NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Pagi itu, Aurora sebenarnya mati-matian mencari cara untuk membatalkan janjinya pergi ke rumah sakit. Di dalam benaknya yang keras kepala, ia masih meyakini bahwa kondisi tubuhnya murni karena kelelahan kronis. Terlalu banyak jadwal kuliah, terlalu banyak memeras keringat di kafe paruh waktu, dan teramat sedikit waktu untuk mengistirahatkan tubuh.

Namun, masalah terbesarnya adalah: seorang Alexander Kingsley tidak pernah menerima penolakan dalam bentuk apa pun. Sama sekali tidak.

Layar ponsel Aurora menyala, menampilkan sebuah pesan singkat yang masuk tepat pukul delapan pagi.

Alexander:

"Ayo turun. Aku sudah di depan apartemenmu."

Aurora yang baru saja mendudukkan diri di tepi ranjang langsung menghela napas panjang. Jemarinya dengan cepat mengetik balasan.

Aurora:

"Aku udah baikan, beneran. Nggak perlu ke rumah sakit."

Balasan dari pria itu datang kurang dari lima detik.

Alexander:

"Turun."

Aurora:

"Aku nggak pusing lagi pagi ini."

Alexander:

"Turun."

Aurora:

"Alex..."

Alexander:

"Aurora Quinn. Turun sekarang atau aku yang akan naik ke atas dan menggendongmu keluar?"

Aurora terenyak, menatap layar ponselnya dengan pasrah. Ancaman Alexander bukanlah bualan belaka; pria itu benar-benar nekat jika sudah menyangkut dirinya. Akhirnya, dengan berat hati, Aurora menyerah.

---

Dua puluh menit kemudian, Aurora melangkah masuk ke dalam mobil mewah Alexander sembari mengerucutkan bibirnya kesal.

"Kamu ini benar-benar terlalu berlebihan, Alex," omel Aurora langsung begitu mendudukkan diri di kursi penumpang.

Alexander menoleh sekilas sebelum melajukan kendaraannya membelah jalanan New York. "Aku? Berlebihan?"

"Iya! Aku cuma pusing sedikit, tapi kamu memperlakukanku seolah-olah aku sedang mengidap penyakit parah," gerutu Aurora.

"Kemarin kamu hampir pingsan dan memecahkan satu nampan gelas di kafe, Aurora," potong Alexander dengan nada suara yang mendadak merendah, menyisipkan ketegasan yang mutlak. "Dan bagiku, itu bukan cuma 'pusing sedikit'."

Aurora langsung bungkam. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, tidak mampu membantah fakta tersebut.

Alexander mengembuskan napas pendek, lalu melunakkan suaranya. "Aku cuma mau memastikan kamu baik-baik saja."

Entah mengapa, kalimat sederhana yang diucapkan dengan nada tulus itu membuat jantung Aurora berdebar sedikit lebih cepat. Sepanjang sisa perjalanan, atmosfer di dalam mobil terasa sedikit lebih hangat. Alexander sesekali melirik ke arah Aurora, memastikan kekasihnya itu tidak kembali pucat.

Melihat perhatian yang begitu intens, Aurora mencoba mencairkan suasana. "Kamu tahu tidak?"

"Apa?" tanya Alexander tanpa mengalihkan fokusnya dari jalanan.

"Sifat protektifmu ini membuatmu cocok sekali jadi bapak-bapak cerewet," seloroh Aurora dengan senyum jail.

Alexander tertawa kecil, senyuman menawan terbit di wajah tampannya. "Dan sifat keras kepalamu itu membuatmu cocok jadi pasien paling bandel yang pernah aku kenal."

Aurora memutar bola matanya malas, namun tanpa sadar sudut bibirnya ikut terangkat membentuk senyuman.

---

Gedung rumah sakit pusat New York akhirnya terlihat di depan mata. Begitu mobil berbelok memasuki area parkir, senyum Aurora perlahan menghilang. Entah mengapa, ada sebuah firasat tidak nyaman yang perlahan-lahan mencengkeram dadanya.

"Ayo," ajak Alexander setelah mematikan mesin mobil.

Aurora mengangguk pelan. Namun, genggaman tangannya pada tali tasnya mengerat seiring detak jantungnya yang mulai berpacu tidak keruan tanpa alasan yang jelas.

Mereka berdua melewati serangkaian prosedur medis yang cukup melelahkan. Mulai dari pengambilan sampel darah, pemeriksaan fisik dasar, hingga beberapa tes laboratorium tambahan spesifik yang sempat membuat Aurora mengernyitkan dahi bingung. Semuanya berlangsung hampir dua jam.

