NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Hamil

Dibuang Saat Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Single Mom
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Diana Veronika berniat memberi tahu kekasihnya tentang kehamilannya, berharap pria itu akan ikut bahagia.
Namun bukannya bertanggung jawab, Samuel justru meninggalkannya karena tak berani melawan orang tuanya dan memilih wanita dari perjodohan keluarga.
Hamil sendirian, Diana berusaha bangkit demi anaknya, hingga seorang CEO dingin perlahan hadir dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reyhan Althar

Beberapa bulan berlalu, hari kelahiran Diana semakin dekat. Sejak satu bulan yang lalu ia sudah mengambil cuti. Untungnya ia memiliki atasan seperti Rosa yang sangat pengertian padanya.

Selama masa cuti, Diana lebih banyak beristirahat di rumah dan melakukan aktivitas ringan saja.

Soal Niel, pria itu tetap hadir dengan perhatiannya. Sesekali membawakan makanan secara tiba-tiba, atau mengajaknya berjalan sore dengan alasan sederhana yang selalu terdengar seperti kebetulan. Entah kenapa, Diana pun sering kali tidak menolak.

Sore ini, Diana duduk di halaman rumah sambil mengelus perutnya, menikmati udara sore yang tenang.

“Sudah delapan bulan berlalu aku di sini…”

Diana menghela napas pelan, tangannya masih setia mengusap perut yang kini semakin membesar.

Angin sore menyapu lembut halaman rumah, membuat beberapa helai rambutnya bergerak pelan. Suasana terasa tenang, terlalu tenang hingga membuat pikirannya ikut melambat.

Diana menatap langit pelan. “Terima kasih ya, Tuhan,” lirihnya.

Ia benar-benar bersyukur setelah melewati banyak kejadian pahit yang pernah membuatnya meninggalkan kota kelahirannya yang tak pernah ia dambakan. Kini, hidupnya terasa perlahan membaik, seolah Tuhan menggantinya dengan sesuatu yang lebih layak.

Pekerjaan yang stabil, rekan kerja yang baik, dan satu nama yang tanpa sadar sering muncul di pikirannya.

Nathaniel De Luca.

Diana menunduk sedikit, lalu tanpa sadar tersenyum tipis.

“Kenapa dia selalu ada di saat yang nggak aku duga…” lirihnya.

Matahari hampir terbenam, berganti dengan cahaya senja yang semakin redup. Diana perlahan beranjak dari duduknya, namun tiba-tiba perutnya terasa mulas.

“Aduh…” ia refleks memegangi perutnya.

“Sayang… apa kamu sudah ingin melihat dunia ini?” gumamnya sambil menahan rasa sakit yang mulai meningkat.

Ia mencoba berjalan pelan masuk ke dalam rumah, berniat segera menghubungi Kartika.

Namun semakin lama, rasa sakit itu semakin kuat, membuat langkahnya terasa berat dan kaku.

“Ya Tuhan… kuatkan aku…” lirihnya menahan nyeri yang semakin menjadi.

Diana mempercepat langkahnya, tapi setiap detik justru terasa semakin berat. Napasnya mulai tidak beraturan, keringat dingin muncul di pelipisnya.

“Ya Tuhan…” lirihnya sambil berpegangan pada dinding. “Ibu Tika… aku harus menghubunginya...”

Namun sebelum ia sempat meraih ponselnya, dari arah gerbang terdengar suara langkah cepat.

“Diana!”

Suara itu membuatnya langsung menoleh.

“Niel…”

Pria itu datang bersama Dion dengan langkah besar dan ekspresi yang langsung berubah saat melihat kondisi Diana.

“Sudah mulai?” tanya Niel cepat, matanya turun ke perut Diana yang tampak menegang.

Diana hanya mengangguk lemah. “Sa… sakit…”

Tanpa banyak bicara lagi, Niel langsung melangkah dan mengangkat tubuh Diana dengan sigap.

“Eh—Niel…” Diana terkejut, refleks memegang bahunya.

“Jangan banyak gerak,” ucap Niel singkat, tapi suaranya terdengar tegang.

Dion sudah berlari lebih dulu ke arah rumah. “Gue ambil tasnya!”

