menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5 : beban kematian dan dua penjaga setia
Setelah menutup buku bersampul ungu yang menceritakan tentang pengkhianatan masa lalu, Xavier menghela napas panjang. Hatinya terasa sesak, namun rasa penasarannya belum juga terpuaskan.
Tiba-tiba, matanya tertuju pada tumpukan buku di meja.
Eh?
Baru tersadar, tangan Xavier meraih benda kedua yang diberikan oleh kakek misterius tadi. Ternyata, kakek itu memberikan dua buku, bukan satu!
Buku yang kedua ini memiliki suasana yang sangat berbeda. Jika buku pertama terasa menyedihkan namun lembut, buku yang satu ini terasa... berat, dingin, dan sangat kelam.
Sampulnya terbuat dari bahan yang keras dan berkilau gelap, dihiasi dan dilapisi oleh bulu gagak hitam yang tampak sangat nyata dan halus. Di tengahnya tertulis judul dengan huruf-huruf yang tampak seperti mengalirkan darah kering: "Catatan Malam Sang Pengambil Nyawa".
Dengan jantung yang berdebar kencang, Xavier membuka buku kedua ini.
🥀 Tangisan Sang Malaikat Maut
Halaman demi halaman dibuka. Tulisan di dalamnya bukan sekadar sejarah, melainkan seperti sebuah jurnal pribadi, atau catatan perasaan terdalam yang ditulis dengan nada yang sangat pahit dan kecewa.
Isi buku itu menceritakan:
Orang-orang berpikir aku menikmatinya. Mereka berpikir aku senang melihat darah, senang melihat keputusasaan. Mereka menyebutku monster, iblis, pembunuh kejam...
Mereka tidak tahu... bahwa setiap kali aku mengangkat tanganku, setiap kali aku harus "mengakhiri" sesuatu, ada bagian dari diriku yang ikut mati bersamanya.
Tugasku adalah hukum alam. Aku adalah gunting yang memotong benang kehidupan. Aku harus datang saat waktunya tiba. Aku harus mengambil nyawa mereka, baik mereka orang baik, orang jahat, anak kecil, atau orang tua. Aku tidak boleh memilih. Aku tidak boleh menolak.
Benci? Oh, betapa aku sangat membencinya.
Aku benci harus datang di saat mereka bahagia. Aku benci harus memisahkan ibu dari anaknya. Aku benci melihat air mata dan rasa sakit itu. Tapi aku harus melakukannya. Karena itulah aku ada. Aku diciptakan bukan untuk hidup, tapi untuk menjadi "Akhir".
Daftar tugasku tidak pernah habis. Setiap detik, ribuan nama tertera di benakku. Waktu mereka habis. Aku harus menjemput mereka. Terkadang aku berharap... aku bisa membiarkan mereka hidup. Terkadang aku berharap... aku bisa merasakan apa itu hidup tanpa harus dihantui oleh kematian.
*Mereka takut padaku, mereka membenciku. Tapi tidak ada yang pernah bertanya: "Elara, apakah kau lelah?"
Ya. Aku sangat lelah. Aku lelah menjadi ketakutan. Aku lelah menjadi akhir dari segalanya.
Xavier berhenti membaca. Matanya sudah basah oleh air mata.
Bayangannya tentang Elara berubah total. Dia bukan Ratu yang sombong dan kejam. Dia adalah pekerja keras yang memikul beban dunia sendirian. Dia membenci pekerjaannya, tapi dia tetap melakukannya demi menjaga keseimbangan.
"Elara..." bisik Xavier parau, tangannya memegang erat sampul buku berbulu gagak itu. "Jadi selama ini kau menangis sendirian... Kau menderita sendirian..."
Rasa ingin melindunginya semakin membuncah. Dia ingin sekali pergi ke sana, memeluk wanita itu, dan berkata bahwa tidak apa-apa untuk merasa lelah.
🐉 Sentinel & Gargoyle
Xavier membalik halaman berikutnya untuk menenangkan pikirannya. Bagian ini membahas tentang penjaga istana yang selama ini menjadi legenda.
Di tengah kesendirianku, ada dua makhluk yang tidak pernah meninggalkanku. Mereka bukan manusia, mereka tidak bisa berbohong, dan mereka tidak akan pernah mengkhianatiku.
SENTINEL
Di menara tertinggi kastil, bertenggerlah Sentinel. Dia adalah Naga Batu Raksasa yang tubuhnya terbuat dari batu obsidian hitam yang keras. Matanya menyala merah membara. Dia tidak pernah tidur, tidak pernah berkedip. Tugasnya satu: Menjaga batas wilayah, menghancurkan siapa saja yang berani masuk dengan niat buruk. Dia adalah tembok pertahanan terakhirku. Dingin, keras, dan mematikan.
GARGOYLE
Namun, berbeda dengan Sentinel yang galak, ada Gargoyle. Dia adalah Naga Kecil yang terbuat dari Kristal Ungu dan Hitam yang berkilau indah. Ukurannya tidak sebesar Sentinel, cukup untuk bisa berbaring dengan nyaman.
Gargoyle tidak bertugas bertarung. Dia bertugas menemaniku.
Dia selalu ada di sisiku. Saat aku duduk di singgasana, dia akan melingkar di kakiku atau berbaring santai di pangkuanku. Saat aku tidur, dia akan menjadi bantal hangatku. Saat aku menangis, dia akan menjilat tanganku dengan lembut.
Dialah satu-satunya makhluk yang berani menyentuhku tanpa rasa takut. Dialah satu-satunya yang membuatku sadar, bahwa di dunia yang kejam ini, masih ada sesuatu yang setia padaku.
Mereka berdua adalah keluargaku. Satu menjaga dari luar, satu menjaga hatiku dari dalam.
❤️ Hati yang Terhanyut
Xavier menutup buku itu. Matanya berbinar, bukan hanya karena air mata, tapi karena kekaguman yang luar biasa.
Ia bisa membayangkan sosok Elara yang dingin dan angkuh, namun di saat yang sama, ada naga kristal kecil yang manja tidur di pangkuannya. Kontras yang sangat indah.
"Gargoyle..." gumam Xavier tersenyum tipis. "Jadi kau juga suka makhluk lucu ya, Elara..."
Sekarang Xavier mengerti segalanya.
- Dia tahu Elara pernah baik dan dikhianati.
- Dia tahu Elara benci tugasnya tapi tetap bertahan.
- Dia tahu Elara punya dua penjaga setia yang sangat hebat.
Semua informasi itu bukan membuatnya takut, justru membuatnya semakin yakin.
"Aku akan datang, Elara..." ucap Xavier tegas, berdiri dari kursinya sambil memegang kedua buku itu di dadanya. "Aku akan melewati Sentinel yang ganas itu. Aku akan berkenalan dengan Gargoyle yang manis itu. Dan aku akan memberitahumu..."
"Bahwa kau tidak perlu menjadi 'Akhir' untukku. Bagiku, kau adalah awal dari segalanya."
Bersambung..