NovelToon NovelToon
Fate Of The Twins

Fate Of The Twins

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:436
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XXXII

Firasat Pangeran Haoran ternyata benar adanya. Besok, yang seharusnya menjadi perayaan gembira sekaligus awal kebahagiaan, justru akan berubah menjadi hari penuh penderitaan yang tak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya.

Malam itu, tak lama setelah Zhang Jun pulang dari istana, ternyata Kaisar sudah menempatkan mata-mata untuk mengawasi setiap gerak-geriknya. Saat malam semakin larut dan suasana sepi, orang-orang suruhan Kaisar diam-diam menyusup masuk ke rumah Zhang Jun. Saat Zhang Jun sedang tertidur lelap, mereka melakukan tindakan keji itu. Tanpa belas kasihan, nyawa pemuda itu direnggut paksa. Malam itu juga, Zhang Jun menghembuskan napas terakhirnya dalam kesunyian.

Di Istana

Di kamarnya, hati Putri Yanxi tiba-tiba terasa sangat gelisah. Ia terus saja membolak-balikkan tubuhnya di atas ranjang, seolah ada sesuatu yang membuatnya tidak tenang. Permaisuri yang baru saja datang dan melihat putrinya tidak tenang segera mendekat dan mengelus bahunya.

"Ada apa?" tanya Permaisuri khawatir melihat putrinya yang tampak gelisah.

Putri Yanxi pun bangun, dan menjelaskan bahwa ia terus merasa seolah ada sesuatu yang akan hilang darinya, namun ia tak tau apa itu.

Permaisuri berusaha menenangkannya sambil berkata lembut, "Tenanglah, Nak. Mungkin kau hanya terlalu lelah dan banyak pikiran. Itu hanya firasatmu saja, sungguh tidak akan terjadi apapun."

Namun, Putri Yanxi menggeleng pelan sambil memegang dadanya. "Ibu... hatiku terasa sakit. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, tapi perasaan ini sangat buruk."

Melihat putrinya yang tampak sangat menderita, Permaisuri akhirnya memutuskan untuk menemaninya tidur malam itu, berusaha memberikan ketenangan di tengah kegelisahan yang melanda.

Keesokan paginya, Istana dipenuhi kemeriahan. Kepulangan Putra Mahkota Hao Yu dirayakan dengan sangat megah, diadakan jamuan besar yang dihadiri oleh para menteri, pejabat tinggi, dan keluarga kerajaan. Namun, di tengah suasana yang penuh sukacita itu, hati Putri Yanxi justru semakin gelisah. Ia terus melihat ke arah pintu masuk, wajahnya pucat dan penuh tanda tanya. Pengawal yang dikirimnya untuk menjemput Zhang Jun belum juga kembali, sedangkan Zhang Jun sendiri juga belum terlihat.

"Di mana mereka? Kenapa belum juga datang?" gumam Yanxi cemas, berusaha menenangkan diri sendiri.

Tak lama kemudian, Pangeran Haoran datang bersama Luna, diikuti oleh Lili dan Dafi. Mereka berjalan memasuki aula istana dan memberi hormat kepada Kaisar dan Permaisuri. Setelah itu, Pangeran Haoran segera menghampiri kakaknya yang tampak gelisah di sudut ruangan.

"Kakak, kenapa wajahmu tampak pucat dan gelisah? Bukankah hari ini seharusnya hari yang membahagiakan?" tanya Pangeran Haoran dengan nada khawatir.

Putri Yanxi menatap adiknya, suaranya terdengar cemas. "Haoran... pengawal yang aku suruh menjemput Zhang Jun belum kembali sampai sekarang. Padahal aku sudah berpesan agar dia membawanya kemari lebih awal. Aku ingin memperkenalkannya kepada Kak Hao Yu dan kalian semua. Tapi sampai sekarang tidak ada kabar apa pun."

Pangeran Haoran mengerutkan kening, merasakan firasat buruknya semakin kuat. "Kak, beri tahu aku di mana alamat rumahnya. Biar aku sendiri yang pergi menjemputnya ke sana."

Mata Putri Yanxi berbinar penuh harap. "Benarkah? Tolonglah, Haoran. Aku sangat takut terjadi sesuatu padanya. Hatiku semakin tidak enak."

"Baiklah, aku akan segera kesana," jawab Pangeran Haoran tegas.

Saat Pangeran Haoran hendak melangkah pergi, Dafi segera menghampiri. "Ada apa, Haoran? Kenapa kau cemas.. kau mau ke mana?" tanya Dafi.

Setelah mendengar penjelasan singkat dari Pangeran Haoran, wajah Dafi pun berubah serius. "Aku akan ikut denganmu. Lebih baik kita berdua pergi."

Pangeran Haoran mengangguk setuju. Mereka pun berpamitan, meninggalkan Luna dan Lili yang segera duduk di sisi Putri Yanxi untuk menenangkan wanita itu yang tampak sangat cemas dan hampir menangis.

"Tenanglah, Kak. Haoran dan Kak Dafi pasti akan segera membawanya kemari," ucap Luna lembut sambil menggenggam tangan Putri Yanxi yang dingin.

"Aku harap begitu... Aku sangat berharap begitu," ucap Putri Yanxi pelan, menatap pintu dengan pandangan penuh harap dan ketakutan yang bercampur aduk.

Sementara itu, Pangeran Haoran dan Dafi secepat mungkin menuju rumah Zhang Jun.

Di Rumah Zhang Jun

  Sesampainya mereka di depan rumah sederhana milik Zhang Jun itu, Dafi menatap bangunan itu dengan tatapan tak percaya. "Haoran... dulu aku pernah datang ke tempat ini. Bukankah ini rumah tabib muda bernama Zhang Jun?" tanya Dafi memastikan.

