"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Dibalas Darah
Kabar tentang Pak Surya membuat atmosfer di dalam apartemen aman kami seketika berubah mencekam. Rasa puas karena berhasil meruntuhkan saham Mahendra Group menguap tanpa bekas, digantikan oleh cengkeraman amarah yang begitu pekat di dadaku. Adrian Mahendra benar-benar seekor binatang buas yang terluka—dia mulai menyerang dengan membabi buta menggunakan kekuatan fisiknya yang kotor.
"Zai, kita harus ke rumah sakit sekarang!" seruku sambil menyambar jaket hitam dan membetulkan letak hijab instanku dengan terburu-buru.
"Tunggu, Kirana! Jangan gegabah!" Zaidan menahan lenganku, tatapannya memancarkan kekhawatiran yang mendalam. "Rumah Sakit Bhayangkara tempat Pak Surya dilarikan pasti sudah dipantau oleh anak buah Adrian. Mereka tahu Pak Surya adalah sekutu terdekatmu. Pergi ke sana sekarang sama saja dengan berjalan masuk ke dalam jebakan mereka!"
"Lalu aku harus diam saja?!" suaraku meninggi, setitik air mata amarah lolos dari sudut mataku. "Pak Surya adalah satu-satunya orang tua yang tersisa bagiku setelah Ayah dan Ibu tiada, Zai! Dia mempertaruhkan nyawa dan jabatannya di Kejaksaan demi membelaku. Aku tidak akan membiarkan dia sendirian menghadapi para bajingan itu!"
Zaidan menatapku dalam-dalam. Melihat kilat tekad yang tidak bisa digoyahkan di mataku, ia akhirnya menghela napas panjang dan melepaskan cengkeramannya. "Baik. Kita pergi. Tapi kita tidak bisa lewat pintu depan, dan kau harus tetap berada di belakangku."
Zaidan bergerak cepat. Ia mengambil sepasang masker medis, topi, dan sebuah alat pelacak frekuensi radio kecil dari laci mejanya. Kami bergegas turun melalui tangga darurat apartemen menuju parkiran bawah tanah, menghindari lift yang berisiko telah disadap.
Tiga puluh menit kemudian, mobil sedan hitam kami membelah rintik hujan kota Jakarta, berhenti di area parkir belakang Rumah Sakit Bhayangkara. Suasana rumah sakit tampak begitu sibuk, namun ketegangan yang janggal terasa di sekitar koridor ruang instalasi gawat darurat (IGD).
Zaidan memegang komputer tablet kecilnya, memantau jaringan kamera pengawas rumah sakit yang baru saja ia retas secara ilegal dari dalam mobil.
"Pak Surya ada di ruang perawatan intensif lantai tiga, kamar 302. Kondisinya stabil setelah mendapat beberapa jahitan di kepala akibat benturan," ucap Zaidan, matanya menyipit menatap salah satu sudut layar tablet. "Sial... dugaanku benar. Ada tiga orang berjaket kulit hitam dengan postur tegap sedang berjaga di dekat koridor lift lantai tiga. Mereka jelas orang-orang Mahendra."
"Bagaimana cara kita menerobos mereka tanpa memicu keributan?" tanyaku, jemariku mencengkeram erat ponsel terenkripsi di dalam saku jaket.
Zaidan menoleh menatapku, sebuah kilat kecerdikan siber melintas di matanya. "Kita gunakan taktik pengalihan. Kau lihat sistem alarm kebakaran di lantai tiga? Aku akan memicu alarm palsu di sisi timur lorong. Begitu fokus mereka terpecah untuk memeriksa situasi, kita punya waktu tepat dua menit untuk menyelinap masuk ke kamar 302."
"Lakukan, Zai," bisikku tegas.
Jari-jari Zaidan bergerak cepat di atas layar tablet. Hanya butuh beberapa ketukan sandi hingga tiba-tiba...
Teeeeeet! Teeeeeet! Teeeeeet!
Suara lengkingan alarm kebakaran menggema keras di seluruh penjuru gedung rumah sakit, diikuti oleh lampu indikator merah yang berkedip-kedip panik. Para perawat dan pengunjung di lantai bawah mulai berhamburan panik.
Melalui layar tablet, kami melihat tiga pria berjaket kulit di lantai tiga tampak saling berpandangan dengan bingung. Dua di antara mereka segera berlari menuju arah tangga darurat timur untuk memeriksa sumber alarm, meninggalkan satu orang untuk berjaga di depan koridor kamar.
"Sekarang, Kirana! Jalan!" perintah Zaidan.
Kami keluar dari mobil, melangkah cepat masuk melalui pintu belakang khusus karyawan dan menaiki tangga darurat dengan langkah tanpa suara. Begitu mendorong pintu lorong lantai tiga, bau antiseptik yang tajam langsung menyergap penciumanku.
