NovelToon NovelToon
Gadis Manja Vs Pria Urakan

Gadis Manja Vs Pria Urakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy / Romantis / Cintamanis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Eliana Rovelle

Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.

Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.

Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.

Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.

Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.

Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.

Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14. kamu harus tanggung jawab!

"AAA!!! TANGGUNG JAWAB!! KAMU HARUS TANGGUNG JAWAB!!"

Tanpa peringatan, Maya meraih bantal di dekatnya dan langsung melemparkannya ke arah Chris, begitu ia mendekat.

"Eh, iya.. iya.. cukup, May!"

Chris yang masih syok karena teriakan tadi, kini malah kalang kabut menghadapi amukan Maya. Chris benar-benar tidak tahu sejak kapan dirinya bisa begitu tunduk kepada Maya. Termasuk saat ini, saat gadis itu memukulinya dengan bantal berselimutkan gambar logo club sepakbola.

"Kenapa kamu nggak bangunin aku, sih?!" teriak Maya sambil terus memukul Chris secara membabi-buta dengan bantal itu.

"Cukup!" Chris awalnya masih berusaha menahan amukan Maya, menerima pukulan bantal itu dengan tawa kecil yang berusaha ia redam. Tapi ketika Maya mulai memaki dengan nada tinggi dan wajah memerah, emosi Chris pun ikut memuncak.

"Cukup, Maya!" Chris masih berusaha sabar, dan kali ini ia sudah kehilangan kesabarannya.

Tanpa sadar, ia meraih pergelangan tangan Maya dan membentaknya dengan suara keras, "AKU BILANG, CUKUP!!"

Bentakkan Chris membuat Maya menghentikan aksinya. Ia terdiam seketika, menatap Chris terkejut. Baru kali ini pemuda bertubuh jangkung itu membentaknya dengan keras. Bahkan kali ini, tatapan lelaki itu begitu kuat menusuk dan membuat Maya tidak mampu berkutik sedikit pun. Bantal itu terlepas begitu saja dari tangannya, dan matanya membelalak menatap Chris. Napasnya masih memburu, tapi tubuhnya kaku karena terkejut.

Keheningan menyelimuti kamar itu. Maya perlahan menarik tangannya dari genggaman Chris. Sorot matanya berubah, bukan lagi marah, tapi bingung dan tertampar oleh rasa bersalah. Chris mengembuskan napas panjang, menatap Maya yang masih terdiam.

Maya kemudian melepaskan kontak matanya dengan Chris. Lalu dengan mulut yang masih terkatup rapat, Maya turun dari atas tempat tidur.

"Hei, kamu mau kemana?" Chris menahan pergelangan tangan Maya, tetapi segera ia lepas saat Maya melemparkan tatapan tidak sukanya pada Chris. Maya memang tidak suka dengan kontak fisik.

"Pulang!" ucap Maya dengan ketus sambil kembali berjalan menuju ke arah pintu.

"Sekarang ini sudah terlalu malam untuk pulang. Pagar rumah mu juga pasti sudah di kunci. Lebih baik kamu kembali istirahat, nanti pagi-pagi aku antar kamu pulang." Chris kembali menahan kepergian Maya dengan menghalangi langkah kaki gadis itu.

"Ish! Aku benci sama kamu!" Maya kembali memukul lengan Chris sebagai bentuk rasa kesalnya. Chris memilih untuk diam dan menerima perlakuan dari Maya.

"Kamu nggak tahu gimana sifat kakakku! Dia seperti ayah! Kakakku pasti marah!" Setelah mengatakan itu, Maya tiba-tiba menunduk, kedua bahunya bergetar pelan.

Melihat Chris yang hanya diam, Maya mengangkat wajahnya, matanya sudah berkaca-kaca, dan dalam hitungan detik, tangisnya pecah. Air mata mengalir begitu saja, tanpa bisa ia tahan.

"Hiks.. hiks!" Maya menangis dan jatuh terduduk di lantai.

Melihat hal itu membuat Chris menjadi salah tingkah. Ia menelan ludahnya karena tangisan Maya terdengar semakin keras.

"AAAA... HIKSS..." Maya menangis histeris.

Chris langsung panik. Ia tak pernah benar-benar melihat Maya menangis seperti itu.

'Sialan! Pak Jono bisa-bisa denger, nih!' Chris membatin dalam hati. Bisa-bisa nanti bapak kosnya itu tahu dan mengira ia telah melakukan sesuatu yang buruk kepada Maya.

