Leonardo De Luca adalah penguasa Madrid yang memiliki segalanya, kecuali masa depan. Di balik kemegahan tahtanya, ia menyimpan rahasia kelam tentang infertilitas yang membuatnya merasa seperti tanah gersang tanpa harapan akan pewaris. Baginya, garis keturunan De Luca telah menemui jalan buntu.
Hingga ia bertemu Olivia, seorang gadis penjual bunga yang hidup di antara harum kelopak dan ketabahan akar. Di mata Olivia, Leonardo bukanlah singa yang menakutkan, melainkan jiwa yang haus akan kehidupan. Pertemuan ini adalah awal dari sebuah keajaiban; tentang bagaimana cinta seorang penjual bunga mampu menumbuhkan benih kehidupan di celah batu karang yang paling keras sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan ke sangkar emas
Iring-iringan Range Rover hitam itu membelah kabut pagi Surrey menuju pangkalan udara pribadi. Leonardo tidak memberikan alasan detil kepada mertuanya; ia hanya menyebutkan ada "masalah logistik mendesak" di Madrid. Meskipun Olivia curiga melihat Marco yang mengenakan plester di pelipisnya, ia terlalu lelah untuk berdebat.
Begitu pintu jet pribadi tertutup dan mesin mulai menderu, Leonardo baru bisa melepas kemeja rajut gatalnya. Ia kembali mengenakan kemeja sutra hitamnya, namun ketenangan itu hanya bertahan lima menit.
Luciano De Luca, sang hakim kecil, tampaknya sudah tahu bahwa ayahnya baru saja melakukan "pekerjaan kotor" di gudang tua Surrey semalam.
Zona Larangan Ayah
"Kenapa dia menangis lagi, Olivia? Aku sudah memeriksa popoknya," keluh Leonardo, berdiri kaku di tengah kabin pesawat yang mewah.
Setiap kali Leonardo mendekat dalam radius satu meter, Luciano akan mengeluarkan jeritan melengking yang sanggup mengalahkan suara mesin jet. Bayi itu seolah-olah memiliki sensor moral yang menolak kehadiran ayahnya yang masih membawa sisa-sisa adrenalin pertempuran.
"Dia mencium bau kegelisahanmu, Leo. Duduklah di kursi paling belakang. Biarkan dia tenang," perintah Olivia sambil mengayun Luciano dengan lembut.
Sang Singa Madrid, pemilik kekuasaan tak terbatas di Spanyol, akhirnya menghabiskan seluruh penerbangan dua jam itu dengan duduk sendirian di baris paling belakang jet pribadinya. Ia terpaksa menonton film dokumenter tentang penguin di layar monitor kecil, sementara anak buahnya di kokpit menahan tawa melihat bos mereka "diasingkan" oleh seorang bayi.
Mansion yang Berubah
Setibanya di Madrid, prosedur keamanan ditingkatkan menjadi Siaga Satu. Leonardo memerintahkan penyisiran total di seluruh perimeter. Namun, hukuman Luciano di rumah baru benar-benar dimulai saat mereka memasuki kamar utama.
Luciano mendadak mogok tidur. Ia hanya mau diam jika Leonardo melakukan hal yang paling merendahkan martabatnya: bernyanyi.
"Aku tidak bisa bernyanyi, Olivia. Suaraku seperti amplas," protes Leonardo saat jarum jam menunjukkan pukul tiga pagi.
"Coba saja. Atau dia akan membangunkan seluruh pelayan di mansion ini," balas Olivia dengan mata terpejam, benar-benar kelelahan.
Leonardo menarik napas panjang. Ia memastikan pintu kamar terkunci rapat dan interkom mati. Ia mendekati boks bayi kristal itu, menatap Luciano yang sedang bersiap mengeluarkan jeritan mautnya.
"Diamlah, jenderal kecil..." gumam Leonardo. Ia mulai menggumamkan nada rendah yang tidak jelas—mungkin sebuah lagu lama yang pernah ia dengar di jalanan Madrid sepuluh tahun lalu.
Ajaibnya, Luciano diam. Bayi itu menatap ayahnya dengan mata gelap yang tajam, seolah sedang menilai apakah ayahnya cukup tulus untuk dimaafkan. Setiap kali Leonardo berhenti bergumam, Luciano akan merengek kecil, memaksa ayahnya terus "berkonser" hingga fajar menyingsing.
Karma di Ruang Rapat
Esok paginya, Leonardo harus memimpin rapat besar dengan para petinggi klan untuk membahas sisa-sisa ancaman dari Marseille. Ia duduk di kursi kebesarannya, wajahnya dingin dan menakutkan.
Namun, saat ia sedang menjelaskan rencana pembersihan wilayah pelabuhan, tiba-tiba saku jasnya bergetar. Bukan telepon, melainkan sebuah benda kecil yang diselipkan Olivia—atau mungkin Luciano—ke dalam sakunya: sebuah bebek karet kuning yang bisa berbunyi.
Saat Leonardo merogoh sakunya untuk mengambil korek api cerutu, bebek itu tertekan dan mengeluarkan bunyi "Kwek!" yang nyaring di tengah ruangan yang sunyi senyap.
Seluruh petinggi klan membeku. Mereka menatap Leonardo dengan mata terbelalak.
Marco, yang berdiri di belakang Leonardo, segera menutup mulutnya dengan kepalan tangan, bahunya bergetar hebat. Wajah Leonardo berubah merah padam, namun ia tetap mempertahankan tatapan tajamnya.
"Lanjutkan laporannya," desis Leonardo, sambil perlahan memasukkan kembali bebek karet itu ke sakunya. "Dan siapa pun yang berani menyebutkan suara tadi, akan berakhir di dasar pelabuhan malam ini."
Siksaan Luciano tidak mengenal tempat dan waktu. Sang pewaris telah memastikan bahwa ayahnya boleh saja menjadi penguasa dunia bawah tanah, namun di hadapannya, Leonardo hanyalah seorang pria yang harus membawa bebek karet dan bernyanyi hingga serak demi sebuah pengampunan.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...