Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.
Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.
Suaminya ke mana??
"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"
Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.
" Mas...maaf " lirih suara Arista.
Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.
Arista tergugu, tak ada air mata...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Anisa melamun, makanan di depannya di biarkan dingin. Sebenarnya dia sudah curiga sejak lama, hanya saja tak menyangka kalau ke dua orang tua Restu mengetahuinya.
Meskipun sudah menata hati dan menyiapkan mental, tapi di hadapkan langsung dengan kenyataan, hatinya tetap sakit dan hancur.
Sudah beberapa kali Anisa dapat foto dari nomer tak di kenal, tapi Anisa masih abai. Selama Restu masih pulang ke rumah , dia masih bisa bertahan. Itu prinsip Anisa, sebelum ada seorang perempuan lain yang menyebut namanya.
Rafli menggeser piring Anisa yang masih utuh, dia menyantap sampai habis. Anisa hanya menatapnya datar, tak juga berkomentar, tangan kiri memangku dagu, hanya sesekali terdengar helaan nafasnya.
" Mau sampai kapan? Ingat ada Hanif yang membutuhkan Bu Anisa, setidaknya semangat hidup Bu Anisa, sekarang curahkan untuk dia"
" Kita belum tahu persoalan yang sebenarnya, kalau menurut saya, biarkan saja dulu. Bu Anisa bisa lihat sampai mana permainan pak Restu."
Anisa menatap Rafli lama, seolah sedang mencari informasi dari pria di depannya.
"Apa selama ini mas Rafli mengetahui sesuatu, apa mas Rafli udah tahu permainan mas Restu di belakang saya." tanya Anisa sambil menatap Rafli, seolah sedang mencari kebenaran di manik matanya.
Rafli menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum.
" Kalau saya tahu sejak lama, udah pasti saya bawa Bu Anisa langsung, buat nunjukin perbuatan pak Restu di belakang Bu Anisa."
"Lagi pula baru praduga dan prasangka kita saja, Bu. Saya yakin kita mempunya prasangka yang sama ke arah sana."
" Hmm...mungkin." jawab Anisa singkat.
" Mau sampai kapan kita di sini, Bu Anisa. Sedangkan pasangan tadi udah pergi entah ke mana."
" Jangan pura-pura tuli, mas. Kita sama-sama dengar, mereka mau chek in ke hotel." kesal Anisa menjawab.
Rafli garuk-garuk kepala , sambil pura-pura sibuk dengan ponselnya.
" Bu, saya punya sedikit ide."
Anisa mengangkat kepalanya, ingin tahu ide apa yang akan di katakan Rafli.
Sebuah pesan masuk ke gawai Anisa. Raut mukanya keheranan, tapi tak lama sudut bibir kanan atas tertarik ke atas.
" Kita pergi sekarang."
Anisa berdiri dan langsung melangkah tergesa-gesa ke parkiran mobil. Rafli berdecak sambil geleng-geleng kepala.
" Memang ya, perempuan." lirih suara Rafli.
Ups...
Rafli menutup mulutnya, saat Anisa menghentikan langkahnya. Tak lama Anisa meneruskan langkahnya kembali, kali ini lebih lambat.
Rafli mengelus dada dan menghembuskan nafas lega. Sempat dah..dig.. dug, Anisa dengar celetukannya.
Anisa membuka pintu mobil dan langsung duduk di bangku depan. Tak lama Rafli menyusul dan meletakkan bobot tubuhnya di kursi kemudi.
"Kita ke mana lagi Bu?."
"Temani saya beli handphone baru."
Tapi saya sudah punya hp, Bu Anisa." seloroh Rafli.
" Nggak lucu. Oh ..iya, jangan di kira tadi saya nggak dengar celetukan mas Rafli.ya." Anisa melipat ke dua tangannya di dada.
Rafli tersenyum kecut. Kata orang-orang, kalau laki-laki ada sedikit salah, dalam hal apa saja, yang menurut perempuan itu salah, kesalahan itu akan di ingat dan di ungkit sampai beberapa tahun ke depan.
Sempat khawatir kalau tadi Anisa mendengar, eh.. ternyata memang dia punya telinga yang pendengarannya tajam.
Rafli membelokkan mobilnya ke gerai telepon genggam ternama. Tapi Anisa menolak, dia minta ke konter hp biasa saja.
