Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.
Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.
Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.
Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.
Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam
Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32 Flashdisk Rahasia
Malam itu, Amsterdam terasa lebih mencekam daripada biasanya. Setelah berhasil lolos dari lorong rahasia mansion Carson, Venus memacu mobil sedan peraknya dengan kecepatan tinggi.
Di dalam tas taktisnya, sebuah flashdisk berisi data awal dari brankas Bianca tersimpan rapat. Jantungnya masih berdegup kencang, bukan hanya karena aksi penyusupan tadi, tapi karena bekas gigitan Dante di lehernya yang masih terasa panas.
"Sean, mama dalam perjalanan pulang. Bagaimana situasimu?" Venus bicara pada perangkat hands-free.
"Ma, ada yang tidak beres," suara Sean terdengar tegang di seberang sana. "Aku melacak tiga sinyal GPS yang tidak dikenal bergerak mendekati koordinatmu. Mereka muncul tepat setelah kau keluar dari area pemukiman elit itu."
Venus melirik spion tengah. Benar saja, tiga mobil SUV hitam tanpa plat nomor muncul dari kegelapan, melaju kencang tanpa lampu utama.
"Sepertinya Bianca punya tim pengaman cadangan yang tidak kita ketahui, Sean. Atau mungkin keluarga Rodriguez."
"Tetap pada jalur utama, Ma! Aku akan mencoba meretas lampu lalu lintas untuk menghambat mereka!"
Tiba-tiba, guncangan keras menghantam bemper belakang mobil Venus. Kepalanya terhentak ke depan. Salah satu SUV itu dengan sengaja menabraknya dari belakang.
"Sialan!" umpat Venus. Ia membanting stir ke kanan, berusaha melakukan manuver zigzag, namun SUV lainnya menjepitnya dari samping kiri. Suara gesekan logam yang memekakkan telinga memenuhi kabin mobil.
SUV di belakangnya kembali menghantam dengan lebih bertenaga. Mobil Venus terpelanting, berputar dua kali di atas aspal yang licin sebelum akhirnya berhenti setelah menabrak pembatas jalan di area pelabuhan yang sepi. Asap mengepul dari kap mesinnya.
Venus terbatuk, segera meraih pistol Glock-17 dari bawah kursinya. Ia menendang pintu mobil yang ringsek dan keluar tepat saat belasan pria berpakaian hitam turun dari ketiga SUV tersebut.
"Menyerah lah, Sayang! Berikan apa yang kau ambil dari rumah nyonya Bianca!" teriak salah satu pria sembari melepaskan tembakan peringatan ke udara.
Venus berlindung di balik pintu mobilnya. Ia membalas tembakan dengan presisi yang mematikan.
"Langkahi dulu mayatku!"
Baku tembak sengit pecah di
dermaga sunyi itu. Venus terpojok. Pelurunya menipis, sementara lawan terus merangsek maju. Di saat ia merasa ajalnya sudah dekat, raungan mesin monster terdengar dari kejauhan.
Sebuah Bugatti hitam melesat bagaikan peluru, menghantam salah satu SUV lawan hingga terguling. Mobil itu mengerem mendadak, menciptakan kepulan asap ban yang tebal.
Dante Carson keluar dari mobil sebelum mesinnya benar-benar mati. Wajahnya tidak lagi penuh seringai seperti di lorong tadi, kali ini, ia nampak seperti iblis yang haus darah.
"Siapa yang mengizinkan kalian menyentuh wanitaku?" suara Dante menggelegar di antara suara letusan senjata.
Dante bergerak dengan kecepatan dan kebrutalan yang mengerikan. Ia tidak hanya menembak, ia mematahkan leher pria terdekat dan merebut senapan serbu mereka. Dalam hitungan menit, area pelabuhan itu senyap. Para penyerang itu terkapar, sebagian tewas dan sisanya melarikan diri ke dalam kegelapan.
Dante menjatuhkan senjatanya, lalu berlari menghampiri Venus yang masih terduduk lemas di aspal. "Venus! Kau terluka?"
"Aku tidak apa-apa," bisik Venus. Ia menatap Dante yang kini berlutut di depannya, memeriksa setiap inci tubuhnya dengan tangan gemetar. "Bagaimana kau tahu aku di sini?"
"Aku memasang pelacak di jam tangan yang kau pakai," sahut Dante jujur sembari membopong Venus masuk ke dalam mobil Bugatti-nya. "Jangan marah sekarang. Kita harus segera pulang. Sean hampir meledakkan serverku karena panik."
Sesampainya di rumah persembunyian Venus, pintu depan langsung terbuka lebar bahkan sebelum mobil berhenti sempurna. Sean berlari keluar tanpa alas kaki, wajah kecilnya pucat pasi di bawah lampu teras.
