Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.
Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:
Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati yang Mulai Goyah
Langkah kaki Alya terhenti, tepat di depan pintu perpustakaan pribadi milik Arkan.
Ruangan itu selalu tertutup, sunyi, seolah menjadi tempat yang bahkan para pelayan mansion pun takut masuk.
Namun malam itu, pintunya sedikit terbuka. Cahaya lampu redup keluar dari celah sempit itu, Alya menggenggam nampan teh hangat di tangannya lebih erat.
"Taruh saja di meja luar," kata salah satu pelayan tadi.
Tapi entah kenapa, rasa penasaran mendorongnya mendekat. Perlahan ia mendorong pintu itu, dan untuk pertama kalinya, Alya melihat sisi lain dari diri Arkan Virello.
Pria itu duduk sendirian di sofa kulit hitam dekat rak buku, jas mahalnya tergeletak sembarangan di lantai. Kancing kemejanya terbuka sebagian, memperlihatkan luka memar di bahunya.
Di meja kecil terdapat sebuah pistol, botol alkohol, dan beberapa dokumen yang terdapat bercak darah.
Tatapan Alya melemah, bukan karena takut. Tapi karena Arkan terlihat lelah. Berbeda dari sosok dingin dan mengintimidasi, yang selalu berdiri tegak di hadapan semua orang.
Malam ini, untuk pertama kalinya, pria itu tampak seperti manusia biasa. Arkan mengangkat wajahnya pelan, tatapan tajam mereka bertemu.
"Aku tidak memanggilmu untuk datang," ucap Arkan dingin.
"Aku hanya mengantar teh untukmu."
"Taruh saja, lalu segera pergi."
Alya melangkah masuk, ia menaruh nampan di meja. Lalu tanpa sadar, matanya kembali tertuju pada luka di bahu Arkan.
"Lukanya cukup dalam, jadi itu harus aku bersihkan."
"Aku tidak butuh bantuanmu."
Namun kali ini, Alya tidak mundur seperti biasanya. Entah sejak kapan, rasa takutnya pada Arkan mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit.
Pria itu tetap menakutkan, tetap dingin, tetap berbahaya. Tapi di balik semua itu, ada luka yang tidak pernah terjadi ia tunjukkan kepada siapa pun.
Alya mengambil kotak P3K kecil di meja samping tanpa izin, dan Arkan menatapnya tajam.
"Kamu mulai berani melawanku?"
Alya duduk di hadapannya tanpa menghiraukan ucapan Arkan. "Kalau Tuan ingin marah, silahkan nanti saja setelah lukanya dibersihkan."
Arkan terdiam, kalimat itu terdengar sederhana, tapi cukup membuat suasana berubah aneh.
Karena tidak ada seorang pun yang pernah berbicara padanya seperti itu.
Semua takut, semua tunduk, dan semua orang gemetar saat menatap Arkan Virello.
Tapi Alya tidak, gadis itu justru mendekat ketika semua orang memilih menjauh. Perlahan Alya membersihkan luka di bahunya dengan kapas alkohol, dan Arkan sedikit meringis.
"Diamlah," gumam Alya pelan.
Arkan mengangkat alisnya, "Apa kamu sedang menyuruhku?"
"Kalau terus bergerak, lukanya tidak akan selesai dibersihkan."
Anehnya, Arkan benar-benar diam. Tatapan pria itu tidak lepas dari wajah Alya, aroma lembut tubuh gadis itu memenuhi ruang sempit di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arkan merasa tegang. Perasaan asing yang membuat dadanya sesak.
Alya terlalu fokus membersihkan luka, hingga tidak sadar Arkan terus menatapnya.
"Kamu tidak takut padaku?"
Alya menatap Arkan, "Sebenarnya aku takut."
"Lalu kenapa kamu tetap berada di sini?"
Alya terdiam beberapa detik, karena ia sendiri tidak tahu jawabannya. Mungkin karena rasa penasaran, atau mungkin karena hatinya mulai goyah sedikit demi sedikit.
"Aku hanya tidak suka saat melihat orang terluka," jawab Alya pelan.
Arkan tertawa sinis, "Kalau begitu kamu salah karena sudah masuk ke dalam hidupku, Alya."
