Di balik tatapan dingin seorang Komandan Elite, tersimpan rasa rindu yang terpendam bertahun-tahun.
Saga Pratama Dirgantara menyimpan cinta rahasia untuk sang primadona sekolah, Renata Admajha, adik kelasnya saat SMA. Sosok Saga yang dingin, pendiam, dan tertutup membuatnya hanya berani mengagumi gadis itu dari jauh tanpa berani mengutarakan isi hati.
Hingga saat keberaniannya mulai muncul untuk menyatakan cinta, kabar mengejutkan justru datang menyambar. Sang pujaan hati ternyata telah dipinang oleh saingannya sendiri.
Mendengar hal itu, Sang Komandan patah hati sebelum sempat memiliki. Namun, sebagai lelaki terhormat, tak ada yang bisa ia lakukan selain mundur dengan teratur, mengubur perasaannya dalam-dalam, walau harus menelan pil pahit sendirian.
Namun, takdir cinta sang komandan punya rencana lain yang tak terduga.
Mampukah Saga menemukan Cintanya?
Mau tahu kisah selengkapnya yuk! langsung baca aja ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 My elite lover
Di dalam kamar tidur mewahnya, Sasa duduk bersandar santai di tepi tempat tidur empuknya. Gaun tidur berbahan sutra lembut berwarna krem membalut tubuhnya yang ramping, namun senyum yang terukir di bibir wanita itu jauh dari kesan lembut atau tulus. Matanya berbinar terang, memancarkan rasa kemenangan yang meluap-luap, sementara jari-jarinya yang lentik bergerak perlahan, memutar-mutar kalung berlian berkilau yang melingkar di lehernya seolah sedang memegang piala kemenangan.
Besok adalah hari yang paling ia nanti-nantikan seumur hidupnya. Hari di mana ia akan resmi menyandang gelar Nyonya Rendy Wijaya, menjadi istri sah seorang CEO muda, pewaris tunggal keluarga Wijaya yang namanya terkenal di kalangan pengusaha. Bagi Sasa, menikahi Rendy bukan sekadar soal cinta. Baginya, ini adalah tiket emas menuju kehidupan mewah, nyaman, dan penuh kemewahan yang bisa memenuhi segala keinginan dan kebutuhannya yang tak pernah ada habisnya. Senyum puas tersungging makin lebar di bibirnya, seolah ia sudah memegang kendali atas segala hal di dunia ini.
Namun, di balik kebahagiaan itu, ada satu nama yang selama ini selalu menjadi duri dalam daging, satu-satunya sosok yang ia anggap mampu merusak segala rencana indahnya. Sosok itu adalah Rena.
Sasa tersenyum miring, senyum yang penuh kepuasan bercampur rasa jijik. Ia mengambil ponsel pintarnya dari meja samping, jemarinya bergerak cepat membuka galeri video yang baru saja dikirimkan oleh orang suruhannya tadi siang, bukti keberhasilan rencananya yang paling sempurna.
Layar ponsel itu menampilkan rekaman video yang diambil dari sudut agak gelap, namun cukup jelas untuk melihat apa yang terjadi di dalamnya. Di tengah ruangan yang berdebu dan pengap itu, terlihat jelas sosok seorang wanita yang terikat kuat tak berdaya di sebuah kursi kayu tua. Kedua tangan dan kakinya diikat erat dengan tali tambang tebal hingga kulitnya tampak memerah karena tertekan. Wajahnya tertutup kain tebal berwarna hitam, mulutnya pun disumpal rapat, membuat suara apapun yang keluar hanya terdengar rintihan samar dan lenguhan pilu yang menyedihkan. Sosok itu menggeliat-geliat berusaha melepaskan diri, namun sia-sia.
Melihat pemandangan itu, Sasa justru tertawa kecil. Suara tawanya terdengar begitu dingin, menusuk, dan penuh kebahagiaan yang kelam.
"Bagaimana rasanya, Rena? Apa kamu suka 'kejutan' istimewa yang aku siapkan ini?" gumamnya pelan, matanya menatap tajam ke layar ponsel seolah ia sedang menatap wajah Rena secara langsung. "Pasti kamu sedang ketakutan setengah mati sekarang, kan? Pasti kamu sedang menjerit-jerit histeris minta dibebaskan, menangis dan memohon-mohon belas kasihan pada siapa saja yang lewat ... Sayang sekali, Rena. Tempat itu terpencil, gelap, dan kotor. Tidak ada satu pun telinga yang akan mendengarmu di sana!"
Sasa menghentikan pemutarannya dengan satu sentuhan jari, lalu meletakkan ponselnya kembali ke atas meja kecil, lalu merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar dengan pandangan penuh kemenangan mutlak. Ia sangat yakin, seratus persen yakin, bahwa rencananya berjalan sempurna tanpa cela sedikit pun.
