*Arsenio Yudhistira*, CEO muda yang memimpin Yudhistira Group dengan tangan besi, mewarisi karisma dingin dan reputasi intimidatif sang ayah. Tumbuh dalam dinasti yang kaku, Arsenio meyakini bahwa dominasi adalah kunci mutlak untuk menaklukkan segala hal—termasuk wanita.
Namun, superioritasnya goyah saat berhadapan dengan *Kiera*, seorang gadis pragmatis yang kebal terhadap pesona gelap sang tiran. Alih-alih terintimidasi oleh taktik posesif kaum elite, Kiera dengan blak-blakan justru menuntut realitas: menyodorkan kertas tagihan sewa tempat tinggalnya yang menunggak. Keangkuhan sang pewaris pun runtuh, memaksanya bertekuk lutut menjadi sosok yang penuh obsesi jenaka demi menjinakkan sang pemberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9. Satu Bulan Di Neraka Arsen
Satu bulan telah berlalu sejak Kiera Anandita resmi menyandang status sebagai asisten pribadi seorang Arsenio Yudhistira. Tiga puluh hari bukanlah waktu yang singkat untuk seseorang yang harus menukar setengah kewarasannya demi bertahan di lantai teratas Yudhistira Tower. Hebatnya, Kiera masih hidup, masih bernapas, dan yang paling penting—belum masuk rumah sakit jiwa.
Selama satu bulan ini, Kiera sudah khatam di luar kepala semua ritual gaib sang bos tiran. Ia sudah tahu kapan Arsenio akan mulai mengukur jarak logo di kertas menggunakan penggaris besi, kapan pria itu akan mendadak bertingkah higienis berlebihan setelah bersalaman dengan rekan bisnis, dan kapan sumbu pendeknya akan terbakar hanya karena masalah warna klip kertas yang tidak seragam. Hubungan mereka berdua bergeser menjadi sebuah medan perang dingin yang unik. Di luar, Kiera selalu menampilkan wajah cantiknya yang tenang, anggun, dan penuh senyum profesional yang luar biasa patuh. Namun di dalam hati, Kiera sudah mengabsen seluruh isi kebun binatang dan menyusun ribuan rencana mutilasi imajiner untuk bosnya itu. Sementara Arsenio? Pria itu tetap menjadi tiran perfeksionis yang hobi mencari-cari kesalahan sepele Kiera, meski belakangan ini, fokusnya sering kali terpecah jika Kiera mulai berdiri terlalu dekat dengannya.
---
Pagi itu, cuaca di luar gedung Yudhistira Tower tampak cerah, namun di lantai eksekutif, suasananya selalu terasa seperti menjelang badai tropis. Kiera melangkah masuk ke ruangan Arsenio dengan langkah yang diatur seanggun mungkin. Di kedua tangannya, ia membawa sebuah nampan perak berisi cangkir porselen putih yang mengepulkan uap tipis. Gerakannya begitu presisi saat meletakkan cangkir itu tepat di sisi kanan laptop Arsenio, sejajar dengan garis meja tanpa miring satu milimeter pun.
"Espresso *double shot*, biji kopi Geisha Panama, dengan takaran suhu air tepat sembilan puluh dua derajat Celcius tanpa pemanis, Pak Bos," ucap Kiera dengan nada selembut sutra dan senyuman tiga jari andalannya.
Di balik wajah manis yang tampak sangat mengabdi itu, batin Kiera sebenarnya sedang mendesis garang, *“Nih minum, biar jantung lu makin berdebar kencang sekalian biar gak hobi tantrum lagi tiap lima belas menit, Mas Iblis.”*
Arsenio yang sejak tadi fokus menatap layar laptopnya mendadak menghentikan ketikannya. Aroma kopi yang sangat pas dan pekat itu langsung menyapa indra penciumannya, namun bukan aroma kafein itu yang membuat fokus sang CEO buyar. Aroma parfum vanila lembut milik Kiera yang menguar tipis di dekatnya selalu sukses membuat saraf-saraf Arsenio menegang selama satu bulan terakhir ini. Itu adalah jenis aroma yang manis, menenangkan, namun entah kenapa selalu berhasil memancing rasa kesal sekaligus debaran aneh di dada Arsenio.
Arsenio mendongak, menatap Kiera yang masih mempertahankan senyum manisnya yang tampak sangat artifisial. Pria itu berdehem keras, memperbaiki posisi duduknya demi menutupi debaran aneh di dadanya yang belakangan ini sialnya semakin sering muncul tanpa izin dokter.
"Letakkan saja di sana," ujar Arsenio dingin, bersedekap dada sambil menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran yang super mewah. Ia menatap Kiera dari atas ke bawah, mencoba mencari celah kesalahan pada penampilan asistennya hari ini. "Satu bulan ini kamu bekerja... ya, lumayan. Meskipun catatan minor kamu tentang tata letak dokumen masih sering membuat mata saya iritasi."
*“Iritasi mata lu peyang! Gak usah sok gengsi, bilang aja kopi buatan gue emang paling enak seseluruh jagat raya sampai lu gak mau minum kopi buatan orang lain lagi,”* maki Kiera habis-habisan dalam hati, sementara bibirnya tetap melengkung ranum membentuk senyuman manis yang dipaksakan hingga pipinya hampir kram.
"Terima kasih atas evaluasinya yang sangat berharga, Pak Arsenio. Saya akan terus berusaha menjadi asisten yang mendekati standar 'kesempurnaan' Bapak yang setinggi langit itu," jawab Kiera dengan nada santun yang dibuat-buat.