"Mama!" teriak Sean. Ia langsung menghambur ke pelukan Venus saat wanita itu turun dari mobil dengan bantuan Dante.
Venus memeluk putranya erat. "Mama tidak apa-apa, Sean. Maaf membuatmu takut."
Sean melepaskan pelukannya, lalu menoleh ke arah Dante yang berdiri di belakang mereka. Matanya yang sembab menatap tajam ke arah ayahnya.
"Paman Udang, kau terlambat lima menit dari prediksi ku! Kau tahu berapa banyak skenario buruk yang kubayangkan dalam lima menit itu?"
Dante berjongkok, mencoba menyentuh bahu Sean, namun bocah itu menepisnya.
"Maafkan Papa, Sean. Papa harus memastikan para tikus itu tidak akan pernah kembali lagi."
"Masuklah ke dalam. Kita tidak aman di luar sini," perintah Venus.
Di dalam rumah, suasana masih terasa tegang. Leo sedang sibuk membersihkan luka gores di lengan Venus dengan alkohol, sementara Sean duduk di meja makan, menatap laptopnya dengan tatapan kosong.
"Sean, kemari," panggil Dante lembut.
Sean tidak bergerak. "Kenapa Paman tidak menjaganya sejak awal? Kau bilang kau orang paling berkuasa di kota ini, tapi membiarkan Mama dikeroyok seperti itu?"
Dante mendekat, duduk di kursi di samping Sean. "Kau benar. Papa salah karena terlalu percaya pada sistem keamanan luar. Tapi Papa janji, mulai malam ini, keamanan rumah ini akan dijaga oleh tim terbaikku. Tidak akan ada yang bisa menyentuh kalian lagi."
Sean mendongak, matanya berkaca-kaca meski ia berusaha tetap terlihat tangguh.
"Aku tidak butuh tim keamananmu. Aku hanya ingin Mama selamat. Tadi... saat aku melihat koordinat Mama berhenti dan mendengar suara tembakan melalui komunikator... aku sangat takut, Paman."
Dante menarik Sean ke dalam pelukannya. Kali ini, Sean tidak memberontak. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Dante, membiarkan tangisnya pecah secara diam-diam.
"Papa tahu. Papa juga ketakutan setengah mati. Tapi lihat, Mama ada di sini. Kita semua selamat."
"Jangan biarkan Paman Udang pergi dulu, Ma," gumam Sean dari balik pelukan Dante. "Malam ini... aku ingin tidur sambil memegang pistol. Tapi kalau Paman di sini, mungkin aku bisa tidur tanpa itu."
Venus tersenyum sedih menatap pemandangan itu. Dante menoleh ke arah Venus, memberikan isyarat agar ia beristirahat.
"Papa akan di sini, Sean. Papa tidak akan pergi ke mana pun," bisik Dante sembari menggendong Sean menuju kamarnya.
Malam itu, di rumah kecil yang biasanya sepi, Dante Carson benar-benar menjalankan perannya. Ia menyelimuti Sean, lalu kembali ke ruang tamu untuk memastikan Venus sudah diobati.
"Kau harus kembali ke mansion, Dante. Bianca pasti mencarimu," ucap Venus sembari menyandarkan kepalanya di sofa.
"Biarkan saja wanita gila itu berteriak. Aku sudah mengirimkan surat gugatan cerai resmi ke meja riasnya sepuluh menit yang lalu melalui pengacaraku. Hubungan kami sudah berakhir secara hukum malam ini," jawab Dante tenang sembari duduk di lantai di depan kaki Venus, memijat lembut pergelangan kaki wanita itu.
Venus tertegun. "Kau seserius itu?"
"Tujuh tahun aku hidup dalam kebohongan, Venus. Aku tidak akan membuang satu detik pun lagi tanpamu dan Sean. Jika keluarga Rodriguez ingin perang, maka aku akan memberikan mereka kiamat," tegas Dante.
Sean tiba-tiba muncul di ambang pintu kamarnya.
"Paman Udang, kalau kau benar-benar ingin perang, aku sudah meretas akun bank rahasia Bianca. Kita bisa mulai dengan mengosongkan tabungan belanjanya besok pagi."
Dante tertawa, diikuti tawa kecil Venus. "Itu rencana yang bagus, Jagoan. Sekarang tidur, besok kita punya banyak dosa keluarga Rodriguez yang harus dibereskan." Ia lalu menoleh ke arah Venus.
"Ada apa?" tanya Venus.
"Aku butuh penjelasan soal flasdisk yang kau bawa kabur itu," jawab Dante membuat Venus menelan ludah.
amazing 🤩
kasian lho dia.... 😁😁😁