"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."
Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.
Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI
Ruang sidang utama Pengadilan Agama siang itu terasa begitu dingin oleh embusan pendingin ruangan, namun atmosfer di dalamnya terasa sangat panas dan mencekam. Di sisi sebelah kanan, Revan duduk dengan tegak, didampingi oleh pengacara yang ia sewa dengan harga standar, sementara Mama Revan dan Rika duduk di bangku penonton baris terdepan dengan wajah yang dipenuhi keangkuhan. Di sisi sebelah kiri, Arumi duduk dengan anggun. Pakaian blazer putih tulangnya yang bergaya Chic mewah membuat penampilannya terlihat sangat kontras dengan suasana ruang sidang yang kaku. Di belakangnya, Pak RT, Bu RT, dan Bu Ida duduk siaga, memasang wajah datar namun mata mereka berkilat penuh antisipasi.
Ketua Majelis Hakim mengetuk palunya sekali, menandakan sidang pembacaan putusan siap dimulai. Setelah membacakan runtunan pertimbangan hukum, dokumen-dokumen administrasi, dan bukti-bukti yang diajukan, hakim akhirnya sampai pada bagian yang paling ditunggu-tunggu.
"Menimbang bahwa pihak penggugat, Arumi Pragati, telah menunjukkan bukti yang sah mengenai perselisihan yang tidak dapat didamaikan kembali, serta mempertimbangkan percepatan administrasi yang telah dipenuhi sesuai prosedur hukum, maka dengan ini menyatakan..." Hakim menjeda sejenak, menatap ke arah kedua belah pihak sebelum mengetuk palu dengan tegas.
Tok! Tok! Tok!
"Mengabulkan gugatan perceraian penggugat seluruhnya. Menjatuhkan talak satu bain sughra dari tergugat, Prasetyo Revan, terhadap penggugat, Arumi Pragati. Bersamaan dengan ini, hak asuh atas kedua anak, Bintang dan Langit, sepenuhnya jatuh ke tangan penggugat."
Mendengar ketukan palu itu, Revan hanya mendengus meremehkan. Pria itu menoleh ke arah Arumi dengan senyuman miring yang sarat akan kemenangan materi. Dalam benaknya, setelah ini pasti akan masuk ke sesi perebutan harta atau tuntutan nafkah yang melelahkan. Revan sudah bersiap dengan selembar kertas berisi rincian kemiskinan versinya untuk menolak semua tuntutan Arumi.
Hakim kemudian membetulkan letak kacamata bacanya, lalu menatap Arumi.
"Saudari penggugat, Arumi Pragati. Terkait dengan putusan ini, mengenai nafkah mut'ah, nafkah iddah, serta nafkah pemeliharaan untuk kedua anak Anda yang menjadi kewajiban mantan suami Anda... apakah Anda ingin mengajukan besaran tuntutan nominal kepada majelis hakim agar bisa ditetapkan dalam amar putusan?"
Revan langsung memajukan badannya, bersiap memberi kode kepada pengacaranya untuk memotong jika Arumi meminta nominal yang besar. Mama Revan di belakang bahkan sudah bersiap mencibir.
Namun, Arumi justru menegakkan punggungnya. Wanita itu tidak menoleh sedikit pun ke arah Revan. Dengan gerakan yang sangat tenang, ia menatap lurus ke arah Majelis Hakim, lalu mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat menawan namun terasa sangat dingin.
"Terima kasih, Yang Mulia Ketua Majelis Hakim yang bijaksana," ujar Arumi, suara baritonnya yang lembut namun tegas menggema dengan sangat jelas di ruang sidang. "Hari ini, di hadapan hukum dan saksi-saksi yang hadir, saya menyatakan dengan kesadaran penuh... bahwa saya TIDAK MEMINTA TUNTUTAN NAFKAH APA PUN. Saya tidak meminta sepeser pun uang mut'ah, uang iddah, ataupun nafkah anak dari pria di sebelah saya ini. Saya melepaskan seluruh hak materi tersebut dan menyerahkannya kembali secara utuh kepada saudara Prasetyo Revan."
Hening.
Selama beberapa detik, ruang sidang itu mendadak sunyi senyap seolah pasokan oksigennya tersedot habis. Hakim bahkan sempat mengerutkan dahi, memastikan bahwa telinganya tidak salah mendengar.
Revan yang sudah bersiap untuk berdebat parah seketika melongo. Mulutnya terbuka sedikit, matanya mengerjap-ngerjap menatap Arumi dengan tatapan tidak percaya. Di bangku belakang, Mama Revan dan Rika juga langsung berpandangan dengan wajah bingung yang berubah menjadi raut tersinggung yang luar biasa.
