Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Tiga jam berlalu dengan tenang di atas awan, hingga guncangan halus menandakan roda pesawat telah menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali.
Aroma udara laut yang khas mulai merayap masuk ke kabin saat pintu pesawat dibuka.
Xena segera merapikan tasnya.
Ia tidak ingin berlama-lama di dalam pesawat ini; ia harus segera sampai di lokasi seminar.
Dengan gerakan cepat, ia berdiri dan menarik kopernya dari kompartemen atas, lalu melangkah menuju pintu keluar.
Namun, tepat di ambang pintu kabin menuju garbarata, langkahnya terhenti.
Prabu sudah berdiri di sana. Ia baru saja keluar dari kokpit, masih lengkap dengan seragam kaptennya, namun topinya sudah ia lepas dan terselip di bawah ketiak.
Rambutnya sedikit berantakan karena pemakaian headset selama tiga jam, memberikan kesan maskulin yang lebih santai.
Xena terkejut, matanya mengerjap tidak percaya melihat Prabu sudah mencegatnya secepat itu.
"Kenapa kamu masih di sini? Bukannya kamu harus mengurus dokumen penerbangan?" tanya Xena ketus, meski jantungnya berdebar sedikit lebih cepat.
Prabu tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru meraih gagang koper Xena dan mengambil alih beban dari tangan istrinya.
"Aku antar ke tempat seminar," ucap Prabu pendek, nadanya tidak menerima bantahan.
Xena mengerutkan kening, mencoba menarik kembali kopernya namun Prabu memegangnya dengan kuat.
"Tidak usah, Pra. Aku bisa naik ojek online. Lebih cepat menembus macet Bali daripada naik mobil," tolak Xena.
Ia ingin segera lepas dari pengaruh Prabu yang sejak tadi pagi terus mengepungnya dengan perhatian.
Prabu menggelengkan kepalanya perlahan, menatap Xena dengan sorot mata yang tegas namun teduh.
"Tidak ada ojek online untuk hari ini, Xen. Matahari Bali sedang terik-teriknya, aku tidak mau kulitmu terbakar atau kamu pusing karena panas-panasan."
Prabu kemudian mencondongkan tubuhnya sedikit, berbisik tepat di samping telinga Xena.
"Lagi pula, aku sudah memesan kendaraan khusus untuk kita. Ayo, jangan membuat suamimu ini terlihat menyedihkan di depan para kru yang lain."
Xena melirik ke arah para pramugari yang mulai memperhatikan mereka dengan senyum tertahan.
Dengan perasaan campur aduk antara kesal dan malu, ia akhirnya terpaksa mengikuti langkah lebar sang Kapten menuju pintu keluar bandara.
Prabu menutup pintu mobil SUV mewah yang telah menunggunya di area penjemputan VIP.
Suasana di dalam kabin mobil yang kedap suara itu seketika terasa sangat privat dan intens.
Sopir mulai melajukan kendaraan membelah jalanan Bali yang mulai menghangat oleh terik matahari.
Xena duduk menyandar, menjaga jarak sejauh mungkin di pojok kursi penumpang.
Ia melirik ke arah Prabu yang tampak sedang merapikan lengan kemejanya.
Pria itu terlihat tenang, seolah-olah pagi tadi ia tidak melakukan aksi nekat mengejar Xena hingga ke seberang pulau.
"Pra," panggil Xena pelan, namun nadanya sarat akan ketegasan.
Prabu menoleh, menatap Xena dengan sorot mata yang kini terlihat lebih segar setelah mencuci muka di bandara tadi.
"Iya, Xen? Ada yang kurang nyaman?"
Xena tidak membalas perhatian itu dengan senyuman.
Ia justru menarik napas dalam, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di sudut hatinya yang lelah.
"Lekas urus perceraian kita. Jangan diulur-ulur lagi," ucap Xena telak.
"Jangan gunakan perhatian-perhatian seperti ini untuk menunda prosesnya. Aku sudah lelah, Pra. Sangat lelah."
Prabu yang duduk di belakang bersama Xena langsung menoleh sepenuhnya.
Ia memutar tubuhnya menghadap sang istri, membiarkan punggungnya bersandar pada pintu mobil.
Ekspresi jenaka dan santai yang ia tunjukkan sejak di Jakarta tadi mendadak sirna, digantikan oleh gurat kesungguhan yang mencekam.
Prabu menatap mata Xena dalam-dalam, mencari binar kebencian yang mungkin ada di sana, namun ia hanya menemukan luka yang belum mengering.
"Aku tidak sedang mengulur waktu, Xen," jawab Prabu dengan suara berat yang bergetar.
"Aku sedang menggunakan sisa waktu yang aku punya untuk membuktikan kalau aku layak mendapatkan pembatalan niatmu itu."
"Niatku tidak akan berubah," potong Xena dingin.
Prabu meraih tangan Xena, meski wanita itu sempat mencoba menariknya kembali.
Ia menggenggam jemari Xena dengan lembut di atas kursi mobil, seolah-olah genggaman itu adalah satu-satunya pelampung yang menjaganya agar tidak tenggelam.
"Satu minggu, Xen," bisik Prabu lirih.
"Berikan aku waktu satu minggu selama kita di Bali. Jika setelah satu minggu ini kamu masih tetap ingin pergi, aku sendiri yang akan mengantarkan surat bertanda tangan itu ke pengacaramu. Aku janji."
Xena menarik tangannya dengan sentakan kasar, seolah sentuhan Prabu adalah sesuatu yang beracun.
Ia menoleh sepenuhnya, menatap Prabu dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh dengan kobaran kemarahan yang selama ini ia tekan di balik profesionalitasnya sebagai dokter.
