"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.
Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"
"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Tubuhku masih bergetar hebat di atas meja kayu yang dingin itu. Napas Darrel yang memburu berangsur tenang di ceruk leherku, namun cengkeramannya pada pinggangku sama sekali tidak mengendur. Saat ia menarik diri, ia segera merapikan kembali pakaiannya dengan gerakan cepat dan efisien, seolah-olah apa yang baru saja terjadi hanyalah sebuah transaksi bisnis yang rutin.
Belum sempat aku meraih sisa-sisa pakaianku yang robek di lantai, pintu ruangan terbuka dengan sentakan keras.
"Darrel, laporan dari pelabuhan baru saja—"
Kael mematung di ambang pintu. Matanya melebar melihat kekacauan di atas meja, dokumen yang berserakan, dan aku yang meringkuk ketakutan.
Seketika, Darrel bergerak lebih cepat dari kilat. Ia menyambar tubuhku, mendekapku erat ke dadanya hingga wajah dan seluruh tubuhku tenggelam dalam pelukan protektifnya. Ia memastikan tidak ada satu inci pun kulitku yang terlihat oleh mata Kael.
"Keluar, Kael!" geram Darrel. Suaranya rendah, namun mengandung getaran kemarahan yang bisa membunuh siapa pun di ruangan itu.
"Maaf, aku pikir kau sudah selesai," jawab Kael dengan nada yang sedikit canggung namun tetap tenang. Ia segera berbalik dan menutup pintu dengan rapat.
Keheningan kembali menyergap. Darrel menghela napas kasar, lalu ia melepaskan jas hitam mahalnya dan menyampirkannya ke bahuku.
"Pakai ini. Tutupi dirimu," perintahnya singkat.
"Darrel... kenapa kau harus sekasar ini?" bisikku sambil merapatkan jasnya yang beraroma tembakau dan parfum maskulin. Suaraku serak karena terlalu banyak menangis.
Darrel tidak menjawab. Ia berlutut di depanku, memakaikan kembali sisa pakaian yang masih bisa diselamatkan, lalu menarikku berdiri. Sebelum kami keluar, ia kembali mengeluarkan sehelai kain hitam.
"Tutup matamu kembali, Lily."
"Kenapa? Aku sudah melihat kasino, aku sudah melihat laboratorium itu. Apa lagi yang kau sembunyikan?" tanyaku dengan nada menantang di balik isak tangis.
"Ada jalan yang hanya boleh dilalui oleh Grisham. Jangan banyak tanya," ia mengikat kain itu dengan kencang, lalu menuntunku berjalan.
Aku merasa kami melewati lorong yang sangat panjang dan sunyi, jauh dari kebisingan klub malam di bawah. Suara sepatu bot Darrel beradu dengan lantai keramik terdengar sangat dominan. Hingga akhirnya, suara denting lift terdengar, dan kami bergerak naik.
Saat kain penutup mataku dibuka, aku sudah berada di sebuah kamar penthouse yang sangat mewah di lantai tertinggi hotel. Ruangan itu didominasi warna gelap dan emas, dengan jendela kaca raksasa yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta dari ketinggian.
"Ini kamar pribadiku. Tidak ada yang boleh masuk ke sini selain aku," ucap Darrel sambil menuntunku menuju ranjang besar bermaterial sutra.
"Kau tidak membawaku pulang ke mansion?"
"Tidak," jawabnya dingin. Ia mengusap pipiku sejenak dengan ibu jarinya, gerakannya kini terasa lebih lembut namun tetap berjarak. "Bersihkan dirimu. Ada pelayan yang akan mengantarkan pakaian baru untukmu. Beristirahatlah."
"Kau mau ke mana?" tanyaku saat melihatnya berbalik menuju pintu.
"Kael menungguku di bawah. Ada urusan klan yang harus diselesaikan segera jika kau ingin aku secepatnya memimpin, bukan?" Ia menatapku dengan senyum miring yang penuh arti, seolah mengingatkanku pada permintaanku sendiri.
"Darrel..." panggilku pelan sebelum ia benar-benar keluar. "Tolong jangan sakiti dirimu sendiri."
Darrel terhenti sebentar, memegang gagang pintu tanpa menoleh. "Jangan cemaskan aku, Lily. Cemaskan dirimu sendiri. Karena begitu aku kembali ke kamar ini, aku tidak akan membiarkanmu tidur sedetik pun."
Cklek.
Pintu terkunci dari luar. Aku terduduk lemas di tepi ranjang, menatap jas Darrel yang masih melekat di tubuhku. Di satu sisi, aku merasa terhina karena perlakuannya yang kasar tadi. Namun di sisi lain, aku menyadari bahwa Darrel sedang melakukan apa yang aku minta: masuk sepenuhnya ke dalam kegelapan klan agar dia bisa menjadi pemimpin.