Setelah mendapatkan barang yang dia mau, mereka meneruskan perjalanan kembali. Sepanjang perjalanan mereka diam, Anisa sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sedangkan Rafli terlihat fokus ke jalan raya. Anisa melongokkan kepala , sambil melihat ke kanan dan ke kiri, menatap gedung satu per satu. Rafli yang melihatnya merasa heran.
" Bu Anisa cari apa.?"
" Hotel Q."
Kali ini Rafli tak mau berkomentar, walaupun mulutnya sudah gatal ingin melakukannya. Tapi sebisa mungkin dia tahan, mungkin memang keunikan perempuan di situ letaknya. Suka mendadak jadi pelupa kalau hatinya lagi galau.
"Bisa pakai GPS, Bu Anisa."
" Sudah tau."
Rafli menahan senyum dengan pura-pura mengusap mukanya mengunakan tangan kiri.
Anisa mengeluarkan gawai dari dalam tasnya, berniat memberi tahu pada Arista, kalau pulangnya agak sedikit terlambat. Karena masih ada urusan yang belum selesai.
Tak berapa lama mereka sampai di sebuah bangunan yang mereka cari. Hotel itu ternyata letaknya tidak berada di pinggir jalan, tapi masuk ke dalam gang yang hanya bisa di lewati satu mobil.
Dari jalan raya utama mungkin sekitar 100 M saja. Tapi setelah masuk ke dalam, ternyata jalannya lebih lebar, dan tepat di depan hotel ada cafe.
Anisa tersenyum dalam hati.
"'Kita ke cafe dulu mas, siapa tahu mas Rafli ngantuk, kita ngopi dulu di sana." usul Anisa.
Setelah memarkirkan mobilnya, mereka memilih duduk di bangku paling depan. Tampak Anisa sedang sibuk ngutak atik hp barunya. Ada beberapa nomer yang dia salin.
Menu pesanan mereka pun datang.
" Permisi mbak..mas.., ini pesanannya. Selamat menikmati." kata karyawati cafe tersenyum ramah.
" Terima kasih mbak." kata Anisa.
" Sama-sama."
Dua porsi pisang bakar keju dan dua gelas cafe latte terhidang di hadapan mereka.
Anisa menyeruput kopinya pelan, pandangannya tak lepas dari bangunan seberang cafe. Rafli tampak tenang, sambil memainkan gawainya dan menikmati pisang bakar keju yang manis dan lumer di mulut.
Anisa melirik ke pergelangan tangannya. Sudah jam 11, tapi belum ada pergerakan, Anisa sudah mulai gelisah dan ingin pergi dari tempat itu.
Tapi niatnya di urungkan , saat melihat pasangan yang sedang keluar dari dalam hotel. Anisa bersiap dengan kamera handphonenya. Dia tak ingin melewatkan setiap momen di depannya.
Hingga pasangan itu berpisah. Anisa mengernyitkan dahinya saat perempuan itu memberikan sebuah amplop pada laki-laki pasangannya.
Semua tak ada yang terlewat.
Setelah di rasa semua cukup, Anisa kembali mengutak atik hp barunya.
Dia mengirimkan beberapa rekaman video dan foto ke nomor seseorang. Tak lama..
" Siapa anda." nomer itu memberi balasan.
" Tak penting siapa saya." Anisa membalas.
" Jangan main-main sama saya"
Anisa cuma membaca , dan sengaja tak membalas pesan itu. Dia ingin membuat orang itu kesal dan penasaran.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Anisa tersenyum sinis.
Di gesernya tombol jawab, tapi Anisa tak bicara, dia diam tak bergeming.
" Hei...siapa dan di mana kamu. Ayo ..kita ketemu." suara di seberang telepon tampak gelisah.
Anisa mematikan panggilan. Tangannya luruh ke bawah, handphone dalam genggamannya hampir jatuh ke lantai. Rafli sigap menangkap dan meletakkan kembali di atas meja.
Rafli hanya diam memperhatikan Anisa, dia hanya ingin memberi ruang pada wanita di sampingnya. Jujur dia prihatin dengan kondisi Anisa,tapi dia tak mau ikut campur tangan terlalu jauh.
Dia hanya ingin membantu sebatas mengantar dan menjemput.
Meski di dalam hatinya dia ingin lebih dari itu.Ingin bisa merengkuh dalam dekapannya, ingin jadi tempat bersandar kala dia menangis.
Rafli memukul kepalanya pelan, mengusir semua keinginan yang tiba-tiba timbul.
( Semoga masih ada kesempatan. Mungkin terbilang jahat, tapi dari pada dia batinnya tersiksa , lebih baik begitu.")