Setelah semua rangkaian tes selesai, mereka berdua diminta untuk menunggu di lorong ruang tunggu VIP. Aurora terus memainkan ujung lengan bajunya, gelisah. Sementara di sampingnya, Alexander tampak sibuk membaca dan membalas beberapa email pekerjaan di ponselnya.

Alexander yang menyadari kegelisahan kekasihnya langsung menurunkan ponselnya. "Kamu gugup?"

Aurora tersentak, lalu menggelengkan kepala cepat. "Nggak, siapa yang gugup?"

Alexander mengangkat sebelah alisnya, menatap lurus ke dalam manik mata Aurora. "Kamu berbohong lagi. Gerakan tanganmu tidak bisa menipuku, Aurora."

Aurora menghela napas panjang, bahunya merosot pasrah. "Mungkin... sedikit."

Mendengar hal itu, Alexander meletakkan ponselnya. Ia mengulurkan tangan, meraih jemari mungil Aurora lalu menggenggamnya dengan perlahan. Genggaman yang hangat, tenang, dan entah mengapa selalu memiliki kekuatan magis untuk membuat Aurora merasa aman.

"Aku di sini. Kamu tidak perlu takut pada apa pun," bisik Alexander menenangkan.

Aurora tersenyum tipis, ketenangannya sedikit mereda. Namun, gumpalan kegelisahan di sudut hatinya tetap tidak mau hilang.

---

Tak lama kemudian, pintu ruang konseling terbuka. Seorang perawat wanita keluar dengan membawa sebuah papan berkas.

"Pasien atas nama Aurora Quinn?" panggil perawat tersebut.

Aurora langsung berdiri dari duduknya. "Iya, saya."

Alexander ikut bangkit berdiri, bersiap melangkah untuk menemani Aurora masuk ke dalam. Namun, langkah tegapnya segera dihentikan oleh interupsi sopan dari sang perawat.

"Maaf, Tuan. Untuk sesi konsultasi awal pemeriksaan spesifik ini, hanya pasien yang diperbolehkan masuk ke dalam ruangan."

Gurat tidak suka langsung tercetak jelas di wajah tegas Alexander. Rahangnya mengeras, sangat tidak terbiasa menerima pembatasan seperti itu. "Aku cuma ikut menemani di dalam."

"Maaf, Tuan. Ini sudah menjadi prosedur ketat di ruangan ini," jawab perawat itu dengan senyum profesional yang sopan.

Sebelum pria itu sempat melayangkan protes kerasnya, Aurora menahan senyum dan dengan lembut menyentuh lengan Alexander. "Aku nggak akan hilang, Alex. Nanti langsung aku telepon setelah selesai," bisiknya menenangkan.

Alexander menatap Aurora lekat-lekat selama beberapa detik, sebelum akhirnya mengangguk pasrah. "Baiklah. Begitu selesai, langsung beri tahu aku."

"Iya," jawab Aurora hangat.

---

Aurora melangkah masuk ke dalam ruang praktik dokter yang bernuansa putih bersih, lalu mendudukkan diri di kursi yang telah disediakan. Di seberang meja, seorang dokter spesialis wanita paruh baya menyambutnya dengan senyuman ramah. Namun, Aurora bisa menangkap ada gurat keseriusan yang terselubung di balik keramahan tersebut.

"Bagaimana kondisi fisik Anda beberapa minggu terakhir ini, Nona Quinn?" tanya dokter tersebut.

Aurora menjelaskan semuanya secara terperinci. Tentang rasa pusing yang kerap menyerang tiba-tiba, kelelahan ekstrem yang tidak kunjung hilang, hingga kondisi tubuhnya yang belakangan ini terasa jauh lebih mudah melemah tanpa alasan yang jelas. Dokter itu mendengarkan dengan saksama sambil mencatat beberapa poin penting di komputer jinjingnya.

Setelah selesai mencatat, dokter itu membuka lembar hasil pemeriksaan luar di layar komputernya. Ruangan mendadak terasa begitu sunyi. Aurora memperhatikan lekat-lekat wajah sang dokter yang sedang membaca hasil tes satu per satu.

Lalu, untuk sesaat, dokter itu terlihat terdiam. Ekspresi wajahnya berubah menegang. Itu hanya terjadi sangat singkat, namun cukup untuk membuat jantung Aurora mencelos.

"Dokter? Apakah ada masalah?" tanya Aurora, memberanikan diri memecah keheningan.

Dokter itu langsung mengalihkan pandangannya dari layar dan kembali tersenyum ramah kepada Aurora. "Tidak apa-apa, Nona Quinn."