"Saudari penggugat," Hakim memastikan sekali lagi. "Apakah Anda yakin? Nafkah anak adalah kewajiban mantan suami Anda demi masa depan anak-anak Anda. Apakah Anda benar-benar tidak ingin menuntut nominal apa pun?"
"Saya sangat yakin, Yang Mulia," jawab Arumi dengan nada yang luar biasa santai, seolah-olah ia baru saja menolak tawaran brosur gratisan di pinggir jalan. "Bagi saya, masa depan anak-anak saya terlalu berharga jika harus dibiayai oleh uang yang keluar dari dompet seorang pria yang penuh dengan kalkulasi kikir. Jadi, silakan putuskan sidang ini tanpa ada beban tuntutan materi satu rupiah pun."
"Baik jika itu sudah menjadi keputusan bulat Anda. Majelis hakim menghormati hak Anda," ujar Hakim seraya mengetuk palu penutup sidang. Tok! "Sidang perkara perceraian ini resmi dinyatakan selesai dan ditutup."
Begitu hakim dan panitera bangkit berdiri lalu melangkah keluar dari ruang sidang, ketenangan di dalam ruangan itu langsung pecah berantakan. Revan dengan kasar menggeser kursi sidangnya hingga menimbulkan suara derit yang memekakkan telinga. Pria itu berdiri, wajahnya memerah padam, diselimuti oleh rasa kesal dan ego yang tercoreng karena penolakan Arumi yang terkesan sangat merendahkannya di depan umum.
Mama Revan dan Rika langsung merangsek maju, melewati batas pagar pembatas sidang dan langsung menunjuk wajah Arumi yang baru saja berdiri dari kursinya.
"Heh, Arumi! Apa-apaan maksudmu tadi, hah?!" semprot Mama Revan dengan suara cemprengnya yang melengking kencang, membuat beberapa petugas keamanan di pintu ruang sidang menoleh siaga. "Kamu sengaja, kan?! Sengaja mau berlagak sok suci, sok sombong di depan hakim seolah-olah kamu tidak butuh uang dari anak saya?! Sadar diri dong, Rum! Rumah gubukmu di kampung itu baru saja rata dengan tanah karena disita utang! Sekarang kamu sok-sokan menolak nafkah anak! Mau kamu kasih makan apa Bintang dan Langit nanti malam, hah?! Makan batu?!"
Revan ikut melangkah maju, merapikan kemeja batiknya dengan gestur yang dipaksakan angkuh, meskipun dadanya bergemuruh hebat karena menahan amarah. "Arumi, kamu jangan kekanak-kanakan! Kamu pikir dengan berakting seperti wanita mandiri yang tidak butuh duit saya di depan hakim, saya akan merasa bersalah? Tidak! Kamu salah besar! Tindakan bodohmu ini justru menunjukkan seberapa dangkalnya otakmu sebagai perempuan kampung! Kamu sengaja menolak uang saya karena gengsimu terlalu tinggi, padahal setelah ini kamu pasti akan menangis di pojokan gang, mengemis-ngemis minta bantuan ke tetangga karena tidak punya tempat tinggal!"
Rika ikut mencibir di samping ibunya, matanya melotot tajam menatap blazer putih yang dikenakan Arumi. "Halah, paling-paling besok dia datang ke rumah Mas Revan, menangis di depan pagar sambil bawa anak-anaknya buat minta belas kasihan! Sok belagu banget menolak uang ratusan juta yang sebenarnya bisa Mas Revan kasih kalau kamu tahu diri! Dasar perempuan bodoh tidak tahu diuntung!"
Mendengar segala bentuk makian, hinaan, dan kata-kata kotor yang meluncur bebas dari mulut keluarga parasit itu, Pak RT, Bu RT, dan Bu Ida yang berdiri di belakang Arumi justru kompak menyilangkan tangan di dada. Mereka bertiga tidak marah. Sebaliknya, mereka saling melempar senyuman licik. Mereka tahu, saat ini singa betina yang sesungguhnya sudah siap melepaskan taringnya.
Arumi berdiri dengan sangat tegap. Ia melangkah satu bab maju, memperpendek jarak antara dirinya dan Revan. Wanita itu menatap Revan, lalu beralih ke Mama Revan dan Rika dengan tatapan yang sangat datar, sedingin es, namun menyimpan aura keunggulan mutlak yang tidak bisa didebat.
Arumi menghela napas pendek, lalu tertawa kecil sebuah tawa meremehkan yang sangat berkelas, yang seketika membuat kata-kata makian keluarga Revan langsung terasa murahan.