Pangeran Haoran mengangguk pelan dengan raut wajah yang serius. "Benar, Dafi. Ini adalah rumah Zhang Jun, pria yang akan segera menikah dengan kakakku. Oh, ya.. bagaimana kau bisa mengenalnya?" tanya Pangeran Haoran dengan nada penasaran.

Seketika ingatan Dafi melayang ke masa lalu. Ia pun bercerita kepada Haoran tentang bagaimana dulu Zhang Jun merawatnya saat ia terluka parah akibat tusukan senjata dari penjahat.

Setelah selesai bercerita, mereka pun tidak membuang waktu lagi. Keduanya segera melangkah masuk ke halaman rumah itu dan memanggil-manggil pemuda tersebut dengan suara lantang.

"Kakak Ipar! Kakak Ipar!" teriak Pangeran Haoran.

"Tabib Zhang! Apakah kau ada di dalam?" panggil Dafi menyusul.

Namun, keheningan lah yang menyambut mereka. Tidak ada jawaban, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Pintu rumah itu ternyata tidak tertutup rapat, sedikit terbuka. Pangeran Haoran mendorong pintu itu perlahan dan melangkah masuk, diikuti Dafi dari belakang. Suasana di dalam rumah itu sunyi dan mencekam.

"Kakak Ipar! Kau di mana? Jawablah!" panggil pangeran Haoran lagi, namun tetap tidak ada jawaban.

Mereka berdua terus menyusuri ruangan hingga tiba di kamar tidur. Saat membuka pintu kamar itu, napas mereka tertahan. Mereka terkejut dengan apa yang baru saja mereka lihat. Di sana, di atas ranjang, terbaring tubuh Zhang Jun yang sudah kaku. Pakaiannya penuh dengan noda darah yang mengering, tubuhnya penuh luka tusukan yang mengerikan. Dia telah tewas dibunuh dengan keji.

"Ya Tuhan..." ucap Dafi, tubuhnya terasa lemas melihat pemandangan itu.

Pangeran Haoran mengepalkan tangannya, menahan amarah dan kesedihan yang mendalam. "Siapa yang berani melakukan ini?!"

Di Aula Istana

  Sementara itu di istana, hati Putri Yanxi semakin gelisah dan tak tenang. Kali ini, Ia tidak bisa lagi menunggu.

"Aku harus pergi ke sana. Aku harus melihat keadaan Zhang Jun sendiri," ucapnya hendak keluar.

Namun, Lili dan Luna segera menahan lengannya. "Kak, tunggu! Jangan pergi sekarang, biarkan Haoran dan Kak Dafi yang mengurusnya." bujuk Luna.

"Tidak! Aku tidak bisa diam saja disini!" tolak Yanxi berusaha melepaskan diri.

Saat ia sedang memaksa melepaskan diri, tiba-tiba suara sorak-sorai terdengar dari luar istana. Rombongan Putra Mahkota Lin Hao Yu telah tiba. Suasana seketika berubah meriah, orang-orang bersorak menyambut kepulangan Putra Mahkota dari perbatasan.

Putra Mahkota Hao Yu melangkah gagah memasuki aula utama istana, wajahnya tegas dan berwibawa. Ia membungkuk hormat kepada Kaisar dan Permaisuri, lalu memberi penghormatan kepada para menteri dan pejabat yang hadir. Setelah itu, ia berjalan menuju kakaknya, Putri Yanxi, dan membungkuk hormat.

"Kak, aku sudah pulang," ucap Putra Mahkota Hao Yu lembut.

Putri Yanxi tersenyum tipis dan memberikan restunya, meski pikirannya entah ke mana. "Syukurlah kau sehat, Hao Yu." ucapnya sambil kembali memperkenalkan kedua wanita yang ada di sebelahnya. "Izinkan aku memperkenalkan mereka berdua. Ini Xiao Ling, kakaknya Luna, dan ini Luna, istrinya Haoran. Mereka berdua adalah Putri dari mendiang Menteri Pangan, Xiao Yu."

Putra Mahkota Hao Yu mengangguk ramah kepada mereka. Namun, Putri Yanxi tidak bisa lagi berpura-pura bahagia. Rasa cemasnya kini semakin memuncak, ia tidak bisa lagi menahan diri. Tiba-tiba ia berbalik dan berlari keluar dari aula.

"Yanxi! Kau mau ke mana?" seru Permaisuri kaget.

"Kejar dia! Hentikan Putri Yanxi!" perintah Kaisar kepada para pengawal.

Lili, Luna, Putra Mahkota Hao Yu, dan bahkan Kaisar sendiri segera berlari mengejar. Terjadilah kejar-kejaran di sepanjang lorong istana hingga ke gerbang utama kerajaan itu. Putri Yanxi terus berlari tanpa menoleh, air matanya mulai menetes karena firasatnya yang buruk.

Sesampainya di gerbang, napasnya terengah-engah. Ia berhenti sejenak untuk mengatur napas. Dari kejauhan, matanya menangkap dua sosok yang berjalan mendekat. Itu adalah Pangeran Haoran dan Dafi. Namun, mereka tidak berjalan sendiri, melainkan sedang memanggul sesuatu yang tertutup kain putih, noda darah terlihat jelas menembus kain itu.

Jantung Putri Yanxi berdegup kencang. Langkahnya mulai lemas, namun ia tetap memaksakan dirinya untuk mendekat. Semakin dekat ia mendekat, semakin jelas apa yang ia lihat. Saat pangeran Haoran dan Dafi berhenti tepat di hadapannya, mereka perlahan membuka kain penutup itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!