Namun, insting Aurora berteriak bahwa itu bukan senyuman yang benar-benar tenang. Dokter itu kembali membuka beberapa data medis lainnya, lalu berkata dengan nada suara yang perlahan melandai, "Untuk hasil laboratorium utama hari ini memang belum keluar sepenuhnya. Namun, ada beberapa indikator awal dari pemeriksaan fisik yang ingin saya periksa lebih lanjut."

Aurora mengernyitkan alisnya, mencoba mencerna kalimat itu. "Maksud Dokter... pemeriksaan seperti apa?"

Dokter itu menutup berkas di hadapannya, lalu melipat jemarinya di atas meja. "Belum tentu sesuatu yang serius. Tapi saya ingin memastikan semuanya terlebih dahulu agar tidak ada salah diagnosis."

Perasaan tidak tenang seketika kembali menggerogoti hati Aurora. "Apakah... kondisi saya seburuk itu?"

Dokter tersebut terdiam selama beberapa saat, seolah sedang mempertimbangkan kalimat yang tepat agar tidak membuat pasien di depannya panik. Akhirnya, ia hanya berkata, "Saya belum bisa memberikan kesimpulan apa pun sekarang karena datanya belum lengkap."

Deg.

Jawaban yang menggantung dan penuh kehati-hatian itu justru membuat rasa takut di dalam diri Aurora eskalasinya meningkat berkali-kali lipat. Dokter itu kemudian menyerahkan selembar kertas jadwal pemeriksaan lanjutan kepada Aurora.

"Saya ingin Anda datang lagi minggu ini untuk menjalani serangkaian tes lanjutan yang lebih mendalam," lanjut dokter itu.

Aurora menatap lembar jadwal di tangannya. Entah mengapa, di tengah rasa takut yang melanda, tiba-tiba terlintas wajah Alexander di benaknya. Aurora merasa... ia tidak ingin Alexander mengetahui hal ini terlebih dahulu sebelum semuanya jelas. Ia tidak ingin pria itu panik atau menuntut penjelasan yang bahkan belum ia miliki saat ini.

"Dokter... apakah untuk pemeriksaan berikutnya saya perlu membawa seseorang?" tanya Aurora pelan.

Dokter itu menatap Aurora dengan pandangan teduh penuh empati. "Kalau Anda merasa lebih nyaman didampingi, boleh. Tapi kalau tidak, Anda bisa datang sendiri."

Aurora mengangguk perlahan. Namun di dalam hatinya, sebuah keputusan bulat telah diambil. Pemeriksaan berikutnya... ia akan datang sendiri.

---

Beberapa menit kemudian, Aurora melangkah keluar dari pintu ruang praktik. Alexander yang sejak tadi mondar-mandir di koridor langsung menghentikan gerakannya dan bergegas menghampiri.

"Bagaimana? Apa kata dokter?" tanya Alexander bertubi-tubi, matanya memindai wajah Aurora mencari jawaban.

Aurora mati-matian memaksakan sebuah senyuman manis di bibirnya, menyembunyikan getaran di tangannya. "Semuanya baik, Alex."

Alexander mengernyitkan alisnya, tidak puas dengan jawaban yang terlalu singkat itu. "Baik?"

Aurora mengangguk cepat, mencoba membuat suaranya terdengar seringan mungkin. "Iya, cuma disuruh kontrol lagi minggu ini buat mastiin vitamin tubuhku cukup."

Alexander tampak belum sepenuhnya puas, tatapannya menatap lurus ke dalam manik mata Aurora dengan menyelidik. "Tidak ada yang lain? Dokter tidak mengatakan hal lain?"

Aurora menggeleng dengan tegas, lalu dengan manja menggandeng lengan Alexander untuk mengalihkan perhatian pria itu. "Tidak ada, Alexander. Ayo pulang, aku lapar sekali."

Untuk pertama kalinya sepanjang hubungan mereka, Aurora berbohong begitu besar kepada Alexander. Dan entah kenapa, kebohongan itu membuat dadanya terasa sesak luar biasa, seperti ada batu besar yang menghimpitnya.

---

Malam harinya, di apartemen.

Aurora berdiri sendirian di balkon, membiarkan terpaan angin malam New York yang dingin menusuk kulitnya. Matanya menatap kosong ke arah gemerlap lampu kota yang membentang luas di bawah sana.

Tangannya menggenggam erat kertas jadwal pemeriksaan lanjutan yang sengaja ia sembunyikan dari jangkauan Alexander. Angin malam berembus pelan, namun sama sekali tidak mampu menghilangkan kegelisahan pekat yang memenuhi pikirannya.

Karena untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya, Aurora benar-benar menyadari... ada sesuatu yang teramat tidak beres sedang disembunyikan oleh tubuhnya sendiri. Dan ia teramat takut untuk mengetahui apa jawabannya nanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!