Namanya Anna.. Dia anak yang polos namun tangguh, berjiwa bebas dan baik hati.. ia terlahir di sebuah gubuk sederhana di dalam hutan yang jauh dari pemukiman warga, meski hidup sederhana, ia merasa hari harinya selalu dipenuhi kebahagiaan.
Hingga sampai suatu waktu, tragedi menimpa keluarga kecilnya dengan tragis.. Ternyata ayahnya adalah seorang putra mahkota, dan Anna pun tiba tiba menjadi seorang Putri.
bisakah Anna beradaptasi di kehidupan barunya??
Lika liku percintaannya dimulai..inilah kisah Princess Anna..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyah_ell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baik baik saja
Pagi harinya Putra Mahkota Alex dan pengawal pribadinya, Veron menghadiri upacara pemakaman di kediaman Duke mewakili keluarga kerajaan. Alex tampil gagah dan bermartabat, Kedatangannya disambut dengan sopan oleh para kerabat Duke dan Duchess.
Leonard stephanos terdiam di hadapan kedua peti mati orang tuanya. Satu persatu para pelayat memberikan penghormatan.. Upacara pun berlangsung dengan lancar tanpa kendala.
Ketika semua orang meninggalkan tempat pemakaman Leonard masih terdiam di samping pusara, dia merasa sangat tersiksa dan menderita, ia terus menerus bergumam bahwa ini adalah kesalahannya.
Ketika Leo kembali ke kediaman di depan rumah ada Alex menunggunya..
"Salam kepada Matahari kecil kekaisaran" ucap Leonard menunduk.
"Sudahlah jangan basa basi.. Aku menunggu disini karena aku mendengar kau akan membatalkan pertunangan dengan kakakku, apa itu benar?" ucap Alex.
"Benar Yang Mulia.." ucapnya tenang.
"Baguslah.. Sejak awal aku dan Kaisar memang sudah tak menyukaimu! Satu hal yang harus kau ingat! Jangan berkata sembarangan tentang kakakku! Kau sudah sangat menghancurkan hatinya dengan menjadikannya penyebab atas kemalangan keluargamu! Segera akhiri hubungan kalian secara resmi!"
"Baik, saya sudah menyiapkannya.. Saya minta tolong anda bersedia menyampaikannya kepada Baginda Kaisar"
"Hahhh!!! Jangan sampai kau menyesal!!" Alex merasa tak habis pikir ternyata Leonard sudah sangat bertekad untuk berpisah dengan Putri secepat ini, itu membuatnya sangat murka.
Tak lama kepala pelayan menyerahkan sebuah amplop kepada Alex.
Alex merasa sangat kesal tetapi melihat tampangnya yang terlihat sangat menderita itu ia pun menahan amarahnya dan pergi dari kediaman Duke bersama pengawalnya.
Sedangkan sejak pagi Anna sudah berada di tempat latihan berpedang, ia berduel bersama seorang ksatria wanita. Namun kali ini mereka menggunakan pedang sungguhan.
Trang! Trang!! Mereka berdua terus mengayunkan pedang.
"Yang Mulia.. Saya benar benar akan dihukum jika Baginda Kaisar mengetahui kita menggunakan pedang asli!!" ucap Dame Carissa disela sela pertarungan.
"Mau sampai kapan aku harus menggunakan pedang kayu? Aku ingin mengatasi traumaku sendiri! Aku akan bertanggung jawab jika kau mendapat hukuman!" ucap Anna dengan tenang.
Benar saja.. tak lama kemudian Kaisar bersama ajudannya datang untuk berlatih. Kaisar yang kaget karena putrinya memegang pedang segera menghampiri mereka.
Melihat kedatangan Kaisar Dame Carissa menghentikan latihannya.
"Salam kepada Matahari Kekaisaran Baginda Kaisar yang agung" ucap Carissa menunduk.
"Kamu sudah gila ya? Kenapa berlatih dengan pedang asli?" teriak Kaisar kepada Carissa.
"Saya yang memaksanya memberi pedang Ayah!!" jawab Anna.
"Kau? Kenapa kau menyeetujuinya?Kau tetap harus mendapatkan hukuman!!" teriaknya lagi ke arah Carissa.
Anna maju di depan Carissa "Bicaralah dengan saya Ayah! Saya bilang sayalah yang memaksanya! Saya yang akan bertanggung jawab!!" ucap Anna dengan tegas.
"Kenapa kau melindunginya?"
"Saya tidak bisa melindungi diriku dengan pedang kayu Ayah!! Saya sudah bertekad, saya akan mengatasi trauma itu bagaimana pun caranya, saya tidak bisa hidup dengan terus bergantung kepada orang lain terus menerus, tolong dukung keputusan saya ini Ayah!!"
"Hahhh!! Ayah memang tidak bisa menang dari anak-anak Ayah!"
"Kalau sudah setuju ayo bertarung denganku Ayah!" ucap Anna percaya diri.