Chris mengusap wajahnya, lelah. Dilihatnya rumah berpagar besi di depannya lewat jendela, lampu rumah itu masih menyala dan kemungkinan sang pemilik kontrakan belum tidur. Kedua mata Chris kian melotot saat pintu di rumah seberang terbuka. Dengan memakai sarung biru tua dan kaos berlengan pendek, seorang pria paruh baya keluar dengan kerutan di keningnya.

'Anjing! Pak Jono datang lagi!'

Chris perlahan mendekat dengan jarak hati-hati. "Eh.. udah dong, May. Ini udah malem, jangan nangis."

Chris lalu berjongkok dan mengusap bahu Maya mencoba menenangkan.

"Ish! Jangan sentuh aku!" Dengan wajah cemberut dan mata sembab merah, Maya mengangkat wajahnya dan menangkis tangan Chris kasar.

"Iya.. iya.. tapi udahan dulu dong nangisnya. Nanti ada—"

"Ada apaan sih Broh, ribut-ribut?" Riski tiba-tiba datang dari balik pintu kamar Chris dengan celana kolor warna kuning cerah yang kontras dengan warna kulitnya yang hitam. Di belakangnya, ada Alif yang juga ikut bertanya-tanya sambil mengusap matanya dan menguap lebar, masih belum sadar sepenuhnya.

Alif melirik ke arah Maya yang masih duduk di lantai, lalu menatap Chris dengan alis terangkat. “Kenapa cewek lo?"

Riski ikut menimpali, suaranya serak. “Ini jam berapa, Bro. Udah ngedrama aja."

Maya seketika itu juga mengusap wajahnya dengan punggung tangan, tapi air mata tetap jatuh tanpa henti. Dengan sekuat tenaga, ia mencoba mengubah ekspresi di wajahnya agar kembali tenang.

Chris menatap kedua temannya, merasa bersalah. "Sorry, nggak ada apa-apa kok. Kalian—"

Dug! Dug! Dug!

Suara ketukan keras di pintu depan membuat jantung Chris nyaris melompat keluar dari dadanya.

"Anjing!" Chris mengumpat. Umpatan yang diikuti oleh tatapan tegang dari Alif dan Riski.

Maya tidak tahu apa arti umpatan dan ekspresi Chris saat ini. Dan saat itu pula, Maya melihat Chris berjalan pergi meninggalkan dirinya yang masih duduk di atas lantai. Sementara dua teman Chris itu mengikuti di belakangnya.

"Siapa yang datang?" tanya Alif pelan pada Riski, yang dijawab dengan gelengan kepala.

Dug! Dug! Dug!

“Podo nang umah toh? Kok ra ono sing mbuka lawang!” ( Pada di rumah kan? Kenapa tidak ada yang membuka pintu!)

Chris menegang seketika. Napasnya tercekat, dan tangannya langsung mencengkeram gagang pintu. Ia menoleh cepat ke arah Maya yang masih duduk di lantai dengan wajah pucat dan mata sembab.

“Sial…” bisiknya pelan, panik mulai menyelimuti ekspresinya. “Itu Pak Jono.”

Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya. Matanya menyapu cepat ke seluruh ruangan, memastikan tidak ada barang mencurigakan yang bisa memperkeruh suasana. Dia juga menatap kedua temannya seakan meminta pertolongan.

"Itu Pak Jono, Chris. Bisa gawat kalau tahu lo bawa cewek," ucap Alif yang juga ikutan panik.

"Apa kita nggak usah buka aja. Besok bilang aja, kita pulang kampung," sahut Riski yang mendapat tonyolan di kepalanya dari Alif.

"Lo nggak inget tadi insya kita sholat samping Pak Jono?" Riski hanya menyengir, karena dia melupakan hal itu.

Dug! Dug! Dug!

Ketukan kembali terdengar, lebih keras dan terburu-buru.

“Chris, Alif, Riski! Gagian buka lawange, ojo pura-pura ra ono yo!” (Chris, Alif, Riski! Cepat buka pintunya, jangan pura-pura tidak ada ya!)

"Dah, buka aja Chris. Jangan sampai besok kita jadi bahan omongan," saran Alif yang kali ini dapat persetujuan dari Riski.

Chris mengangguk, lalu ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, lalu bersiap membuka kunci pintu depan dengan jantung yang berdebar keras.

Tangannya sempat gemetar saat membuka pintu depan. Dan saat wajah Pak Jono yang serius dan penuh curiga muncul di hadapannya, Chris tahu... dia tidak bisa menghindarinya.

“Selamat malam, Pak Jono..” katanya dengan senyum terpaksa, sementara paniknya masih belum benar-benar reda di dadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!