Niel membawa Diana keluar dengan cepat menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah. Dion menyusul sambil membawa tas perlengkapan yang sebelumnya sudah disiapkan Diana.

Pintu mobil terbuka.

Diana dibaringkan hati-hati di kursi belakang. Wajahnya sudah pucat, napasnya terputus-putus.

Di dalam mobil, Niel langsung duduk di sampingnya tanpa ragu. Tangannya refleks menggenggam tangan Diana, lalu berpindah mengusap perutnya dengan lembut.

“Sakit…” suara Diana bergetar, matanya berkaca-kaca.

Niel menatapnya, rahangnya mengeras, tapi tangannya justru semakin hati-hati mengelus perut Diana.

“Bertahan sedikit lagi,” ucapnya pelan, lebih tenang dari ekspresinya.

Dari kursi depan, Dion sudah menyalakan mesin dan langsung tancap gas.

“Dion, cepat!” suara Niel naik satu nada, tegas dan tanpa kompromi.

Dion mengangguk cepat. “Gue udah ngebut ini!”

Mobil melaju membelah jalan sore yang mulai gelap, sementara di dalamnya hanya terdengar napas berat Diana yang menahan rasa sakit, dan tangan Niel yang tak pernah lepas dari genggamannya.

Mobil berhenti mendadak tepat di depan IGD rumah sakit.

Dion cepat membuka pintu.

Niel langsung turun lebih dulu, tanpa menunggu siapa pun. Ia mengangkat Diana dengan hati-hati namun cepat, sementara wajah Diana sudah semakin pucat menahan kontraksi yang makin kuat.

“Ah… sakit…” lirih Diana, tangannya mencengkeram baju Niel kuat-kuat.

“Sebentar lagi,” ucap Niel singkat, tapi suaranya terdengar jauh lebih tegang dari biasanya.

Begitu masuk ke IGD, perawat langsung berlarian menghampiri.

“Pasien mau melahirkan!” teriak salah satu perawat.

Brankar segera didorong mendekat. Niel menurunkan Diana perlahan, lalu berjalan cepat di samping brankar hingga ke pintu ruangan tindakan.

Di dalam ruangan, dokter yang sudah bersiap langsung bertanya cepat, “Suaminya di mana? Kami butuh pendamping untuk memberikan dukungan emosional.”

Ruangan sejenak hening.

Niel berdiri di sisi pintu, lalu tanpa ragu mengangkat tangan.

“Saya calon suaminya.”

Perawat yang berdiri di dekatnya langsung tertegun sejenak. Namun tatapan dingin Niel yang begitu serius membuat mereka tidak berani membantah.

“Baik… silakan masuk,” ucap perawat akhirnya.

Niel langsung melangkah masuk tanpa menunggu lagi.

Di belakangnya, Dion berdiri di lorong IGD, menyipitkan mata.

“Calon suami…” gumamnya pelan, lalu mendengus. “Dasar… cari kesempatan.”

Namun tak lama, suasana bercanda itu hilang begitu saja saat suara Diana terdengar dari dalam ruang tindakan, menahan sakit yang semakin kuat.

——

Beberapa menit kemudian, Kartika datang dengan wajah panik.

“Diana mana?!” tanyanya langsung.

Dion menunjuk ke arah ruang tindakan. “Lagi proses, Bu.”

Tak lama setelah itu, Rosa menyusul, lalu Puspa dan Tiara datang hampir bersamaan. Wajah mereka semua tegang, cemas, dan tidak bisa diam.

“Ya Tuhan… semoga lancar…” lirih Kartika sambil meremas tangannya sendiri.

Rosa menghela napas dalam. “Dia kuat. Diana pasti bisa.”

Tiara mondar-mandir tidak sabar. “Kenapa lama banget sih… aku deg-degan.”

Puspa hanya duduk diam, menatap pintu ruang bersalin tanpa berkedip.

Di dalam ruangan—

Suara alat medis, instruksi dokter, dan napas tertahan Diana bercampur menjadi satu.

“Dorong lagi, Bu Diana… sedikit lagi…” suara dokter terdengar tegas namun menenangkan.

Niel berdiri di sampingnya, menggenggam tangan Diana erat. Wajahnya tetap dingin, tapi matanya jelas tidak tenang.