"Prasetyo Revan, dan Ibu mantan mertua yang terhormat..." Arumi memulai serangan baliknya dengan nada suara yang sangat tenang namun setiap untai katanya menghantam telak seperti godam besi. "Tolong simpan baik-baik air liur kalian yang berharga itu. Jangan sampai bedak tebal dan lipstik merah kalian luntur hanya karena berteriak-teriak tidak jelas di dalam ruang sidang yang suci ini."
Arumi melirik Revan dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan mata seolah sedang melihat sebutir debu yang mengotori sepatunya. "Kamu bilang saya bodoh karena menolak uang nafkah dari kamu, Revan? Kamu bilang saya akan menangis di pojokan gang karena tidak punya tempat tinggal? Sepertinya tingkat kepercayaan dirimu yang setinggi langit itu sudah benar-benar membutakan mata hatimu ya."
Arumi berjalan perlahan mengitari meja sidang, mendekati Revan hingga jarak mereka hanya tersisa dua jengkal. "Asal kamu tahu ya... alasan kenapa saya tidak menuntut sepeser pun uang iddah, mut'ah, atau nafkah anak dari kamu, itu bukan karena saya sok gengsi atau sok suci. Tapi karena... NILAI DOMPETMU ITU TERLALU KECIL DAN SANGAT TIDAK BERHARGA BAGI SAYA HARI INI."
Deg!
Wajah Revan seketika berkedut parah. "Apa kamu bilang?!"
"Kenapa? Kamu tersinggung?" sindir Arumi dengan senyuman yang semakin melebar, memancarkan pesona wanita miliarder yang sesungguhnya. "Bagi saya, meminta uang nafkah dari seorang pria kikir seperti kamu yang jatah belanja istrinya harus dihitung sampai ke pecahan ratusan perak, adalah sebuah penghinaan terhadap harga diri saya dan anak-anak saya. Untuk apa saya mengemis uang receh dari kamu, jika nilai kas segar yang ada di dalam tabungan saya saat ini... bahkan sanggup untuk membeli rumah berlantai dua milikmu di perumahan elite itu secara tunai beserta seluruh isinya?!"
"Hahaha! Bicara apa kamu ini, Arumi?! Kamu sudah gila ya karena syok rumahmu digusur utang?!" potong Mama Revan dengan tawa yang dipaksakan, meskipun hatinya mendadak bergetar aneh melihat ketenangan Arumi. "Jangan mimpi di siang bolong! Rumah gubukmu sudah rata tanah! Kamu itu miskin!"
Bu Ida yang sejak tadi menahan tawa akhirnya tidak bisa membendung diri lagi. Wanita paruh baya itu melangkah maju, berkacak pinggang tepat di depan wajah Mama Revan.
"Oalah, Bu Mantan Mertua yang hobi pamer emas palsu! Siapa yang kamu bilang rumahnya digusur karena utang, hah?!" seru Bu Ida dengan suara melengking yang sengaja diperkeras. "Makanya, kalau dengar berita itu diselidiki dulu pakai otak, jangan langsung dipakai buat bahan bergosip! Rumah tua almarhum Pak Praga di kampung itu dirubuhkan total bukan karena disita bank atau digusur utang, tolol! Rumah itu sengaja diratakan dengan tanah atas perintah Arumi sendiri, karena di atas tanah merah itu, Arumi akan segera membangun ISTANA BARU BERLANTAI TIGA DENGAN DESAIN MEWAH MODERN K-DRAMA VISUAL!"
Brakk!
Kalimat Bu Ida itu bagaikan hantaman beton raksasa yang jatuh tepat di atas kepala Revan, mamanya, dan Rika secara bersamaan. Wajah ketiganya yang semula merah padam penuh amarah langsung berubah menjadi pucat pasi seketika, seputih lembaran kertas hvs.
"M-maksudmu... apa?!" gagap Revan, seluruh keberanian dan keangkuhannya mendadak menguap habis tak bersisa. Jantungnya berdetak dengan ritme yang sangat kacau, hantaman kenyataan itu terasa begitu mendadak hingga pasokan oksigen di dadanya mendadak terasa sesak. "Rumah lantai tiga? Uang dari mana?!"
Bu RT ikut melangkah maju dengan melipat tangan di dada, menatap wajah kaget keluarga Revan dengan tatapan penuh rasa puas yang mendalam. "Uang dari mana kamu tanya, Revan? Ya murni dari uang kas tunai warisan sah almarhum bapaknya yang nilainya MILIARAN RUPIAH! Tiga hari yang lalu saja, Arumi sudah membagikan uang sedekah syukuran sebesar dua ratus ribu rupiah per kepala keluarga untuk SELURUH warga di satu desa tanpa terkecuali! Kalau bukan karena punya uang miliaran di rekeningnya, mana mungkin Arumi bisa buang-buang uang puluhan juta rupiah dalam waktu satu jam murni dari kantong pribadinya?!"
