Reza adalah mantan koki yang dipecat karena difitnah, tetapi ia menemukan tujuan hidup baru setelah mendapatkan Sistem Restoran Dunia Lain.
Kini ia mengelola Restoran di mana pintunya terhubung ke dimensi kultivator dan sihir, menyajikan makanan lezat yang menyelesaikan masalah para pelanggan dari berbagai dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Reza terbangun sebelum alarm di ponselnya berbunyi.
Dia segera mandi dan turun ke dapur lantai satu.
Lyra ternyata sudah berada di dapur dengan celemek yang terpasang rapi.
Gadis setengah peri itu sedang membersihkan meja konter yang sebenarnya sudah sangat bersih dengan wajah serius.
"Selamat pagi, Bos Reza," sapa Lyra dengan senyum cerah.
"Saya sudah siap melayani ratusan pelanggan yang Bos ceritakan semalam."
"Pagi Lyra, kau bersemangat sekali," balas Reza mengambil pisau daging.
"Hari ini kita akan menjual satu menu saja yaitu nasi goreng kambing rempah."
Reza mengeluarkan balok daging kambing segar dari kulkas Sistem.
Daging itu sama sekali tidak memiliki bau prengus tajam khas kambing pada umumnya.
Dia memotong daging itu menjadi potongan dadu kecil yang ukurannya sangat seragam.
Lyra mengamati gerakan tangan Reza dengan mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu.
"Daging hewan apa ini, Bos?" tanya Lyra mendekat ke arah talenan kayu.
"Baunya sangat segar dan tidak amis sama sekali."
"Ini daging kambing, hewan berkaki empat pemakan rumput," jawab Reza santai.
"Kita akan memasaknya dengan banyak bumbu agar tubuh pelanggan terasa sangat hangat."
Reza menyiapkan dua wajan raksasa di atas kompor gasnya.
Dia menumis bumbu halus yang terdiri dari bawang, kapulaga, kayu manis, dan cengkeh.
Aroma rempah yang sangat kuat dan harum seketika memenuhi area dapur.
Lyra sampai memejamkan matanya untuk menghirup wangi bumbu masakan tersebut.
"Aromanya sungguh menggugah selera," puji Lyra tulus.
Reza memasukkan potongan daging kambing dan menumisnya hingga berubah kecokelatan.
Setelah itu, dia menuangkan gunungan nasi putih ke dalam kedua wajan besar tersebut.
Kedua tangannya memegang spatula besi panjang dan mengaduk nasi itu dengan ritme cepat.
Kecap manis dan sedikit minyak samin ditambahkan sebagai pelengkap rasa.
Satu jam berlalu, beberapa wajan nasi goreng kambing sudah siap terjaga di dalam penghangat.
Reza melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi tepat.
"Waktunya membuka pintu kedai, Lyra," kata Reza berjalan ke depan.
"Ingat, bersikaplah ramah dan jangan kaget melihat pakaian atau benda bawaan mereka."
"Siap Bos, saya akan menjaga sikap profesional," jawab Lyra berdiri tegak di samping pintu.
Reza memutar kenop pintu dan menarik daun pintu itu terbuka lebar.
Suara riuh lautan manusia langsung terdengar memekakkan telinga dari arah luar.
Antrean pagi ini jauh lebih panjang dari hari sebelumnya.
Banyak orang yang bahkan membawa payung untuk berlindung dari terik matahari pagi di luar gang.
"Selamat pagi semuanya, Kedai Persimpangan sudah buka," sapa Reza dengan suara lantang.
"Silakan masuk bagi enam belas orang pertama di barisan."
Para pelanggan langsung berdesakan masuk mencari tempat duduk yang kosong.
Beberapa orang yang tidak kebagian kursi tampak merengut namun tetap berdiri menunggu di dekat pintu.
Mata para pelanggan seketika tertuju pada Lyra yang berdiri di sudut ruangan.
