Lin Xiaoxi tewas kelaparan, namun jiwanya digantikan oleh Chu Yue, Putri Tabib jenius dari masa kuno. Terbangun di tubuh gadis desa miskin, ia dibekali Ruang Dimensi berisi herbal ajaib untuk mengubah nasibnya.
Di kota, sang penguasa Mo Yan sedang sekarat karena penyakit aneh yang tak tersembuhkan. Takdir mempertemukan mereka di jalanan, di mana satu tusukan jarum Xiaoxi menyelamatkan nyawa sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 三二
Suasana ruang kerja Mo Yan malam itu sangat hening, hanya terdengar suara detak jam dinding yang terbuat dari perak murni dan desis halus dari mesin pendingin ruangan. Mo Yan sudah bersiap dengan kacamata bacanya, tumpukan kamus bahasa Inggris medis, dan daftar kosa kata yang ia susun sendiri untuk menyiksa kemampuan Xi'er. Ia sudah membayangkan betapa frustrasinya gadis itu, mengingat saat belajar matematika dasar kemarin, Xi'er hampir saja membakar buku karena bingung mencari x.
"Duduklah Xi'er. Jangan menangis jika kau merasa kepalamu berasap malam ini." ucap Mo Yan dengan nada bicara yang penuh kemenangan terselubung.
Xi'er masuk dengan santai, menyeret sandal "cit-cit" kuningnya yang berbunyi malas. Di tangannya, ia membawa lima buku anatomi tebal berbahasa Inggris yang baru dibelikan Mo Yan dua hari lalu. Buku-buku itu tampak sudah agak lusuh, seolah-olah telah dibuka ribuan kali dalam waktu singkat.
"Tuan kaku, bisakah kita mulai sekarang? Aku ingin segera menyelesaikan ini agar aku bisa menonton video cara membuat lampion di tabletku." ucap Xi'er sambil meletakkan buku-buku itu dengan suara debuman keras di atas meja.
Mo Yan tersenyum miring. "Baiklah. Mari kita mulai dengan hal mendasar. Aku ingin kau melafalkan nama-nama organ dalam bahasa Inggris dan menjelaskan fungsinya. Kita mulai dari yang paling sulit..."
"Sistem kardiovaskular?" potong Xi'er dengan pelafalan bahasa Inggris yang sangat fasih, bahkan terdengar memiliki aksen elegan.
Mo Yan tertegun sejenak. Ia mengerutkan kening. "Kau... dari mana kau belajar pengucapan itu?"
Xi'er memutar bola matanya. "Benda kotak sihirmu itu punya suara Tuan kaku. Aku hanya menekan lambang pengeras suara di setiap kata yang tidak kumengerti, lalu aku menirunya sambil meracik obat. Sekarang, maukah kau mendengarkan atau kau hanya ingin menatapku dengan wajah bodoh seperti itu?"
Tanpa menunggu jawaban Mo Yan, Xi'er mulai berbicara. Ia menjelaskan tentang ventricle, atrium, aorta, hingga mekanisme blood circulation dengan kelancaran yang menakutkan. Tidak hanya sekadar menghafal kata, Xi'er menghubungkannya dengan teori "Qi" dan aliran darah dari ilmu medis kunonya. Ia membedah isi buku tebal itu di depan mata Mo Yan, seolah-olah ia sudah mempelajari ilmu itu selama sepuluh tahun, bukan dua hari.
Mo Yan mencoba menutupi rasa terkejutnya. Ia membuka buku patologi yang paling rumit, mencoba mencari celah. "Lalu, bagaimana dengan istilah-istilah di bab penyakit syaraf ini? Multiple Sclerosis? Amyotrophic Lateral Sclerosis?"
Xi'er mendengus remeh. "Halaman 452, paragraf ketiga. Penyakit itu menyerang selubung pelindung syaraf. Di duniaku, kami menyebutnya Kekeringan Jalur Langit. Aku sudah menghafal semua gejalanya, Mo Yan. Dan sejujurnya, penulis buku ini terlalu bertele-tele. Dia butuh lima halaman untuk menjelaskan sesuatu yang bisa kujelaskan dengan tiga tusukan jarum."
Mo Yan terdiam. Ia mulai membolak-balik halaman buku yang dipegang Xi'er. Ia menemukan banyak coretan tangan Xi'er dengan aksara kuno di pinggir halaman, yang rupanya adalah terjemahan dan catatan kritis Xi'er terhadap ilmu medis modern.
"Kau... kau benar-benar menghafal semuanya? Lima buku tebal ini dalam dua hari?" tanya Mo Yan, suaranya kini terdengar sedikit bergetar karena tak percaya.
"Daya ingat seorang Tabib Agung adalah kunci keselamatannya Mo Yan. Jika aku salah menghafal satu jenis rumput saja, seorang Kaisar bisa mati dan seluruh keluargaku akan dipenggal. Menghafal buku-buku ini jauh lebih mudah daripada menghafal sepuluh ribu jenis racun di hutan terlarang." jawab Xi'er dengan nada santai, seolah hal itu bukan prestasi yang besar.