Pak RT yang sejak tadi berdiri diam di belakang, kini ikut bersuara dengan nada tegas berwibawa selaku pemimpin wilayah. "Dan asal kalian tahu ya... papan pengumuman resmi dari dinas tata kota beserta gambar maket istana berlantai tiga atas nama Arumi Pragati sudah terpasang besar-besar di tiang listrik depan gang sejak dua hari lalu. Seluruh warga kampung dari ujung ke ujung sekarang sudah kompak pasang badan untuk menjaga dan mengawal pembangunan istana baru Arumi sampai selesai. Jadi, kalau kalian mengira Arumi melarat... maaf sekali, tingkat kekayaan kalian sekarang justru tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan isi rekening daster batik milik Arumi hari ini!"
Mendengar rentetan penjelasan yang begitu valid, kompak, dan beruntun dari para pengurus kampung tersebut, seluruh sisa harga diri, keangkuhan, dan ego kelaki-lakian seorang Prasetyo Revan seketika hancur lebur berkeping-keping di atas lantai ruang sidang.
Lutut Revan mendadak lemas tak bertulang. Pria itu terpaksa harus berpegangan erat pada sandaran kursi sidang agar tubuhnya tidak ambruk tersungkur ke lantai. Matanya membelalak sempurna, menatap Arumi dengan tatapan yang sepenuhnya kosong, syok, dan dipenuhi rasa tidak percaya yang teramat sangat. Dada Revan mendadak terasa sangat nyeri, detak jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia refleks memegangi dada kirinya ia benar-benar berada di ambang serangan jantung akibat kejutan takdir yang begitu mematikan ini.
Mama Revan di sampingnya langsung terkesiap setengah mati, mulut tuanya terbuka lebar membentuk huruf O sempurna, tangannya gemetar hebat sampai rentengan gelang emas palsunya berbunyi gemerincing karena ketakutan yang luar biasa. Sementara Rika, gadis muda yang tadi begitu lancang mengolok-olok Arumi, kini hanya bisa berdiri mematung dengan wajah pucat pasi seperti mayat, ponsel pintarnya nyaris lepas dari genggaman tangannya yang sudah basah oleh keringat dingin.
Arumi menatap wajah-wajah yang sudah hancur mentalnya itu dengan tatapan yang penuh kemenangan yang elegan. Ia melangkah satu bab terakhir, mendekatkan wajah cantiknya ke arah telinga Revan yang sudah berdiri kaku seperti patung es.
"Prasetyo Revan..." bisik Arumi dengan nada suara yang sangat lembut, namun setiap bait katanya terdengar seperti racun pembalasan yang mematikan batin.
"Terima kasih ya sudah resmi membebaskan saya hari ini. Silakan simpan baik-baik rumah berlantai duamu yang kikir itu, dan nikmati masa depanmu bersama ibumu yang serakah. Mulai hari ini, saya bukan lagi Arumi si wanita dasteran pembawa beban finasialmu, melainkan Arumi Pragati pemilik tunggal istana berlantai tiga di Gang Rejeki yang tidak akan pernah bisa dijangkau lagi oleh manusia kikir sepertimu."
Setelah membisikkan kalimat pamungkas yang menghancurkan seluruh sisa waras mantan suaminya, Arumi membalikkan badannya dengan sangat anggun.
Blazer putihnya melambai tertiup angin dari pintu ruang sidang yang terbuka.
"Mari Pak RT, Bu RT, Bu Ida... kita pulang. Kita harus mengawasi Kang Jaya yang hari ini mulai menggali lubang untuk pondasi cakar ayam rumah baru saya," ajak Arumi dengan nada suara yang sangat ceria dan penuh semangat.
"Siap, Mbak Rum! Mari kita pulang pakai motor buntut kebanggaan kita! Hahaha!" seru Bu Ida dengan tawa kemenangan yang paling puas sepanjang sejarah hidupnya.
Rombongan itu melangkah pergi meninggalkan ruang sidang dengan langkah kaki yang tegap dan berwibawa, meninggalkan Revan, mamanya, dan Rika yang masih berdiri lemas mematung di tengah ruangan dengan wajah-wajah yang dilingkupi rasa malu yang teramat sangat, penyesalan yang membakar batin, dan ketakutan luar biasa akan bayang-bayang kejayaan seorang Arumi yang kini tak lagi terkalahkan.
kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