya mau minta bantuan kamu Max"

"Apa yang bisa saya bantu?"

"Bisa tolong carikan saya pengacara yang bisa mengurus perceraian "Kata Dewi lirih

"Kamu serius mau cerai?"

Dewi mengangguk " Ayah saya udah meninggal, jadi nggak ada lagi yang harus saya pikirkan. Lagian suami saya juga udah punya istri lain "

"Apa..? "

"Humm ya...sama adik tiri saya "

"Kamu serius?"

"Iya Max...Semua saran mu agar saya menjadi istri yang baik, menghormati suami udah saya laksanakan. Bahkan saya udah pernah di tampar, demi menunjukkan kalau saya adalah istri yang baik "

"Nggak seperti itu maksud saya kah Wi, Ahh ya udah.. Nanti saya carikan pengacara yang bagus dan bisa mengurus perceraian mu"

"Baiklah, kalau gitu saya keluar dulu. Entar mereka berpikir saya lagi ngapa ngapain sama kamu di sini " Kata Dewi bercanda

"Hahahaha.. Semoga nanti itu jadi kenyataan" Jawab Max

"Ihh nggak.. saya nggak mau di bunuh sama perempuan perempuan yang naksir sama kamu" Kata Dewi berlalu keluar dari ruangan itu.

Max hanya tertawa menatap kepergian Dewi, setelah memastikan Dewi di ruang kerjanya. Max memanggil Aini.

Tok

Tok

Tok

Max mendengar suara ketukan pintu

"Masuk"

Aini masuk dan menuju meja tempat berada.

"Duduklah Aini, ada yang mau saya bicarakan sama kamu"

"Iya pak.."

"Apa bener kamu mau mengundurkan diri ? "

"Sepertinya itu nggak jadi pak, karena semua sudah selesai "

Kening Max berkerut

"Kamu punya masalah?" Max berpura pura bertanya

"Oh nggak, sebenarnya ini bukan masalah. Hanya sedikit ke salah pahaman saja"

Anggukan kepala Max mengiyakan saja tanpa bertemu lebih lanjut lagi.

"Baiklah, saya hanya ingin bertanya tentang permintaan kamu yang ingin resign dari sini. Karena saya bermaksud memberikan jabatan ini kepada ibu Dewi kalau kamu beneran mau berhenti" Kata Max sengaja,

Max tau dari awal Dewi tidak suka dengan jabatan manajer ini. Dewi lebih suka dengan pekerjaan yang tidak membuatnya terikat karena dia ingin punya waktu mengurus kedua anaknya.

"Eh.. nggak nggak pak, saya nggak jadi resign kok"

"Baiklah sekarang kamu boleh keluar"

Aini seger keluar dari ruangan pemilik hotel itu, kening Aini berkerut kala mengingat lagi kata kata Max tentang keinginannya ingin memberikan jabatan manajemen ini pada Dewi.

"Jangan-jangan dia mencoba merayu pak Max?" Batin Dewi mencurigai Dewi. Sebuah senyuman sinis nampak di wajah Aini.

"Ternyata dia nggak sebaik itu juga " Lanjut Aini membatin

*

Siang harinya Dewi mengajak Deni makan siang di rumah makan langganan nya.

"Kamu lagi dapat bonus ya Wi?" Tanya Deni

"Bonus? Bukannya itu tugas kamu kalau bagi bagi bonus?"

"Ya kali aja bonus dari hasil jual online mu itu "

"Nggak, ini gaji saya.. "

"Hum... Wi, saya minta maaf soal kejadian minggu kemarin. Saya bener bener nggak tau kalau Rama itu..."

"Nggak usah di bahas itu Den, Udah masa lalu. Ya kemarin emang sempat marah tapi setelah saya pikir-pikir kembali lagi. Seharusnya saya nikmati hidup saya sama anak anak saya. Ya kan.. ? Ujar Dewi

Deni tersenyum " Na gitu dong sayang, kamu tu kuat. Apalagi kamu punya dua orang yang menjadi alasan kamu semakin kuat. Saya nggak begitu tau tentang kamu dan Rama tapi kamu nggak perlu merasa sakit hati dengan kehadiran mereka. Apalagi ketika dekat sama istrinya Rama. Kamu nggak perlu minder atau gimana ya" Sahut Deni

Dewi menatap Deni " Kamu nggak usah khawatir Den... Saya memiliki apa yang nggak bisa mereka miliki. Jadi nggak ada alasan untuk saya menghindari Bu Aini " Jawab Dewi santai

Ketika memasuki rumah makan itu, Dewi tidak sengaja melihat Rama dan Aini.

Sekarang mereka terang terangan setelah Dewi mengetahui kalau Aini adalah istri Rama. Dewi juga bertemu dengan kedua orang tua Jack. Mereka duduk bersama sama satu meja.

"Apa kabar nak Dewi ?" Sapa ibu Jack

"Kabar baik tante. Om sama tante gimana kabarnya?'

"Puji Tuhan kami berdua sehat nak, oh ya ini siapa nak? " Tanya ibu Jack lagi.

