🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.
Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.
"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."
Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.
Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?
Yuk, cari jawabannya di sini 🍀
°°°°°°°°
Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31. Hinaan dari seorang perempuan untuk perempuan.
Matahari mulai menunjukkan eksistensinya, cahayanya menyapu kegelapan. Sinarnya hangat mencubit kulit, angin pagi menerpa dedaunan, rumput dan bahkan anak rambut Galang yang saat ini tengah berdiri sembari menatap buah-buah mangga di atas pohonnya.
Pagi itu Galang masih memakai kaus rumahan dipadu padankan dengan sarung seraya melipat kedua tangannya di dada. Netranya terus menatap beberapa buah mangga yang mulai menguning di antara dedaunan hijau.
Sebagian mangga terlihat mulus, namun ada beberapa yang bagian ujungnya sudah bolong dimakan kelelawar semalam. Galang mendecak lidahnya pelan. kalau dibiarkan seminggu lagi, buah-buah itu akan habis sebelum sempat di petik.
Ia sempat berpikir meminta Pak Ujang memanjat pohon nanti sore.
Tiba-tiba saja suara besi pagar rumah yang dibuka kasar membuat lamunannya buyar.
BRAK!
Galang menoleh ke arah sumber suara, keningnya terlihat berkerut saat netranya melihat Sekar yang membuka paksa pagar itu itu.
Sekar membuka pagar rumah lalu masuk dengan langkah tergesa. Perempuan itu bahkan nyaris tersandung sandalnya sendiri saat melewati halaman. Napasnya tampak memburu tak beraturan. Wajahnya menunduk, namun Galang sempat menangkap sesuatu yang membuat otaknya bertanya.
Mata gadis itu memerah, ada air yang menggantung di pelupuk matanya.
"Sekar." Panggilnya.
Akan tetapi Sekar sama sekali tidak memperdulikan panggilan darinya. Gadis itu tetap melangkah cepat menuju pintu rumah, setelah terbuka pintu itu di tutup keras sehingga gorden tipis di jendela ruang tamu bergerak oleh angin yang diciptakan gerakan kasar dari pintu rumah.
BRAK!
Galang memperhatikan dalam diam, namun rahangnya tampak mengeras.
Beberapa terakhir, ia memang kembali menarik dirinya jauh-jauh dari Sekar. Pesan singkat dari temannya Sekar dari Bandung waktu itu terus mengusik pikirannya.
Faktanya, Arif masih mencari Sekar sampai sekarang. Bahkan pria bernama Arif yang katanya teman lama dari Jakarta itu kini bekerja di rumah sakit bersamanya, setiap kali operasi ia sering bertemu di meja operasi, namun Arif tetap tertutup soal istrinya. Arif tidak pernah menanyakan Sekar kepadanya bahkan saat mereka kembali bertemu di rumah mereka dalam perjamuan sore itu.
Kalimat dari Anya sampai saat ini menjadi racun yang diam-diam menggerogoti sesuatu di dalam dirinya.
Galang membenci kenyataan bahwa perasaannya mulai berubah beberapa Minggu lalu. Ia mulai terbiasa mendengar langkah Sekar di rumah, mulai terbiasa melihat perempuan bertubuh semampai itu menyiapkan kopi dan sarapan pagi. Bahkan keberadaan Sekar perlahan terasa mengisi rumah selepas ibunya meninggal dunia.
Dan justru karena itu Galang takut. Ia ketakutan trauma yang pernah ia alami terulang kembali, takut saat cintanya kembali tumbuh subur namun diam-diam orang yang dia suka meninggalkan begitu saja.
Tatapannya masih mengarah pada pintu kayu berwarna coffe brownies itu cukup lama sebelum suara langkah lain terdengar mendekat dari arah jalan depan rumah.
"Sekar! Neng Sekar!"
Galang menoleh ke arah sumber suara.
Netranya menangkap teh Emi, perempuan yang tinggal tak jauh dari rumah mereka itu tampak panik seraya membuka pagar besi. Namun sebelum langkahnya berlanjut, ia menghentikan langkah saat mendapatkan Galang yang berdiri di halaman rumah.
Wajah panik itu kembali semakin terlihat panik, matanya membesar karena terkejut.
"A...A Galang."
Galang menatap datar.
"Ada apa, teh?"
Teh Emi tampak salah tingkah. Tangannya meremas kedua sisi daster yang ia pakai.
Galang melangkah mendekat beberapa langkah. Suaranya tetap rendah dan tenang, tapi ada tekanan samar di baliknya.
"Barusan aku lihat Sekar nangis." Kata Galang memecah ketegangan.
Teh Emi menghela napas pendek. "Aduh...tadi itu...di jalan kampung, Bu Dian."
Galang menatap lawan bicaranya, "kenapa dengan Bu Dian?"
