“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Selidiki Istriku
Ryu terdiam membayangkan Seroja diajari naik motor sport oleh pria yang bernama Tony. Pria yang bahkan ia tak tahu bagaimana wajahnya.
Tapi membayangkan pria lain duduk di belakang istrinya sambil menggenggam tangannya yang memegang stang membuat dadanya terasa panas.
Nyonya Hanifah melihatnya. Bagaimana Ryu berhenti menyendok bubur dan bagaimana rahang cucunya mengeras. Bibir wanita tua itu bergerak samar.
"Siapa Tony?" tanya Nyonya Hanifah dengan suara rendah, matanya melirik Ryu sekilas.
Pria itu melanjutkan sarapannya, tapi jelas memasang telinganya dengan baik.
"Teman, Nek," sahut Seroja ringan.
"Teman dekat?" tanya Ryu datar. Tangannya memegang sendok lebih kuat dari seharusnya.
Seroja terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Bisa dibilang begitu."
Lagi-lagi jawaban itu terdengar ringan. Tapi justru membuat Ryu merasa tidak nyaman.
Nyonya Hanifah berdehem kecil.
"Kamu yakin bisa mencari kampus tanpa bantuan Ryu?" tanya Nyonya Hanifah, sengaja mengalihkan pembicaraan.
Seroja mengangguk kecil. "Jangan khawatir, Nek. Aku bisa."
"Apa kamu pernah tinggal di kota ini?" tanya Ryu sambil meletakkan sendoknya perlahan.
"Aku baru ke kota ini bersamamu," jawab Seroja tenang. "Tapi jangan khawatir, aku gak bakal tersesat. Ini 'kan di kota, bukan di hutan. Aku bisa lihat plang, pakai google map, atau nanya ke orang."
"Kamu benar," sahut Nyonya Hanifah. "Banyak orang, kenapa takut tersesat?"
"Aku sekalian ingin jalan-jalan melihat kota ini, Nek," ujar Seroja dengan lengkung tipis di bibirnya.
Ryu menatapnya. Seroja begitu percaya diri, seolah kota ini tidak terlalu besar baginya.
Dan hanya orang-orang yang sudah melihat dunia luas yang memiliki kepercayaan diri seperti itu.
"Kalau cuma pernah kuliah selama empat semester dan itu juga bukan di kota ini, kenapa dia begitu percaya diri?" pikir Ryu.
Ia mengelap bibirnya dengan tisu. "Apa dia memang selalu percaya diri di mana pun ia berada?"
Ryu meletakkan tisunya, lalu melirik jam di pergelangan tangannya.
"Aku ke kantor, Nek," pamitnya seraya beranjak dari duduknya.
"Hati-hati," ucap Nyonya Hanifah.
Seroja mengantarnya hingga ke mobil. Dan entah mengapa, hal sederhana itu membuat hati Ryu lagi-lagi menghangat.
Mesin menyala. Ryu menoleh ke arah Seroja dan membunyikan klakson sebelum akhirnya menginjak pedal gas.
"Hati-hati," ucap Seroja sambil melambaikan tangannya.
Gadis itu menatap mobil suaminya hingga menghilang di balik gerbang tinggi rumah mereka yang otomatis tertutup setelah mobil Ryu keluar.
Nyonya Hanifah melihat semuanya dari kaca jendela ruang tengah. Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Gadis baik," gumamnya lirih.
Seroja masuk ke dalam kamarnya, lalu mengganti celana kainnya dengan celana jins. Jaket kulit melengkapi penampilannya, membalut tubuhnya yang ramping.
Tak lama kemudian gadis itu keluar dari kamarnya, bicara sebentar dengan seorang pelayan, lalu langsung menuju garasi.
"Nyonya muda ini orangnya cantik dan etikanya bagus," gumam Muji di samping Nyonya Hanifah. "Nyonya sungguh beruntung memiliki menantu sepertinya."
"Kamu benar," sahut Nyonya Hanifah. "Aku harap Ryu tidak menyia-nyiakan gadis sebaik dia."
Suara deru motor sport dari arah garasi menuju gerbang rumah membuat keduanya menoleh ke arah jendela kaca.
"Nyonya muda beneran bisa naik motor sport." Muji berdecak kagum.
"Gadis itu tak sesederhana yang kita lihat atau pikirkan." Kalimat Nyonya Hanifah tidak lebih dari gumaman. Ia ikut menatap motor sport yang melaju menuju keluar gerbang rumah.
"Entah apalagi yang disembunyikan gadis itu," lanjut Nyonya Hanifah. "Aku rasa kita harus bersiap dengan kejutan-kejutan yang akan dia berikan."
Muji hanya tersenyum tipis.
Nyonya Hanifah memandang pintu gerbang yang baru saja dilewati Seroja dengan mata tuanya yang masih tajam.
Ia sudah mengenal banyak orang dari berbagai tempat. Dan setelah melihat bagaimana pembawaan Seroja, ia sangat yakin gadis itu memiliki sayap yang cukup lebar untuk melanglang buana.
***
Di gedung Kai Zander Group, Ryu duduk di balik meja kerjanya dengan laptop menyala. Jemari tangannya bergerak lincah di tuts keyboard.
"Bos, ini berkas yang harus ditandatangani hari ini juga." Jordi meletakkan beberapa berkas di meja Ryu. "Ada proposal dan juga kontrak kerjasama yang sudah direvisi sesuai catatan, Bos."