Tatapan mereka bertemu.
"Kehidupanku penuh dengan darah," lanjut Arkan.
"Aku juga tahu itu."
"Dan suatu hari nanti, darah itu bisa saja menyeretmu untuk ikut tenggelam."
Alya menggenggam perban di tangannya erat, "Kalau memang itu terjadi, bukankah aku sudah terjebak sejak menikah denganmu?"
Ruangan mendadak sunyi, kalimat itu terasa seperti sebuah tamparan bagi Arkan.
Karena untuk pertama kalinya, Alya mengakui kenyataan pahit mereka tanpa tangisan, tanpa protes apa pun.
Arkan menatap wajah gadis itu lama, semakin lama, semakin dalam, dan itu sangat berbahaya.
Karena Arkan mulai merasa kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
"Alya," ucap Arkan rendah.
"Ya?"
"Jangan menatapku seperti itu."
Alya mengernyit bingung, "Seperti apa?"
"Seolah kamu bisa memperbaiki sisi rusakku."
Jantung Alya berdetak aneh, tatapan Arkan malam itu terasa berbeda. Tidak sedingin bisanya, ada sesuatu yang gelap namun terlihat rapuh.
Tangan Arkan perlahan terangkat, menyentuh ujung rambut Alya yang jatuh di pipinya.
Gerakannya pelan, lembut, dan justru itu yang membuat Alya semakin gugup. Tubuhnya menegang, napasnya berubah tidak teratur.
"A-Arkan..."
Kali ini Alya memanggil nama pria itu tanpa gelar, dan Arkan menyadari hal itu.
Tatapan pria itu langsung berubah dalam, "Sebut namaku sekali kali."
Alya langsung sadar akan kesalahannya, "A-aku tidak sengaja."
"Sebut namaku sekali lagi, Alya."
Suara Arkan terdengar berat dan menekan, namun kali ini bukan ancaman. Melainkan ada rasa keinginan dalam diri Arkan.
Alya merasa gugup, "Arkan."
Detik berikutnya, Arkan menarik tubuh Alya mendekat. Tubuh gadis itu langsung jatuh tepat di pangkuannya.
Mata Alya melebar, "A-Arkan! Apa yang..."
"Sssstttt..."
Lengan besar pria itu melingkar erat di pinggangnya, "Aku hanya ingin diam seperti ini sebentar."
Jantung Alya berdegup semakin keras, ia bisa saja memberontak, bisa menjauh. Namun tubuhnya justru membeku saat merasakan hangat pelukan Arkan.
Untuk pertama kalinya, pelukan itu tidak terasa seperti kurungan. Melainkan tempat berlindung.
Dan Alya membenci kenyataan itu, karena semakin ua melihat sisi lain Arkan, semakin sulit ia mempertahankan kebenciannya.
"Alya."
"Hmm?"
"Kali suatu hari nanti kamu tahu siapa aku yang sebenarnya," ucap Arkan dengan tatapan gelap. "Maka jangan pernah berharap bahwa kamu bisa pergi dariku."
Kalimat itu terdengar seperti ancaman, namun juga terdengar seperti sebuah pengakuan paling jujur, yang pernah keluar dari mulut Arkan Virello.
Pria itu tidak sedang meminta Alya untuk tetap tinggal, ia sedang memperingatkan dirinya sendiri, bahwa ia mulai tidak ingin melepaskan gadis itu lagi.
Alya perlahan menatap wajah Arkan dari jarak sangat dekat,bdan kali ini ia melihat kesepian di mata pria itu.
Kesepian yang selama ini tersembunyi di balik kekuasaan, kemarahan, dan dinginnya dunia mafia.
Tanpa sadar, tangan Alya bergerak menyentuh wajahnya. Arkan langsung membeku, tak ada seorang pun yang pernah menyentuhnya selembut itu.
Tatapan mereka saling mengunci, napas keduanya bercampur dalan keheningan malam.
Dan di detik itulah, hati Alya mulai benar-benar goyah. Bukan karena takut, bukan karena terpaksa, melainkan karena perlahan ia mulai melihat manusia di balik monster bernama Arkan Virello.