"Baiklah.. Ayah tidak akan mengalah meski kau adalah putri kesayanganku!!"
"Baik! Itu yang saya harapkan!" Anna tersenyum.
"Jika kau menang Ayah akan mengabulkan satu permintaanmu, dan sebaliknya!!"
"Baik!"
Mereka berdua mulai mengayunkan pedangnya, meski menyetujui keputusan putri Kaisar tetap merasa khawatir, tetapi dari sorot mata putri yang sangat bertekad itu Kaisar hanya bisa mencoba membantunya untuk pulih, memang hanya inilah cara agar kondisi Putri membaik ia pikir mungkin inilah saatnya..
Prangg!!! Kaisar menjatuhkan pedang Putri.. "Bagaimana ini putriku.. Sepertinya hari ini kau harus meluangkan waktu untukku"
"Baiklah.. Sejak awal saya tidak berharap menang, ayah kan memang lawan yang berlebihan untukku yang baru pertama kali mengayunkan pedang! Saya tidak menyangka Ayah benar benar tidak mengalah!" ucapnya menyindir.
"Ho ho ho.. Karena Ayah mau menghabiskan waktu dengan putriku, ayo bersihkan diri dan Temui Ayah di ruang kerja!"
"Baik"
Setelah mengganti pakaian Anna sampai di depan ruang kerja Kaisar bersama Aaron.. langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara Alex dan Kaisar yang sedang membicarakan tentang surat pembatalan pertunangan yang sudah tiba.
Seketika dadanya terasa perih, meski ia telah berusaha menyembunyikan kesedihannya tetapi karena Surat itu tiba dengan sangat cepat membuatnya kesulitan menyembunyikan ekspresi sedihnya.
Aaron pun merasa sangat iba karena melihat Putri yang berusaha terlihat kuat dan baik baik saja, hanya Aaron yang bisa melihat ekspresi jujur putri tetapi ia merasa sama sekali tak bisa membantunya.
Anna menarik nafasnya panjang, menenangkan dirinya dan kembali bersikap baik baik saja.
Aaron berjaga di luar sedangkan Anna membuka pintu..Saat melihat putrinya muncul Kaisar segera menyelipkan surat itu di bawah dokumen..
"Saya datang Ayah.." ucap Anna dengan tenang.
Alex dan Kaisar menatap Anna dengan mata sedih, iba, kasihan.. Semuanya terlihat jelas.
"Kalian berdua jangan melihatku seperti itu!! saya baik baik saja!" ucap Anna tegas.
"Iyaa.. Kami juga tidak mengasihani kakak kok" jawab Alex.
Anna menyadari dari pakaian Alex yang serba hitam dia baru saja kembali dari upacara pemakaman Duke dan Duchess.
"Bagaimana keadaannya Alex? Apa orang itu baik baik saja?" ucapnya tenang sembari menuangkan teh di cangkirnya.
"Siapa Kak?"
"Leonard stephanos"
"Oh.. Orang itu masih terlihat sehat dan masih sangat menyebalkan seperti biasa.. Kakak tidak usah memedulikannya lagi"
"Benar Tuan Putriku.. berhenti memikirkan bedebah jahat itu!" ucap Kaisar hati hati.
"Iya Ayah.. Saya sudah berhenti memikirkan dan peduli padanya, saya bertanya karena dia adalah rakyat anda"
"Hahaha.. Benar! Sekarang dia cuma seorang rakyat kekaisaran ini saja!"
"Benar Ayah.. Hahaha" timpal Alex.
"Jadi.. Apa yang akan kita lakukan hari ini ayah? Apapun itu saya akan menerimanya karena Ayah sudah memenangkan taruhan"
"Apah?? Kalian bertaruh apah?? Kenapa melakukan hal menyenangkan saat aku pergi!!" rengek Alex.
"Kami berduel tapi Ayah memenangkannya, jadi sekarang kakakmu harus mengikuti kemauan Ayah!"
"Wahhh!!"
"Ayo hari ini kita pergi jalan jalan bersama" ucap Kaisar.
"Aku ikut!!" ucap Alex heboh.
Anna tersenyum "Baik Ayah! Ayo kita pergi bersama"
"Ayo.. Semuanya sudah dipersiapkan.." ucap Kaisar.
Begitu tiga orang itu sampai di depan gerbang istana disana sudah tersedia kereta kuda kerajaan yang mewah dan rombongan pengawalan yang terasa berlebihan.
"Kenapa harus semencolok ini Ayah?" ucap Anna tak nyaman.
"Pengawalan ini sudah diminimalkan Putriku!"
"Tapi Ayah!"
"Ingatlah kau hanya akan menuruti Ayah hari ini!"
"Hemmm.. Baiklah!"
"Ayah keterlaluan! Semua orang akan heboh melihat iring iringan seperti ini!" ucap Alex.
"Benar! Memang itu tujuannya! Ayo berangkat!"
Bersambung