Arsenio menyipitkan matanya tajam. Selama satu bulan ini, ia selalu merasa ada yang aneh dengan senyuman Kiera. Senyum itu cantik, sangat cantik bahkan sering kali membuat Arsenio melamun di malam hari saat ia sedang beristirahat di kamar rumah daddynya. Tapi di saat yang sama, sebagai pria yang memiliki tingkat kepekaan tinggi terhadap sekitar, Arsenio bisa merasakan ada aura tidak ikhlas dan getaran mistis penuh dendam yang terpancar dari balik keramahan gadis itu.
Arsenio menumpukan dagunya di atas jalinan jemarinya, menatap Kiera lurus-lurus. "Kiera," panggil Arsenio dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Kamu... tidak sedang mengutuk saya di dalam hati, kan?"
Pertanyaan tiba-tiba yang sangat tepat sasaran itu membuat jantung Kiera sempat melompat kaget. Namun, dengan kemampuan akting tingkat tinggi yang sudah terasah dan teruji klinis selama sebulan menghadapi tiran, Kiera langsung menggeleng cepat dengan ekspresi wajah paling polos dan terzalimi sedunia.
"Ya ampun, Pak Bos. Tenu saja tidak," sahut Kiera dengan nada suara yang sengaja dibuat sedikit bergetar, seolah-olah ia sangat terluka dengan tuduhan itu. "Saya ini karyawan yang tahu balas budi. Saya selalu mendoakan keselamatan, kesehatan, dan kelancaran rezeki Bapak di setiap detak jantung saya. Benar-benar dari lubuk hati yang paling dalam."
*“Iya, berdoa semoga lu cepet-cepet dapet hidayah atau minimal keselek tisu polos tanpa tekstur kesukaan lu itu biar dunia ini tenang,”* lanjut Kiera dalam hati, merasa menang taruhan karena berhasil mengelabui insting sang tiran lagi hari ini.
Arsenio mendengus pelan, meskipun ada secuil rasa puas yang menggelitik egonya yang raksasa setelah mendengar jawaban Kiera. Pria itu mengambil cangkir kopinya, menyesapnya sedikit, dan seketika itu juga matanya berbinar puas, walaupun wajahnya tetap disetel sedatar papan tulis.
"Bagus kalau begitu. Ingat kontrak khusus yang sudah kamu tandatangani. Ganti rugi jas Tom Ford saya yang kamu hancurkan tempo hari baru tercicil beberapa persen saja dari potongan gajimu. Kamu masih harus mengabdi di bawah kendali saya dalam waktu yang sangat lama. Jadi, pastikan kinerja kamu tidak menurun," ujar Arsenio memperingatkan, sengaja mengungkit masalah utang agar Kiera tidak besar kepala.
"Tentu, Pak Arsenio yang terhormat," jawab Kiera, membungkuk formal sembilan puluh derajat. "Kalau tidak ada perintah penting lainnya, saya permisi keluar untuk melanjutkan penataan arsip tahun lalu."
Tanpa menunggu balasan atau anggukan dari Arsenio, Kiera segera berbalik dengan gerakan anggun dan melangkah keluar ruangan. Begitu pintu kayu besar itu tertutup rapat dan mengatup sempurna, Kiera langsung melepaskan seluruh topeng senyumnya. Ia mengembuskan napas panjang yang sangat berat, lalu memegangi kepalanya yang mendadak pening.
"Satu bulan bertahan, sebelas bulan lagi menuju kebebasan. Kuatkan hamba, ya Tuhan, menghadapi cobaan berwujud CEO tampan tapi sinting ini," gumam Kiera pelan selagi berjalan kembali ke kubikalnya.
---
Sementara itu, di dalam ruangan kerja utama yang senyap, Arsenio perlahan meletakkan kembali cangkir kopinya ke atas meja. Tatapan matanya yang tadi sedingin es kini perlahan melembut, beralih menatap lurus ke arah pintu kayu yang baru saja dilewati oleh Kiera. Setelah memastikan bahwa asisten pribadinya itu benar-benar sudah tidak ada di ruangan, sebuah senyuman tipis—senyuman yang sama sekali tidak dingin, melainkan senyuman hangat penuh arti yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun di kantor ini—perlahan terukir di wajah tampannya.
Arsenio menggelengkan kepalanya sendiri, merutuki dadanya yang kembali berdegup tidak karuan dengan ritme yang tidak beraturan. Satu bulan ini, niat awalnya untuk menyiksa mental Kiera dan membuatnya menangis meraung-raung meminta ampun di kakinya justru berbalik menjadi bumerang yang sangat mematikan. Alih-alih menghancurkan mental Kiera, Arsenio justru mendapati dirinya sendiri yang perlahan tapi pasti mulai kehilangan kendali atas benteng pertahanan hatinya yang selama ini terkenal tak tersentuh.
Ia menyandarkan tubuhnya, memikirkan bagaimana gadis ugal-ugalan itu selalu punya cara untuk membalas setiap kalimat intimidasinya tanpa perlu berteriak. Arsenio mengambil pulpen emasnya, memainkannya di antara jari-jarinya, lalu bergumam lirih dengan nada yang sangat pelan, hampir menyerupai bisikan.
"Satu bulan... dan kamu masih belum menyerah, Kiera Anandita. Kita lihat saja, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut lebih dulu di permainan ini."
Arsenio tersenyum mencemooh dirinya sendiri, menyadari bahwa ucapan Alea di meja makan satu bulan lalu tentang batas tipis antara benci dan cinta, perlahan-lahan mulai terasa seperti sebuah ramalan cuaca yang sangat akurat. Namun tentu saja, ego raksasa seorang Yudhistira tidak akan membiarkan dirinya mengaku kalah begitu saja, setidaknya tidak dalam waktu dekat ini.