"Tadi Neng Sekar sama teteh kan lagi jalan-jalan bareng di jalan pesawahan," ucapnya pelan. "Terus ada ibu-ibu yang dateng ngobrol soal anak karena Arfan anak teteh ada disana lagi teteh suapin...."
Galang terlihat menunggu.
"Bu Dian tiba-tiba datang dan bertanya ke istrimu. Katanya kapan hamil..."
Rahang Galang perlahan mengeras. Teh Emi tampak ragu melanjutkan, tetapi akhirnya bicara juga.
"Bu Dian bilang... katanya Neng Sekar harus cepat-cepat periksa ke dokter kandungan, siapa tahu Neng Sekar mandul."
Angin pagi tiba-tiba terasa amat sangat dingin. Galang diam di tempat tanpa bergerak sedikit pun, bak boneka porselen yang ada di pajangan toko pakaian. ekspresi lelaki itu tetap datar, namun sorot matanya perlahan berubah gelap.
"Terus katanya..." suara teh Emi makin pelan. "...neng Sekar gak cocok jadi istrinya A Galang."
Suasana di halaman rumah itu mendadak sunyi seketika.
Hanya suara daun mangga yang bergesekan tertiup angin.
Galang menundukkan kepalanya sedikit. Lidahnya menekan bagian dalam pipinya, tangannya perlahan mengepal perlahan di samping tubuhnya.
Entah kenapa, mendengar orang lain menghina Sekar seperti itu membuat sesuatu di dadanya terasa panas.
Padahal bukankah selama ini justru dirinya sendiri yang sering bersikap dingin pada perempuan itu?
Namun ini konteksnya berbeda. Jauh lebih kedalam penghinaan yang Galang yakin semua perempuan akan marah.
"Sekar gak jawab apa-apa?" tanyanya akhirnya.
Teh Emi menggeleng cepat.
"Neng Sekar diem aja...cuma senyum kecil. Tapi pas Bu Dian ngomong soal mandul lagi, mukanya langsung pucet lagi."
Galang mengalihkan pandangannya ke pintu rumah.
Tiba-tiba saja ia teringat banyak hal kecil.
Sekar yang diam-diam memperhatikan anak kecil tetangga bermain di depan rumahnya. Sekar yang selalu tersenyum setiap melihat bayi Teh Indri yang sering di bawa keluar untuk jalan-jalan pagi. Sekar yang berhenti cukup lama di depan toko perlengkapan bayi tanpa sadar.
Dan perempuan itu sekarang harus mendengar ucapan seperti itu dari orang lain. Galang mengembuskan napas panjang.
"Maaf ya, A..." teh Emi tampak tidak enak hati. "Teteh tadi udah berusaha membela Neng Sekar, tapi Bu Dian emang gak bisa di rem kalau ngobrol."
Galang mengangguk pelan. "Ya, tidak apa-apa teh. Kalau begitu, saya masuk ke rumah dulu."
"Yaudah, kalau begitu teteh pulang dulu. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan kasih tahu teteh, akhir-akhir ini Neng Sekar sering ngeluh sakit kepala. Mungkin karena gosip-gosip aneh tentang pernikahan kalian." Ungkap Teh Emi membuat Galang kembali berpikir keras.
Setelah teh Emi berbalik untuk pulang, Galang tetap diam beberapa detik di tempat. Ternyata selama ini para tetangga membicarakan tentang mereka. Tentang Sekar yang mungkin menyakiti hati istrinya.
🍁🍁🍁
Galang akhirnya melangkah menuju rumah. Ia memutar gagang knop pintu dengan gerakan halus, matanya menyapu pandang ke sudut ruangan. Sekar tidak terlihat di ruang tamu ataupun ruang tengah, lalu terdengar suara sesenggukan dari arah kamar Bu Rahman.
Pintu kamar itu tidak tertutup sempurna, ia melihat gadis itu duduk di atas ranjang sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Galang perlahan mendekati istrinya.
"Udah nangisnya?" tanya Galang datar.
Suara berat itu membuat Sekar tersentak dan buru-buru menghapus air matanya cepat dengan punggung tangannya.
"A-aku..."
"Ngapain dengerin omongan orang?"
Nada Galang terdengar dingin.
Dan itu malah membuat tenggorokan Sekar semakin terasa sesak.
"Mulai sekarang kalau ada orang yang ngomongin tentang kita, tentang pernikahan kita gak usah di dengerin. Lagian kenapa sih, kamu akhir-akhir ini sering berkumpul sama ibu-ibu komplek? Aku pikir kamu lebih suka di dalam rumah." Ucap Galang.
Sekar menoleh, menatap laki-laki itu dengan amarah yang di tahan.
🍁🍁🍁
Bersambung...