NovelToon NovelToon
Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Komedi
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Mi

Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 32 Perhatian yang tidak Bisa di Anggap Biasa

Selasa pagi.

Pukul enam lewat dua puluh menit.

Dan untuk kedua kalinya dalam dua hari—

Rania Azarina mengambil keputusan yang sangat dewasa.

Kabur.

Karena setelah obrolan basement semalam—

setelah:

“…Saya nggak suka kamu ngejauhin saya lagi.”

dan tatapan Gavin yang terlalu jujur—

Rania memutuskan satu hal:

Butuh jarak.

Sedikit.

Demi kesehatan mental.

Demi stabilitas jantung.

Demi mengingat:

ini kontrak.

Jadi—

hari ini strategi baru.

Bangun lebih pagi.

Pergi sebelum Gavin siap interogasi emosional.

Simple.

Mudah.

Harusnya.

Sayangnya—

takdir jelas membencinya.

Karena saat Rania keluar kamar—

Gavin sudah siap.

Sudah mandi.

Sudah rapi.

Sudah membuat kopi.

Dan—

yang paling menyebalkan—

sudah menunggu.

Seolah memang sengaja.

Membuat hidupnya terasa terlalu tidak aman.

“…Pagi.”

Pendek.

Normal.

Terlalu normal.

Dan entah kenapa—

itu lebih mengganggu.

“…Pagi,” jawab Rania cepat.

Sudah siap ambil tas.

Sudah siap kabur.

Lalu—

“Sarapan dulu.”

Langkah Rania terhenti.

“Hah?”

Gavin menunjuk meja makan kecil.

Roti panggang.

Telur.

Dan—

kopi.

Yang—

esnya sedikit.

Persis seperti yang dia suka.

Natural sekali.

Seolah itu biasa.

Seolah memang sudah otomatis.

“…Aku bisa makan di kantor.”

“Kemarin juga bilang gitu.”

Pendek.

Santai.

“Ternyata cuma kopi.”

Ketahuan nasional.

Rania diam.

Karena—

cara Gavin bicara sekarang berbeda.

Lebih natural.

Lebih—

seperti suami sungguhan.

Dan yang lebih bahaya—

dia seperti tidak sadar.

Tidak sadar kalau perhatian kecil beginian—

berbahaya.

Sangat berbahaya.

Tatapan pria itu terangkat.

Berhenti tepat di wajahnya.

Diam dua detik.

Lalu—

kalimat itu keluar begitu saja.

Nada rendah.

Tenang.

Tapi terlalu langsung.

“Hari ini jangan ngindar lagi.”

Boom.

Apa?

Rania membeku.

Sebentar.

Karena—

tidak ada marah.

Tidak dingin.

Tidak menyudutkan.

Cuma—

terdengar seperti seseorang yang benar-benar tidak nyaman ditinggal jauh.

“Aku nggak menghindar,” jawabnya cepat.

Bohong nasional jilid dua.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah kontrak—

Gavin Mahendra merasa…

kesal.

Bukan karena kerjaan.

Bukan karena rapat.

Bukan karena Theo hampir membunuh timeline proyek lagi.

Tapi—

karena istrinya.

Yang sejak kemarin—

jelas-jelas menghindar.

Dan Gavin tidak suka itu.

Sangat tidak suka.

Tatapan Gavin tetap tenang.

Gavin menggeser satu gelas kopi ke arahnya.

Less ice.

Favoritnya.

Refleks lagi.

“…Saya ngerti kamu mungkin nggak nyaman.”

Nada rendah.

Lebih hati-hati sekarang.

“Tapi jangan mendadak menghindar.”

Tatapannya turun sedikit.

“…Saya belum biasa.”

Deg.

Rania membeku.

Oh.

Bagus.

Jam enam pagi—

dan jantung sudah kehilangan profesionalitas.

Rania duduk perlahan.

Karena—

kenapa kalimat sesimpel itu harus terasa begitu personal?

Seperti—

keberadaannya memang sudah jadi kebiasaan.

Dan bagian paling menyebalkan dari semua ini— dia mulai merasa nyaman.

Di kantor.

Jam sembilan pagi.

Dan rumor kantor—

BELUM MATI.

Malah berkembang.

Parah.

Semalaman grup kantor ternyata tidak tidur.

Foto Kevin berkembang jadi teori konspirasi nasional.

Karena—

pagi itu grup kantor penuh dengan polling absurd: Apakah Direktur Kita Sudah Jatuh Cinta?

Tidak profesional.

Sangat tidak profesional.

Nisa masuk ruang kerja sambil menahan tawa.

“…Bu.”

Rania langsung curiga.

“Apa lagi?”

Nisa menunjukkan layar HP.

Dan—

Rania langsung ingin resign.

