Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil duluan
Evan masih fokus menyetir, tapi rahangnya terlihat sedikit menegang."Kamu nggak suka sama dia kan?"
Raisa menoleh sambil menahan senyum kecil melihat ekspresinya."Nggak."
Evan melirik sekilas memastikan."Bener?"
Raisa mengangguk pelan."Iya."
Lalu ia mulai menggoda pelan,"Mas cemburu ya?"
Evan langsung menjawab tanpa malu-malu."Jelas."
Raisa terkekeh kecil."Padahal aku belum tentu diterima orang tua kamu."
Evan mendengus pelan."Itu urusan nanti."
Raisa menyandarkan tubuhnya santai di kursi.
"Kalau aku ternyata pilih dia gimana?"
Evan langsung menoleh cepat beberapa detik sebelum kembali fokus ke jalan."Jangan macam-macam kamu."
Raisa makin menahan tawa."Loh, kan cuma nanya."
Evan menggeleng sambil tersenyum tipis penuh ancaman jahil."Kalau kamu macam-macam… mas hamilin kamu sekalian."
Raisa langsung membelalak."Mas!"
Evan malah terlihat santai."Biar nggak dilamar siapa-siapa lagi."
Pipi Raisa langsung memerah."Itu solusi macam apa?"
"Solusi paling efektif."
Raisa memukul pelan lengan Evan."Mesum terus pikirannya."
Evan tertawa kecil."Lah tadi siapa yang bilang nggak suka sama dia? Berarti aman dong."
Raisa mendengus malu sambil memalingkan wajah ke jendela.Namun sudut bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum.
Evan meliriknya sebentar lalu berkata lebih lembut,"Mas serius, Sa."
Raisa perlahan menoleh lagi."Mas nggak mau kehilangan kamu lagi buat kedua kalinya."
Kalimat itu membuat suasana mobil tiba-tiba berubah lebih tenang.Raisa menatap wajah Evan beberapa detik sebelum akhirnya berkata lirih,
"Aku juga nggak mau dipermainkan lagi, mas."
Evan langsung menggenggam tangan Raisa sebentar di atas konsol mobil."Kali ini mas serius datang buat nikahin kamu."
Raisa menunduk malu sambil memainkan ujung paper bag di pangkuannya."Lagian…" suaranya mengecil. "Keperawanan aku juga udah mas ambil."
Evan langsung meliriknya sekilas lalu tersenyum tipis."Mas tahu."
Pipi Raisa makin merah."Makanya jangan ngomong kayak aku masih laku dijodohin sana-sini."
Evan tertawa kecil pelan."Kamu pikir mas bakal lepasin gitu aja setelah sejauh ini?"
Raisa mendengus malu."Siapa tahu."
Evan menggeleng sambil tetap menyetir santai.
"Nggak akan."
Nada suaranya kali ini terdengar serius."Justru karena mas udah menyentuh dan ambil tanggung jawab itu… mas makin yakin mau nikahin kamu."
Raisa diam beberapa detik.Hatinya terasa hangat mendengar ucapan itu."Tapi aku takut nanti orang tua aku kecewa…"
Evan mengernyit kecil."Karena kamu turun ranjang?"
Raisa mengangguk pelan."Betul Mas kan kakak ipar ku."
Evan langsung menggenggam tangan Raisa lagi.
"Denger ya."
Raisa menoleh pelan."Mas nggak peduli omongan orang."
Tatapannya terlihat serius."Selama kamu mau sama mas, yang lain biar mas hadapi."
Raisa menggigit bibir kecil menahan rasa haru dan malu sekaligus.Namun beberapa detik kemudian Evan kembali tersenyum jahil."Lagian kalau nanti kamu nikah sama orang lain…"
Raisa langsung curiga."Kenapa?"
Evan terkekeh kecil."Kasihan suami kamu nanti dibanding-bandingin terus sama mas."
"Mas!" Raisa langsung memukul pelan bahunya sambil salah tingkah.
Evan tertawa puas melihat wajah merahnya.Suasana mobil yang tadi tegang perlahan berubah hangat kembali.
Evan melirik Raisa sambil tersenyum jahil."Takutnya nanti kamu malah dapat laki-laki loyo atau gay lagi."
Raisa langsung melotot malu."Mas!"
Evan malah terkekeh santai."Kan repot kalau kurang kasih sayang sama perhatian."
Raisa memalingkan wajahnya ke jendela sambil menahan malu."Kamu tuh ngomongnya aneh-aneh terus."
Evan tersenyum tipis."Mas cuma nggak mau kamu ngalamin hal yang sama lagi."
Raisa terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,"Aku juga nggak nyangka hidup aku bakal kayak gini."
Evan meliriknya sebentar."Nyesel kenal mas?"
Raisa langsung menggeleng cepat."Nggak."
Jawabannya spontan sampai membuat Evan tersenyum kecil."Tuh kan."
Raisa sadar jawabannya terlalu cepat lalu salah tingkah sendiri."Tapi mas juga jangan kepedean."
Evan tertawa kecil."Susah nggak pede kalau kamu terus bikin mas makin sayang."
Pipi Raisa kembali memerah."Mas fokus nyetir aja."
Evan mengangguk santai."Iya, Bu calon istri."
Raisa langsung menatapnya cepat."Aku belum nerima lamaran mas."
"Tinggal tunggu waktu aja."
Raisa mendengus kecil sambil tersenyum malu.
Sementara Evan terlihat jauh lebih tenang sejak mendengar Raisa tidak memiliki perasaan pada pria yang dijodohkan keluarganya.
Mobil akhirnya berhenti di depan rumah Raisa.
Lampu halaman masih menyala redup menerangi pagar rumah yang tertutup.
Evan mematikan mesin lalu menoleh santai ke arah Raisa.
"Bukain pagernya."
Raisa yang sedang melepas seatbelt langsung menoleh.
"Mas mau nginep lagi?"
Evan mengangkat alis santai.
"Kenapa? Nggak boleh?"
Raisa langsung salah tingkah.
"Bukan gitu…"
Evan menyandarkan tubuhnya santai di kursi.
"Terus?"
Raisa menggigit bibir kecil sebelum akhirnya berkata jujur,
"Aku takut hamil duluan sebelum nikah kalau mas keseringan nginep."
ulat bulu mulai berdatangan...
Raisa kamu harus kuat menghadapi para uget uget yang mengincar Evan...
semangat naik ranjang
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