Penampilan Lyra yang seperti gadis Eropa dengan kulit putih dan rambut pirang pucat sangat menarik perhatian.
"Wah, Mas Reza sekarang punya pelayan bule ya," goda seorang bapak-bapak paruh baya yang duduk di meja depan.
"Pantas kedainya makin ramai, pelayannya ternyata cantik banget."
Lyra hanya tersenyum sopan dan membungkukkan badannya sedikit menanggapi pujian itu.
"Selamat datang Tuan dan Nona," sapa Lyra dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih.
"Menu hari ini adalah nasi goreng kambing rempah, apakah Anda ingin memesannya?"
"Tentu saja Nona cantik, tolong beri kami empat porsi langsung," jawab bapak itu cepat.
"Minumnya es jeruk manis empat gelas ya."
Lyra mencatat pesanan itu di buku kecilnya dengan tulisan tangan yang sangat rapi.
Dia berjalan lincah dari meja ke meja untuk mendata semua pesanan pelanggan.
Reza di dapur dengan cekatan memindahkan nasi goreng panas ke atas piring keramik putih.
Dia menaburkan emping melinjo dan acar timun segar di pinggiran piring sebagai pelengkap.
"Lyra, tolong antarkan empat porsi ini ke meja nomor satu," perintah Reza dari balik konter.
"Baik Bos," jawab Lyra segera mengambil nampan kayu lebar tersebut.
Gadis setengah peri itu berjalan dengan sangat lincah dan seimbang di sela-sela pelanggan.
Dia menyajikan piring-piring panas tersebut tanpa menimbulkan suara benturan sedikit pun di atas meja.
Pelanggan di meja nomor satu menatap nasi goreng kecokelatan itu dengan mulut berair.
Aroma kapulaga dan minyak samin benar-benar membuat perut mereka langsung keroncongan hebat.
Bapak yang menggoda Lyra tadi langsung menyendok nasi itu ke dalam mulutnya.
Dia mengunyah pelan dan matanya seketika melebar karena terkejut.
"Ya ampun, daging kambingnya benar-benar empuk banget dan gak prengus," seru bapak itu tidak percaya.
"Bumbunya sangat berani, rempahnya kuat tapi tidak bikin enek di tenggorokan."
"Benar Pak, rasa manis kecapnya pas dan nasinya sama sekali tidak lembek," timpal pelanggan di sebelahnya.
"Ini jauh lebih enak dari nasi goreng restoran bintang lima di pusat kota."
Mereka langsung makan dengan sangat lahap hingga keringat bercucuran di dahi.
Lyra berdiri di sudut ruangan sambil tersenyum bangga melihat orang-orang memakan masakan majikannya.
Tiba-tiba, seorang gadis muda di meja nomor tiga mengangkat ponsel pintarnya.
Dia mengarahkan kamera ponsel itu tepat ke arah piring makanannya.
Cahaya kilat putih dari lampu kilat ponsel itu menyala dengan sangat terang.
Lyra langsung tersentak kaget dan secara refleks mengambil posisi kuda-kuda bertahan.
Dia mengira benda pipih itu adalah artefak sihir penyerang berelemen petir.
'Kenapa benda kotak aneh itu bisa mengeluarkan kilatan petir?' batin Lyra kebingungan.
'Apakah gadis itu adalah seorang penyihir tingkat tinggi?'
Reza yang melihat kepanikan pelayannya segera memberi kode tangan agar Lyra tetap tenang.
Lyra menatap Reza sejenak dan perlahan menurunkan posisi tangannya kembali ke sisi tubuh.
"Itu namanya kamera ponsel, Lyra," bisik Reza saat Lyra kembali menghampiri konter dapur.
"Mereka hanya merekam gambar makanan untuk disimpan, alat itu sama sekali tidak berbahaya."
"Begitu ya Bos, benda-benda di sini sungguh sangat aneh," balas Lyra berbisik pelan.
"Saya kira gadis itu sedang membaca mantra sihir peledak di dalam kedai."