Satu pengawal Mahendra yang tersisa sedang berdiri membelakangi kami, sibuk berbicara dengan seseorang melalui pelantang telinga di tangannya. "Ya, Tuan Besar... ada alarm kebakaran di sini, kami sedang memeriksa apakah ini bagian dari rencana pelarian..."
Sebelum pria itu sempat menyelesaikan kalimatnya, Zaidan melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa. Dengan satu gerakan bela diri yang taktis dan senyap, Zaidan mencengkeram leher pria itu dari belakang, menekan titik saraf di bawah telinganya hingga pria berbadan kekar itu mengerang pendek lalu ambruk pingsan di lantai dalam hitungan detik.
Aku tertegun melihat aksi Zaidan yang begitu lihai, namun aku segera menguasai diri. Kami menyeret tubuh pingsan pengawal itu ke dalam gudang penyimpanan linen medis yang kosong, lalu menguncinya dari luar.
Tanpa membuang waktu, aku mendorong pintu kamar 302.
"Pak Surya..." bisikku parau saat melihat sosok pria paruh baya yang sudah kuanggap seperti paman sendiri itu terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan perban putih yang melingkari kepalanya. Wajahnya tampak pucat dan penuh memar.
Mendengar suaraku, kelopak mata Pak Surya perlahan terbuka. Sebuah senyuman lemah terukir di bibirnya yang pecah. "L-Larasati... Kirana... kau bodoh sekali kenapa datang ke sini..." suaranya terdengar sangat parau dan lemah.
Aku menggenggam tangan kekarnya yang dipasang selang infus. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu lagi, Pak. Dokumen fisik yang mereka rebut... apakah itu salinan asli?"
Pak Surya menggelengkan kepalanya perlahan, ada binar kelicikan seorang jaksa senior di matanya yang sayu. "Tidak... mereka mengira mereka berhasil merebut dokumen asli dari tas kerjaku. Padahal... itu hanya dokumen replika kosong yang sengaja kusiapkan untuk memancing mereka. Dokumen asli yang berisi seluruh berkas penyitaan aset Ardi dan bukti konspirasi Mahendra... sudah kuserahkan langsung pada Jaksa Agung melalui jalur rahasia dua jam sebelum aku dicegat."
Aku dan Zaidan saling berpandangan, rasa lega yang luar biasa seketika membuncah di dada kami. Pak Surya benar-benar seorang sekutu yang sangat cerdik.
"Adrian Mahendra sudah masuk ke dalam jebakannya sendiri," bisik Pak Surya, cengkeramannya pada tanganku mengerat. "Malam ini... Kejaksaan Agung akan mengeluarkan perintah cekal dan penggeledahan paksa untuk seluruh kantor pusat Konsorsium Mahendra. Mereka tidak akan bisa lari lagi."
"Terima kasih, Pak. Sekarang giliran kami yang menyelesaikan sisanya," ucapku mantap.
Tiba-tiba, getaran keras muncul dari jam tangan pintar milik Zaidan. Layarnya berkedip merah dengan peringatan darurat.
[WARNING: DUA PENGAWAL SEBELUMNYA SEDANG BERJALAN KEMBALI MENUJU KORIDOR KAMAR 302. WAKTU EVAKUASI: 30 DETIK.]
"Zai, mereka kembali!" ujarku panik.
Zaidan menatap Pak Surya yang masih terlalu lemah untuk dipindahkan. "Pak Surya aman di sini, mereka tidak akan berani melakukan pembunuhan terang-terangan di dalam Rumah Sakit Bhayangkara milik kepolisian setelah alarm ini berbunyi. Target mereka adalah kita, Kirana. Kita harus memancing mereka keluar dari sini sekarang juga!"
Aku mengangguk paham. Aku memberikan kecupan hormat di punggung tangan Pak Surya sebelum berbalik arah. "Bertahanlah, Pak. Besok pagi, keadilan untuk Ayah dan Ibu akan tegak."
Kami keluar dari kamar 302 tepat saat dua pengawal berjaket kulit itu muncul di ujung koridor barat. Begitu melihat sosokku dan Zaidan yang berlari menuju tangga darurat selatan, mata mereka seketika melebar.
"Itu mereka! Kejar wanita itu!" teriak salah satu pengawal dengan lantang.
Langkah kaki mereka yang berat berdentum keras mengejar kami di sepanjang lorong rumah sakit yang dingin. Genderang perang telah ditabuh dengan sempurna. Di bawah guyuran hujan malam yang semakin deras di luar sana, perburuan maut antara sang penulis dan sang pembunuh telah memasuki babak penentuan yang paling berdarah.