Aku melangkah menuju kamar mandi, membiarkan air hangat mengguyur tubuhku yang memar. Di bawah pancuran air, aku menangis sejadi-jadinya. Aku benci duniaku yang sekarang. Aku benci harus menggunakan tubuhku sebagai alat negosiasi. Namun, jika ini adalah satu-satunya cara untuk menemukan Evelyn dan menghancurkan Grisham dari dalam, maka aku harus bertahan.
Evelyn, di mana kau? Apakah kau juga pernah merasakan kehancuran yang sama di tangan keluarga ini? gumamku dalam hati sebelum akhirnya aku jatuh tertidur karena kelelahan yang luar biasa.
***
<<
Di lantai bawah, jauh dari kesunyian kamar penthouse yang mewah, suasana di ruang kerja pribadi Kael masih terasa tegang. Bau sisa perbuatan Darrel di atas meja tadi masih tertinggal di udara, bercampur dengan aroma tajam wiski yang baru saja dituangkan Kael ke dalam gelasnya.
Kael bersandar di kursi kebesarannya, menatap pintu saat Darrel melangkah masuk dengan wajah yang jauh lebih tenang namun matanya masih berkilat berbahaya. Darrel duduk di sofa kulit, menuangkan minumannya sendiri tanpa izin.
"Kau keterlaluan, Darrel," buka Kael, suaranya datar namun sarat akan celaan. Ia meletakkan gelasnya dengan denting yang keras. "Di meja kerja? Benarkah? Aku tahu kau seorang Grisham, tapi aku tidak tahu kau sudah berubah menjadi binatang."
Darrel hanya menyesap wiskinya, rahangnya mengeras. "Itu bukan urusanmu, Kael. Apa yang kulakukan pada istriku adalah hakku."
"Urusanku adalah keamanan tempat ini!" Kael berdiri, berjalan mendekati Darrel dengan tatapan menghakimi. "Bagaimana jika yang masuk tadi bukan aku? Bagaimana jika itu salah satu anak buah kita, atau pengunjung. Kau kehilangan kewaspadaanmu hanya karena seorang wanita. Itu sangat tidak seperti kau."
Darrel membanting gelasnya ke meja, berdiri hingga ia dan Kael saling berhadapan. "Dan kau... kau terlalu banyak menatapnya tadi. Jangan pikir aku tidak melihat bagaimana kau menyebut nama keluarganya. Jangan pernah bermain di belakangku dengan Lily, Kael. Sedikit saja kau mencoba mendekatinya tanpa izin dariku, aku sendiri yang akan memastikan kau berakhir di dasar dermaga."
Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik, sebelum akhirnya...
"Bhahahaha" Kael meledak dalam tawa. Tawa yang keras dan mengejek, menggema di ruangan kedap suara itu.
"Apa yang lucu?!" bentak Darrel, tangannya mengepal.
"Kau," ucap Kael di sela tawanya, ia menyeka sudut matanya. "Seorang Darrel Grisham yang berdarah dingin, calon pemimpin klan yang paling ditakuti... ternyata sedang cemburu buta? Padaku? Sahabatmu sendiri?"
"Aku tidak bercanda, Kael."
"Oh, aku tahu kau tidak bercanda," Kael meredakan tawanya, namun senyum miring masih menghiasi wajahnya yang penuh bekas luka. "Tapi ini menghibur. Dante pasti tertawa di neraka melihat adiknya yang kaku ini akhirnya memiliki kelemahan. Kau mencintainya, bukan? Kau begitu takut kehilangan dia hingga kau harus menandainya seperti binatang di meja kerjaku."
Darrel memalingkan wajah, enggan mengakui kebenaran dalam kata-kata Kael. "Aku hanya menjaga apa yang menjadi milikku."
"Milikmu?" Kael melipat tangan di dada. "Atau kau takut dia mengetahui kebenaran yang kau sembunyikan? Kau takut dia tahu bahwa kakak tercintanya, Evelyn, mungkin tidak sejahat yang Erlan katakan? Dan kau takut jika dia tahu, dia akan membencimu lebih dari dia membenci ayahmu?"
Wajah Darrel seketika memucat, lalu kembali mengeras. "Tutup mulutmu tentang Evelyn. Fokus saja pada laporan pengiriman itu. Aku ingin semua beres sebelum penobatanku bulan depan."
"Tentu saja, Bos," Kael kembali ke kursinya, nadanya kembali profesional namun matanya tetap berkilat jahil. "Tapi saranku... belikan dia gaun baru. Gaun yang tadi benar-benar sudah hancur. Dan mungkin lain kali, gunakan tempat tidur. Meja itu mahal, kau tahu?"
Darrel tidak menjawab. Ia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang berkecamuk. Ia tahu Kael benar; ia sedang cemburu, dan ia sedang takut. Ia takut jika Lily—Emily-nya—berhenti menatapnya dengan rasa butuh, dan mulai menatapnya dengan rasa jijik jika kebenaran tentang keluarga Livingston akhirnya terungkap.
***
Bersambung...