“Kenapa ada polling?!”

Nisa tertawa kecil.

“Kevin bilang demi riset budaya perusahaan.”

Kurang ajar.

Sangat kurang ajar.

Meeting pagi.

Ruangan penuh.

Orang stres.

Project kacau.

Theo sudah hampir membenci hidup.

Normal.

Namun—

yang tidak normal—

adalah Gavin.

Karena sejak masuk ruangan—

tatapannya beberapa kali berhenti ke Rania.

Seolah memastikan sesuatu.

Dan—

lebih parah—

Rania sadar.

Sangat sadar.

Yang otomatis bikin dirinya jadi salah tingkah.

Namun—

bagian paling menyebalkan?

Mereka ternyata buruk sekali dalam menjaga jarak.

Contoh pertama.

Meeting dua jam.

Rania terlalu fokus.

Lupa minum.

Dan tanpa sadar—

gelas air tiba-tiba sudah ada di depannya.

“Minum.”

Suara Gavin.

Pendek.

Refleks.

Natural.

Rania diam.

Contoh kedua.

Rania terlalu lama lihat layar.

Mengucek pelipis kecil.

Capek.

Tanpa lihat—

Gavin refleks bicara:

“Obat migrain kamu biasanya di tas depan.”

Boom.

Sunyi.

Ruangan membeku.

Theo perlahan menoleh.

Nisa berkedip.

Kevin menutup laptop.

Pelan.

“…Pak.”

Nada pelan.

Takut.

“Ini udah level suami hafal isi tas istri.”

Rania membeku.

“…Bu Rania?”

Theo memanggil.

Rania tersentak.

“Hah?”

“Kita bahas legal clause.”

Oh.

Bagus.

Malu nasional.

Kevin langsung menyipit.

Pelan.

Berbisik ke Nisa:

“Ini bukan vibes orang kontrak.”

“Saya tahu,” balas Nisa.

“Saya tinggal nunggu salah satu panik.”

Dua jam kemudian.

Rania baru keluar dari ruang meeting kecil.

Capek.

Belum makan.

Belum sempat minum.

Dan—

langsung berhenti.

Karena di meja kerjanya—

ada paper bag.

Dari restoran favoritnya.

Lengkap.

Makanan non pedas.

Jus.

Vitamin.

Dan sticky note kecil.

Tulisan rapi.

Makan. Jangan ngopi doang. — G

Boom.

Oh.

Kurang ajar.

Kenapa harus begitu?

Kenapa harus perhatian?

Kenapa harus inget?

Kenapa harus—

Kevin muncul.

Tentu saja.

Karena iblis tidak pernah tidur.

“OHHHH!”

Menunjuk paper bag.

“Pak Gavin ngirimin makanan!”

“Kevin, pergi.”

“Saya cuma mau bilang—”

Nada terharu nasional.

“Kalau ini kontrak, saya mau kontrak juga.”

Rania langsung menutup sticky note.

Terlalu cepat.

“Diam.”

Namun—

pipinya sudah terlalu hangat.

Dan itu memalukan.

Jam dua siang.

Lift kantor.

Sepi.

Cuma berdua.

Karena semesta jelas suka bikin masalah.

Sunyi.

Lalu—

Gavin bicara duluan.

“…Udah makan?”

Refleks.

Sama seperti biasa.

Rania mengangguk kecil.

“Udah.”

Tatapan Gavin turun.

Ke paper bag yang masih dia pegang.

“…Beneran?”

Ketahuan.

Lagi.

Rania mendecak kecil.

“Kamu tuh rese.”

Dan—

untuk pertama kalinya sejak kemarin—

sudut bibir Gavin naik sedikit.

Kecil.

Hampir tidak kelihatan.

“…Berarti udah agak normal.”

Boom.

Apa?

Lift terasa terlalu kecil sekarang.

Karena—

cara dia ngomong—

seolah benar-benar sempat khawatir.

Seolah—

jarak kemarin beneran mengganggu dia.

Pintu lift terbuka.

Namun—

sebelum Rania keluar—

suara Gavin berhentiin langkahnya.

Pelan.

Tidak keras.

Tapi cukup bikin jantung salah fungsi.

“…Rania.”

Ia menoleh.

Tatapan Gavin tetap tenang.

Tapi—

lebih jujur dari biasanya.

“…Kalau ada masalah soal kita— jangan langsung menjauh.”

Jeda.

“…minimal bicara.”

Boom.

Sunyi.

Karena—

kalimat itu terasa terlalu dekat.

Terlalu seperti pasangan sungguhan.

Dan paling bahaya—

Rania tidak langsung bisa nolak.

Karena—

untuk pertama kalinya—

ia mulai sadar:

yang bikin takut bukan rumor kantor.