“Kamu bisa,” ucapnya pelan. “Tahan sedikit lagi.”

Diana menangis sambil mengangguk lemah. “Niel… aku takut…”

“Lihat aku,” kata Niel singkat.

Diana menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Aku di sini,” lanjut Niel. “Kamu nggak sendirian.”

Ruangan kembali dipenuhi ketegangan.

Dan detik berikutnya… tangisan pertama bayi akhirnya terdengar dari dalam ruangan.

“Oek… oek…”

Diana menatap ke arah dokter yang mengangkat bayi itu dengan hati-hati. Air matanya langsung jatuh tanpa bisa ditahan lagi.

“Selamat, Bu. Anda dikaruniai seorang bayi laki-laki.”

“Anak laki-laki…” gumamnya pelan, seolah masih tidak percaya.

Dokter tersenyum. “Bayinya sehat.”

Niel menoleh ke arah bayi itu, lalu kembali menatap Diana. Tangannya masih menggenggam tangan Diana erat, seolah takut kehilangan momen itu sedikit pun.

“Kamu dengar?” ucapnya pelan. “Dia sudah lahir.”

Diana mengangguk lemah sambil menangis. “Aku… nggak nyangka…”

“Sudah,” ucap Niel pelan, tapi suaranya jauh lebih lembut dari biasanya. “Kamu sudah melakukan yang terbaik.”

Tak lama, perawat membawa bayi itu mendekat. Dibungkus kain hangat, wajah kecilnya masih merah dan baru membuka mata sesekali.

Air nata Diana langsung jatuh lebih deras saat melihatnya.

“Itu… anakku…” suaranya bergetar.

Perawat tersenyum. “Iya, Bu. Mau digendong sebentar?”

Diana langsung mengangguk cepat, meski tangannya masih lemah.

Perawat meletakkan bayi itu ke pelukannya dengan hati-hati.

Begitu bayi itu berada di dadanya, Diana langsung terdiam.

Semua rasa sakit, lelah, dan takut tadi seperti perlahan hilang tergantikan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

“Dia kecil sekali…” lirihnya sambil tersenyum sambil menangis.

Niel menatap pemandangan itu lama. Ada sesuatu di matanya yang sulit dibaca—tenang, tapi dalam.

“Dia mirip kamu,” ucap Niel pelan.

Diana langsung menoleh. “Hah?”

“Matanya,” lanjut Niel singkat.

Diana tertawa kecil di sela tangisnya. “Masa sih…”

Niel tidak menjawab lagi. Tapi pandangannya tidak lepas dari bayi itu.

Di luar ruangan—

“YA TUHAN…” suara Tiara langsung pecah saat terdengar tangisan bayi dari dalam. Ia spontan menutup mulutnya, matanya langsung berkaca-kaca. “Dia lahir… dia lahir, kan?!”

Rosa menghela napas panjang, lalu tersenyum lega. “Terima kasih, ya Tuhan…”

Puspa ikut memejamkan mata sebentar. “Syukurlah…”

Kartika menatap pintu ruang tindakan dengan tangan gemetar, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Diana…” lirihnya penuh haru.

Dion yang berdiri di samping hanya menghembuskan napas pelan, lalu menatap ke arah lain agar tidak terlihat terlalu terharu. “Akhirnya…”

Tak lama kemudian, pintu ruang tindakan terbuka.

Seorang dokter keluar lebih dulu, diikuti perawat di belakangnya. Semua langsung berdiri serempak.

“Dokter!” Kartika langsung melangkah maju. “Bagaimana keadaan Diana?!”

Dokter melepas masker sambil tersenyum tenang. “Ibu dan bayinya dalam keadaan baik dan stabil.”

Mendengar itu, Kartika langsung menutup mulutnya, air matanya jatuh deras. “Ya Tuhan… syukurlah…”

Rosa mengangguk pelan sambil mengusap sudut matanya. “Terima kasih, Dok…”

“Bayi sudah lahir dengan selamat,” lanjut dokter. “Ibu sekarang sedang dalam pemulihan. Tapi untuk sementara masih butuh istirahat.”

Kartika langsung mengangkat tangan sedikit, suaranya bergetar. “Dok… kami boleh masuk?”

Dokter mengangguk. “Boleh, tapi jangan terlalu ramai ya. Kondisinya masih lemah.”