"Maafkan aku, Rena ..." ucapnya lirih, namun tak ada sedikit pun rasa bersalah atau penyesalan yang tergambar di wajah cantiknya. Nada bicaranya justru terdengar seolah ia sedang berbicara dengan sampah kotor yang harus disingkirkan dari jalanan. "Aku benar-benar harus melakukan ini. Mana mungkin aku membiarkan kamu hidup bebas dan berkeliaran di luar sana? Mana mungkin aku membiarkan kamu ada di dekat Rendy dan berpotensi menghancurkan hari pernikahanku? Kamu selalu saja mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Kali ini, aku pastikan kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi. Kamu sudah kalah, Rena."
Ia bangkit berdiri perlahan, melangkah anggun menuju cermin besar yang terpasang di sudut kamar, lalu menatap pantulan dirinya yang tampak cantik. Di dalam benaknya, Sasa sudah membayangkan dengan sangat jelas betapa hancur, putus asa, dan ketakutannya Rena saat ini.
"Kamu pikir kamu hebat ya? Karena kamu seorang dokter? Karena kamu punya sedikit teman-teman yang dianggap berpengaruh? Hah, itu semua tak ada apa-apanya dibanding aku," bisiknya pada bayangannya sendiri, senyum kemenangannya makin melebar dan menjadi lebih seram. "Sekarang lihat dirimu... Tidak ada bedanya dengan hewan kurungan, hanya jadi tahanan tak berdaya di tempat yang gelap, kotor, dan bau. Tidak ada yang bisa menolongmu."
Tiba-tiba ia teringat sosok lelaki yang selalu berada di samping Rena belakangan ini. Senyumnya makin sinis.
"Dan soal Kak Saga itu ... jangan harap dia akan datang menyelamatkanmu," ucapnya dengan nada meremehkan. "Kamu pikir dia benar-benar peduli padamu? Dia itu orang kaya, orang berkuasa, dia cuma sedang bosan dan ingin main-main saja sama kamu, Rena! Begitu dia bosan, dia akan membuangmu begitu saja. Jadi nikmatilah rasa takut dan kesepianmu di sana, itu hukuman karena kamu terlalu berharap pada hal yang salah."
Sasa membalikkan tubuhnya, menatap langit-langit seolah sedang membayangkan pesta besar besok hari.
"Besok, saat aku berdiri di pelaminan, mengenakan gaun pengantin termahal, terindah, dan memukau, sementara semua orang memuji-muji kebahagiaanku ... kamu hanya bisa menangis sendirian!" ucapnya dengan penuh keyakinan yang tak tergoyahkan.
"Sayang sekali ya, kamu tidak bisa hadir di sana. Padahal aku sebenarnya sangat ingin sekali kamu ada di barisan tamu, melihat secara langsung aku menjadi Nyonya Wijaya, melihat kebahagiaanku sama Rendy. Aku ingin kamu tahu posisi kamu yang sebenarnya."
Ia tertawa lagi, kali ini lebih keras dan terdengar semakin gila.
"Ah, tapi tidak apa-apa! Kalau kamu merasa dikhianati atau diperlakukan buruk ... Ini semua gara-gara Saga lho! Dia yang biki aku harus melakukan ini! Jadi jika kamu ingin marah atau protes, protes saja sama Kak Saga ya! Ha ha ha ha!"
Sasa kembali tertawa puas, lalu berbalik badan melangkah menuju lemari besar tempat gaun pengantinnya tersimpan rapi di dalam kotak kaca khusus. Ia mengusap permukaan kaca itu dengan lembut, seolah sedang membelai masa depan indah yang menunggunya.
Ia sama sekali tidak tahu, dan sama sekali tidak pernah membayangkan, bahwa apa yang ia lihat di video itu sama sekali bukan Rena. Ia juga tidak tahu, bahwa orang-orang yang ia bayar dan kirimkan untuk menyiksa Rena itu kini justru sedang tergeletak tak berdaya, ketakutan setengah mati di markas rahasia Saga, mengakui segala kejahatan mereka di bawah ancaman maut.
Sasa tidak tahu, bahwa saat ia sibuk tertawa dan merencanakan kemenangannya, Rena justru sedang duduk santai, tertawa bahagia, bersama sosok yang jauh lebih berbahaya, lebih berkuasa, dan lebih mencintainya dibanding siapa pun yang pernah ia kenal.
Bagi Sasa, semuanya sudah selesai. Rena sudah kalah telak, dan ia sudah menang mutlak. Ia pun kembali duduk di tepi ranjang, memejamkan mata dengan hati yang begitu tenang dan penuh sukacita, bersiap menunggu detik-detik kebahagiaannya besok pagi.
Namun, ia tidak sadar ... bahwa kemenangan yang ia banggakan itu hanyalah sebuah istana pasir yang siap runtuh seketika saat matahari pagi terbit nanti.
Bersambung ...
kapook ya Rendy dan Sasa..