"Pra, tidak ada satu minggu, dua, atau tiga minggu," ucap Xena, suaranya bergetar hebat menahan tangis.
"Berhenti membuat durasi seolah-olah luka ini bisa sembuh hanya dengan hitungan hari."
Prabu terdiam, tangannya yang menggantung di udara perlahan jatuh ke pangkuannya sendiri.
"Aku ingin menenangkan diriku dulu, Pra. Aku butuh ruang yang tidak ada kamunya di dalamnya," lanjut Xena.
Ia kemudian menyentuh pipinya sendiri, tempat di mana luka lebam itu dulu berada—luka yang fisiknya mungkin sudah memudar, tapi bekas mentalnya masih terasa berdenyut setiap kali ia melihat wajah suaminya.
"Aku masih ingat jelas bagaimana kamu meninjuku tepat di wajahku. Aku masih ingat rasa asin darah di mulutku dan rasa hancur di harga diriku saat aku tersungkur di pantai,"
Suasana di dalam mobil mendadak membeku. Sopir di depan bahkan tampak menahan napas, tidak berani melirik ke kaca spion tengah.
Xena tertawa getir, air matanya akhirnya luruh juga.
"Kamu tahu apa yang paling menyakitkan? Bukan rasa sakit fisiknya, tapi kenyataan bahwa pria yang aku rawat dengan seluruh nyawaku, pria yang aku bela di depan Ayah, adalah pria yang sama yang memperlakukan aku lebih rendah dari binatang."
Prabu menunduk dalam. Setiap kata-kata Xena terasa seperti sembilu yang menyayat jantungnya.
Ia ingin memprotes, ingin membela diri bahwa saat itu ia sedang dalam pengaruh trauma dan emosi yang gelap, namun ia sadar—tidak ada alasan yang bisa membenarkan tangan seorang pria mendarat di wajah istrinya.
"Maafkan aku, Xen. Aku benar-benar—"
"Maaf tidak akan menghapus memori itu dari kepalaku, Pra," potong Xena tajam.
"Setiap kali kamu mendekat, setiap kali kamu menyentuhku, tubuhku refleks bersiap untuk disakiti lagi. Apa kamu paham betapa menyedihkannya menjadi aku?"
Xena memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap jalanan Bypass Ngurah Rai yang tampak kabur karena air mata.
"Turunkan aku di depan hotel tempat seminar. Setelah itu, tolong, pergilah. Biarkan aku bernapas tanpa rasa takut."
Prabu terdiam cukup lama mendengar luapan luka Xena.
Ia menyadari bahwa kehadirannya yang agresif sejak pagi tadi justru memicu trauma yang mendalam pada istrinya.
Ruangan di dalam mobil itu terasa semakin sempit oleh rasa bersalah yang menyesakkan.
"Baiklah kalau begitu, Xen," ucap Prabu pelan, suaranya terdengar hampa namun sarat akan kepasrahan.
"Aku mengerti. Aku tidak akan memaksamu lagi."
Prabu kemudian merogoh kerah seragamnya. Ia melepaskan sebuah kalung perak dengan bandul kecil berbentuk sayap pesawat—benda yang selama ini menjadi jimat keberuntungannya setiap kali ia terbang.
Dengan gerakan yang sangat berhati-hati, seolah takut membuat Xena terlonjak kaget, ia mendekat dan memasangkan kalung itu di leher Xena.
Xena terpaku, ia merasakan dinginnya logam perak itu menyentuh kulit lehernya. Tangannya refleks menyentuh bandul tersebut.
"Pra, apa ini?" tanya Xena bingung, matanya menatap Prabu dengan sisa-sia air mata.
"Anggap saja itu kenang-kenangan dari aku," jawab Prabu dengan senyum paling getir yang pernah Xena lihat.
"Kalung itu selalu menjagaku di langit. Sekarang, biarkan kalung itu menjagamu di bumi, melindungimu dari pria mana pun yang berniat menyakitimu—termasuk aku."
Mobil masih beberapa kilometer lagi dari hotel tempat seminar, namun Prabu tiba-tiba mengetuk kaca pembatas sopir.
"Pak, saya turun di sini saja," ucap Prabu tegas.
"Tapi Captain, ini belum sampai di lokasi," sahut sopir itu bingung.
"Tidak apa-apa. Berhenti di pinggir jalan ini saja."
Mobil menepi ke bahu jalan yang cukup ramai. Prabu menoleh ke arah Xena untuk terakhir kalinya, menatap wajah wanita yang sangat ia cintai namun telah ia hancurkan sendiri hatinya.
Ia tidak mencoba mencium kening atau menggenggam tangan Xena lagi.
Ia hanya menatapnya dengan penuh rasa takzim.
"Jaga dirimu baik-baik, Dokter Xena. Maaf sudah membuat harimu buruk lagi siang ini," bisik Prabu.
Prabu membuka pintu mobil dan turun. Ia berdiri di pinggir jalan raya Bali yang panas, membiarkan debu jalanan menerpa seragam pilotnya yang gagah.
Xena hanya bisa terpaku di dalam mobil, menatap punggung suaminya melalui kaca belakang saat mobil kembali melaju.
Prabu tidak menoleh. Ia membiarkan Xena pergi menjauh, memberikan ruang dan napas yang diminta istrinya, meski itu artinya ia harus kembali menuju ke bandara.
sakitnya tembus sampe ulu hati thor
Orang tua Prabu egois mengorbankan orang lsin untuk kesembuhan ansknya ysng kejam
gak usahlah Zena kamu bukan idola dia
ntar kegidupanmu akan sengsara