“Baik, Dok… terima kasih banyak…”

Tanpa menunggu lama, Kartika langsung melangkah masuk pertama, diikuti Rosa, Puspa, dan Tiara. Dion menyusul di belakang sambil menghela napas kecil.

Di dalam ruangan, suasana yang tadi hening kini berubah hangat oleh kehadiran mereka.

Pintu terbuka.

“Ya Tuhan…” Kartika langsung menutup mulutnya haru saat melihat Diana dan bayi di pelukannya. “Kamu sekarang sudah menjadi Ibu, Nak.”

Diana mengangguk sambil menangis. “Iya, Bu…”

Kartika langsung mendekat, matanya basah. “Selamat ya Nak…”

Ruangan yang tadi tegang langsung berubah jadi penuh haru.

“Wah… akhirnya!” Tiara langsung menepuk pelan bahu Dion yang ikut masuk di belakang. “Selamat ya, Na!”

Puspa tersenyum sambil menatap bayi itu. “Lucu sekali…”

Rosa menghela napas lega. “Kamu hebat, Diana.”

Di tengah semua itu, Niel tetap berdiri di samping tempat tidur. Diam, tapi tidak pergi.

Dion menyenggol pelan bahunya sambil berbisik, “Lo nggak mau keluar dulu? Biar keluarga…”

Niel meliriknya singkat. “Gue di sini.”

Dion mendengus kecil. “Iya, iya… calon suami paling siaga.”

Niel tidak menanggapi.

Matanya kembali ke Diana yang sedang memeluk bayinya dengan senyum dan air mata yang belum berhenti.

Dan untuk pertama kalinya, ruangan itu terasa benar-benar hangat.

“Diana, kamu sudah menyiapkan nama untuknya?” ucap Rosa sambil menatap bayi lucu yang kini digendongnya.

Diana menggeleng pelan. “Belum, Bu,” jawabnya lirih.

“Bolehkah aku memberinya nama?”

Ruangan itu langsung hening sesaat.

Semua mata tertuju pada Niel yang berdiri di sisi ranjang, wajahnya tetap tenang seperti biasa, namun ada sesuatu yang berbeda di sorot matanya—lebih dalam dan lebih serius.

Dion langsung menyenggol pelan lengannya. “Serius lo?”

Niel tidak menoleh. “Iya.”

Kartika saling pandang dengan Rosa, lalu menatap Diana dengan lembut. “Terserah Diana saja…”

Tiara langsung menahan napas, penasaran. “Wah… ini bakal jadi momen penting nih…”

Diana tersenyum tipis. “Boleh saja.”

Niel mendekat ke arah Rosa, menatap bayi mungil itu dengan tatapan yang dalam dan tenang.

“Reyhan Althar,” ucapnya pelan namun tegas.

Semua orang yang mendengar nama itu terdiam sejenak, seolah menahan napas.

“Lahir untuk menenangkan dunia yang pernah keras bagi ibunya,” lanjut Niel dengan suara lebih pelan.

1
Adriana Bora
sangat2 bagus
Prafti Handayani
Lanjut thor..Gass tross....
Nona Jmn: Besok ya kak😋😍
total 1 replies
Prafti Handayani
Thor di tunggu lanjutannya...
Nona Jmn: Besok ya kak😋😍
total 1 replies
Prafti Handayani
FIX istrimu Pelacur Samm...
Selamat menikmati kesengsaraanmu...
SELAMANYA!!!
Prafti Handayani
Calon suami dan Daddy buat Diana dan Debay.Mudah"an pria ini lebih berkuasa dri kel Samuel dan Citra.Biar Diana bs bls dendam.Dan calin Daddy bs melindungi Diana dan Debay slmnya.Niar debay nti gag bs diambil alih sm samuel dan keluarganya saat nti tau sam dan citra gag bs punya anak.
Mpusss...
Lia Rahmawati
katanya si Diana pergi jauh,tapi ko toko rotinya Deket sama toko rotinya yang punya si jahat?
Nona Jmn
Hai, kak. Akhirnya mampir di novel baruku😋😍
tia
jahat banget iren ,,makany toko u sepi
tia
semoga karma menghampir u Samuel sekuritas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!