"Hm," sahut Ryu tanpa menoleh. "Jam berapa kita meeting di luar?"
Jordi melirik jam tangannya. "Dua jam lagi kita berangkat, Bos."
"Oke, siapkan semuanya." Ryu menutup laptopnya, lalu mengambil berkas yang baru diletakkan Jordi. "Jangan sampai ada jadwal yang tertunda."
"Baik, Bos," sahut Jordi. Lalu tiba-tiba ia tampak ragu untuk bicara.
"Bos," panggilnya akhirnya. "Bos beneran mau mutusin cewek matre itu, 'kan?"
Ryu akhirnya mengangkat wajahnya dari berkas di depannya. "Kenapa sih, kamu selalu manggil dia cewek matre dan gak suka sama dia?"
Jordi mendecak kecil. "Bos, tiap ketemu Bos dia minta barang mahal yang susah dicari. Belum lagi banyak maunya dan bikin aku repot. Kerjaanku sudah banyak, masih ditambah ngurusin apa maunya cewek matre itu. Yang pacaran Bos kok aku yang repot. Ini namanya gak adil, Bos," sungut Jordi.
"Cewek matre itu 'kan wajar," cetus Ryu enteng seraya menandatangani berkas di depannya. "Pakaian, skincare, dan aksesoris, semua gak bisa dibeli tanpa uang."
"Ya tapi gak segitunya juga, Bos," sanggah Jordi. "Dia manis sama Bos kalau dikasih barang mahal, tapi giliran gak dibeliin apa maunya malah ngambek sama Bos. Dia sayang sama Bos kalau ada hadiah mahal doang. Cewek kayak gitu kok dipertahankan. Buang aja ke laut biar dimakan buaya muara."
Ia benar-benar kesal saat mengingat bagaimana rewelnya Clara soal belanja dan makanan. Karena ia yang bertugas melayani perempuan itu.
Ryu menghela napas panjang. "Sudahlah. Aku juga mau putus sama dia."
"Baguslah," sahut Jordi. Ia sangat berharap Ryu benar-benar putus dengan Clara.
"Lagian di rumah ada yang lebih cantik dan halal," seloroh Jordi. "Ngapain sih pelihara penghisap darah macam dia."
"Cukup Jordi," ucap Ryu dengan suara datar nyaris dingin. "Jangan lagi menghina dia."
Jordi merotasikan matanya malas. Ia tidak suka setiap Ryu membela Clara.
Jordi baru akan membuka mulutnya saat Ryu berkata,
"Aku punya tugas penting." Kali ini wajah Ryu terlihat serius.
"Apa?" tanya Jordi dengan alis bertaut.
"Selidiki istriku."
"Hah?! Kenapa?"
...🔸🔸🔸...
...“Semakin seseorang berusaha memahami, semakin ia sadar bahwa ada banyak hal yang belum ia ketahui.”...
...“Ada orang yang terlihat sederhana, sampai kita mulai mengenalnya lebih dalam.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Seroja mengganti celanya dengan celana jins dan mengenakan jaket kulit.
Seroja beneran naik motor sport, Muji berdecak kagum melihatnya.
Itu Nenek tahu kalau Seroja bukan gadis sesederhana yang mereka lihat atau pikirkan. Dan harus bersiap dengan kejutan-kejutan dari Seroja.
Jordi mendapat tugas penting dari Ryu - untuk menyelidiki istrinya.
Dipikirannya bebas menafsirkan bagaimana Tony yang sedang mengajari Seroja naik motor sport.
Nenek melihat reaksi Ryu setelah mendengar itu.
Seroja menjawab pertanyaan dari Nenek. Tony, temannya.
Tony bisa dibilang teman dekat. Begitu penuturan Seroja.
Hampir mirip kisahnya, istri yang disembunyikan tapi bikin penasaran suami dengan segala tindakannya
Apakah Seroja masih ponakan Vexia ya 🤭😃
Seroja mau lanjut kuliah, Nenek senang mendengarnya - antusias mendukung Seroja kuliah lagi.
Ryu menawari Seroja pakai mobilnya, disuruh pilih yang Seroja suka. Setelah bertanya Seroja apa bisa bawa mobil.
Seroja malah pilih naik motor. Padahal motor Ryu motor sport wkwkwk.
Ryu mendengar Seroja mau pakai motor sport miliknya sampai hampir tersedak buburnya.
Yang ngajarin Seroja naik motor sport Tony. Nah lho - Ryu cemburu tuh 😄
lanjut kak nana... 💪🙏
Lucu juga nih Seroja. Meraba tubuh Ryu dari atas ke bawah - yang dikira gulingnya dan mengendus aromanya pula 😄.
Kebayang bagaimana Ryu menegang ketika diraba tubuhnya dan diendus Seroja wkwkwk.
Ryu turun ranjang menuju kamar mandi, repot menjinakkan ularnya yang menegang tuh.
Kebiasaan Ryu tidur bertelanjang dada. Seroja tertegun sejenak melihatnya. Jantungnya mulai tak karuan.
Dalam hati dua insan yang sudah sah sebagai pasabgan suami istri berbeda.
Dalam hati Seroja - apa Ryu bakal minta haknya sebagai suami.
Dalam hati Ryu yang ditanya kenapa tidak pakai baju - apa tubuhku gak bagus. Kenapa dia tidak terpesona sama sekali.
Perbincangan mengalir - mereka mulai tidur.
Semangat Kak Nana.. Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