Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Suara di seberang itu masih terdengar, tapi Adinda sudah tidak benar-benar mendengarnya.
“…kami sudah coba hubungi ke semua tempat, Bu. Tapi sampai sekarang belum ada kabar…”
Ia tidak langsung bereaksi. Hanya diam sejenak, membiarkan informasi itu benar-benar ia cerna.
“Terakhir dilihat kapan?” tanyanya akhirnya, suaranya tetap rendah.
“Tadi malam, Bu. Setelah beliau keluar dari kantor.”
Adinda memejamkan mata sesaat.
“Tolong… kalau ada perkembangan, kabari saya.”
“Iya, Bu.”
Panggilan terputus. Ruangan itu kembali tenang. Adinda tidak bergerak, tapi jelas—ia tidak sedang diam.
Ia langsung berdiri. Langkahnya menuju jendela, membuka sedikit tirai. Halaman rumah terlihat biasa. Tidak ada yang mencurigakan.
Tapi justru itu, terlalu biasa. Ponselnya kembali ia angkat. Nama Naya langsung ditekan.
“Nay.”
“Kenapa? Suaramu beda.”
“Pak Arbani… hilang.”
Hening beberapa detik. Tidak ada yang langsung menanggapi, seolah masing-masing sedang mencerna apa yang baru saja terdengar.
“Sejak kapan?”
“Semalam. Habis kita ketemu dia.”
Naya langsung paham arah pembicaraan itu.
“…ini bukan kebetulan.”
“Iya.”
Tidak ada penyangkalan. Adinda menyandarkan tubuhnya ke dinding, menatap lurus ke depan.
“Mereka sudah mulai bergerak,” lanjutnya.
“Berarti…” suara Naya menegang, “…mereka tahu kamu ke sana.”
Adinda tidak langsung menjawab. Tapi di dalam pikirannya, potongan-potongan itu mulai tersusun.
Kecurigaan Sintia yang mulai terlihat, ditambah Arya yang tiba-tiba meminta ATM—semuanya terasa datang di waktu yang terlalu berdekatan. Mungkin Arya tidak tahu apa-apa. Tapi bagi Adinda, ini bukan lagi kebetulan.
“Bukan cuma tahu,” ucap Adinda pelan. “Mereka panik.”
Naya menarik napas. “Din, kita harus cari dia.”
“Iya. Tapi bukan sekarang.”
“Hah?”
Adinda menutup matanya sebentar, lalu membukanya lagi. “Kalau aku langsung bergerak… mereka bakal tahu aku sadar sepenuhnya.”
“Terus?”
“Aku tetap seperti biasa.”
Nada suaranya berubah. Lebih dingin. Lebih terukur. “Dan sambil itu… kita cari jalan lain.”
Naya terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk, meski tak terlihat.
“Oke. Aku bantu dari luar.”
Panggilan ditutup.
Adinda menurunkan ponselnya pelan. Nafasnya masih teratur, tapi pikirannya sudah melangkah lebih jauh. Ini bukan lagi soal mengingat. Ini… sudah jadi permainan terbuka. Dan seseorang sudah lebih dulu melangkah.
☘️☘️☘️☘️☘️
Di tempat lain—
Ruangan itu masih sama. Rapi. Tenang. Terlalu tenang untuk sesuatu yang sedang berjalan cepat di dalamnya. Wanita itu berdiri di dekat jendela. Ponsel di tangannya masih menyala.
“Sudah diamankan?”
Suara di seberang menjawab singkat. “Sudah.”
“Dia bicara?”
“Belum. Tapi dia keras.”
Sudut bibir wanita itu sedikit terangkat.
“Biarkan saja. Dia akan bicara.”
Ia berjalan pelan kembali ke meja. Jemarinya menyentuh permukaan kaca dengan ritme ringan.
“Dan Adinda?”
“Belum ada gerakan mencurigakan.”
Ia berhenti. “Justru itu yang mencurigakan,” gumamnya.
Matanya menyipit tipis. “Orang yang tidak tahu… pasti gelisah. Tapi kalau dia diam…”
Kalimatnya tidak selesai. Ia tersenyum tipis.
“…berarti dia sedang bermain.”
Ia menutup ponsel tanpa ragu.
“Menarik.”
☘️☘️☘️☘️
Pagi berikutnya berjalan seperti biasa.
Adinda memasuki ruang makan seperti hari-hari biasa. Tidak terburu, tidak juga berhenti—hanya berjalan dengan sikap yang membuat orang lain sulit membaca apa yang sebenarnya ia rasakan.
Luna sudah di sana. Arya duduk di kursi, membaca sesuatu di ponselnya, Airin pun juga sedang sibuk dengan makanan di depannya.
“Pagi,” ucap Luna ringan.
“Pagi.”
Adinda duduk. Menuangkan minuman ke gelasnya tanpa suara.
Arya sempat melirik sekilas, sementara Airin terlihat lebih sinis tatapannya.
"Tuh, istri Kakak, sama keluarga saja perhitungan pakai banget," sindirnya pelan.
Adinda tidak gentar, ia menengok ke arah Airin. "Bukannya kamu sudah dewasa, alangkah lebih baik kamu kerja biar bisa bantu-bantu, setidaknya untuk dirimu sendiri."
Jawaban itu terdengar santai tapi menohok, Airin sempat kesal dan ingin melawan tapi tatapan Arya seolah memberi isyarat.