"Ini Deni teman kerja saya Tante, Deni... Kenalkan ini om sama tante. Calon mertua adik ipar saya "

Deni mengulurkan tangannya menerima uluran tangan kedua pada paruh baya itu.

Mereka bicara berbasa-basi sambil menunggu pesanan mereka datang

Tak lama kemudian pesanan mereka datang dan mereka makan bersama sama. Dewi tau di ujung sana Rama sedang melihat ke arah mereka.

"Om Wijaya ?" Mereka semua menoleh ke arah suara itu kecuali Dewi karena Dewi sudah tau itu suara siapa

" Iya bener nak, saya Wijaya. Kamu siapa. Maaf kalau om lupa"

"Saya Rama om , anak Nurdin"

"Oh astaga, Rama ya ya om ingat. terakhir ketemu Ayah, ibumu dan kamu juga, saat itu kamu sudah kelas tiga SD ya. Gimana kabar ayah dan ibu mu ?."

"Mereka sehat om, om tante apa kabar ?' Tanya Rama, Deni yang melihat bagaimana Rama mencuri pandang pada Dewi ingin sekali tertawa.

Dari beberapa minggu yang lalu Deni jadi tau, kalau Rama sebenarnya masih mencintai Dewi namun Deni tidak mengatakan itu pada Dewi.

"Oh syukurlah, kami juga sehat. Kamu sudah menikah nak ?" Tanya Pak Wijaya lagi

"Ya om,.ini istri saya " Rama memperkenalkan Aini. Aini mengangguk dan satu senyum yang sangat lebar nampak di wajah Aini. Lagi lagi Deni melihat lirikan mata Aini tertuju pada Dewi.

"Saya Aini om, istri kak Rama " Jawab Aini dengan suara yang sangat lembut

Dewi tetap tidak bereaksi apapun

"Iya nak, Kalian sudah memiliki anak berapa orang? Ah anak saya Jack, belum menunjukkan tanda-tanda untuk segera memberi kami cucu " Kata Pak Wijaya lagi tanpa menyadari perubahan wajah dari istri Rama

"Anak saya dua om, sepasang"Jawaban Rama membuat Dewi terbatuk batuk

Uhuk.. Uhuk.. Uhuk..

"Pelan pelan makannya nak Dewi " ibu Wijaya memberikan segelas air pada Dewi

"Makasih tante, saya makan cepat cepat Tante. Soalnya anak anak sendirian di rumah"

"Oh iya..."

"Kalau gitu saya permisi dulu ya tante, sore ini mau anterin Arumi latihan menyanyi. Maaf saya nggak bisa temani om sama tante di sini "

"Oh nggak apa-apa nak, salam ya untuk kedua anak anak manis mu nak" Pak Wijaya yang menjawab

"Kapan kapan ajaklah mereka main kerumah tante ya nak, Tante rindu pada mereka berdua " Tatapan lembut dari ibu Wijaya membuat Dewi juga menatap ibu Jack.

"Gimana kalau kita liburannya ke pantai lagi tante?"

"Oh ya ya, Sabtu depan ya... nanti Tante akan minta Jack menjemput kalian"

"Oh ok nanti Tante, Dewi tunggu ya.. Bye, Dewi pulang dulu ya om, tante " Kata Dewi berlalu tanpa memperdulikan Rama dan Aini di sekitar mereka.

"Hati hati nak " Jawab sepasang suami istri itu serempak

"Saya juga permisi pak, Bu..Rama...yuk.. " Deni mengikuti Dewi dari belakang

Tatapan Rama tidak lepas dari Dewi sampai Dewi menghilang dari hadapan mereka.

Kedua orang tua paruh baya itu menatap Rama dengan kerutan di kening mereka. Mereka melihat Rama terus menatap Dewi.

"Ayo duduk nak Rama"

"Ah baik om"

"Om jadi teringat kedua anak nak Dewi. Mereka sangat mirip sama ayah kamu nak Rama. Om pernah mengatakan itu pada Nak Dewi"

"Ayah... nggak usah ngomongin itu lagi " Kata ibu Wijaya sedikit berbisik

Rama ingin menjawab namun sebuah sentuhan di tangannya membuat Rama terdiam. Rama menatap Aini

Aini juga menatap Rama, Aini tau jika ia membiarkan Rama terus bicara maka dia sangat yakin kalau Rama dengan bangganya akan mengatakan bahwa kedua anak Dewi adalah anaknya juga.

"Bahkan Yan itu lebih mirip kamu nak Rama "

.

.

.

.

.

Bersambung.....

Hi... jangan lupa tinggalkan jejaknya ya dan jangan lupa bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 5 nya juga ☺️

1
Aliya Awina
pasti Jack yg lewat
Aliya Awina
betul2 keluarga Firaun
Aliya Awina
takut ketahuan konon tpi gak bisa klu gak deket dasar laki laki munafik kau rendi
Aliya Awina
keturunan konon macam saja kau org kaya
sudahlah miskin belagu pulak tuh
Aliya Awina
gimana ceritanya dorang bilang klau si Dewi mandul sudah jelas2 Dewi sudah perna melahirkan 2 kali malah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!