Tapi fakta bahwa—

semakin hari—

Gavin terasa semakin seperti rumah.

Dan itu—

harusnya tidak masuk isi kontrak.

Sore hari.

Kantor mulai sepi.

Langit mulai gelap.

Rania lewat ruang Gavin.

Pintu sedikit terbuka.

Dan—

pria itu masih kerja.

Laptop menyala.

Kopi tinggal setengah.

Raut wajah capek.

Sedikit pucat.

Dan—

anehnya—

sesuatu di dada Rania terasa salah.

Refleks.

Ketuk pintu.

“Udah makan?”

Boom.

Sunyi kecil.

Karena—

nadanya terlalu lembut.

Terlalu perhatian.

Bahkan buat dirinya sendiri.

Gavin mengangkat kepala.

Sedikit kaget.

“…Belum.”

Rania langsung menghela napas.

Kesal.

“Kamu tuh—”

Berhenti.

Karena—

kenapa dia ngomel kayak pasangan?

Akhirnya cuma:

“…jangan kebiasaan.”

Lalu naruh sandwich di meja.

“Dimakan.”

Sunyi kecil.

Gavin melihat makanan itu.

Lalu—

pelan.

Tatapan naik ke wajah Rania.

Lebih lembut sekarang.

“…Kamu masih perhatian.”

Boom.

Bahaya.

Bahaya besar.

Rania langsung memalingkan muka.

“Aku cuma nggak mau kerjaan numpuk kalau kamu sakit.”

Bohong setengah.

Tatapan Gavin tidak pindah.

Lalu—

senyum kecil.

Tipis sekali.

“…Tetep aja.”

Boom.

Bagus.

Sekarang malah makin susah napas.

Malam.

Apartemen sepi.

Tidak ada Mama Ratna.

Tidak ada ancaman cucu.

Tidak ada Kevin.

Cuma—

mereka.

Dan lelah.

Rania awalnya cuma duduk sebentar di sofa.

Nunggu rambut kering.

Lalu—

tanpa sadar—

ketiduran.

Hampir satu jam kemudian—

Gavin keluar ruang kerja.

Langkah pelan berhenti.

Karena—

Rania tertidur di sofa.

Masih pakai hoodie rumah.

Posisi meringkuk kecil.

TV masih menyala pelan.

Diam.

Beberapa detik.

Lalu—

entah refleks atau apa—

Gavin mengambil selimut.

Pelan.

Menyelimutinya.

Hati-hati sekali.

Takut bangun.

Tatapannya berhenti terlalu lama.

Ke wajah Rania.

Yang—

akhir-akhir ini—

terlalu sering ada di kepalanya.

Terlalu sering dicari.

Terlalu sering dipikirin.

Dan—

untuk pertama kalinya—

rasanya aneh saat dia menjauh.

Tidak nyaman.

Tidak suka.

Pelan.

Nyaris berbisik.

Seolah lebih ke dirinya sendiri—

“…Jangan menjauhi lagi.”

Sunyi.

Dan tanpa Gavin sadar—

jari Rania bergerak kecil.

Menggenggam ujung selimut..

Ia tidak benar-benar tidur. Setengah sadar. Dan samar-samar mendengar suara Gavin.

Dan untuk alasan yang sangat menyebalkan— dadanya terasa terlalu penuh.

1
Evi Yolanda
Thor susulan nya jng LM apa Thor dah gak sabar nunggu saling bucin
MayAyunda
keren kak 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kak 👍
total 1 replies
cynth
Ninggalin jejak 👣
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak
total 1 replies
MayAyunda
keren 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
Sahabat Oleng
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😄
Raihan
mampir juga di novel ku kelas arang nanti kita saling support 🙏
Azandis
Lanjut Thor
Azandis
Wkwkwk...
BDaska
Thor, banyakin update episode nya
Fabio
Lanjut thor
Sahabat Oleng: Siap 👍
total 1 replies
Evi Yolanda
ahhh udah lahhh Thor jd ky penagih utang .. bentar bentar intip dah up date blm
Fatan
Bagus ceritanya
Sahabat Oleng: Makasih kak 👍
total 1 replies
T28J
kak, kok tulisan yang ini beda sama yng sebelah ya 🙏
T28J: beda sama novel kakak yang satu lagi gaya tulisannya
total 2 replies
Evi Yolanda
seru dan buat penasaran setiap babnya
Sahabat Oleng: Makasih kakak 😍
total 1 replies
Raihan
halo kakak izin ayok mampir juga di novel ku "kelas arang"
Raihan
bagus cerita
Wawan
Hadir Rania 😍
cinta
Gavin dan Rania sama-sama lucu. 😂
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.
Sahabat Oleng: Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak 😘
total 1 replies
Susanti Santi
Cerita nya menarik
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!