“Kamu kelihatan capek.”
Adinda mengangkat bahu sedikit. “Kerjaan.”
"Maafkan Airin ya," ucapnya dengan sedikit senyum yang dipaksakan.
"Heeeemb." Adinda hanya berdehem.
Percakapan kembali mengalir ke arah lain. Tentang anak. Tentang rencana hari ini, tapi
Adinda tidak ikut masuk, ia hanya duduk dan ikut sarapan bersama.
Dan dari sudut ruang, tanpa dirinya sadari sepasang mata memperhatikan, dengan jelas.
Sintia.
Tatapannya tidak terang-terangan. Tapi cukup untuk menangkap sesuatu yang berubah. Adinda yang sekarang… tidak sama, itu justru membuatnya tidak nyaman.
.☘️☘️☘️☘️☘️
Siang itu, Adinda tidak membuang waktu. Mobilnya berhenti tidak jauh dari gedung lama milik ayahnya. Ia tidak turun. Hanya memperhatikan dari dalam, matanya menyapu area sekitar dengan tenang.
“Gak masuk?” tanya Naya.
Adinda menggeleng tipis.
“Kalau dia memang hilang… tempat ini pasti sudah ‘bersih’,” ucapnya pelan. “Kita gak akan dapat apa-apa dari dalam.”
Naya menoleh. “Terus?”
Adinda tidak langsung menjawab. Tatapannya berhenti pada satu titik—pintu samping gedung. Area yang tidak terlalu ramai.
“Pak Arbani bukan orang yang kerja sendiri,” lanjutnya. “Dia pasti punya orang kepercayaan juga.”
“Staf lama?” tebak Naya.
Adinda mengangguk. “Yang gak mencolok. Tapi tahu banyak.”
Ia menarik napas pendek, lalu membuka ponselnya. Jarinya bergerak cepat, mencari sesuatu.
“Dulu… ada satu orang,” gumamnya. “Sering bantu urusan arsip Papa. Jarang kelihatan… tapi selalu ada.”
Naya langsung fokus. “Kamu ingat namanya?”
Adinda berhenti sejenak. Lalu— “Pak Rudi.”
Nama itu keluar dengan lebih yakin. “Kita ke rumahnya.”
Rumah itu berada di gang yang lebih sepi. Tidak besar, tapi terawat. Pintu tertutup, jendela depan sedikit terbuka.
Adinda tidak langsung mengetuk. Ia memperhatikan dulu. Ada motor di halaman. Sandal di depan pintu.
“Dia di rumah,” bisiknya.
Naya mengangguk pelan. Ketukan pertama tidak langsung dibalas. Ketukan kedua— baru terdengar langkah dari dalam.
Pintu terbuka sedikit. Seorang pria paruh baya muncul, wajahnya langsung berubah saat melihat Adinda.
“Bu… Dinda?”
Adinda menatapnya lurus. Tidak ragu.
“Saya butuh bicara, Pak.”
Pria itu terlihat gelisah. Matanya sempat melirik ke kanan dan kiri, seolah memastikan tidak ada yang melihat.
“Kamu… gak seharusnya ke sini,” ucapnya pelan.
“Pak Arbani hilang,” potong Adinda.
Kalimat itu membuat pria itu langsung diam. Benar-benar diam. Dan itu… sudah cukup sebagai jawaban awal.
Adinda melangkah satu langkah lebih dekat.
“Kalau Bapak tahu sesuatu,” lanjutnya tenang, “ini waktunya.”
Pria itu menghela napas panjang. Tangannya sempat memegang daun pintu lebih erat. Seolah sedang menimbang— bertahan diam… atau mulai bicara.
“Ada yang datang semalam,” ucapnya akhirnya, suara lebih rendah.
Naya langsung menegang. “Siapa?”
Pria itu menggeleng.
“Bukan orang biasa,” lanjutnya. “Mereka gak banyak bicara. Tapi jelas… mereka tahu apa yang mereka cari.”
Adinda tidak menyela.
“Dan sejak itu… Pak Arbani gak bisa dihubungi.”
Adinda tidak langsung menanggapi. Ia hanya menatap pria itu lebih dalam, seolah mencoba memastikan—berapa banyak yang sebenarnya disembunyikan.
“Mereka cari apa, Pak?”
Pria itu ragu. Lalu menjawab pelan— “Dokumen lama… dan sesuatu yang berhubungan sama kamu.”
Adinda tercengang ia langsung menutup mulutnya dengan satu tangannya. Mereka sudah sampai namun tekadnya tidak gentar sedikitpun.
☘️☘️☘️☘️
Di dalam mobil, suasana berubah. Tidak ada lagi dugaan. Sekarang—mereka punya arah.
Naya menoleh. “Berarti mereka juga mulai bergerak.”
Adinda mengangguk pelan. “Dan lebih cepat dari yang kita kira.”
Ia menatap ke depan. Tatapannya tidak lagi hanya waspada. Tapi sudah masuk ke fase berikutnya— menghadapi.
“Kita gak bisa nunggu lagi,” ucapnya.
Naya mengangkat alis. “Maksud kamu?”
Adinda menoleh. “Kita cari siapa yang ambil dia.”
Adinda menatap yakin. Ini bukan lagi soal mencari tahu. Tapi soal siapa yang lebih dulu sampai.
Bersambung.