Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".
Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.
"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Rantai Ikatan Phoenix
Formasi batu itu jelas bukan terbentuk secara alami.
Saat mendekat, Lin Chen dapat melihat bahwa susunan batu-batu besar yang membentuk lingkaran tersebut telah berada di tempat itu selama waktu yang sangat lama.
Lumut tebal menutupi hampir seluruh permukaannya, sementara akar-akar pohon purba telah menyusup ke celah-celah batu dan mengikatnya menjadi satu dengan alam di sekitarnya.
Di tengah lingkaran itu, hamparan rumput tumbuh dengan warna keemasan yang berbeda dari area sekitarnya.
Dan tepat di pusatnya, ada sesuatu yang menarik perhatian Lin Chen.
Benda itu sebagian besar masih terkubur di dalam tanah. Hanya ujungnya yang terlihat, mencuat keluar seperti peninggalan kuno yang menunggu untuk ditemukan.
Lin Chen berjongkok di depannya.
Matanya menyipit.
Sebuah rantai atau setidaknya, benda yang menyerupai rantai.
Warnanya merah tua seperti bara api yang hampir padam. Materialnya tidak tampak seperti besi ataupun logam yang pernah ia kenal. Setiap mata rantainya dipenuhi simbol-simbol kuno yang terukir dengan sangat halus.
Sebagian simbol itu terasa familiar.
Ia pernah melihatnya dalam warisan Phoenix.
Lin Chen tidak langsung menyentuh benda itu.
Ia memejamkan mata dan membiarkan indranya mengamati energi yang tersimpan di dalamnya.
Sesaat kemudian, ia merasakan sesuatu.
Qi yang sangat tua.
Jauh lebih tua daripada apa pun yang pernah ia temui sebelumnya.
Namun energi itu tidak terasa lemah ataupun memudar dimakan waktu. Sebaliknya, Qi di dalam rantai tersebut terasa seperti sedang tertidur, tersegel rapat selama ribuan tahun.
Seolah seseorang pernah memadatkan lautan api ke dalam benda kecil ini dan membiarkannya menunggu hingga hari yang tepat.
Sebuah nama muncul begitu saja dalam benaknya.
"Rantai Ikatan Phoenix..."
Huo Ling'er yang berdiri di belakangnya mengangkat alis. "Kau mengenalnya?"
Lin Chen mengangguk perlahan.
"Warisan yang kuterima menyimpan sedikit informasi tentang benda ini."
Ia kembali memandangi rantai itu.
"Ini adalah salah satu artefak dari Era Dewa Kuno. Bukan senjata dan bukan pula alat tempur."
"Lalu untuk apa?"
"Sebagai media ikatan."
Lin Chen akhirnya mengulurkan tangan dan menyentuh ujung rantai yang masih tertanam di tanah.
Begitu jari-jarinya bersentuhan dengan permukaan rantai, kehangatan lembut langsung mengalir ke seluruh tubuhnya.
Seolah benda itu mengenal dirinya. Seolah ia telah menunggunya sejak lama.
"Artefak ini digunakan untuk memperkuat hubungan antar Phoenix," lanjut Lin Chen. "Resonansi antar elemen menjadi lebih stabil, lebih kuat, dan lebih sulit diganggu oleh kekuatan luar."
Tatapan Huo Ling'er berubah sedikit.
"Termasuk Istana Surgawi?"
Lin Chen mengangguk. "Terutama Istana Surgawi."
Ia mulai menarik rantai itu perlahan dari dalam tanah.
Awalnya ada perlawanan. Melainkan karena artefak itu seakan memiliki mekanisme perlindungan sendiri.
Namun saat Qi Phoenix mengalir dari tubuh Lin Chen ke dalam rantai, perlawanan tersebut perlahan menghilang.
Seperti sebuah kunci yang akhirnya menemukan pemiliknya.
Sedikit demi sedikit, rantai itu terangkat dari tanah.
"Aneh..." gumam Huo Ling'er.
"Apa?"
"Benda seperti ini tidak mungkin muncul begitu saja."
Lin Chen setuju. "Itu juga yang kupikirkan."
Rantai itu akhirnya keluar sepenuhnya.
Panjangnya sekitar tiga meter.
Meski terlihat kokoh, beratnya hampir tidak terasa saat berada di tangan Lin Chen. Seolah benda itu tidak mengikuti hukum dunia biasa.
Ketika terkena cahaya yang menembus celah pepohonan, simbol-simbol kuno pada setiap mata rantai mulai bersinar redup dengan cahaya merah keemasan.
Cahayanya lembut, namun mengandung aura yang membuat udara di sekitar terasa berbeda.
"Ini bukan kebetulan," kata Lin Chen pelan.
Huo Ling'er menoleh. "Maksudmu?"
"Seseorang meninggalkan artefak ini di sini."
"Ribuan tahun lalu?"
"Mungkin." Lin Chen menatap rantai di tangannya. "Mungkin mereka tahu suatu hari akan ada seseorang yang datang mencarinya."
Atau mungkin seseorang telah mempersiapkan semuanya sejak awal.
Ia tidak mengucapkan bagian terakhir itu dengan keras.
Terlalu banyak hal yang masih belum ia pahami.
Huo Ling'er melangkah mendekat.
Tatapannya tidak lepas dari rantai tersebut.
Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di Hutan Songhua, ekspresinya terlihat sedikit berbeda.
Seperti seseorang yang sedang menatap sesuatu yang seharusnya asing, tetapi terasa sangat dekat.
"Boleh aku melihatnya?" tanyanya.
Lin Chen mengulurkan rantai itu tanpa ragu.
Huo Ling'er menerimanya.
Begitu jari-jarinya menyentuh permukaan rantai, cahaya merah keemasan itu langsung menyala lebih terang.
Udara di sekitar mereka bergetar pelan. Mata Huo Ling'er sedikit melebar.
Ia menunduk menatap rantai di tangannya.
Kehangatan yang sama mengalir ke dalam tubuhnya.
Seakan menyentuh sesuatu yang telah lama hilang.
"Hangat..." bisiknya.
Lin Chen memperhatikannya. "Seperti apa?"
Huo Ling'er terdiam beberapa saat.
Sulit menjelaskan perasaan itu dengan kata-kata.
Akhirnya ia menemukan satu jawaban.
"Seperti..." Ia menarik napas pelan. "Seperti kembali ke tempat yang seharusnya."
Lin Chen tersenyum tipis.
"Seperti pulang."
Huo Ling'er mengangkat pandangannya, untuk beberapa detik, keduanya saling menatap.
Dan untuk pertama kalinya, Huo Ling'er tidak membantah kata-kata itu.
Karena jauh di dalam dirinya, ia juga merasakan hal yang sama.