Zuo Fan yang sedang membawakan teh hangat di ambang pintu, hampir saja menjatuhkan nampannya. Ia menatap Xi'er dengan pandangan seolah-olah gadis itu adalah alien yang menyamar. "Tuan... sepertinya Nona Lin adalah tipe pembelajar photographic memory. Dia tidak hanya membaca, dia memotret isi buku itu ke dalam otaknya."
Mo Yan melepaskan kacamata bacanya. Ia merasa rencananya untuk menjadi guru yang dominan telah gagal total. Sebaliknya, ia merasa seperti seorang murid yang sedang diuji oleh profesornya.
"Lalu, bagaimana dengan kemampuan bicaramu? Bahasa Inggris bukan hanya soal istilah medis." ucap Mo Yan, mencoba melakukan serangan terakhir.
Xi'er tiba-tiba berdiri, ia mendekati Mo Yan hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. " Listen to me, Mr. Stiff. I am much smarter than you think. Don't try to challenge my brain, or you will lose everything, including your pride." (Dengarkan aku Tuan kaku. Aku jauh lebih pintar dari yang kau kira. Jangan coba-coba menantang otakku, atau kau akan kehilangan segalanya, termasuk harga dirimu.)
Mo Yan terpaku. Pengucapan Xi'er sangat jernih, suaranya yang lembut terdengar sangat berwibawa dalam bahasa asing itu. Ada kilat kecerdasan yang memikat di matanya, membuat Mo Yan mendadak lupa bagaimana cara membalas kalimat tersebut.
"Bagaimana? Apakah aksenku sudah cukup untuk membuat para profesor itu terkesan?" tanya Xi'er dengan senyum kemenangan yang sangat lebar.
Mo Yan berdeham, mencoba mengembalikan kewibawaannya yang sudah jatuh ke lantai. "Cukup... itu lebih dari cukup. Sepertinya aku tidak perlu mengajarimu selama dua jam setiap malam. Kau justru membuatku merasa seperti membuang waktu."
Xi'er tertawa puas, suara sandalnya cit-cit-cit kembali terdengar saat ia berjalan menuju nampan teh Zuo Fan. "Jadi, apakah larangan belanja COD ku dibatalkan? Aku melihat ada Alat Pembuat Permen Kapas yang sangat menarik di pasar gaib tadi."
Mo Yan menghela napas panjang, ia menyandarkan punggungnya di kursi roda. "Zuo Fan, berikan dia akses penuh ke akun belanja itu. Berikan apa pun yang dia inginkan. Aku rasa, otak jeniusnya memang butuh asupan barang-barang bodoh agar tetap seimbang."
Setelah Xi'er pergi dari ruangan dengan perasaan menang, Mo Yan masih duduk terdiam menatap tumpukan buku di mejanya. Ia mengambil salah satu buku anatomi yang dicoret-coret oleh Xi'er. Ia melihat bagaimana Xi'er membandingkan sistem syaraf modern dengan titik-titik akupunktur kuno secara sangat detail.
"Dia bukan hanya seorang tabib Zuo Fan." bisik Mo Yan. "Dia adalah sebuah anomali. Dia bisa menyerap ribuan tahun kemajuan ilmu pengetahuan hanya dalam hitungan jam."
Zuo Fan mengangguk setuju. "Tuan, jika dia masuk ke universitas nanti, dia tidak akan menjadi mahasiswa. Dia akan menjadi legenda. Saya khawatir para dosen di sana justru akan merasa terancam dengan keberadaannya."
Mo Yan tersenyum tipis, sebuah senyum bangga yang tidak bisa ia sembunyikan lagi. "Biarkan saja. Biarkan dunia tahu bahwa wanita yang bersamaku adalah wanita paling jenius yang pernah ada. Dan biarkan musuh-musuh kita gemetar, karena sekarang macan ini bukan hanya punya taring, tapi juga punya otak yang bisa merancang kematian mereka bahkan sebelum mereka sempat menarik napas."
Di dalam laboratoriumnya, Xi'er tidak langsung menonton video lampion. Ia justru duduk di depan laptopnya, mencari jurnal-jurnal medis internasional yang terbaru. Ia sadar, meski ia sudah menghafal banyak hal, dunia ini terus bergerak maju. Ia merasa sangat bersemangat. Baginya, ilmu pengetahuan modern adalah mainan baru yang jauh lebih seru daripada istana balon atau sandal bunyi.
"Kedokteran modern... kau sangat menarik." gumam Xi'er dengan mata berbinar. "Mari kita lihat, siapa yang akan lebih hebat. Pisau bedah kalian, atau jarum perakku."
Hukuman apa yang akan Xi'er berikan pada Bramantyo ya?
Secara Xi'er sudah melakukan uji klinis obat²an di laboratorium yang Mo Yan berikan bwt Xi'er